Jadi Istrinya?

Jadi Istrinya?
Bab ~ 29


__ADS_3

Setelah Danika turun menggunakan lift, Arsenio baru mengalihkan matanya juga ke arah lift. Dia menghela nafas. Terkadang ingin rasanya tersadar dari apa yang sudah dia lakukan saat bersitatap dengan Danika. Tapi aneh, kenapa dia tidak bisa selain hanya memandanginya saja.


'Aneh! Mungkin karena Danika aneh. Aku harus hati-hati agar tidak ketularan aneh. Hah! Aku lapar sekali!'


Arsenio kemudian turun menggunakan lift untuk sarapan.


.........****.........


Tok, tok, tok. Beberapa kali sudah Danika mengetuk pintu kamar Mama mertuanya. Karena tidak ada jawaban, Danika buka saja pintu kamar Mama mertuanya. Celingak-celinguk mata Danika berkeliling mencari keberadaan Mama Lena.


"Iyak, satu, dua, tiga."


Terdengar samar-samar suara musik dan orang berbicara. Danika mengernyit. "Kayaknya itu Mama. Mungkin di balkon."


Danika membuka pintu balkon. Dan benar saja Mama Lena di sana tengah melakukan senam yang tidak Danika mengerti.


'Mama lagi senam apa, sih? Kok mirip dugong gitu gayanya? Aneh-aneh aja senam zaman sekarang!'


"Ma."


Mama Lena menoleh dan tersenyum. "Eh, sayang?" Mama Lena bangkit lalu mem-pause-kan laptopnya. "ada apa, sayang? Tumben kamu sudah cantik pagi-pagi begini?"


Mata Mama Lena melirik-lirik ke arah jari manis Danika yang sebelah kanan. Alisnya menyatu memikirkan sesuatu.


'Itu cincin-nya ada. Kenapa kemarin aku lihat Danika tidak memakai cincin?'


Danika yang merasa tangannya diperhatikan oleh Mama Lena menoleh sekilas ke mana mata Mama Lena tertuju.


"Ada apa, Ma? Apa ada yang salah?"


Mama Lena mengambil tangan Danika. "Kemarin Mama gak sengaja ngelihat jari kamu yang gak bercincin."


Eh? Mata Danika membola, dia refleks menggigit bibirnya. "Ah, masa sih, Ma? Nika pakai, kok!"


Mama Lena memicing menatap Danika. Danika dag dig dug jadi salah tingkah.


"Kamu jangan bohong, Nak?"


Danika menunduk dan menghela nafas. "Iya, Ma. Selama di kantor, Mas Arsenio melarang Nika pakai cincin-nya-"


"Apa? Berani betul anak itu, ya?"


Belum lagi Danika selesai bicara, Mama Lena sudah mencak-mencak tidak karuan. Membuat jantung Danika ingin keluar dari tempatnya. Dadanya naik turun, sedang hidungnya yang berlobang dua itu kembang kempis tidak beraturan.


'Untung jantung gue ciptaan Allah! Kalau gak, mungkin gue sudah jadi Almarhumah Danika yang cantik dan imut aduhai! Hadoh!'


"Ma, jangan marah!"


"Awas saja, akan aku gantung anak itu nanti!"


Danika mengernyit. "Gantung? Mama mau gantung Mas Arsenio?"

__ADS_1


Mama Lena berkacak pinggang. "Iya! Kenapa?"


"Mama yakin kuat ngangkat Mas Arsenio?" tanya Danika sembari mengulum senyum.


"Ya, gak! Bisa mencret lah Mama kalau ngangkat dia!" ucap Mama Lena polos seakan tak ada dosa.


Danika tidak bisa lagi menahan tawanya, dia langsung tertawa. 'Ah, lucu sekali Mama mertuaku!'


"Mama jangan khawatir, ya? Walau Nika gak pakai cincin kawinnya, Nika tetap Istri Mas Arsenio, kok."


