Izinkanku Untuk Merasakan Lelah

Izinkanku Untuk Merasakan Lelah
Jangan Pergi.


__ADS_3

Pertemuan kembali dengan Abi, membuat Fia harus menata hatinya kembali dari awal. Tidak ingin bersikap egois, karena ada Abian yang harus Fia pertimbangkan.


Semenjak pengakuan dan penerimaan Abian terhadap Abi, hai tersebut membuat keduanya semakin sering bertemu dan akrab. Fia tidak melarang dan membatasi pertemuan mereka, hanya saja Fia yang harus menyikapinya dengan bijak.


Tepat pada hari ini, Ahmad kembali dari tempat ia menimba ilmu. Fia begitu senang, dan membuat acara kecil untuk keluarganya. Nek Ida pun tidak kalah antusiasnya, Ahmad juga merasa senang bisa berkumpul kembali bersama keluarganya.


"Bunda, Abian dimana?" Merasa tidak mendapati sang adik di rumah, membuat Ahmad merasa sepi.


"Adikmu sedang pergi, sebentar lagi juga akan kembali kak." Jawab Fia.


Sebelumnya, Fia belum menceritakan apapun mengenai Abi yang kini kembali. Ahmad mengetahui sedikit jalan cerita perjalanan hidup Fia, sehingga mereka bertemu saat itu. Dan kini, Fia yakin jika Ahmad sudah saatnya mengetahui kabar ini.


"Kak, bunda mau bicara sebentar. Kakak tidak sibuk ?" Fia menyakinkan jika Ahmad tidak terganggu waktunya.


"Iya bun bisa, kakak kan sedang libur. Hehehe." Senyum Ahmad membuat Fia tenang.


Keduanya kini duduk bersama di teras bagian depan rumah sederhana mereka, nek Ida juga ikut turut bersama. Dengan sedikit kudapan yang disajikan, agar obrolan mereka menjadi lebih enak.


"Kak, bunda mau bilang. Kalau ayah adikmu, Abian. Kini sudah kembali."


Secara cepat, Ahmad menoleh ke arah Fia. Ia terlihat cukup kaget dengan kabar yang baru saja ia dengar, walaupun sebenarnya ia sudah mengetahui jika suatu saat Fia akan kembali bersama keluarganya.

__ADS_1


"Kakak kenapa?" Fia menggenggam tangan Ahmad, melihat wajah itu seakan merasa ada yang disembunyikan.


Menggelengkan kepalanya, Ahmad tidak ingin membuat Fia menjadi sedih. Lalu ia berbalik memeluk Fia, tangis itu pecah. Membuat Fia maupun nek Ida merasakan apa yang Ahmad rasakan.


"Nak." Fia mengusap kepala Ahmad dengan lembut.


"Bunda jangan pergi, jangan tinggalin Ahmad bunda." Suara serak itu membuat Fia merasa terenyuh.


"Kalau bunda pergi, Ahmad sama nenek nanti sama siapa. Bunda sama Abian jangan pergi ya."


"Kenapa kakak bilang seperti itu nak? Kata siapa bunda akan pergi?" Fia menarik tubuh Ahmad dan menatapnya.


"Ayah Abian sudah kembali, itu tandanya bunda dan Abian akan kembali pada mereka dan meninggalkan kami." Tangisan itu terdengar begitu menyayat hati.


Kenyataan yang membawa mereka hingga pada saat ini, Fia dipertemukan kembali dengan suami dan juga ayah dari Abian. Dan itu yang membuat Ahmad bersedih, ia akan kehilangan lagi sosok seorang ibu yang sudah melekat pada diri Fia.


"Coba lihat Bunda." Kedua tangan Fia mengarahkan wajah Ahmad untuk menatapnya.


"Jangan pernah berpikir jika bunda akan meninggalkan Ahmad dan nenek, bagaimana pun juga. Kalian adalah bagian dari hidup bunda, dan Ahmad tetap kakak bagi Abian."


"Untuk ayah Abian, memang ia sudha kembali nak. Tapi, ada sesuatu persoalan yang kalian belum paham untuk menerima cerita tersebut. Jadi, Ahmad tetaplah anak bunda sampai kapanpun."

__ADS_1


"Betulkah itu bunda?" Ahmad merasa tidak percaya dengan apa yang Fia ucapkan padanya.


"Iya nak, walaupun Ahmad bukan terlahir dari rahim bunda. Tapi Ahmad adalah anak bunda juga, seperti Abian." Anggukan kepala Fia membuat Ahmad merasa lega.


"Terima kasih bunda, terima kasih."


Menyaksikan pemandangan yang cukup menguras air mata, nek Ida sangat bahagia. Bagaimana ia mengingat pada awalnya bertemu dengan Fia, wanita itu tidak pernah membeda-bedakan apapun. Dan kini, semuanya telah terbukti dengan keadaan yang mereka alami saat ini.


Suasana kembali seperti biasa, setelah Ahmad menampakkan segala keluhan kesannya kepada Fia.


"Bunda, kakak!" Teriakan dari luar membuat mereka kaget.


Terlihat Abian berlari memasuki rumah dengan membawa beberapa paper bag di tangannya, ia langsung memeluk Fia dengan erat.


"Bunda, ayah tadi membelikan Bian banyak mainan dan juga pakaian. Bagus sekali bunda, Bian senang sekali." Abian tidak memperhatikan Ahmad yang berada disana.


Sangat begitu semangat sekali, membuat Abian terlihat begitu menggemaskan.


"Bian, lihat siapa yang duduk disamping nenek." Fia menyadarkan Bian.


Bola mata itu mengarah pada arah yang ditunjukkan Fia kepadanya, saat melihat orang yang ia rindukan. Semua paper bag ditangannya terlepas bahkan ia lempar begitu saja ke lantai, dengan cepat ia menghamburkan dirinya pada orang tersebut.

__ADS_1


"Kakak!"


__ADS_2