Jadi Istrinya?

Jadi Istrinya?
Bab ~ 10


__ADS_3

"Danika semakin cantik saja. Senyum tulus dan cerianya tidak pernah berubah dari dulu. Apakah dia tahu kalau sebenarnya aku sudah lama menyimpan rasa padanya? Ah! Kenapa aku jadi uring-uringan begini?"


Azka mengambil ponselnya. Ingin sekali dia menanyakan berapa nomor ponsel Danika pada Adul. Kemarin saking terburu-burunya, dia hanya meminta nomor ponsel Adul saja.


"Apa iya aku minta nomor Danika sekarang? Tapi nanti apa yang akan dipikirkan Adul padaku? Hem-" Azka menjatuhkan tubuhnya ke kasur. Dia menatap langit-langit kamarnya sambil berpikir bagaimana caranya menyampaikan sesuatu yang sudah lama bergejolak dihatinya ini.


Dulu, mereka berempat punya kesepakatan kalau diantara mereka tidak ada yang boleh saling menyukai dan mencintai. Tapi itu dulu, ketika mereka masih remaja. Sekarang Azka sudah dewasa dan menjelma menjadi pria yang sukses. Mungkin tidak akan salah kalau dia menyatakan perasaan ini langsung pada Danika.


"Atau aku lamar saja Danika sekalian? Ah! Kenapa aku jadi pusing begini?"


Dari pada memusingkan hal itu sekarang, Azka mencoba untuk tidur. Semoga saja di dalam tidurnya nanti dia bermimpi bertemu dengan Danika.


..................*****..................


"Mau kemana?" Zakia bertanya dengan curiga ketika melihat suaminya tengah bersiap-siap dengan setelan baju santai.


"Aku akan keluar sebentar dengan Mama."


Mendengar suaminya menyebutkan kata 'Mama' membuat Zakia naik darah.


"Sebenarnya kalian ada urusan apa, sih? Sering kali kalian membicarakan hal lain di belakangku! Sekarang, kalian akan pergi bersama lagi! Apa sebenarnya yang kalian sembunyikan dariku?"


Arsenio yang sedang memakai jam tangannya mendesah, inilah yang Arsenio khawatirkan. Dia belum sanggup untuk menyampaikan pada Zakia apa keinginan Mamanya. Tapi, kalau terlalu lama dia bungkam, dia takut akan semakin menyakiti hati dan hidup istrinya. Arsenio menghampiri Zakia yang sudah berderai air mata. Dia langsung memeluk istri yang sangat dia cintai itu.


"Maafkan aku, sayang." Hanya itu yang bisa Arsenio ucapkan. Berharap dapat menenangkan istrinya saat ini. Walau kalau dirasa-rasa masih belum cukup hanya dengan mengucapkan kata maaf.


"Seharusnya kita menghabiskan waktu bersama di hari libur seperti ini, Arsen. Tapi kamu lebih memilih Mamamu belakangan ini!"


Arsenio mendesah lagi. Dia mengurai pelukannya pada Zakia lalu membelai lembut pipinya. "Ucapan kamu itu salah, sayang. Aku tidak ada lebih memilih siapapun di antara kalian. Bagiku kalian itu sama. Aku sangat mencintai kalian berdua."


Zakia hanya terdiam mendengar ucapan Arsenio. Hatinya sungguh tidak puas. Yang dia mau Arsenio lebh memilih dia dari pada Mamanya yang aneh itu.


"Aku pergi sebentar, ya? Aku janji akan cepat pulang."


Zakia hanya diam, itu membuat Arsenio semakin resah. Dia kembali menatap Zakia yang berderai air mata. Haah, kenapa ini sulit sekali? Padahal, Arsenio hanya ingin cepat menuntaskan keinginan Mamanya dan segera pulang.


Arsenio tersenyum sendu. "Aku pergi." Ada rasa tidak tega sebenarnya. Ya, istri mana yang akan tidak marah kalau keadaannya seperti ini.


Zakia terduduk di lantai, dia menangis di sana. Rasa kecewa tentu saja sudah menghinggap dihatinya. Tapi dia langsung teringat dengan seseorang yang sangat spesial di hatinya. Zakia segera mengambil ponselnya dan langsung menghubungi seseorang itu.


"Aku kangen. Baiklah!"


