Izinkanku Untuk Merasakan Lelah

Izinkanku Untuk Merasakan Lelah
Pertemuan Bahagia.


__ADS_3

"Kenapa bunda dan paman menangis?"


"Tidak ada apa-apa sayang." Fia mengajak Abian untuk duduk bersamanya.


Dalam keadaan yang bingung, Abian menatap Fia maupun wajah Abi. Ada sesuatu yang membuatnya bertanya-tanya, kenapa kedua orang dewasa dihadapannya itu menanggis dengan sikap yang aneh.


"Abian masih mau tau siapa dan juga wajah ayah, nak?" Tanya Fia.


"Hem, apa ayahnya tidak sibuk lagi bun? Kapan Bian bisa bertemu dengan ayah?" Begitu semangatnya saat mendengar Fia berkata seperti itu.


Menarik nafas agar dirinya tenang, Fia tersenyum kepada Abian. Sejenak ia memandangi wajah Abi, yang menggelengkan kepalanya kepada Fia. Pria itu merasa jika dirinya belum pantas untuk bertemu dengan anaknya dalam keadaan seperti ini, apalagi Abian tumbuh tanpa sosok ayah disisinya.


"Coba lihat Bunda, apa yang akan Bian lakukan jika bertemu dengan ayah?"


"Bian mau peluk dan bercerita banyak sama ayah. Dan juga Bian mau tunjukkan sama teman-teman Bian, kalau ayah Bian sudah kembali."


"Bian kangen sama ayah, wajahnya saja Bian tidak tahu bun." Terunduk lesu, Bian menatap lantai.

__ADS_1


Semakin hancur hati dan perasaan Abi kala itu, mendengar dari mulut anaknya sendiri yang merindukan dirinya. Betapa buruk dirinya yang sudah membiarkan istri dan anaknya berjuang sendiri untuk bertahan hidup.


Fia membenarkan posisi Abian, hingga ia bertatapan langsung dengan Abi. Fia sengaja melakukan hal itu, agar mereka bisa saling berhadapan.


"Bian mau bertemu ayah?" Fia menanyakan hal itu kembali, agar anaknya yakin.


Anak kecil itu menganggukkan kepalanya, memang benar jika ia sangat merindukan figur seorang ayah. Mata Abi sudah berkaca-kaca mendengar Fia mengucapkan hal itu, sungguh ia juga merindukan belahan jiwanya.


"Ayah Bian sudah berada didepan Bian."


Kedua mata Bian terbuka lebar, seakan tidak percaya dengan apa yang Fia ucapkan padanya. Lalu ia menatap Abi dengan begitu lekat, menyadari jika wajah pria dewasa itu begitu mirip dengan dirinya.


Dengan ragu-ragu, Abi menganggukkan kepalanya. Membenarkan apa yang telah Fia katakan. Dimana seperti biasanya, saat bertemu dengan orang yang kita rindukan. Merangkul dan memeluknya adalah hal yang lumrah terjadi, tapi tidak dengan ini.


"Argh!" Abi meringgis saat tangan kecil itu mencubit kedua pipinya.


"Abian!" Panik Fia yang mendapati anaknya mencubit pipi Abi dengan cukup keras.

__ADS_1


Senyuman kecil itu terukir dari wajah polos anak laki-laki tersebut, ingin marah namun semuanya itu hilang saat melihat senyumannya.


"Maaf bunda, Bian gemes sama wajah pamannya. Kenapa bisa mirip ya bunda, Bian jadi punya saingan." Jawab polos Abian dengan tingkahnya.


Begitu merasa tidak enaknya Fia dengan sikap Abian, namun hal itu membuat Abi menjadi bahagia. Ia pun berbicara dengan putranya tersebut, selayaknya seorang ayah kepada anaknya. Fia menarik dirinya untuk bersama dengan nek Ida, mereka berdua menyaksikan dua pria yang berbeda usia itu sedang asik bercengkrama.


"Pikirkan dengan baik nak, jangan mendahulukan keegoisan dalam diri kita yang membuat orang lain menjadi terluka." Ujar nek Ida pada Fia.


Mendengarkan ucapan dari nek Ida, membuat Fia menyadari sebuah arti kebahagian pada keluarga kecil mereka. Namun ada sesuatu yang sangat menganjal dari dalam hati Fia, namun ia masih menahan semuanya.


"Salahkah jika aku lebih memilih perasaan ini nek? Semuanya masih teringat jelas begitu menyakitkan, ingin sekali aku melupakan rasa sakit itu."


"Nak, jika kita hanya memikirkan rasa sakit. Selamanya kita tidak akan merasakan apa itu namanya bahagia, karena semuanya akan tertutupi oleh perasaan itu. Cobalah untuk berdamai dengan semuanya nak, ada Abian yang harus kamu pertimbangkan baik buruknya. Dan satu lagi pesan nenek, jangan membohongi diri sendiri. "


Mengerti akan apa yang dikatakan oleh nek Ida padanya, membuat Fia merenungi semuanya. Ia kembali menatap dua pria berbeda usia itu, air mata pun mengalir melihat keduanya tertawa bersama. Abi menyadari tatapan dari Fia kepadanya, lalu ia mengajak Abian untuk membawanya kepada Fia.


"Fi, maukah kamu mengawali semuanya dari awal lagi bersama mas dan juga anak kita?"

__ADS_1


Fia menatap Abi dengan tatapan sendu, ia begitu senang melihat putranya bisa bertemu dengan ayah kandungnya.


"Maaf mas, aku tidak bisa menjawab semuanya saat ini. Beri aku waktu."


__ADS_2