
"Wah! Cara bicara lo memang mengagumkan, Ka!" puji Adul yang sukses membuat Danika tersipu. Sedang Reni tertawa, dan Azka menatap Danika dengan terkagum-kagum.
"Iya benar! Buktinya CEO disebelah gue langsung setuju bekerja sama dengan Tuan Arsenio karena cara bicara lo, Ka!" Reni melirik-lirik pada Azka yang duduk disebelahnya dengan tersenyum malu-malu itu.
"Haha, bisa saja lo, Ren!" Danika lebih merasa malu-malu lagi. Padahal tidak pernah dia begitu, tuh!
"Kalau gitu, gue traktir!" ujar Azka yang disambut hore oleh sahabatnya,
Acara minum kopi di cafe itu bikin sekelompok sahabat itu terlihat santai dan senang. Berbeda dengan Mama Lena yang sedari tadi sudah duduk dengan tegang. Kopi yang dia pesan dengan harga termahal di cafe ini tak lagi membuat Mama Lena berselera. Dia jadi semakin kebelet untuk segera menikahkan Arsenio dengan Danika.
"Minggu depan gimana kalau kita jalankan misi? Kan, minggu depan gajian!"
"Boleh juga itu, Dul! Kita cari tahu dulu tempat yang bakalan jadi misi kita ini!"
"Kalau yang itu, serahkan saja sama gue, Ka!" Azka menatap Danika dengan perasaan yang tidak dapat dikatakan dan digambarkan.
Danika tersenyum. "Apa lo bisa, Ka? Kan lo sibuk sekarang!"
Reni mengangguk. "He-eh! Yakin lo bisa?"
"Kan sudah gue bilang, serahkan sama gue!" ucap Azka dengan percaya dirinya.
Danika dan Reni sama-sama mengangguk. "Oke, oke!"
Mereka berempat terlihat sedang bicara dengan seriusnya. Mama Lena sampai tidak bisa dengar lagi apa yang sedang mereka bicarakan, walau dengan mencondongkan telinga sekalipun. Dan tibalah disaat mereka memutuskan pembicaraan mereka karena hari sudah sore. Sudah bisa dibayangkan dari jam berapa Mama Lena duduk di cafe itu. Entah kenapa pula Mama Lena bisa yakin kalau mereka berempat akan pergi ke cafe ini.
"Ka, lo duluan dulu! Gue mau beliin Adek gue kopi"
"Oh, oke, Ren! Gue tunggu di halte langsung, ya?"
Reni mengangguk dan segera memesan kopi untuk dibawa pulang. Ini kesempatan bagi Mama Lena untuk bertanya perihal kedekatan Danika dan CEO yang bernama Azka itu.
"Ren, Reni!"
Reni berbalik dan terkejut saat ada yang memanggilnya. "Iya?"
"Kamu tidak mengenal Ibu?" Mama Lena melepas penyamarannya. Dia menggunakan kaca mata hitam dan benda-benda lainnya untuk menyamar. Menurut Mama Lena, penyamaran dia membuat penampilannya semakin cantik. Tapi bagi Reni, penampilan Mama Lena malah mirip seperti 'Pulu-pulu'
"Ibu Lena?" tanya Reni memastikan dan menduga-duga.
"Iya, ini saya, Ren. Bisa kita bicara sebentar?"
Reni mengangguk-angguk. "Bisa, Bu."
"Ayo kita duduk di sana." Mama Lena menunjuk tempat duduk yang dia duduki tadi.
"Memang ada apa, Bu?"
"Saya ingin bertanya sedikit, Ren. Itu tadi Azka-CEO yang bekerja sama dengan Arsenio, kan?"
__ADS_1
"Iya, Bu."
"Terus pria yang satunya lagi siapa?"
"Itu Adul, Bu. Kepala staf yang baru."
"Memang kalian punya hubungan apa? Ibu lihat kalian kelihatan akrab sekali?"
"Kami sudah bersahabat semenjak SMA, Bu."
"Tapi apa Danika punya hubungan dengan CEO itu?"
Reni tersenyum-senyum. "Danika pernah suka sama dia, Bu. Cuma kan, kami punya kesepakatan tidak ada cinta diantara persahabatan kami, Bu. Tapi itu dulu, sih! Kalau sekarang Reni kurang tahu."
Mama Lena menoel lengan Reni. "Ah, masa kamu tidak tahu kalau dari tadi Azka selalu menatap Danika dengan penuh cinta, begitu?"
Reni meringis. "Ah, yang benar, Bu? Perasaan, Azka tidak ada merhatiin Danika, deh!" Dia berucap sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Mama Lena kembali menoel lengan Reni dengan gemas. Sebenarnya Mama Lena juga bingung antara gemas dan kesal pada Reni.
"Apa sebenarnya Azka itu suka ya sama Danika?"
"Hem, mungkin saja, Bu!"
Mata bawah Mama Lena berkedut seketika. Lalu dia bangkit dan berteriak dengan tiba-tiba. "Ya! Aku harus segera mempercepat semuanya!"
