Izinkanku Untuk Merasakan Lelah

Izinkanku Untuk Merasakan Lelah
Pertemuan kembali.


__ADS_3

Rapat telah dimulai, semua peserta telah hadir disana. Pemaparan beberapa laporan yang seperti biasa dilakukan telah tersampaikan dengan baik, hal itu dijelaskan oleh Ria melalui persentase yang ia jelaskan.


Abi tidak terlalu menyimak tentang apa yang telah disampaikan, ia hanya menggantikan papanya untuk hadir. Namun Ronal selalu mengganggunya, akan tetapi tidak Abi hiraukan. Ia hanya sibuk dengan ponsel miliknya. Hidupnya perlahan berubah dna membaik, setelah melepas Soraya.


Kehilangan Fia membuatnya hampir kehilangan nyawanya, jika bukan keluarganya yang cepat dan tanggap dengan keadaanya tersebut. Melalui berbagai cara untuk mengembalikan semangatnya yang telah hilang, kini Abi telah kembali namun tidak seutuhnya tanpa kehadiran sang istri.


"Rapat telah selesai, kami ucapkan terima kasih atas kesempatannya pada pertemuan kali ini."


Semua peserta rapat satu persatu mulai meninggalkan tempat tersebut, Abi pun ingin segera hilang dari sana dan menghindari pertemuan dengan orang yang cukup menjengkelkan menurutnya.


"Mau kemana kau hah."


Menghela nafas beratnya, Abi benar-benar dalam situasi yang tidak baik kali ini.


"Pulang." Jawbanya singkat dan juga ketus.


Keduanya saling berhadapan dengan sikap angkuh serta dingin yang mereka miliki. Tanpa mereka sadari, seorang wanita menghampiri keduanya.


"Maaf tuan, anda sudah ditunggu oleh tuan Peter."


"Sial, kau tunggu diruanganku. Jangan kabur, ingat itu." White segera berlalu.


Mendengar suara yang cukup ia kenali, aroma khas yang dimiliki oleh wanita yang sampai saat ini ia cari keberadaannya. Abi tersadar dengan hal itu, ia membalikkan tubuhnya dan melihat wanita itu sedang menunduk menatap berkas ditangannya.


Kaki itu bergetar, perlahan melangkah mendekati wanita tersebut. Ia sangat yakin, jika semuanya itu adalah milik dari istrinya yang benar-benar ia rindukan dan ia cari selama ini. Pemilik jiwanya yang hilang, membawa separuh hidupnya kini berada dihadapannya.

__ADS_1


Mendapati pergerakan dari tamu mereka, membuat Fia menaikan wajahnya serta menatap wajah orang tersebut. Pandangan keduanya terkunci satu sama lain, terdiam dalam situasi ketidaksegajaan dalam bertemu


"Fi, Fi a." Suara Abi bergetar menyebut nama wanita yang begitu ia cintai.


Begitupun terjadi pada Fia, berkas yang berada ditangannya berhamburan begitu saja. Melangkah mundur perlahan saat mengetahui orang yang berada dihadapannya saat ini, menutup mulutnya dan disertai air mata yang mulai mengalir.


"Ti tidak, tidak mungkin."


"Tunggu Fi, Fia!" Abi mengerjar Fia yang hendak berlari dari hadapannya dan tangan itu berhasil menangkapnya.


Abi melingkarkan kedua tangannya untuk menahan Fia, tangisan itu akhirnya pecah. Wanita yang selama tujuh tahun lebih ia cari keberadaan, kini ia temukan.


"Jangan pergi Fi, jangan pergi lagi. Mas mohon, jangan hukum mas lagi seperti ini." Ucap Abi dengan suara yang sangat berat.


"Jangan tinggalkan mas lagi Fi, mas mohon."


Perasaan Fia kini tidak bisa membohongi, sejujurnya ia merindukan pria yang saat ini memeluknya. Namun di satu sisi lainnya, ia masih merasa hancur jika teringat akan semua perlakuan dan sikap Abi kepadanya.


Bugh!


Bugh!


Beberapa pukulan mendarat telak pada Abi, tak lain itu adalah perbuatan White. Ia melihat jika Fia saat itu sedang memberontak untuk melepaskan diri, ia tidak ingin wanitanya diperlakukan tidak baik seperti itu.


"Hen hentikan, hentikan White!" Teriak Fia saat White tidak henti-hentinya melayangkan pukulan pada Abi.

__ADS_1


"Tidak akan aku biarkan pria manapun menyentuh wanitaku!" Erang White yang terus menyerang Abi.


"Stop!" Pada akhirnya Fia menggunakan tubuhnya untuk menghalangi White, hal itu berhasil.


Fia membantu Abi untuk duduk, terlihat Abi begitu menahan rasa sakit pada wajah dan juga tubuhnya akibat dari serangan White padanya.


"Abi! Heh, ternyata kau." Akhirnya White melihat wajah orang yang habis ia serang, ternyata itu adalah saudaranya sendiri.


Ada perasaan tidak tega terhadap Abi, namun rasa sakit itu kembali menghinggapi pikiran Fia. Ia segera melepaskan diri dan menjauh, namun Abi terlebih dahulu menahannya. Kedua pandangannya bertemu kembali, Fia tidak sanggup menatapnya terlalu lama.


" Jangan menyentuhnya, dia milikku." White menarik Fia dari Abi dengan cukup keras.


"Argh!"


"Cukup, kalian berdua jangan seperti anak kecil!" Fia berlari, menjauh dari keduanya.


Melihat Fia yang sudah menjauh, Abi berusaha sekuat tenaga bangkit. Berhadapan dengan saudara yang begitu ia hindari, tidak menyangka jika harus berakhir seperti ini.


"Sudah lama tidak bertemu, sekali bertemu kau membuat masalah dan beraninya menyentuh milikku. Kau memang menjengkelkan, Abi." Ketus White.


Membenarkan pakaian yang ia kenakan, mendengarkan ucapan White yang secara tidak langsung memberikan penjelasan jika Fia adalah miliknya.


"Milikmu! Heh, jangan terlalu jauh berangan-angan. Fia adalah istriku, sialan!" Abi berlalu dari hadapan White, dengan sengaja ia menyenggol bahu saudara yang menjengkelkan itu.


Seketika tubuh White kaku, mendapati sebuah berita yang cukup membuatnya tidak percaya.

__ADS_1


__ADS_2