Mama Lena terenyuh. Dia memandang sendu Danika lalu mengusap kepalanya dengan lembut. "Kamu sabar ya, Nak?"


Danika tersenyum menatap wajah Mama Lena yang begitu teduh. "Iya, Ma. Sekarang jangan khawatir lagi, ya?"


"Oh iya, kamu mau ke mana?"


"Egh, Nika mau pergi sama Reni, Ma."


"Oh, mau jalan-jalan, ya?"


Danika cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Iya, Ma. Sudah lama kami gak kumpul!"


Mama Lena menerawang. "Lama? Bukannya kalian selalu bersama ya setiap di kantor?"


"He-he, iya, Ma. Cuma besok 'kan Nika sudah gak di samping dia lagi duduknya."


"Oh iya juga ya? Ya sudah, kamu hati-hati ya, Nak? Cepat pulang."


Danika menyalami tangan Mama Lena dengan takzim. "Iya, Ma. Nika berangkat, Ma."


"Duh! Kenapa sering sakit lagi, ya? Kayaknya aku stres nih ngadapin anak nakal itu! Hah! Mirip Papanya. Kalau Papanya suka nakalin aku, makanya jadi si Arseniot itu. Hah, seandainya aku jadi kawin lagi waktu itu."


Ambigu sekali ucapan Mama Lena, adakah yang mengerti?


............*****............


Amar duduk dengan tenang dikursi tunggu para penumpang sebelum boarding pesawat. Matanya sesekali sibuk memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Setelah itu dia mengambil sesuatu dibalik kantung jaket jeans-nya yang ternyata sebuah foto berukuran 4 inci. Amar tersenyum memandangi gadis kecil yang ada difoto itu.


Amar jadi teringat waktu itu hanya mampu mencetak foto dengan ukuran segitu karena keadaannya yang tidak punya uang. Beda dengan sekarang, dia bahkan begitu sukses. Punya mobil mewah dan apartemen mewah. Jangankan mencetak foto ukuran 4 inci, mencetak dengan ukuran yang paling besar berjuta-juta lembar juga dia sanggup.


Dia sangat berterima kasih kepada Papanya Arsenio yang mau merekrut dia sebagai sekretarisnya dulu. Dia juga pernah menjabat menjadi wakil Ceo pada perusahaan cabang milik Papa Arsenio yang ada di Bandung. Dia tidak menyangka, akan kembali memimpin di sana, meninggalkan gadis kecilnya yang bahkan tidak masalah kalau dia tinggalkan.


Dari awal semenjak dia tahu hanya menjadi anak angkat Pak Toyib dan Ibu Sawiyah, dia mulai merasakan sesuatu di dalam hatinya pada Danika. Gadis kecil yang dia jaga itu mendadak tumbuh menjadi gadis yang cantik, baik hati dan berbudi pekerti yang luhur, dan tak ketinggalan dengan segudang hutangnya, itu kalau dia tahu.


Seandainya saja dia mengambil langkah yang lebih cepat sedikit untuk menyatakan cintanya pada Danika, mungkin mereka akan bersama sekarang. Itu pun kalau Danika mau dia nikahi.


Ternyata takdir berkata lain, Danika malah dijodohkan dengan Bosnya sendiri. Habisnya mau bagaimana lagi, bisa saja dia menculik Danika dan menikahinya secara paksa, tapi sepertinya dia tidak setega itu. Biarlah ini terjadi, sebagai hamba-Nya yang taat, dia yakin ini ketentuan yang paling baik yang Allah berikan padanya.


'Aku berharap Nika selalu bahagia bersama Arsenio. Ah, aku akan rindu sekali padanya.'


"Mas! Mas Amar!"

__ADS_1


Teriakan heboh terdengar samar-samar ditelinga Amar. Amar langsung menoleh dan menyunggingkan senyum. Senyum yang jarang sekali dia tampilkan pada siapapun.


