Izinkanku Untuk Merasakan Lelah

Izinkanku Untuk Merasakan Lelah
Menyatu dengan terpaksa.


__ADS_3

Pulang dalam keadaan tubuh yang sudah mabuk, Abi memasuki mansionnya dengan berjalan semponyongan dengan djbantu dan dihantarkan oleh Ronal.


"Maaf nona, tuan mabuk." Lapor Ronal kepada Fia yang menunggu kepulangan Abi saat itu.


Ini adalah kedua kalinya Abi pulang dalam keadaan mabuk, dimana sebelumnya pernah terjadi saat kepergian dari wanita dimasa lalunya.


"Jika tidak merepotkan, bisa tuan hantarkan langsung ke dalam kamar?" Fia merasa tidak sanggup untuk menopang tubuh Abi yang jauh lebih besar dan tinggi dari dirinya.


Berjalan dengan membawa beban berat dari tubuh Abi, Ronal mengalami sedikit kesulitan. Apalagi mereka harus menaiki tangga untuk sampai ke kemar utama, akhirnya Fia membantu untuk membaw tubuh suaminya dimana sebelumnya ia takut untuk menyentuhnya. Karena Abi tidak suka jika mereka berdua saling bersentuhan.


Brugh!


Tubuh Abi mendarat di atas tempat tidur, Ronal lalu pamit undur diri pada Fia. Karena selanjutnya untuk mengurus tuannya adalah Fia sebagai istrinya, karena ajukan Ronal masih berada disana. Maka jiwa jomblonya akan meronta, jadinya lebih baik ia segera menghilang saja.


Dengan kondisi Abi yang seperti itu, Fia sedikit ragu untuk melakukannya. Tidak mungkin ia membiarkan Abi tidur dalam keadaan berantakan dan bau dengan aroma yang tidak enak, mengingat apa yang sudah ia bicarakan bersama Yasmin sebelumnya. Begitu telaten dan juga sabar, Fia merawat Abi selayaknya istri kepada suaminya.


"Arkh!" Tiba-tiba saja tubuh Fia tertarik dan terhempas di atas tempat tidur.

__ADS_1


Kesadaran Abi belum sepenuhnya hilang, ia merasakan jika tubuhnya telah disentuh oleh tangan wanita. Melihat siapa yang melakukan hal tersebut, dengan cepat Abi menarik tangan itu sehingga tubuhnya terhempas begitu saja.


"A apa yang anda lakukan tuan." Fia menjadi bergetar saat Abi melihat dirinya dengan tatapan yang penuh dengan nafsu.


"Heh, kau tahu. Jika aku tidak membiarkan siapapun untuk menyentuh tubuhku sedikitpun, dan kamu berani melakukannya."


Tubuh Fia bergerak mundur dan mencari celah agar dirinya bisa lari darisana, namun hal itu disadari oleh Abi. Tangan kekar itu menahan kedua tangan Fia dan menekan tubuhnya dengan dirinya, membuat Fia tidak bisa bergerak.


"Ja jangan tuan, aku mohon." Fia terus meronta agar terlepas dari kungkungan tubuh Abi.


"Selama ini, aku sudah terlalu membebaskan dirimu. Dasar wanita tidak tahu diri, dirimu tidak jauh berbeda dengan ibumu. Menghabiskan uang yang aku berikan dalam jumlah yang sangat besar, menyentuh tubuhku tanpa izin, mencari muka pada keluargaku agar bisa memancarkan aksimu untuk menguras semua hartaku!"


Berhasil menarik tangannya dan terbebas dari cengkraman Abi, Fia memberikan hadiah tamparan pada wajah pria dingin itu. Keberanian yang ia kumpulkan setelah mendengar apa yang di ucapkan oleh Abi padanya, kedua mata itu memerah menahan amarah yang sudah ingin meledak.


"Jangan pernah anda memberikan tuduhan yang tidak pernah saya lakukan." Ucap Fia dengan begitu lantang.


Mendapati perlawanan Fia padanya, membuat abi merasa semakin tertantang dan amarahnya semakin membesar. Tanpa berpikir panjang, ia segera menyerang Fia dengan begitu kejamnya. Dengan posisi tubuh yang jauh berbeda, membuat Fia tidak bisa memberikan perlawanan yang seimbang. Begitu mudahnya Abi mendapatkan semuanya yang sudah Fia jaga selama ini dengan begitu sangat hati-hati, bahkan nyawanya sendiri menjadi taruhannya. Dan kini, semuanya telah hilang begitu saja oleh keegoisan dan juga kesalahpahaman dalam hubungan mereka.

__ADS_1


Dalam tangisan yang sudah tidak mengeluarkan suara, melihat pria yang sudah mengambil hal yang paling berharga didalam hidupnya dengan begitu kasar. Walaupun sebenarnya itu sah-sah saja, karena mereka berdua adalah pasangan halal. Namun bagi Fia, itu semuanya adalah hal yang tidak ia inginkan.


Meninggalkan Abi yang masih terlelap dalam tidurnya, Fia mengambil pakaiannya dan mengenakannya. Berharap ini hanyalah mimpi, disaat membuka mata semuanya tidak pernah terjadi.


.


.


.


Sinar mentari pagi menyilaukan setiap mata yang memandang, Abi menggerakkan matanya dan bangkit dari tidurnya. Bersandar pada sandaran tempat tidurnya, menekan keningnya yang masih sedikit berdenyut. Ingatannya kembali pada kejadian semalam, dalam keadaan seperti itu. Ia sudah melakukan hal yang tidak pernah ia inginkan, walaupun sebenarnya mereka adalah pasangan yang sah.


Namun pandangan mata itu menangkap apa yang menjadi jawaban atas sikapnya, semua perlengkapan yang akan ia gunakan telah siap. Bahkan di atas nakasnya terdapat secangkir air hangat untuk dirinya, dengan itu Abi segera membersihkan tubuhnya dan bersiap.


"Selamat pagi tuan, silahkan." Basman menarik kursi yang akan digunakan oleh Abi.


"Hem."

__ADS_1


Seperti biasanya, Abi menikmati sarapannya dan setelah bergegas berangkat menuju perusahaan. Menganggap seperti tidak terjadi sesuatu, Abi bersikap biasa saja.


...Kemana wanita itu? Apa aku terlalu kasar padanya? Ah, sudahlah....


__ADS_2