Dengan semangat Zakia segera besiap-siap untuk menemui seseorang itu. Seseorang yang selalu bisa menyembuhkan gundah gulana dan ketidaknyamananya selama menjadi istri seorang Arsenio Robert. Entah apa yang akan terjadi kalau perbuatannya ini diketahui oleh Arsenio. Zakia tidak memusingkan hal itu kalau belum ketahuan oleh suaminya itu.

__ADS_1


..................*****..................


"Mama mengajak dia juga?" protes Arsenio. Karena tadi Mamanya bilang kalau hanya mereka berdua saja yang akan pergi mencari cincin pernikahan. Ternyata Si tukang telat ini pun juga diajak oleh Mamanya.


"Kamu ini bisa diam tidak, sih? Danika juga harus ikut, karena kan dia juga akan pakai cincin nantinya!" omel Mama Lena.


Arsenio bersedekap dada. "Menyebalkan sekali!" Diliriknya Danika yang terkekeh kecil. Membuat Arsenio mendelik tidak senang padanya. Dan yang membuat Arsenio kaget adalah Danika juga melakukan hal yang sama padanya.


'Heh! Memang lo saja yang bisa gitu sama gue, Tuan Arsenio!'


'Kurang ajar! Beraninya dia begitu padaku! Awas saja kalau sudah menjadi istriku, akan aku siksa dia!'


Tanpa sengaja Arsenio sudah berangan-angan kalau Danika akan menjadi istrinya. Mungkin saking kesalnya pada Danika, dia jadi tidak sadar sudah bergumam seperti itu di dalam hatinya.


Saat mereka di dalam toko perhiasan termahal di kota ini, Mama Lena langsung sibuk memilih kalung untuk seserahan Danika nanti. Masalah cincin, Mama Lena sudah menyerahkan kepada mereka berdua.


"Cepat pilih!" ucap Arsenio dengan ketusnya.


Danika menggeleng-gelengkan kepala dan berdecak. "Ck, ck. Tuan, Tuan tidak perlu berbicara ketus begitu pada saya. Nanti Tuan dimarahi lagi loh sama Bu Lena, hihi"


"Beraninya kamu bicara seperti itu sama saya?"


"Berani, dong! Kan tinggal bicara! Haaah, sudah dewasa tapi masih sering dimarahi sama Mamanya!" Danika tertawa mengejek, membuat Arsenio semakin jengkel.


Ingin sekali Danika mengejek Arsenio lagi, tapi dilihat dari wajahnya yang mulai masam itu, Danika mengurungkan niatnya. Jadi dia mulai sibuk melihat-lihat cincin yang akan dia pakai nanti.


Haaaah, sebenarnya dia tidak ingin menikah dengan perjodohan seperti ini. Apalagi yang dijodohkan adalah makhluk buas yang bernama Arsenio itu. Amit-amit dah! Ditambah lagi status Arsenio yang sudah punya istri. Duh! Kalau Danika ingat hal yang satu itu, ingin sekali Danika mundur. Tapi mengingat Ibu Lena sudah ada ikatan janji dengan Ibunya, mau tidak mau ya dia harus mau.


Tidak apa menikah, paling-paling pernikahan ini tidak akan lama. Apa lagi Arsenio yang begitu tidak suka padanya. Siapa juga yang suka pada orang seperti itu, pikir Danika. Yang penting janji antara Ibunya dan Ibu Lena terpenuhi. Walau pernikahan ini ujung-ujungnya akan menjadi perceraian juga nanti.


"Sepertinya ini bagus." Danika mengambil cincin emas putih berbentuk polos tanpa ukiran apapun.


Arsenio yang berdiri jaga jarak dari Danika melongo penasaran dengan pilihan gadis itu dan berdecih. "Cih! Buruk sekali pilihanmu!"


Danika langsung menoleh sinis pada pria menyebalkan itu. "Heboh sekali! Yang memilih juga aku, bukan Tuan!"


Arsenio hanya mendengus sebal. Dia harus menyibukkan dirinya dengan ikut memilih perhiasan untuk Zakia. Kalau tidak begitu, dia akan sakit jiwa berdekatan dengan Danika. Dirinya tersenyum puas ketika pilihannya jatuh pada kalung berlian yang mewah.


"Ini cocok untuk Zakia. Semoga dia suka."