Amar langsung berdiri, dia merentangkan tangannya. Danika mempercepat laju larinya dan menabrak tubuh Amar. Amar memeluk Danika dengan erat.


Setelah menguraikan pelukan, Amar memandangi wajah Danika dengan penuh kasih dan sayang. Yang ternyata sudah lebih dari rasa sayangnya Kakak pada seorang Adik. Amar mengusap lembut kepala dengan rambut hitam itu.


Danika mengerjap, dia baru ingat kalau dia tidak datang sendirian, dia bersama Reni tadi.


"Mas, Nika sama Reni." Danika menoleh sedikit pada Reni yang seperti agak syok dengan kejadian di depannya barusan.


"Oh, ya?" Amar memiringkan sedikit kepalanya untuk melihat Reni yang posisinya ada di belakang Danika. Amar tersenyum pada Reni. Ya, dia tersenyum juga karena Reni adalah sahabat dari Danika.


Reni yang baru ini melihat Amar tersenyum, seketika terhipnotis. Matanya mengerjap-ngerjap beberapa kali.


'Gi..gila! Tuan Amar ganteng banget, coy!'


Tiba-tiba Reni langsung jatuh hati pada pemuda yang umurnya sudah melebihi batas untuk menikah. Duh! Jadi kesemsem gitu tuh Reni. Terbukti dengan Reni yang sudah senyum-senyum sendiri dari tadi.


Danika langsung ilfil. Dia menjentikkan jari tepat diwajah Reni. "Woi, woi! Lo gak kesyurupan kan di sini?"


Reni mencebikkan bibir. "Iihh apaan sih,lo!"


Danika tertawa, dan Amar juga ikut-ikutan tertawa. Reni yang sekarang malah jadi ilfil melihat kedekatan antara Kakak dan Adik yang tidak sewajarnya itu.


Eh, apakah iya? Soalnya dia dan Adiknya selalu saja bertengkar, bahkan pada masalah sepele sekalipun, mereka tidak segan jambak-jambakan dan cakar-cakaran. Tidak pernah so sweet seperti Danika dan Amar.


"Sepertinya Mas sudah harus berangkat, Dek?"


Danika tampak cemberut. "Yah! Apa Mas akan cepat pulang lagi ke sini?"


Amar mengusap kepala Danika. "Pasti, Dek! Atau kalau kamu rindu sama Mas, kamu bisa berkunjung ke sana bareng Suami kamu. Atau kalau gak bisa bareng Reni." Amar melirik sekilas Reni yang tampak grogi ketika namanya dia sebut.


'Eh, eh, eh. Apa itu? Gak salah dengerkan gue? Nama gue disebut sama Tuan Amar! Ingin sujud syahwi gue! Eh, sujud syukur!'


"Mas berangkat, ya?" Amar mengulurkan tangannya pada Danika.


Danika mengambil uluran tangan Amar dan menciumnya. Danika terisak, baru kali ini dia akan berjauhan dengan Kakaknya.


Amar mengusap air mata Danika. Sebenarnya dia juga ingin menangis. Amar kembali memeluk Danika dengan erat.


"Mas akan rindu Adek. Jadi Istri yang baik ya untuk Tuan Arsenio. Dia orang baik."


Amar lalu mengurai pelukan mereka dan menatap Danika yang lagi-lagi menyeka air matanya.


"Insya Allah, Mas."


"Ingat, Dek. Ridho Allah tergantung ridho dari Suamimu."


'Astoge! Kenapa malah ceramah sih, Mas? Tapi baiklah! Nika akan berusaha!'


Amar berjalan meninggalkan mereka, terlebih meninggalkan Danika yang sibuk menangis menatap punggung lelaki yang selama ini dia tahu sudah sangat menyayanginya.

__ADS_1


"Hati-hati, Mas!"


..............******..............


__ADS_2