
Setelah orang-orang suruhannya tidak ada yang membuahkan hasil, Abi beralih menggunakan cara terakhirnya.
"Siapkan opsi terakhir, aku tidak bisa membiarkan ini berlarut-larut lagi. Nyawa Fia dalam bahaya, Segera Ronal." Abi mempertegas ucapannya.
"Kau yakin?" Ulang Ronal.
"Hem, itu yang bisa aku lakukan untuk menyelamatkan istriku."
Disaat keduanya sedang merencanakan cara terkahir yang akan digunakan, ponsel milik Abi bergetar. Terlihat jika ada nomor asing yang menghubunginya, awalnya Abi nampak ragu untuk menerimanya. Namun Ronal menyakinkan Abi, mungkin saja itu dari orang penting.
"Halo."
"Hem."
"Apa benar ini dengan tuan Abi?" Suara seorang wanita terdengar.
"Iya, anda siapa?" Abi mengkerutkan keningnya, laudspeaker pun di aktifkan.
"Ah Syukurlah, tadi ada wanita berhijab menghampiri saya. Dia memberikan saya kertas yang berisikan nomor ini dan juga pesan."
"Fia! Apa isi tulisannya?"
"Saya akan mengirimkan gambarnya pada anda, maaf saya harus segera bekerja."
"Baiklah, terima kasih."
__ADS_1
Pembicaraan mereka terhentikan, Abi dan Ronal menunggu wanita itu mengirimkan gambar yang ia maksudkan. Tak lama kemudian, sebuah pesan gambar diterima pada ponsel Abi. Betapa kagetnya Abi, benar saja. Tulisan itu sangat Abi kenali, bahkan air mata mengalir.
"Fia, ini benar tulisan Fia."
Merasa penasaran, Ronal mengambil alih ponsel Abi dan melihat sendiri gambar yang dimaksud. Dengan cepat ia melacak lokasi wanita yang mengirimkan gambar tersebut, tidak berapa lama menunggu. Titik lokasi tersebut mereka dapatkan, dengan cepat keduanya segera berangkat.
.
.
.
"Sepertinya kamu membutuhkan sedikit udara segar, Fi. Bagaimana kita jalan-jalan sebentar, kamu pasti akan senang."
"Tidak perlu, akau hanya butuh suami dan anakku." Jawab Fia dengan ketus.
"Heh, kau hanya butuh aku. Suamimu itu hanyalah pria yang tidak bisa apa-apa dan begitu lemah."
"Terserah mulutmu berkata apa, semuanya ini tidak akan bertahan lama. Suamiku pasti akan menemukanku."
Merasa geram dengan ucapan yang Fia katakan padanya, sungguh White saat ini dipenuhi oleh keegoisan yang besar. Ia menarik tangan Fia dengan kasar dan memasukkannya ke dalam mobil.
Melajukan mobil dengan kecepatan sedang, mereka menuju salah satu resto yang cukup ternama. Menggunakan sikap yang memaksa, membuat Fia menjadi risih dan mengumpat White dari dalam hatinya.
Sesampainya mereka disana, Fia dan White menggunakan ruang khusus untuk pelanggan VIP seperti mereka. Memesan menu makanan yang cukup asing di telinga Fia, hanya White yang mengerti arti dari nama makanan tersebut.
__ADS_1
Makanan pun tersajikan dengan rapi, dari penampilannya memang sangat berkelas. Ingin rasanya Fia menikmati makanan tersebut, akan tetapi. Indera penciumannya tidak menyukainya, bakan ia seakan-akan ingin mengeluarkan semua isi perutnya.
"Aku mau ke kamar kecil."
"Baiklah, akan aku temani."
"Biar aku sendiri saja, aku tidak akan mungkin kabur darimu." Tahan Fia saat White hendak mengikuti padanya.
Dengan menahan senyumnya, White setengah mengizinkan Fia untuk pergi ke kamar kecil sendiri. Salah satu sisi ia tidak ingin Fia kabur, namun ia tidak ingin terlalu mengekangnya pada saat ini. Namun rasa khawatir itu tetap masih ada, dan White berusaha menepisnya.
Di dalam kamar kecil tersebut, Fia berusaha mencari celah untuk bisa menghubungi suaminya. Karena kesempatan ini tidak akan terulang kembali, White sangat protektif pada Fia. Sebuah keberuntungan bisa berada di luar dari bangunan yang White sebut sebagai rumah idaman untuk mereka berdua, namun bagi Fia itu adalah sebuah penjara.
"Nyonya, permisi. Apakah saya bisa meminta tolong?"
Fia mendapati seorang wanita paruh baya yang berada dikamar kecil, dengan mengumpulkan keberaniannya ia menegur wanita tersebut. Pada awalnya wanita tersebut nampak ragu untuk mengatakan iya untuk menolongnya.
"Apa yang bisa saya bantu?" Ujar wanita itu dengan raut wajah yang nampak ragu.
Bagaikan sebuah keberuntungan, Fia langsung mengatakan apa yang ia butuhkan dari peremuan tersebut. Setelah selesai, ia dengan cepat segera kembali bersama White.
"Kenapa lama?"
Betapa kagetnya Fia saat mendapati White sudah menunggu dirinya didepan pintu kamar kecil tersebut, matanya seakan-akan mencari apa yang menjadi ketakutannya.
"Di dalam mengantri, aku tidak akan kabur." Fia langsung berjalan melewati tubuh White yang masih berdiri dengan menatapnya.
__ADS_1