
'Benerkan isi kepala gue kalau mereka makan di sini dengan adegan mesra kayak begitu! Huh!'
Azka memesan meja yang sedikit agak lebih jauh dari meja Arsenio. Tapi tetap saja Danika masih bisa melihat dengan jelas apa saja yang dilakukan suaminya dengan istri pertamanya itu. Menyebalkan tahu!
"Mau pesan apa?" Azka menyodorkan buku menu pada Danika. Padahal Reni yang sudah mau mengambil duluan tadi.
"Ehem," Reni berdehem. Dia menyenggol lengan Danika.
Danika langsung melotot. "Apa sih?"
"Mau pesan apa, Ka?" ucap Azka dengan lembutnya sambil tersenyum manis pada Danika.
'Eh!' Danika jadi kikuk dan malu-malu miaw. 'Seandainya gue belum menikah, Ka. Sudah gue nyatain kalau gue suka sama lo! Tapi sekarang, bahkan hampir seluruhnya hati ini sudah gue ukir dengan nama suami gue. Walaupun cinta gue gak berbalas, hem, syedih syekali gue, kan? Kenapa gue malah curhat sama lo begini? Padahal lo gak bisa denger apa kata hati gue. Hiks, hiks, Danika, kenapa lo bodoh banget sih jadi makhluk!'
"Sudah buruan, lambat banget lo mikir! Sini gue aja duluan!" Reni sigap merebut buku menu itu dari tangan Danika. Lagi pula dia sudah kelaparan dari tadi.
Reni sudah memesan, Danika jadi mengikut saja apa yang Reni pesan. Azka langsung sibuk mengajak Danika berbicara, Reni tidak masalah dan tidak ada rasa cemburu karena dia lebih diabaikan sepertinya oleh Azka. Karena sudah dari lama juga Reni tahu Azka pun punya rasa yang sama seperti Danika.
'Haaah, seandainya aja kalian memang berjodoh, pasti akan bahagia banget.'
Reni menghela nafas, dia mengambil ponselnya dari dalam tas. Niatnya sih mau selfie. Baru saja mengangkat ponselnya, matanya malah tak sengaja melihat Arsenio dan Zakia lagi makan dengan mesranya.
Reni melirik sekilas Danika. 'Apa Nika tahu kalau suaminya ke sini? Kayaknya dia sudah tahu, buktinya dari tadi dia murung terus. Hem, kasihan kamu, Ka. Tapi gue mau bilang apa, suaminya juga makan dengan istrinya yang sah.'
"Ren, Reni?"
Reni menoleh dengan gelagapan. "Eh, iya, Ka? Ada apa?"
"Lo ngelihatin apa? Serius banget?" tanya Azka.
"Paling ngelihatin cowok ganteng!" sahut Danika sembari menyedot jus yang baru saja terhidang dimeja mereka.
Reni mendelik sebal. "Diam lo, Ka! Heboh banget muncung lo itu!"
Danika hanya mencebikkan bibirnya yang disambut tawa oleh Azka. Ah, siapa yang tahu kalau Azka begitu terkesima melihat Danika.
'Dia cantik sekali. Boleh tidak dia kubungkus, lalu kubawa pulang ya Allah?'
Azka terus saja menatap Danika dengan tersenyum. Danika yang tidak sengaja bersitatap dengan Azka langsung kikuk. Sedang Reni terkekeh tanpa suara.
"Ehem." Reni sukses membubarkan aksi yang terjadi antara Danika dan Azka.
"Oh iya, gue sudah dapat tempat untuk kita melakukan misi." Azka mulai berbicara setelah beberapa saat mereka diam.
"Wah, benar, Ka? Gak sabar gue!" jawab Reni dengan antusias.
__ADS_1
"Tapi gue belum bisa ikut, Ka. Gaji gue selalu dipotong sama Tuan Arsenio. Mana hutang gue belum dibayar lagi! Lo bisa bayangin tinggal berapa gaji gue sekarang," ucap Danika dengan melow. Dia mengangkat gelas jus yang dingin itu lalu meletakkannya dijidatnya supaya adem.
Azka mengernyit. "Emang lo bikin apa sampai gaji lo dipotong?"
"Terlambat lah! Apa lagi!" Reni ikut menimpali yang langsung dapat pelototan mata Danika.
"Gue tonjok juga lo lama-lama ya, Ren!" Danika sudah mengepalkan tangannya dan siap mengarahkan ke wajah Reni. Sedang Reni hanya terkekeh.
"Memang hutang lo ada berapa? Gue bantu bayarin."
Danika berbinar. Dia tidak mau sok-sokan jaim jadi manusia. Selagi ada yang bantu, harus diterima dengan tangan terbuka, dong? hoho.
"Gak banyak, sih."
"Ya sudah, nanti kirim nomor rekening lo, ya? Nanti gue transfer."
Danika tersenyum lega. "Egh, makasih banyak ya, Ka."
Azka tersenyum manis. "Sama-sama."
