
Danika bermimpi di dalam pingsannya. Dia duduk berduaan dengan Arsenio di depan sebuah danau. Arsenio tak henti-hentinya tersenyum menatap Danika.
Danika jangan di tanya sudah semerah apa pipinya. Jantungnya seakan mau keluar dari tempatnya ketika tangan Arsenio terulur menyentuh pipinya. Aseek.
"Nika, Nika."
Danika tersenyum malu-malu. Tapi senyumnya langsung hilang ketika Arsenio malah menepuk-nepuk pipinya. Danika menepis tangan Arsenio.
"Mas, apa-apaan, sih? Kenapa pipi aku malah ditepuk-tepuk?"
Arsenio tidak peduli dengan protes Danika. Tangannya tetap sibuk menepuk pipinya.
"Nika, Nika! Bangun, Nika!"
Danika memonyongkan bibirnya. "Mas, aku sudah bangun sedari tadi! Kenapa harus dibangunkan?"
"Nika, Nika, bangun!"
Danika mendengus sebal. 'Bodoh ah! Percuma kencan kalau kelakuan Mas Arsenio absurd begini! Mending gue tinggal tidur ah!'
Danika memejamkan matanya, tapi aneh matanya terasa perih. Dia kedip-kedipkan beberapa kali mata itu. Dan ketika sudah mendingan, dia langsung celingak-celinguk menatap sekitar. Kemudian matanya tertuju pada pria tampan yang langsung tersenyum lega.
Danika memegang kepalanya yang agak pusing. "Egh, aku ada di mana? Perasaan aku tadi ada di danau?"
Alis Arsenio naik sebelah. "Hah? Danau?" Arsenio terkekeh. "kamu dari tadi pingsan, dan baru sadar."
Danika mencoba untuk bangkit dan duduk. Dia sekarang ada di sofa panjang yang ada di ruangan ini. Otaknya sibuk mencerna kejadian yang baru saja dia alami. Matanya langsung mendelik ketika sudah mengingat semuanya.
'Ya Salam. Gue baru ingat, kalau gue pingsan karena tingkah aneh Suami gue! Astaga dragon! Terus, kenapa gue bisa ada di sofa?'
Mata Danika sibuk berkedip manja menatap sofa. Arsenio mengerutkan dahi melihat tingkah Danika.
'Kan, kan! Dia kenapa jadi aneh setelah pingsan?'
"Ada apa?"
"Perasaan waktu pingsan tadi, aku pingsannya ke bawah."
Arsenio melipat tangan di atas dada. "Ya iyalah ke bawah! Mana ada orang pingsan naik ke atas!"
Danika mendengus sebal. "Terus, yang naruh aku ke sofa siapa, Mas?"
"Jelas saya, Danika."
Danika tersenyum malu-malu. "Berarti Mas tadi gendong aku, ya?"
"Gak! Saya seret kamu! Malas sih ngangkat kamu. Kamu kan berat!"
Danika mencelos. Baru saja dia berpikir senang kalau memang Suaminya yang sudah melakukan hal romantis saat dia pingsan tadi, huuuft.
Melihat Danika seperti kecewa begitu, membuat Arsenio mengulum senyum. Sebenarnya, dia hanya bercanda. Entah kenapa senang saja melihat ekspresi Danika yang seperti itu.
__ADS_1
Kalau sudah senyum memabukkan hati, tapi kalau sudah cemberut mengundang bibir untuk mendekati. Eaaak!
'Astaga! Bisa-bisanya aku berpikir untuk mencium Danika!'
Arsenio tiba-tiba merasa panas dingin. Dia memijit-mijit pelipisnya. Danika merasa khawatir. Dia terus bangkit berdiri dan mendekati Arsenio.
"Mas, Mas kenapa?"
Arsenio menggeleng lalu mengusap tengkuknya. "Saya tidak apa-apa." 'Duh! bahaya sekali kalau berduaan begini.'
Untung saja Arsenio dapat wangsit untuk menghilangkan sinyal-sinyal bahaya yang sudah mengganggu pikirannya.
"Kita pulang saja, yuk?"
"Hah? Pulang?"
"Iya. Coba kamu lihat jadwal saya dulu."
"Baik, Mas."
Danika mengambil buku notes yang ada di atas meja kerjanya. Dia sudah mencatat rapi-rapi semua jadwal kegiatan Arsenio.
"Mmm, untuk hari ini tidak ada, Mas."
Arsenio mengangguk. "Ya sudah, kita pulang saja."
"Terus, kalau kita pulang, siapa yang menghandle jika seandainya ada apa-apa?"
"Baiklah, Mas."
"Saya turun duluan."
Danika mengangguk. Dia kemudian merapikan barang-barang yang ada di atas meja. Lalu memasukkan buku dan ponsel ke dalam tasnya.
Baru ini dia bicara banyak dengan Suaminya. Danika menghela nafas lalu tersenyum. Oh! Beginikah rasanya bahagia? Boleh tidak kalau dia melakukan selebrasi sambil kayang? Lalu merayap ke dinding-dinding. Eh! Kenapa malah jadi hantu?
