
Arsenio dengan tidak rela melepas kepergian Zakia ke Eropa 'lagi'. Dia menghela nafas setelah melambaikan tangan ke arah mobil yang membawa Zakia pergi. Dia masih ingat dengan pesan yang dibisikkan Zakia sebelum pergi tadi.
'Kamu ingat, kan? Kamu harus setia dan harus menjadi milikku saja!'
Arsenio mengangguk, dia bertekad untuk selalu menjalankan pesan Zakia. Dia terkadang bingung dengan pekerjaan Zakia di sana. Apakah sesering itu perusahaan orang tuanya mengalami masalah? Ah! Arsenio harus segera mengenyahkan pikiran buruk yang mulai datang lagi ke kepalanya tanpa ijin.
Danika yang baru saja keluar dari pintu menghentikan langkahnya ketika melihat suaminya ada di hadapannya. Suaminya yang sudah rapi dengan setelan jas itu tengah melamun sepertinya. Mana dengan gaya maskulin pula, tangan dimasukkan ke dalam kantung celana, apa tidak keren sekali bagi Danika.
'Melihat punggungnya saja sudah bikin gue jatuh hati. Apa lagi kalau lihat yang lainnya, hoho.'
Kalau terus-terusan memandangi Arsenio yang membelakanginya itu, alamat Danika akan terlambat masuk kantor. Untung saja sekarang dia sudah disediakan mobil dan supir pribadi yang akan siap mengantarkan dia kemanapun dia mau. Itu pun karena Mama Lena yang punya ide seperti itu.
Danika jadi semakin sayang dengan mertuanya itu. Jarang-jarang kan ada mertua sebaik Mama Lena ini, woi?
'Baiklah! Apa yang harus gue lakukan? Apakah melewatinya begitu saja, atau bagaimana? Iihh bodoh banget, sih! Kenapa otak gue gak bisa bekerja?'
Baru saja Danika hendak melangkahkan kakinya, tiba-tiba saja Arsenio berbalik. Mereka sama-sama tersentak kaget. Arsenio sempat menatap Danika, tapi hanya sekilas saja. Setelah itu, dia mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Danika hanya menunduk, entah kenapa dia malah sok-sok malu begini di depan Arsenio. Dia hanya curi-curi lirik ke arah Arsenio.
"Ehm, Mas. Aku ijin pergi ke kantor."
Danika dengan melangkah pelan sekali melewati Arsenio yang hanya diam seperti patung ditempatnya itu. Danika mencebikkan bibirnya dengan kesal.
'Memang Arseniot aneh! Hah, sudahlah!'
Setelah suara mobil yang mengantar Danika sudah menjauh, Arsenio berbalik dan menatap mobil yang sudah mulai menjauh itu. Entahlah, kenapa dia jadi seperti ini.
"Tuan, apakah Tuan ingin berangkat juga?"
Arsenio mengangguk. "Hem. Siapkan semua keperluanku!"
Anak buah Arsenio itu mengangguk lalu pamit untuk menyiapkan segala keperluan Bosnya. Tak lama mobil Arsenio pun sudah siap utnuk mengantarkan pemiliknya ke kantor.
__ADS_1
..............*****.............
Danika dengan terburu-buru berlari dari halte. Dia sengaja minta diturunkan di sana agar karyawan kantor yang lain tidak sibuk mengghibahin dia. Tahu kan kalau mereka selain menjadi penggemar Arsenio, juga menjadi wartawan dadakan. Apa kata mereka kalau Danika, karyawan yang terkenal banyak hutang, setiap harinya diantar naik mobil mewah?
Danika masih bisa tersenyum dengan leganya. Karena dia sudah merancang ini dari jauh-jauh hari. Dia juga menggunakan flat shoes agar tidak 'terpelekok' saat lari.
"Kata Azka, hari ini kita geraknya, Ka!" Reni yang baru saja sampai langsung meletakkan tas ranselnya ke atas meja memperhatikan Danika yang sedang sibuk menonton kisah horor the Tante.
Reni ilfil, ini Danika yang budeg, apa karena keasyikan nonton kisah horornya Tante?
"Woi, Ka!" Reni menggoyang-goyang pundak Danika.
Danika mendengus sebal. "Apa sih, Ren? Ganggu saja lo!"
Reni tertawa, dia kemudian menggeser kursinya dan duduk. "Lo denger gak apa yang gue bilang barusan?"
"Lo bilang apa rupanya?" tanya Danika tanpa sedikitpun mengalihkan matanya dari layar.
"Azka bilang kalau hari ini kita geraaaak!" Reni sedikit berteriak, lalu terkekeh ketika Danika yang wajahnya sudah masam itu mengusap-usap telinganya.
