
Danika sedang mengambil makanan di dalam kulkas, baru saja dia bahagia melihat apel dan ingin segera menggigitnya, tapi tidak jadi karena dia tiba-tiba merasa merinding.
Danika mengusap tengkuknya. "Ada apa? Apa di sini ada hantu?"
"Hei, kamu!"
Mata Danika melebar, dia kenal dengan suara yang memanggilnya itu. Senyum sinis nya terbit begitu saja dari bibirnya.
'Pantas saja gue merinding. Ternyata ada hantu berupa Zakia, eh, Mbak Zakia. Panggil Mbak biar lebih sopan ya, kan?'
Danika berbalik dan langsung menggigit apelnya sembari menatap Zakia yang sudah berwajah mirip singa yang hendak menerkam Danika.
"Mau, Mbak?" Danika mendekat dan mengulurkan apelnya ke hadapan Zakia. Zakia dengan kesal menepis apel itu hingga terjatuh ke lantai.
"Apa mau kamu, hah?"
Danika menatap sejenak apelnya dan mengalihkan tatapannya pada Zakia dan tersenyum sinis. "Aku gak mau apa-apa, Mbak. Aku hanya ingin makan apel tadi. Tapi Mbak malah menjatuhkan apelku."
"Jangan kurang ajar kamu sama aku, ya? Apa yang sudah kamu lakukan dengan Suamiku, hah?"
Danika meringis dan menggaruk tengkuknya. "Kok Mbak dari tadi hah-hah terus 'sih bicaranya? Apa Mbak Zakia budeg, ya?" Danika kemudian cekikikan dengan menutup mulutnya menggunakan tangan.
Zakia semakin naik darah, dia menarik tangan Danika dan sedikit mencengkramnya dengan kuat. "Kamu dengar, ya?"
"Iya, aku dengar!"
Belum lagi Zakia melanjutkan omongannya, Danika malah sudah memotong. Ingin sekali dia mencekik wanita di depannya ini.
"Awas saja kalau kamu sampai berani berbuat yang lebih dengan Suamiku!"
Danika dengan santai dan tersenyum smirk melepaskan cengkraman Zakia yang tidak ada rasanya bagi dia. "Berbuat yang lebih bagaimana sih maksudnya, Mbak? Toh, kalau kami berbuat yang begitu sudah sewajarnya, kan? Kami sudah suami istri, yang sah lagi."
Zakia mengepalkan tangan. Dia lalu menunjuk-nunjuk wajah Danika. "Aku tidak akan biarkan kamu merebut suamiku-"
Danika bersedekap dada. "Ralat, Mbak. Suami kita!"
__ADS_1
Zakia seperti kehilangan kata-kata meladeni orang yang anehnya hampir sama dengan mertuanya ini.
"Mbak jangan takut. Aku tidak akan merebut Mas Arsenio. Tapi aku akan pastikan kalau dia sendiri yang akan datang menghampiriku nanti." Danika dengan percaya diri menatap Zakia sambil tersenyum miring.
Dada Zakia semakin bergemuruh. Dia pergi meninggalkan Danika dengan perasaan begitu marah. Kelihatan sekali dari hentakan kakinya saat berjalan.
"Jangan terlalu kuat banget hentakan kakinya, Mbak. Nanti bisa gempa gunungnya! Entar molor lagi! Hahahaha."
Danika sedikit berteriak. Dan itu sukses menghentikan langkah Zakia, tapi hanya sebentar saja. Setelah Zakia tidak kelihatan lagi batang hidungnya, Danika langsung menghela nafas.
"Haah, lelah banget!" Danika berpikir sejenak. "Apa mereka bertengkar tadi, ya? Haha, Mama sih ada-ada saja! Kira-kira Mbak Zakia tadi mau ke mana, ya? Kayaknya dia ke arah pintu keluar, deh! Kok gue jadi penasaran, ya?"
Danika segera pergi ke arah pintu keluar. Dia berdiri dibalik tirai dan mengintip. Ada Zakia berdiri di sana dengan seorang pria di sampingnya. Tapi ada hal lain yang menjadi pertanyaan Danika.
Danika mengernyit memperhatikan apa yang dilakukan pria itu pada Zakia yang sedang sibuk mengetik sesuatu diponselnya.
'Pria itu siapa? Apakah dia supir Mbak Zakia? Tapi kalau dia cuma supir, kenapa begitu banget memandang Mbak Zakia?'
Tak lama kemudian, Zakia masuk mobil bersama pria itu. Tentu saja pria itu sebagai supirnya. Mobil itu melaju begitu saja pergi dari perkarangan mansion ini.
"Sedang apa kamu di sini?"