"Wah! Itu untuk Nyonya Zakia, ya? Ternyata Tuan sweet juga jadi manusia, ya?"


Arsenio langsung menurunkan kalung itu dan menyembunyikannya pada genggaman tangannya. "Apa kamu tidak punya malu mendekati saya seperti ini?"

__ADS_1


"Siapa juga yang dekatin? Aku kan penasaran saja. Mana tahu Tuan juga akan membelikanku kalung seperti itu nanti!"


"Jangan mimpi!" Arsenio segera menjauh. Sedang Danika terkekeh geli.


Danika menatap wajah Arsenio yang tampan dan juga berekspresi dingin itu. Mungkin ekspresinya itu hanya Arsenio tunjukkan pada Danika. Bagaimana tidak? Danika senang sekali menggoda Arsenio yang juteknya setengah ampun itu.


Tapi saat sesi menatap itu sedang berlangsung, Danika merasakan sesuatu di dalam hatinya. Hatinya berdebar dan darahnya berdesir ketika matanya tak lepas memandangi Arsenio yang sibuk melihat-lihat perhiasan itu. Seperti ada terpaan angin lembut menyapu wajahnya. Dia tersenyum tipis dan berusaha mengendalikan dirinya lagi.


'Tuan Arsenio memang tampan sekali. Saking tampannya, ingin sekali aku mencolok matanya, hahahaa. Amboi! Sebentar lagi aku akan menikah dengan pria tampan yang bahkan sama sekali tidak menyukai aku itu. Ya, siapa yang akan suka? Dia harus menduakan istrinya demi menikah denganku karena sebuah janji. Hem-'


"Kalian sudah selesai?" Mama Lena menghampiri Arsenio dan Danika.


"Sudah, Bu." Danika menjawab sambil menunjukkan cincin pilihannya.


"Kenapa cincinnya polos begini, Ka? Kamu tidak tertarik untuk memilih cincin yang ada berliannya?"


Danika menggeleng. "Tidak, Bu. Karena Nika berharap pernikahannya bisa berjalan mulus tanpa ujian seperti model cincin ini."


Mama Lena terenyuh. "Ouuh, duh! Kata-kata kamu itu, sayang." Mama Lena mengusap sayang kepala Danika. Arsenio yang menatap mereka pun terperanjat, karena Mamanya belum pernah melakukan hal itu pada Zakia.


"Kamu sudah pilih cincin, Arsen?"


"Untuk apa Arsen memilih cincin? Apa Mama tidak lihat cincin yang ada di jari Arsen?" Arsenio mengangkat tangannya dan menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya. Mana tahu mata Mamanya buta tidak melihat ada benda itu di jarinya selama ini.


"Itu kan cincin nikah kamu dengan Zakia."


"Jadi Mama mau Arsen memakai dua cincin? Aneh sekali! Lagi pula, Arsen tidak akan melepaskan cincin ini!" ucapnya tegas sambil melirik Danika yang tersenyum mengejek padanya.


"Terserah kamu, deh!" Mama Lena pasrah, percuma mendebat putranya.


Setelah selesai dengan perhiasan, mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju toko baju yang paling mahal di kota ini yang hanya berjarak beberapa meter dari toko tadi. Tapi ketika hendak menuju toko itu, mereka bertemu dengan seorang pria.


"Lena!" panggil pria itu.


Mama Lena dengan senyum sumringah menyapa balik pria , dan segera menghampirinya. Arsenio langsung memasang wajah masam. Dia tahu siapa pria itu. Danika yang melihat interaksi antara Bu Lena dan pria itu hanya tersenyum. Dan senyumnya semakin mengembang ketika melihat wajah masam Arsenio yang berdiri jaga jarak di sampingnya.


Mama Lena yang tengah sibuk berbincang itu, menoleh sebentar pada Arsenio yang sudah berani menatapnya dengan tajam. Mama Lena langsung menaik turunkan alisnya pada Arsenio. Ting, ting, ting, begitu bunyinya kira-kira. Melihat itu, ingin sekali Danika tertawa dengan keras. Karena lucu saja melihat Arsenio begitu cemburu melihat Mamanya bertemu dengan seorang pria.


'Yah! Ada yang cemburu nih sepertinya, haha.'


Apakah Tuan Arsenio akan membanting pria yang tengah berbincang dengan Mamanya itu?


..................*****..................

__ADS_1


__ADS_2