"Hahaha, biarin!" ledek Reni sembari menjulurkan lidah.
Tak lama kemudian, suasana hening. Biasanya kalau sudah begitu, sang pemilik perusahaan, alias Presdir perusahaan ini sedang melangkah masuk kantor beserta asisten pribadinya. Para wanita akan terkesima dengan gaya berjalan Arsenio yang cool. Semua pada terkagum-kagum dan terpesona dengan wajah tampan dan memukau dari Arsenio.
Semua karyawan pada berdiri dan memberi hormat pada Arsenio, termasuk juga Reni. Kalau Danika? Tidak usah ditanya lagi kalau dia. Dia hanya duduk dengan santai tanpa peduli dengan kehadiran Arsenio.
Arsenio melirik sekilas Danika dengan lirikan yang tajam. Hanya sekilas saja. Entah kenapa dia tidak mau menatap lama-lama Istrinya itu. What? Istri? Arsenio hampir lupa kalau dia memiliki Istri yang lain selain Zakia.
.............*****.............
Waktu berjalan dengan cepat. Jam istirahat kantor kali ini agak lebih lama dibandingkan biasanya. Waktu ini adalah waktu yang baik untuk mereka bolos sebentar untuk melakukan misi.
Danika dan Reni yang sedang menaiki mobil Adul tercengang dengan tempat yang mereka datangi. Dari jauh sudah tampak mobil Azka. Dia memang sudah memberitahu kalau mereka bertemu di tempat yang sudah dijanjikan.
__ADS_1
Saat mobil mereka akan berhenti, tampak Azka berlari kecil menghampiri mereka. Setelah mereka turun dari mobil, mereka langsung melakukan tos ala mereka dulu sewaktu sekolah.
"Jadi ini tempatnya, Bro?" tanya Adul sambil menatap sekitar.
"Iya, Bro! Gimana? Cocokkan untuk tempat kita melakukan misi?"
Danika dan Reni juga sama-sama mengedarkan pandangan mereka di tempat itu. Tempat itu memang benar-benar cocok untuk mereka.
Melihat anak-anak yang sedang bermain dengan baju lusuh seperti itu membuat Danika terenyuh.
"Yah, kok gue jadi sedih, ya? Melihat mereka, mengingatkan gue yang nasibnya juga sama kayak mereka." Danika menyeka air matanya.
Reni, Azka dan Adul kompak menatap Danika. Mereka saling pandang. Reni mendekat dan merangkul pundak Danika.
"Astaga, Nika! Lo kok cengeng sih sekarang? Dulu lo seneng banget loh melihat mereka." Adul mendekat dan mencoba menenangkan Danika.
Azka entah kenapa jadi ilfil saat Adul mendekati Danika dan ikut-ikut merangkul bahu Danika seperti Reni.
'Yang seharusnya ngelakuin itu kan gue? Apa Adul sudah berubah dan kembali ke kodratnya? Kok gue jadi kesal?' ~Azka.
Azka juga mendekati mereka bertiga. "Nika, lo sedih, ya? Maaf kalau tempat yang gue pilih ini gak nyaman lo rasa. Tapi ini yang paling cocok dari tempat-tempat lain."
Danika tersenyum. "Ya ampun, we! Kok kalian jadi gini, sih! Gue gak apa-apa, loh!"
"Ya sudah, kalau begitu ayo kita bertindak!" teriak Reni memberi semangat.
Mereka lalu menempelkan telapak tangan mereka berempat lalu mengangkatnya ke udara sambil berteriak dengan semangatnya. Wuhu-wuhu.
-Panti Asuhan Kasih- adalah tempat yang dipilih oleh Azka sebagai lokasi misi mereka kali ini. Panti asuhan di sini benar-benar memprihatinkan. Atap yang mulai bocor, kasur yang tidak layak pakai, dan pakaian mereka, jangan ditanya lagi. Makanan juga ala kadarnya, kadang mereka hanya makan nasi tanpa lauk.
Hal itu membuat hati Danika perih. Tapi kali ini Danika tidak mau sedih lagi. Dia harus semangat membantu anak-anak yang nasibnya sama seperti dia. Tiba-tiba Danika teringat dengan seseorang.
'Aku banyak berterima kasih padamu, Mas. Karena Mas-lah, aku bisa tumbuh dan hidup dengan layak, walau Ayah dan Ibu sudah tidak ada lagi di dunia ini.'
__ADS_1
.............*****.............
Mampir ke novel baru aku yang berjudul 'Terjual Untuknya' 😍