
Di pagi hari yang cerah ini, yang memang belum tahu beneran cerah apa tidak karena belum keluar rumah, wkwk. Sebelum berangkat ke kantor, Danika tak lupa mampir ke kamar mertuanya untuk mengecek kesehatannya.
"Alhamdulillah, badan Mama sudah gak panas." Danika menurunkan telapak tangannya dari kening Mama Lena.
"Alhamdulillah, karena kamu yang ngurusin Mama, makanya Mama cepat sembuh."
Danika tersenyum mendengar pujian mertuanya. Walaupun sekarang yang memuji masih Mama mertua tidak apa-apa, mana tahu besok-besok Suaminya yang akan memuji dia ya, kan? Amboi!
Mama Lena tak sengaja melirik tas bekal yang Danika pegang. "Itu apa, Ka? Kamu bawa bekal?"
Danika nyengir kuda. "Iya, Ma. Hehe. Biar hemat!"
Danika tidak mau bilang alasan dia membawa bekal karena apa pada mertuanya. Padahal alasan dia membawa bekal adalah, untuk menghindari sarapan bersama-sama dengan Arsenio dan Zakia.
Mama Lena mengernyit. "Kok biar hemat?" Mama Lena menarik laci nakas yang ada di samping ranjangnya, dan mengambil sesuatu di dalamnya lalu menyerahkan pada Danika.
'Hah? Kartu? Untuk apa Mama ngasih ini ke aku?'
"Untuk apa ini, Ma?"
"Untuk jajan kamu!"
Danika menggeleng lalu meletakkan kartu itu ke dalam genggaman Mama Lena. "Mama simpan aja, ya? Nanti kalau Nika butuh, Nika ambil."
Mama Lena memonyongkan bibir. "Ah, kamu ini! Jangan sok segan gitu, ah! Ini Mama kamu loh!"
"Hehe, iya Nika tahu. Cuma Nika belum butuh. Mama simpan aja dulu, ya? Nika takut hilang."
"Ya sudah, deh!"
"Nika pamit ya, Ma?" Danika mencium takzim tangan Mama Lena.
Mama Lena mengusap kepala Danika. "Iya, sayang. Hati-hati, ya?"
Tak lama setelah Danika pergi, Arsenio masuk. Dia langsung duduk di tepi ranjang dan sibuk memegang kepala, tangan dan kaki Mamanya.
"Eh, ngapain kamu?"
"Mama sehat, kan?" ucapnya sambil sibuk mengecek panas di kening Mama Lena.
"Memangnya aku sudah mati? Sudah tahu Mama sudah sehat, masih tanya lagi! Apa matamu sudah buta?" Mama Lena bertanya dengan ketusnya.
"Mama, Arsen minta maaf baru bisa lihat Mama."
"Alah! Bilang aja kamu sibuk dengan Zakia sampai lupa sama Mama! Untung aja ada Danika yang mau merawat Mama."
Arsenio tersenyum memandangi Mamanya yang masih sibuk cemberut. "Iya, Ma."
Mama Lena melotot. Seakan-akan tidak suka dengan jawaban Arsenio. "Apa iya, iya?"
Arsenio menoel dagu Mamanya. "Ish, jangan marah gitu, dong? Nanti makin kempot, loh!"
Mama Lena mendelik. "Muncungmu itu apa gak bisa di jaga? Enak aja bilang Mama sudah kempot!"
__ADS_1
Arsenio terkekeh. Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Iya, iya, cantik. Sudah jangan marah-marah ya, Ma? Arsen berangkat dulu." Arsenio bangkit, lalu sedikit membungkukkan badannya untuk mengecup kening Mama Lena.
"Hem," jawab Mama Lena jutek.
"Cepat sembuh ya, Ma?"
"Hem,"
Arsenio tertawa melihat tingkah Mamanya, dia lalu keluar dari kamar. Arsenio menghembuskan nafas dengan lega. Akhirnya dia bisa leluasa memperhatikan kondisi Mamanya. Ini semua karena Zakia sudah pergi duluan tadi ke kantornya.
Arsenio berjalan keluar. Di depan, mobil sudah terparkir, dan ada beberapa orang bodyguard yang menunduk hormat pada Arsenio. Salah satu dari mereka membukakan pintu mobil.
Sebelum masuk ke dalam mobil, Arsenio melirik salah satu bodyguard yang berdiri paling dekat dengannya. Dia menunjuk Bodyguard itu dengan tangannya.
"Hans."
Pria berbadan tegap dan mengenakan kaca mata hitam itu langsung menoleh ke arah Arsenio. "Iya, Bos?"
Arsenio melipat tangannya di dada. "Sudah waktunya kau bertugas di kantor."
Hans menunduk hormat. "Baik, Bos."
"Aku berangkat duluan. Kau menyusul."
"Baik, Bos!"
Arsenio lalu masuk ke dalam mobil, Bodyguard dengan segera menutup pintu. Mobil itu langsung melaju membelah jalanan yang masih lengang.
..........*****.........
Biasanya juga gue sarapan, makan dua bungkus nasi uduk baru kenyang. Amboi! Tapi makasih banget sama Bik Sarinem yang sudah bikinin gue ini. Duh, seneng. Rasanya kayak punya banyak Ibu."
Danika dengan lahap memakan sarapannya, tak lupa sekotak susu menjadi pelancar makanan itu masuk ke lambungnya.
"Alhamdulillah."
Tak lama Adul datang dan kemudian Arsenio. Pekerjaan hari ini tidak terlalu berat Danika rasa. Semuanya berjalan dengan lancar.