Suara bariton mengagetkan Danika. Bahu Danika sampai terangkat saking kagetnya. Dan yang lebih bikin kaget lagi adalah sang pemilik suara itu kini menarik tangannya agar keluar dari tempat menguntitnya.
Seketika mata Danika terbelalak dan berbinar-binar menjadi satu kesatuan saat tahu tangannya disentuh oleh Arsenio.
"Sedang apa kamu, hah? Sibuk dan penasaran dengan Istri saya?" ucap Arsenio tanpa melepaskan pegangan tangannya. Entah sadar entah tidak dia.
"E, eh, eh. Mas mulai pegang-pegang aku, nih! Mau pegang yang lain juga gak, Mas?" Danika mengedip-ngedipkan matanya dengan genit.
Arsenio tersentak dan menoleh pada tangannya. Dia langsung melepaskan tangannya yang memegang tangan Danika. "Hiii, siapa juga yang ingin memegang kamu?"
Danika menerawang ke atas. Tangannya menyentuh dagu, sok-sok berpikir gitulah. "Tapi tadi Mas memegang aku, loh. Sepertinya Mas memang ingin melakukan itu tadi sama aku, hihi."
Mata bawah kiri Arsenio langsung berkedut-kedut. Dia menatap sebal makhluk di depannya. Arsenio berkacak pinggang. "Sebenarnya apa mau kamu, Danika? Kamu tahu tidak, saya dan Istri saya jadi bertengkar karena hal sepele dan tidak masuk akal seperti tadi!"
__ADS_1
"Aku gak mau apa-apa, Mas. Aku cuma muntah-muntah karena kebanyakan minum kopi. Aku juga gak tahu kalau kalian semua tiba-tiba ada di kamar tadi." Danika memelankan sedikit suaranya saat bicara, Mau bagaimana juga, Arsenio adalah suaminya. Dia harus hormat. Hormaaaat, gerak!
Arsenio menghela nafas. Dia menyugar rambutnya ke belakang. Itu semua tak luput dari pandangan mata Danika. Mata Danika otomatis membulat melihat pemandangan indah di depannya. Bahkan adegan Arsenio menyugar rambutnya itu seperti slow motion dimatanya. Tinggal ditambahin instrumen romantis akan lebih mantap sepertinya.
Arsenio mendadak terkejut melihat Danika menatapnya dengan begitu aneh. "Ngapain kamu ngelihatin saya seperti itu?"
Danika mendengus. "Masa ngelihat suami sendiri gak boleh, Mas?"
Arsenio kembali berkacak pinggang. "Lain kali kalau kamu ngelihatin saya, akan saya potong gaji kamu!"
"Apa? Enak sekali Mas melakukan itu sama aku? Kalau dipotong terus, gajiku bakalan habis!"
Arsenio menatap Danika dengan tajam. "Itu bukan urusan saya!"
Arsenio segera pergi dari sana. Dia malas berurusan dengan wanita bernama Danika Aroma Melati itu. Masih bisa dia dengar gerutuan dari Danika yang terasa aneh ditelinganya.
..............*****.............
Arsenio merebahkan dirinya diranjang. Dia begitu lelah saat menghadapi Zakia yang kalau sudah merajuk melebihi anak kecil. Arsenio menggunakan tangannya sebagai alas kepalanya, matanya menatap langit-langit kamar.
"Untung saja aku sudah kasih dia uang jajan tadi. Terserah dia mau ke mana malam ini. Paling dia akan berkumpul bersama teman-teman sosialitanya. Hah, itu lebih baik dari pada dia memarahiku tidak jelas. Sakit telingaku! Padahal aku tidak salah apapun dalam hal ini."
Arsenio mengoap, dia benar-benar sudah mengantuk. Dia mencoba memejamkan matanya untuk tidur. Tiba-tiba dia kembali membuka matanya. Arsenio mencoba untuk miring ke kanan dan ke kiri. Tapi lagi-lagi dia tidak bisa tidur. Setiap memejamkan mata, bayangan ketika dia refleks menarik tangan Danika tadi menari-nari di pelupuk matanya.
"Ah, sial! Kenapa aku malah terbayang-bayang hal tidak berguna seperti itu?"
Arsenio bangkit lalu melempar bantal ke sembarang arah. Dia mengusap-usap wajahnya frustasi. Tidak bisa tidur itu benar-benar membuat stres loh. Arsenio berdiri dan berjalan menuju toilet. Di sana dia mencuci wajahnya di wastafel. Kemudian Arsenio menatap cermin.
"Apa aku harus membaca ayat kursi agar bayangan Danika bisa hilang?"
Apakah Arsenio bisa tidur tanpa terbayang-bayang Danika lagi?
'Memang gue hantu? Yang kalau dibacain ayat kursi langsung hilang?' ~Danika.
..................*****..................
__ADS_1