Izinkanku Untuk Merasakan Lelah

Izinkanku Untuk Merasakan Lelah
Tamu tak di undang.


__ADS_3

"Permisi nona." Senyum Devi pada Fia yang sedang merenung di halaman belakang.


"Jangan menggodaku, Dev." Balas Fia yang tahu jika sahabatnya itu sedang menggodanya.


Ikut duduk bersama dengan Fia, Devi mengusap bahu itu dengan tersenyum.


"Jangan menyimpannya sendiri, jika dengan berbagi bisa membuatmu nyaman. Maka berbagilah, tapi ini tidak dipaksa ya."


Senyum itu terukir pada wajah yang sedang menatap berbagai tanaman hias disana, Fia menyalurkan kekosongan hatinya dengan menanam berbagai tanaman hias pada lahan kosong disana.


"Terima kasih, biarkan untuk saat ini semuanya tersimpan dengan baik. Jika saatnya tiba, akan kuceritakan pada kalian." Ingin sekali Fia berbagi beban yang ia miliki saat ini, namun semuanya hati kecilnya belum siap.


Mengerti akan apa yang dirasakan oleh Fia, Devi tidak ingin memaksanya. Bagaimana pun dia berhak untuk menyimpan ataupun menceritakan semuanya, tidak terasa sudah hampir dua bulan lamanya Fia menyandang status sebagai nyonya dari seorang Abi. Namun semuanya itu seakan tidak berarti, karena Fia harus menjadi seperti apa yang di inginkan oleh suaminya.


"Non Fia, Fia!" Suara keras Ani terdengar begitu nyaring.


Wanita itu berjalan dengan sangat cepat dan bahkan seperti sedang berlari, nafas yang memburu membuatnya sedikit sulit untuk mengeluarkan kata-kata. Devi memberikan arahan agar nafasnya bisa kembali stabil.


"Non fi, Fia ada ta. Ta mu." Ani berkata dengan nafas yang belum normal.


"Ada apa, ucapanmu aneh sekali." Devi mengusap punggung Ani.


Perlahan Fia menghampiri Ani dan Devi, mengusap punggung tangan Ani dengan lembut.


"Coba pelan-pelan saja bicaranya, coba atur nafasnya ya." Memberika arahan agar Ani mengikutinya dan dengan beberapa kali percobaan, akhirnya Ani bisa bernafas lega.

__ADS_1


"Coba katakan lagi, tapi pelan-pelan saja ya. Tidak ada yang akan menyelanya. " Senyum Fia kepada Ani.


"Huh! Ada tamu untukmu nona, katanya si ibu dan saudaramu Fia."


"Hem, dimana mereka?"


"Sudah diruang utama, tapi mereka sangatlah tidak ramah. Sikapnya seperti pemilik mansion saja, kamu yang pemiliknya saja tidak seperti itu." Ketus Ani yang sepertinya sangat tidak menyukai sikap dari tamu mereka.


Mendengar siapa yang datang bertemu, membuat Fia terdiam. Teringat kembali tentang apa yang sudah ibu sambungnya itu lakukan pada Fia, membuat hati Fia menjadi sakit.


Sebagai tuan rumah yang baik, Fia pun menghampiri tamunya. Memang terlihat sikap keduanya sangat tidak ramah, dengan pakaian dan dandanan yang begitu berlebihan. Mata siapa pun yang melihatnya akan silau dan memilih menutupnya, melihat Fia telah datang. Mereka kembali membenarkan posisinya, memasang wajah memelas.


"Fia." Mona dan Leah menghampiri Fia dan membawanya untuk duduk bersama.


"Langsung pada intinya saja bu, pekerjaanku masih banyak." Fia tidak ingin berlama-lama bersama keduanya.


"Iya Fi, mana juga aku sudah mau ujian dan uang semesterku belum dibayar sama ibu." Leah juga ikut bermuka memelas.


"Maaf bu, leah. Aku tidak punya uang saat ini, bukankah ibu waktu itu sudah banyak uang dengan menukar aku. Kemana saja uang itu?" Tanya Fia yang tidak habis pikir dengan dua wanita tersebut.


"Uang itu sudah habis Fia, pengobatan abah itu tidak murah. Mana lagi hutang keluarga kita sangatlah banyak, uang itu tidak cukup untuk semuanya. Bisakah ibu meminta uang padamu? Kamu sekarang sudah menjadi istri dari pengusaha muda yang terkenal, masa tidak punya uang." Mona mulai menunjukkan siapa dirinya.


"Masa suamimu tidak memberikanmu uang? Percuma saja kamu disini, kalau kamu tidak bisa memberikan ibu uang. Maka jangan salahkan jika abahmu tidak akan pernah berobat dan semakin menderita." Mona benar-benar sudah dibuktikan oleh harta.


Mendengar hal itu, membuat hati Fia semakin tidak menyukai kedua wanita tersebut. Bayangan wajah abahnya lah yang membuat Fia menjadi tidak tenang, teringat jika dirinya mempunyai kredit card dari suaminya. Dimana ia masih ragu untuk memberikannya kepada mona.

__ADS_1


"Ibu pulang saja, besok aku akan menemui kalian dirumah."


"Benarkah? Baiklah, ibu berharap kamu datang dengan membawa kabar baik. Jika tidak, ibu bingung harus bagaimana lagi. Ayo leah, besok Fia akan memberikan kabar baik untuk kita." Mona merasa percaya diri jika Fia akan memberikannya uang.


"Sebentar bu, Fia. Apakah sewaktu-waktu aku boleh menginap disini?" Mata Leah memutar ke segala sudut ruangan yang ia lihat.


"Tidak boleh." Suara berat itu terdengar begitu nyata.


Betapa kagetnya mereka saat mendapati Abi yang sudah berada disana, dengan kedua telapak tangan ia masukan ke dalam saku celananya. Abi terlihat begitu sangat tampan dimata Mona dan Leah, bahkan mata keduanya tidak bisa bersedia sama sekali.


"Tu..." Fia langsung menghentikan ucapannya.


"Silahkan keluar dari sini, tempat ini terlalu bagus untuk kalian." Kalimat itu penuh dengan penekanan, siapapun yang mendengarnya akan merasa nyeri dihati.


"Menantu, apa kabarnya?" Mona ingin menyapa Abi, namun pria itu langsung memberika penolakan.


Begitu pula dengan Leah, ia merasa bisa merebut perhatian Abi. Dengan suara yang dibuat-buat dan sikap yang menyebalkan, semakin membuat Abi menjadi geram.


"Keluar! Jangan pernah menginjakkan kakinya kalian lagi disini!" Bentakan Abi membuat keduanya bergetar ketakutan.


Akibat dari kelakuan ibu sambung dan juga saudari tirinya itu, membuat Fia menjadi tidak enak dengan Abi. Bagaimana pun, posisinya tetaplah seorang pelayan disana.


"Maafkan keluarga saya, tuan."


"Dasar b***h, mereka hanya memanfaatkan dirimu. Masih bagus aku mau menampungmu disini, jangan pernah mengulanginya lagi." Abi meninggalkan Fia menuju ruang kerjanya.

__ADS_1


Tak lama kemudian Ronal tiba dan langsung menyusul Abi ke ruang kerjanya, Fia hanya bisa menghembuskan nafas beratnya.


__ADS_2