Reni yang sibuk mengunyah menatap mereka satu persatu. Dia jadi merasa hanya sebagai obat nyamuk diantara Danika dan Azka. Hadeh!
"Ka, lo tadi bilang sudah dapat tempat? Di mana?"
Reni mengusap-usap tangannya. "Wah, keren nih!"
Makanan mereka akhirnya terhidang juga. Mereka segera makan, karena jam istirahat kantor juga sudah hampir selesai.
Setelah selesai membayar, Azka langsung mengantar dua gadis itu kembali ke kantor. Danika yang tadi sempat melirik ke meja Arsenio bernafas lega karena suaminya itu sudah tidak ada di sana.
'Sudah balik Mas Arsenio sepertinya. Jadi aman!'
Saat mobil hendak jalan, perut Reni tiba-tiba saja mulas. Dia langsung heboh turun dan mencari toilet di sekitar restoran itu. Dan kini tinggal Danika dan Azka saja di dalam mobil.
Entah ada apa, mereka menjadi grogi satu sama lain. Yang paling kelihatan grogi sih Azka sebenarnya. Padahal duduk mereka terpisah. Azka di depan, sedang Danika di belakangnya. Bolak-balik pria itu melirik Danika dari spion.
"Ehem, Nika."
Danika yang diam-diam menonton kisah horor Tante langsung melepaskan headset-nya. Dia celingak-celinguk menatap sekitar.
'Perasaan ada yang manggil? Jangan-jangan hantu yang ada dicerita ini keluar dan minta kenalan sama gue lagi? Sorry hantu, gue sudah ada yang punya.'
Melihat itu, Azka hanya bisa geleng-geleng kepala dan ingin tertawa sambil meletakkan genggaman tangannya ke mulut, agar suaranya tidak terdengar.
"Nika," panggil Azka sekali lagi. Dia menolehkan kepalanya ke belakang dan menatap Danika dengan intens.
__ADS_1
Danika kembali melepas headset-nya dan langsung menatap Azka dengan grogi.
"Eh, ada apa, Ka?"
Azka menjatuhkan pandangannya sejenak lalu terkekeh. "Kamu ngapain? Gue panggilin dari tadi gak nyahut."
Danika terkekeh sembari mengusap tengkuknya. "Sorry, ya. Gue nonton kisah horor Tante. Hehe."
"Oh iya, ngomong-ngomong lo sudah punya cowok?"
Danika tersentak dengan pertanyaan Azka. "Apa? Punya cowok?"
Azka mengangguk. "He-em. Lo sudah punya belum?"
'Waduh! Gue gak punya cowok, Ka. Tapi sudah punya suami.'
"Gue mana punya cowok, Ka. Lo kadang ada-ada aja nanyanya. Mana ada yang mau sama gue yang miskin dan yatim piatu ini."
Azka mengernyit. Dia tidak suka ucapan Danika barusan. Memang kenapa kalau dia yatim piatu? Kalau menikah nanti kan bisa pakai wali hakim. Gampang urusannya.
"Lo ini kalau ngomong itu jangan asal ngada-ngada. Lo itu cantik, pinter lagi, loh. Banyak yang suka." 'Termasuk gue, Ka.'
Danika memonyongkan bibirnya. Tapi setelah itu diam tersenyum. "Eh, lo baru aja bilang gue cantik, ya? Awas! Nanti lo bisa naksir gue! Haha."
"Memang sudah," ucap Azka santai lalu membenarkan posisi duduknya seperti semula . Tapi di dalam hati gedebug, dundrang, dundrang tidak menentu. Sampai-sampai keringat mulai muncul dikening.
Danika tersenyum lebar, entah kenapa ada rasa senang saja gitu Azka mau berterus terang perihal perasaannya. Hal yang selama ini Danika inginkan. Tapi sayang sekali, sudah ada tembok penghalang diantara mereka.
Danika memberanikan diri melirik Azka dari spion, tidak disangka lirikannya itu dibalas oleh Azka. Dan akhirnya mereka jadi salah tingkah lagi. Untung saja Reni sudah kembali dari toilet. Jadi mereka tidak perlu lagi sibuk melirik dan grogi.
Di dalam perjalananpun, Azka masih sempat melirik Danika yang memandang ke arah luar jendela. Lagi-lagi senyum terukir di bibir pria tampan itu.
'Jadilah milikku, Nika.'
................*****................
Maaf ya, sudah lama gak update cerita ini. Habisnya yang ngelike sedikit kali. Aku kan jadi syedih. Untung aja aku gak nangis kejer-kejer.
Kalo bab ini banyak yang ngelike dan komen, janji aku we dengan sepenuh jiwa akan update bab selanjutnya. Ciyus aku pokoknya.
Dah cukup penjelasannya ya kan we? Cukup? Belum? Cukupkan ajalah, wkwk.
Pokoknya jangan lupa like dan komen we, maksa aku nih. Kalo gak, aku merajok, nih!
Wkwk. salam hangat we? seperti teh hangat yang manis, semanis akuuuu! Eaaak, wkwk. Aku padamu, sarangheo, ting! 😉
__ADS_1