Reni terbelalak tidak menentu sambil mengusap-usap dadanya karena terkejut 'Mempercepat apa maksud Bu Lena?'
Sedang Reni melongo tidak sadar dengan apa yang sudah Bu Lena lakukan barusan di depannya. Dan baru tersadar ketika namanya dipanggil oleh pelayan cafe.
"Kenapa sikap Bu Lena aneh sekali tadi, ya? Ah lebih baik gue tanyakan langsung sama Nika."
Setelah membayar, Reni langsung berlari dengan terburu-buru menghampiri Danika di halte.
"Kenapa lama, Ren?"
"Gue tadi dihadang sama Bu Lena!" jawab Reni sambil duduk dan mengatur nafasnya yang sudah cengap-cengap.
Mendengar itu, wajah Danika langsung pias. "Bu, Bu Lena?"
"Iya, Bu Lena! Memang lo punya urusan apa sama Ibu itu?"
Danika mengusap-usap tengkuknya, apa iya dia harus bilang sekarang pada Reni? Di tengah Danika berpikir, Reni malah menarik lengannya untuk meminta jawaban.
"Ka, memang lo ada urusan apa dengan Bu Lena? Bu lena sampai nanyain apa hubungan lo sama si Azka"
Danika menoleh dan menatap Reni dengan heran. "Azka?" kenapa Danika semakin tidak mengerti saja dengan keadaan ini.
"Iya! Bu Lena bilang kalau Azka sering ngelihatin lo, Ka!"
__ADS_1
"Masa, sih? Tapi gue memang ingin bilang hal ini sama lo, Ren."
"Apa, Ka?"
Danika mulai menceritakan semuanya dari awal hingga pernikahannya yang akan dilaksanakan entah kapan itu dengan Arsenio.
Reni memasang ekspresi bingung. "Jadi lo bakalan nikah dengan Tuan Arsenio, Ka? Lo bakalan jadi istri kedua dia gitu?"
Danika menghela nafas. "Iya, Ren! Ini semua karena janji Ibu gue sama Bu Lena. Gue bangga banget sama Ibu, dia berani mengorbankan dirinya demi sahabatnya. Bahkan Ibu tidak berpikir kalau gue masih kecil waktu itu." Danika menunduk sekilas untuk mengusap air matanya.
Reni juga ikut sedih dan tidak menyangka hal seberat ini sudah sahabatnya lalui, bahkan ketika masih belia. Reni mengusap bahu Danika dan kepalanya.
"Ternyata selama ini Bu Lena sudah sering nyari, tapi tidak ketemu-temu. Dan akhirnya gue ketemu pas hampir mau dia tabrak kemarin itu."
"Tapi gimana dengan istrinya Tuan Arsenio, Ka? Kenapa juga Bu Lena ketemu lo setelah anaknya nikah, ya?"
Danika mengedikkan bahu. "Gue tidak tahu urusan tentang istri Tuan Arsenio. Malah gue tidak mau menikah dengan si Arsenio itu!"
"Iihh emang kenapa, Ka? Tuan Arsenio, kan ganteng!"
Danika memonyongkan bibirnya. "Iihh iya dia ganteng, tapi sifatnya Na'udzubillah!"
Mendengar celetukan Danika, Reni terkekeh geli.
"Ren, gue mau lo janji sama gue, ya?"
"Janji apa, Ka?"
"Lo janji sama gue, kalau ini akan jadi rahasia kita berdua, ya?"
Reni menatap Danika yang berwajah serius itu, dia lalu tersenyum. "Gue janji, Ka! Gue akan dukung apapun itu. Semangat, ya? Walaupun lo berat hati menikah dengan Tuan Arsenio, tapi harus tetap ikhlas demi Ibu lo."
Danika tersenyum sembari menahan sedih pada Reni. "Ya, gue harus ikhlas!"
"Jadi kapan kalian nikah?"
"Gue tidak tahu! Kemarin masih diajakin beli cincin sama Bu Lena."
Lagi-lagi Danika merasa aneh dan ilfil saat Reni menatapnya dengan aneh.
"Apaan sih lo ngelihatin gue mulu?"
Reni tersenyum geli. "Tidak ada apa-apa! Tidak nyangka saja gue ternyata selama ini lo sudah dekat dengan Tuan Arsenio yang ganteng itu! Haha.."
Danika mencubit gemas lengan Reni yang langsung mengaduh kesakitan itu. "Mulut lo itu, ya? Bisa diam tidak?"
Sepertinya Reni tidak peduli pada Danika yang sudah cemberut sambil mengomel dan bersedekap dada itu. Dia terus saja mengoceh tidak jelas untuk menggoda Danika.
Danika hanya menghela nafas. 'Seandainya Tuan Arsenio itu memang cintaku beneran, aku pasti bahagianya beneran juga. Lah, ini? Haaah, nasib!'
__ADS_1
....................*****.....................