
Menghindari dua pria yang kini selalu hadir dalam keseharian Fia, membuatnya lebih menjaga diri dan juga anaknya. Mengajukan cuti dari pekerjaan, membuat White semakin kesal dengan saudaranya itu.
Berbeda dengan White, Abi semakin mencari tahu tentang apa dari keseharian Fia dari ia pergi sampai dengan saat ini. Dimana ia mengetahui jika dirinya sudah mempunyai anak, anak yang dimana saat Fia pergi dari sisinya.
Mengetahui jika Fia mengajukan cuti, Abi segera menuju ke alamat yang sudah diberikan oleh Ronal kepadanya. Senyuman terus terukir dari bibirnya, hingga laju kendaraan yang ia gunakan berhenti di sebuah rumah yang sederhana namun terlihat elegan.
"Bunda, ayo."
Suara anak kecil yang begitu jelas terdengar di telinga Abi, pintu rumah terbuka. Anak kecil itu menarik tangan wanita yang ia sebut bunda, betapa kagetnya Abi kala melihat wajah anak kecil itu.
"Ayo bunda, nanti sampai disananya kesiangan." Celoteh anak laki-laki itu.
"Iya sayang, sebentar. Nenek masih di dalam, masa nenek di tinggalin."
"Nenek, ayo nek."
Nek Ida segera menyusul keduanya, kini mereka telah siap untuk menuju pesantren dimana Ahmad menimba ilmu. Namun kalamit itu dikagetkan dengan seorang pria yang kini berdiri memandangi mereka, sorot matanya menampakkan kerinduan yang dalam.
"Om siapa? Kita mau pergi." Abian sudah terlebih dahulu menghampiri Abi.
__ADS_1
Tubuh Abi bergetar menahan air mata yang kini tak mampu ia bendung lagi, menyamakan tinggi badannya dengan Abian. Tangan kanannya menyentuh pipi gembul Abian.
"Sambut dan terima dia selayaknya tamu nak." Nek Ida berbisik dari arah samping Fia.
Nek Ida menyadari jika pria yang datang itu adalah orang yang pernah Fia ceritakan, ia dapat melihat rasa penyesalan dari matanya saat memandang Abian. Maka dari itu, Nek Ida memberikan ruang untuk fia, agar bisa berdamai dengan semuanya.
"Om, kenapa menanggis?" Abian mendapati Abi yang meneteskan air mata.
Tangan mungil itu mengusap wajah Abi yang sudah basah, terasa begitu menyejukkan ketika tangan kecil itu menyentuhnya. Disaat itu pula Fia ikut mendekat.
"Masuk saja mas, tidak enak di lihat orang."
"Bunda, Abian mau pipis."Celoteh Abian dengan bergerak-gerak.
"Iya nak, sama nenek ya." Abian menganggukkan kepalanya dan segera berlarian menuju belakang.
Suasana menjadi hening setelah bocah kecil itu meninggalkan mereka berdua, Fia begitu canggung dan harus berhadapan kembali dengan pria yang sudah menorehkan luka yang cukup dalam pada dirinya.
"Ada apa?" Fia menanyakan maksud dari kedatangan Abi ke rumahnya.
__ADS_1
Fia tidak bisa menolak kelebihan yang Abi miliki, kekuatan Surendra sangat berpengaruh dalam segala hal. Tidka menutup kemungkinan mereka menggerakkan semua orang-orangnya untuk mencari tahu mengenai Fia.
"Namanya Abian?" Abi menanyakan nama anak mereka.
"Benar, namanya Abian. Usianya sudah tujuh tahun." Jelas Fia singkat.
Menggenggam tangan Fia, Abi berlutut dihadapannya. Mengucapkan kata-kata maaf atas semua perbuatannya yang sudha membuatmu Fia terluka, tanpa memikirkan baik buruknya. Sejak kepergian Fia, Abi merasakan semua penderitaan dan juga balasan atas semua sikapnya.
"Maukah kamu memaafkan mas Fi? Kita memulai semuanya dari awal lagi bersama, mas tidak ingin kalian pergi lagi dari hidup mas. Mas menyesal Fi." Terang Abi dengan semua penyesalan yang ia lakukan.
Menunduk memandangi wajah pria yang sempat dibenci dan ia cintai, setelah sekian lama luka itu ia sembunyikan. Namun kini semuanya terbuka lagi, membuat Fia harus menyampingkan egonya.
"Aku tidak bisa mas."
"Kenapa Fi? Maafkan mas, mas janji tidak akan membuat kalian terluka lagi. Izinkan mas membuktikan itu semuanya Fi, mas mohon." Abi terus memohon kepada Fia.
Keduanya menjadi terdiam, sama-sama mencoba mengerti dengan keadaan yang kini sedang mereka alami. Tidak ingin menyalahkan siapa pun, mencari cara agar permasalahan dan luka itu tidak terbuka lagi.
"Kenapa bunda dan paman menangis?" Suara Abian membuat keduanya melepaskan genggaman tangan itu.
__ADS_1