
Rasa lelah kini berubah menjadi rona bahagia, setelah melalui pekerjaan yang cukup membuat tenaga maupun pikiran terkuras habis. Abi kini bisa bernafas lega, berbicara melalui sambungan video call bersama Fia telah memberikannya tenaga dan semangat kembali.
Brakh!
"Tunggu nona!" Tyas terlihat untuk meraih tangan wanita yang menerobos masuk ke dalam ruanga kerja Abi.
"Hei nona, dasar nenek belut. Licin sekali badannya, Hei tunggu!" Tyas terus mengumpat wanita yang sudah membuatnya geram.
Mendengar kericuhan yang ada, sontak saja membuat Abi mengalihkan pandangannya. Betapa kagetnya saat kedua matanya melihat siapa yang sudah membuat kegaduhan tersebut, wanita yang dahulunya sudah membuat kehidupannya hancur dan kini kembali ke hadapannya.
"Abi." Wanita itu memanggil namanya dengan sangat khas.
Menutup rapat kedua matanya, entah apa yang kini membuat pikirannya sangat tidak nyaman. Suara itu, membuat dirinya harus di ingatkan kembali dengan kejadian di beberapa waktu lalu. Dimana kejadian itu telah merubah dirinya menjadi manusia yang tidak mempunyai hati terhadap wanita, dengan seenaknya pergi dan kini kembali lagi.
Tidak ada pergerakan dan respon apapun dari Abi atas panggilan itu, membuat wanita tersebut semakin gencar mendekatinya. Tanpa ada rasa ragu dan malu, wanita itu langsung meraih tangan Abi dan memeluknya dari arah samping.
Dugh!
"Abi! Sakit!" Meringgis saat tubuhnya terhempas oleh dorongan.
"Aduh, maafkan saya tuan. Wanita ini nekat."Tyas sudah tidak bisa lagi menahan emosinya, lalu ia segera menghampiri wanita itu untuk membawanya keluar.
__ADS_1
"Tidak, lepaskan tanganmu dari tubuhku. Dasar sekretaris tidak becus, aku ini calon nyonya kalian. Akan aku pecat kamu ya!"
Wanita yang datang secara tiba-tiba itu adalah Soraya, berhasil lari dari Nick. Ia melancarkan rencananya untuk kembali mendekati Abi, tidak ada rasa bersalah sedikitpun darinya atas semua penderitaan yang ia berikan pada Abi. Kini ia telah kembali.
"Hei nona, jangan terlalu percaya diri. Ayo keluar, tanganku sudah gatal ingin memukul kepalamu ini." Seringai geram dari Tyas yang jengah akan sikap Soraya.
"Lepaskan, Abi tolong aku."
"Keluar! Panggil keamanan jika perlu." Abi beranjak dari tempatnya dan memasuki ruang pribadinya.
Soraya terus memanggil Abi agar menolongnya, namun semakin ia memberontak. Maka semakin kuat pula Tyas mencengkram lengannya dan menariknya keluar dari ruangan.
"Coba saja, masih untung tidak ku tendang mulutmu yang lantang sekali kalau bicara. Sana, hush hush hush." Tyas memperagakan seperti mengusir kucing imut yang selalu mengeong.
Tidak habis pikir dengan apa yang terjadi, Tyas harus membiasakan diri untuk menerima tamu yang seperti Soraya. Karena tuannya selalu saja didatangi oleh wanita yang selalu mengaku-ngaku sebagai orang spesial, padahal tidak benar.
"Wuh, jika Fia tahu bagaimana ya responnya. Tuan si, kenapa juga terlahir dengan wajah yang cukup tampan, aduh. Bicara apa aku ini."
Tyas yang sebelumnya tidak mengetahui jika Fia sekarang sudah menjadi istri dari tuannya, karena Ronal tidak ingin ada kesalahpahaman saat Tyas melihat hubungan tersebut. Berhasil mengusir keberadaan nenek belut (Soraya), membuat Tyas bernafas lega. Akan tetapi tidak untuk Abi, pria itu termenung di dalam kamar pribadinya.
Menatap pemandangan dari balik jendela disana, termenung dengan apa yang baru saja ia alami. Bahkan panggilan telfon dari Fia terabaikan olehnya.
__ADS_1
.
.
.
"Mas, capek?"
Abi yang baru saja tiba di mansion, disambut hangat oleh Fia. Melihat wajah suaminya yang begitu nampak kelelahan, membuat merasa jika Abi sedang mempunyai sesuatu yang menjadi pusat pikirannya.
"Air mandi sudah aku siapkan mas, lebih baik membersihkan diri dulu dan setelah beristirahat." Tidak ada ucapan balasan dari Abi atas apa yang dilakukan oleh Fia, ia langsung saja memasuki kamar mandi.
Dalam rasa penasarannya, mendapati perubahan sikap dari suaminya yang secara tiba-tiba. Membuat Fia harus menguatkan hatinya agar tidak mudah terpancing emosinya, karena ia tidak ingin terjadi perdebatan yang jelas tidak tahu asal usulnya.
Menyiapkan pakaian yang akan digunakan Abi, Fia melakukannya dengan sangat begitu gembira. Menyiapkan makanan agar Abi langsung bisa menikmatinya tanpa harus keluar dari kamar, berharap itu semua bisa membuat suaminya tersenyum. Disaat Fia kembali dari dapur, ia sudah mendapati Abi dengan piama tidurnya.
"Makan dulu mas, biar istirahatnya enak." Fia meletakkan nampan berisikan makanan yang ia ambil dari dapur.
"Maasih kenyang, nanti saja." Jawab singkat Abi yang langsung merebahkan dirinya di atas tempat tidur.
Tidak ingin memperkeruh suasana, Fia merasakan perubahan yang sangat jelas dari suaminya itu. Ia pun mengela nafas beratnya, lalu ikut merebahkan diri bersama Abi.
__ADS_1