Dan tumben-tumbennya Arsenio bersikap sewajarnya atasan padanya. Biasanya kan dia selalu sinis sama Danika.
Saat sore hari setelah jam pulang kantor, Danika mengajak Reni nongkrong di cafe dekat kantor mereka.
"Ren, gue denger lo bakal ke Bandung, ya?"
"Iya, Ka. Kok lo tahu?"
"Tadi Kepala Staf yang ngasih tahu. Karena dia kan minta tanda tangan Suami gue untuk laporan karyawan yang akan berangkat ke sana."
Reni memelas. Dia menidurkan kepalanya di atas meja dan mendengus. "Tapi gue malas, gue gak biasa jauh dari keluarga dan dari lo, Ka! Huhu."
Danika mengacak-acak rambut Reni dengan gemas, lalu menoel dagunya. "Uluh-uluh, Reni! Anggap aja ini perjalanan wisata lo, Ren! Lagi pula di sana ada Mas Amar, loh! Masa lo gak mau ke sana?" Danika mengedipkan matanya pada Reni.
Reni yang lemas lesu perlahan berbinar matanya. Dia mengangkat kepalanya dan menggenggam tangan Danika. "Ka, bener Mas Amar ada di sana?"
__ADS_1
Danika mengulum senyum mendengar Reni memanggil Kakaknya dengan 'Mas'.
'Wah, Reni bener-bener suka nih sama Mas Amar. Asyik! Gue Mak comblangin ah nanti, biar punya Kakak ipar gue, hahaha.'
Danika mengangguk. "He-em, Mas Amar kan ditempatkan di salah satu perusahaannya Mas Arsenio. Dia jadi Ceo sekarang, loh!"
Reni semakin sumringah lagi wajahnya. Dia langsung meneguk kopi yang bahkan masih mengepulkan asap. Danika terpelongo. Waktu itu Reni juga pernah tidak sengaja minum kopi yang masih panas, dan akibatnya bibir Reni jontor kemudian.
Danika menggeleng. 'Ck, ck. Kekuatan cinta benar-benar, ya? Tapi gue kok gak pernah ngerasain kayak Reni gitu, ya? Apa gue harus makan bara api dulu kali, ya?'
Mengingat itu, Danika jadi sedih. Sebenarnya, menjalankan pernikahan yang seperti ini itu, sungguh sangat melelahkan batin. Kalau saja tidak ada Mama Lena, mungkin saja dia sudah minta cerai dari setelah terucap kata sah dari para saksi. Hah, amboi!
"Ren," panggil Danika menoleh pada Reni.
Reni menghentikan aksinya meminum kopi panas, dan meletakkan cangkir itu kembali ke meja, lalu menoleh pada Danika. "Hem, apa, Ka? Lo manggil gue?"
Danika berdecak. "Ck, ya iya lah! Masa manggil setan?"
Plak! Pukulan ringan mendarat ke lengan Danika. Danika hanya terkekeh sambil mengusap bekas pukulan Reni.
"Bangsat lo, Ka!"
"Haha, sorry! Ren, gue mau nanya sesuatu sama lo, nih?"
"Memang mau nanya apa?"
Danika mendesah, lalu matanya menatap lurus ke depan, ke arah jalanan yang begitu ramai kendaraan berlalu lalang. Karena cafe di sini ada in door dan out door.
Kali ini mereka memilih out door. Di mana mata pengunjung langsung disuguhkan, sama pemandangan jalanan yang padat dan ramai kendaraan.
"Ren, apa kita diwajibkan untuk jadi Istri yang baik dan juga patuh?"
Reni membulatkan mata, lalu menatap lekat wajah Danika dari samping. "Ka, Setahu gue, memang begitu kan tugasnya Istri? Patuh dan taat pada Suami."
Danika menurunkan pandangannya sekilas, lalu menatap lurus lagi ke depan. Bibirnya dia katupkan ke dalam. "Apakah gue juga harus gitu sama Mas Arsenio, Ren?"
Reni mengangguk. "Wajib, Ka."
Danika menghela nafas. "Apakah gue bisa, Ren? Mas Arsenio aja kadang gak mau mandang gue ada. Gimana gue mau patuh sama dia?"
Reni mengusap bahu Danika. "Sabar ya, Ka? Ayah gue orangnya juga nyebelin kayak Tuan Arsenio, tapi Ibu gue tetap sayang dan patuh sama beliau."
"Haaah, gue bertahan karena masih memikirkan Mama, Mama mirip kayak Ibu gue. Gue rindu sama Ibu, makanya gue gak mau ninggalin Mas Arsenio karena Mama. Gue pingin ngerasain lagi kasih sayang seorang Ibu, Ren."
Danika menyeka air matanya yang turun tanpa seijin darinya. Reni memasang wajah sedih, tapi dia sebagai sahabat harus selalu mensupport Danika.
"Mungkin suatu hari nanti Tuan Arsenio bakalan tersentuh dengan kasih sayang yang lo beri untuk Bu Lena, Ka."
Danika mengusap air matanya dengan kasar. "Tapi gue tulus sayang sama Mama bukan untuk diperhatiin lalu disukai sama Mas Arsenio."
Reni menghapus air mata yang masih turun membasahi pipi Danika. "Iya, iya. Gue tahu, kok. Sudah ya jangan nangis lagi."
Danika lagi-lagi menghela nafas. 'Ya Allah bantulah aku menghadapi semua ini.'
__ADS_1
.........****.........
Jangan lupa like nya pembaca aku yang aduhai. Amboiiii. 🤣