
Arsenio memandang Danika dengan tatapan tajam setajam pisau di dapur, bahkan sampai saat dia sudah duduk dikursi tempat untuk melangsungkan akad nikah. Danika yang tahu pandangan Arsenio begitu padanya juga ikut-ikutan melakukan hal yang sama.
Reni yang mengetahui hal itu, langsung menyikut lengan Danika dan berbisik. "Eh, lo itu apa-apaan 'sih, Ka? Calon lakik lo itu!"
Danika mencebikkan bibirnya. "Biarin! Siapa suruh dia duluan yang begitu sama gue!"
"Bagaimana Tuan Arsenio? Bisa kita mulai?" tanya Pak Penghulu yang sudah paruh baya itu.
Arsenio melirik Danika yang masih berdiri di hadapannya. Danika yang begitu gugup dan gelisah menatap seorang pria yang ada di belakang Arsenio. Pria itu tersenyum dan mengerlingkan matanya pada Danika, dengan isyarat bahwa semua akan baik-baik saja. Perlahan tapi pasti Danika mulai tersenyum dengan lega.
Arsenio mengerutkan alis melihat Danika yang tersenyum, dan entah sejak kapan dia membuang waktunya untuk sekedar melihat dan ingin tahu apa yang dilakukan makhluk menyebalkan bernama Danika Aroma Kentut itu, eh salah! Aroma Melati!
'Dia tersenyum pada siapa?'
Arsenio mengikuti arah pandangan gadis itu, hingga kepalanya pun menoleh ke belakang. Alisnya semakin mengerut ketika tahu Danika tersenyum pada Asisten dan Sekretaris pribadinya.
'Apa? Dia tersenyum pada Amar? Apa-apaan itu?'
Perasaan aneh yang tanpa Arsenio sadari mulai hinggap di hati. Hatinya mulai bertanya-tanya. Apakah Amar dan Danika punya hubungan? Atau ada hal tersembunyi dari mereka? Rahang Arsenio tiba-tiba saja mengeras memikirkan hal yang tidak seharusnya dia pikirkan.
"Ayo, sayang. Duduk di samping Arsenio."
Mama Lena tiba-tiba saja datang. Padahal dia tadi tidak kelihatan batang hidungnya yang bahkan tidak berbatang itu. Tidak ada yang tahu kalau dia barusan berada di kamar mandi hendak buang air. Tapi karena roknya begitu sangat sempit dan susah dibuka, membuat Mama Lena memaki-maki roknya yang tidak ada salah dan dosa itu. Yang salah Mama Lena sendiri padahal. Hah!
Mama Lena menuntun Danika untuk duduk di samping Arsenio. Kemudian wanita itu meletakkan selendang diantara kepala mereka. Pak Penghulu langsung saja memulai acara akad nikah mereka. Dengan sekali tarikan nafas, Arsenio mengucap ijab kabul dengan lantang.
Danika memejamkan matanya sejenak. Statusnya sudah berubah sekarang, menjadi seorang istri, yang mungkin saja istri yang menyedihkan dan dibenci oleh makhluk setengah siluman naga dan singa di sebelahnya ini.
Arsenio tetap memasang wajah datar saat menyematkan cincin dijari manis Danika. Sedang dia tetap memakai cincin kawinnya bersama Zakia. Kemudian Danika menyalami suaminya itu, menyalaminya dengan takzim. Saat Danika hendak menyalami Arsenio tadi, dia sempat memandangi wajah Arsenio sejenak.
'Indahnya ciptaan-Mu wahai Allah.'
Danika tiba-tiba saja jadi mengagumi kegantengan Arsenio. Maklumlah, baru kali ini dia dapat melihat Arsenio dari dekat. Dan sekarang, aduh! Danika menyedot dalam-dalam wangi tangan Arsenio. Hingga Arsenio sendiri merasa geli. Sejujurnya bukan geli, tapi jijik.
'Ah, mungkin saja Tuan Arsenio memakai body lotion, wkwk. Atau parfumnya yang terlalu harum.'
Mama Lena tak berhenti untuk tersenyum. Sesekali dia menyeka air yang keluar dari sudut matanya. Dia merasa bangga telah menepati janjinya pada sahabatnya.
__ADS_1
Setelah acara selesai, mereka segera pulang ke rumah Arsenio. Sebelum masuk ke mobil, Danika teringat dengan baju-bajunya yang ada di kos.
"Ma?"
Mama Lena menoleh. "Iya, ada apa, sayang?"
"Mm, maaf, Ma. Baju-baju Nika masih ada di kos. Apa Nika ambil saja dulu ke sana, Ma?"
Mama Lena mengibaskan tangannya. "Iihh, ngapain kamu yang ke sana, sayang? Tenang saja, nanti itu biar jadi urusan Mama. Sekarang kita pulang, ya? Lihat!"