Danika kemudian keluar dari kantor dan langsung menuju halte untuk menunggu angkot. Rasanya enak juga bisa pulang cepat begini. Dia akan tidur ah sesampainya di mansion nanti.
Biasanya, mobil jemputan akan menjemput dia kalau sudah saatnya jam pulang kantor. Tapi masalahnya sekarang kan, bukan jam pulang kantor. Ya, kan? Dan jadilah Danika menunggu angkot di sini. Jadi teringat dulu sering menunggu angkot bareng Reni.
Tin.. tin.. Mobil mewah berhenti tepat di depan halte. Danika mengernyit, mobil siapakah gerangan? Kaca spion mobil itu turun dan menampilkan pria paling tampan segalaksi Bima Sakti yang sedang tersenyum manis.
"Ayo, naik!"
Danika yang enggan hanya menggeleng. "Naik ke mana, Mas?"
"Naik ke langit! Ya, naik mobil lah!"
'Iihh kurang ajar! Kalau gue disuruh naik ke langit, berarti gue disuruh koid?'
"Jadi maksudnya aku pulang sama Mas Arsenio?"
__ADS_1
"Gak! Pulang sama Uwak-uwak. Jelas pulang sama saya, Danika!"
Arsenio sudah gemas setengah ampun. Dia jadi tidak bisa bedakan mana gemas dan kesal. Seandainya saja dia bisa mencekek Danika, iihh pasti sudah dia lakukan. Astaghfirullah, apa yang sudah dia pikirkan? Tarik nafas, buang nafas.
Kok Danika jadi merasa aneh pula melihat Arsenio yang lagi-lagi bertingkah di luar nurul eh nalar Danika.
"Mas, Mas Arsenio mau buang angin, ya?"
Apa? Arsenio menoleh ke arah Danika dengan tatapan kesal. Tangannya sudah mengepal dan mengendur beberapa kali.
'Astaga! Seandainya, seandainya. Gerrrr. Ingin sekali aku makan orang saat ini juga! Terlebih makan Danika. Ingin sekali dia ku telan bulat-bulat!'
"Kamu mau naik, tidak?"
"Egh, aku naik angkot aja, Mas. Aku takut Mbak Zakia tersinggung dan marah."
Kesal Arsenio berkurang sedikit melihat lagi-lagi Danika memikirkan orang lain. Padahal sudah menjadi hak Danika untuk pergi bersamanya.
Mata Arsenio memicing. "Kalau kamu tidak mau, saya doakan tidak ada angkot yang lewat!"
Danika membelalakkan matanya saat menatap Arsenio, yang malah terlihat santai setelah berdoa yang tidak bagus seperti itu. Danika jadi takut ucapan Suaminya menjadi nyata. Tahu kan, dia ingin belajar jadi Istri yang baik. Istri yang baik adalah yang mendengarkan ucapan dan perintah Suaminya. Jadi mau tidak mau ya harus mau. Amboi!
Dengan langkah malas Danika mendekati mobil. Arsenio tersenyum penuh kemenangan. Tapi senyumnya langsung berganti jadi kesal lagi saat Danika malah memilih duduk di belakang, bukannya duduk di samping dia.
"Nika, kenapa kamu duduk di belakang?"
Danika mengernyit. 'Iih, mau manusia satu nih apa sih? Gak jelas banget! Tadi nyuruh naik ke mobil, sekarang sudah gue lakuin juga salah! Dasar singa!'
"Jadi aku duduk di mana? Jangan bilang aku duduk di atas kap!"
"Ya kamu duduk di depan, dong! Di samping saya! Kalau kayak begini, seakan-akan saya jadi supir, dan kamu jadi Nyonya! Saya tidak mau, tahu!"
Danika menggaruk-garuk pelipisnya. Dengan mulut mengomel tanpa suara, dia terpaksa turun dan menuruti perintah Yang mulia Arseniot.
Arsenio tersenyum. "Nah, gitu, dong!"
Arsenio kemudian melajukan mobilnya membelah jalanan. Danika melirik Arsenio dengan mata memicing mirip pemeran antagonis di sinetron. Tangannya sudah mencengkram udara ke arah Arsenio, dan langsung Danika turunkan lagi ketika Arsenio juga melirik ke arahnya.
"Kamu kenapa?"
Danika cengengesan. "Eh, aku gak kenapa-napa kok, Mas."
Arsenio tersenyum lalu geleng-geleng kepala. Danika hanya bisa menghela nafas. Baru duduk berdua gini saja rasanya sudah canggung. Apa lagi kalau sudah berduaan di kamar dan berduaan di atas ranjang. Auuuuw, Danika memejamkan mata membayangkan yang iya-iya.
Mobil terus melaju di jalanan yang lengang. Danika hanya sibuk memandang ke arah luar jendela. Mau ngobrol, tidak tahu apa yang harus diobrolin.
Tapi tidak bisa sih dia bohongi perasaan bahagia yang sudah muncul di hatinya, saat Arsenio untuk pertama kalinya tersenyum padanya.
'Ah! Ingin rasanya gue bikin genduri untuk merayakan hari ini.'
................*******................
__ADS_1