Mama Lena tersenyum-senyum sambil menunjuk ke arah Arsenio yang sudah menunggu dengan bersandar pada mobil. Sedang pria yang dtunjuk itu sudah memasang wajah kesal yang tidak bisa dialjabarkan ataupun dialgoritmakan, apa lagi dikuadratkan, wkwk.
Danika mengikuti arah tangan Mama mertuanya dan meneguk saliva saat melihat Arsenio. Entah saja kapan perasaan aneh ini muncul dihatinya. Melihat Arsenio berwajah marah dan kesal mirip singa begitu saja sudah hampir membuat Danika meleleh, apalagi kalau Arsenio tersenyum? Astaga, pingsanlah gue!
'Aduh! Kenapa gayanya mempesona begitu? Meleleh adek, Mas!'
"Sudah, kamu naik ke mobil sana! Kita pulang sekarang!" perintah Mama Lena.
Danika mendadak bingung, apakah dia harus satu mobil dengan Arsenio, ataukah dengan Mama mertuanya? Tapi dilihat dari wajah Arsenio yang seperti itu, membuat Danika takut.
"Ma, Nika satu mobil sama Mama saja, ya?"
Danika terpaksa mau tak mau harus pulang bersama suaminya itu. Dengan ragu-ragu dia masuk dan duduk di samping Arsenio yang sudah berdecak.
"Dasar lamban!" ejeknya.
Danika mencebikkan bibir. "Aku tidak lamban, Tuan! Rok ini terlalu ketat, aku susah berjalan!"
"Huh! Kenapa ada makhluk menyebalkan seperti dirimu dimuka bumi ini?"
Danika sedikit memiringkan badannya menghadap Arsenio. "Apa aku tidak salah dengar? Tuan memujiku tadi, ya?" Danika cekikikan. Sedang Arsenio ilfil setengah ampun.
"Oh iya, sekarang kan Tuan sudah menjadi suamiku, masa aku manggilnya Tuan terus, sih?" gerutu Danika. Arsenio mengernyit sambil melirik sekilas Danika.
"Bagaimana kalau aku memanggil Tuan dengan panggilan Bapak?" sambungnya lagi.
Arsenio menaikkan alisnya sebelah. "Bapak? Emangnya saya Bapak kamu?"
__ADS_1
"Emangnya Tuan mau meninggal juga seperti Bapak aku?"
Krik..krik..krik. Mata bawah Arsenio berkedut-kedut mirip kartun yang sedang mendapat sial. Dia sebenarnya sudah pusing memikirkan Zakia. Bingung bagaimana caranya menjelaskan ini semua. Dan sekarang, malah ada gadis gila di sampingnya.
Melihat suaminya sudah diam dan dengan wajah gelisah seperti itu menimbulkan pertanyaan dihati Danika.
'Kenapa? Apa gue salah bicara?'
"Baiklah, Tuan. Sepertinya aku akan memanggilmu dengan Mas saja, hihi."
"Bisa diam tidak? Saya menikahi kamu itu karena terpaksa. Jadi jangan terlalu berlebihan pada saya!"
"Oke, oke, Bos!"
'Uuhh dasar! Baru beberapa menit, kata-katanya sudah seperti itu! Dasar tidak bisa menjaga perasaan orang secantik gue!'
Danika bersungut-sungut. Arsenio melirik sekilas istri barunya ini. Entah kenapa ya, di dekat dia ini, emosi Arsenio selalu saja ada. Apakah Danika adalah setan berbentuk manusia yang selalu saja menggoda Arsenio? Eh, tunggu! Goda apa ini maksudnya? Arsenio langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ada apa, Mas?"
Suara lembut Danika membuat dia terperanjat dan kaget secara bersamaan. Maklumlah, ini pertama kalinya Danika berbicara layaknya wanita padanya. Biasanya gadis itu selalu berbicara ketus padanya.
Lagi pula Danika bertanya tadi karena melihat hal ganjil pada suaminya. Ngapain coba suaminya itu geleng-geleng kepala padahal tidak ada musik DJ? Danika kan merasa aneh jadinya.
"Apa Mas baik-baik saja? Ini baru beberapa menit, Mas! Mas jangan pusing dulu!"
Arsenio melongo dan menggelengkan kepalanya pelan. Dia seperti orang bodoh menanggapi ocehan Danika yang tidak dia mengerti maksudnya. Dan syukurnya dia langsung tersadar dengan cepat. Arsenio langsung membuang muka ke arah luar kaca jendela.
"Bisa diam, tidak?" ucapnya dengan suara yang agak sedikit keras. Arsenio tidak peduli ada supir di depan. Kekesalannya memang tidak bisa ditahan lagi.
Danika manggut-manggut. "Oke,oke!"
Apakah setelah tiba dirumah, Arsenio akan menumpahkan kekesalannya?
Apakah dia akan membanting sesuatu? Atau membanting Danika misalnya?
'Diamlah! Aku tidak ingin bicara!'~ Arsenio.
__ADS_1
..........................*****..............................