Jadi Istrinya?

Jadi Istrinya?
Bab ~ 20


__ADS_3

"Nika, Nika. Bangun, sayang." Mama Lena menepuk-nepuk pelan pipi Danika.


Danika mengerjapkan matanya, dan membuka mata itu secara perlahan. Kepalanya begitu pusing, dia bahkan tidak ingat apa-apa tadi malam.


"Huufft." Mama Lena bernafas lega. Padahal niatnya tadi dia mau membawakan air untuk menyiram Danika.


"Mama? Mama ada di sini?" Danika mencoba untuk bangun secara perlahan dan mencoba untuk bersandar. Mama Lena dengan sigap meletakkan bantal di belakang punggung Danika.


"Kamu kenapa, sayang? Tadi malam pengawal bilang kamu pingsan di cafe. Apa benar begitu?"


Danika menunduk malu. Pipinya sudah merah semerah tomat. "Maafkan Nika, Ma. Nika kebanyakan minum kopi."


Mama Lena menggelengkan kepalanya. "Ya ampun, sayang. Kenapa kamu sampai minum kopi di sana, sih? Kan ada Mama yang bisa nemanin kamu minum di sini."


"Maaf, Ma."


"Apa tadi malam Arsen tidak bersamamu?"


Danika mengangkat kepalanya dan menatap mertuanya itu sejenak sebelum menunduk kembali dan menggeleng. Mama Lena hanya menghela nafas. Dia kecewa sekali dengan Arsenio. Tapi orang tua itu tetap menunjukkan wajah ceria di depan menantunya ini.


Mama Lena memegang tangan Danika. "Kamu yang sabar ya, sayang? Mama akan berusaha membuat Arsenio lebih dekat lagi denganmu.


Danika tersenyum dan meletakkan tangannya di atas tangan Mama Lena. "Tidak perlu, Ma. Kalau memang sudah waktunya, cinta Mas Arsenio akan datang dengan sendirinya."


Mama Lena tersenyum. "Amiin. Sekarang kamu siap-siap. Itu sudah jam berapa. Kamu terlambat bekerja! Atau kamu tidak usah bekerja lagi saja, ya?"


Danika langsung melotot. "Ya Allah, gue terlambat!" ucapnya sedikit teriak.


Dia langsung saja melompat dari ranjang dan berlari ke kamar mandi. Tapi adegan itu langsung ter-pause karena ada adegan Danika kesandung hingga terjengkang. Kepalanya sampai terpentok lantai.


"Sialan!" makinya.


Mama Lena hanya bisa tertawa terbahak-bahak. Saking lebarnya mulutnya itu tertawa, jangankan lalat, manusia pun bisa tertelan.


...............*****................


"Danika, lo dipanggil ke ruangan Tuan Arsenio." Adul langsung berlalu setelah memberikan perintah.


Reni sontak menoleh pada Danika, sedang Danika menghela nafas dan memejamkan sejenak matanya yang sudah minta ingin terpejam lagi. Niatnya sejenak, tapi dia sampai mendengkur, astaga! Reni terlonjak kaget, dia segera menepuk bahu Danika.


"Apa? Apa? Hoaaam," tanyanya seperti orang bingung sambil mengoap.


"Lo cepat ke ruangan Tuan Arsenio, Ka. Gue takut lo kena marah kalau lo lamakan lagi."

__ADS_1


"Hem, iya!" Danika dengan gontai dan malas, bangkit dari kursinya dan berjalan pelan menuju lift. Memencet angka di mana ruangan suaminya berada.


Setelah keluar dari lift, Danika sibuk mengerjap-ngerjapkan matanya yang ingin sekali terpejam. Dia memang aneh. Di mana-mana orang kalau minum kopi matanya akan terus on, dia malah kebalikannya.


Ingin sekali Danika mencolok matanya, tapi apa daya, mata indah ciptaan Tuhan ini sayang kalau disakiti. Apalagi belum sepenuhnya melihat gendon berbulu milik suaminya yang tertutup selimut kemarin. Astaga, Haha, Danika tertawa dalam hati.


Saking sibuknya berpikiran yang enak-enak, tanpa sengaja Danika bertabrakan dengan seseorang. Danika hampir saja jatuh, untung saja seseorang itu sigap menangkap Danika.


Mata Danika mengerjap-ngerjap ketika dia tidak sengaja menyentuh punggung seseorang itu. Aroma parfumnya langsung menusuk hidung Danika dengan manja ulala.


'Duh, buset! Wangi bener!'


"Hati-hati, Dek!"


Mata Danika membulat. "Eh?" Danika segera berdiri dengan tegak dan menatap kaget orang di depannya. "Mas?" Danika langsung celingak sana celinguk sini memperhatikan sekitar. Mana tahu ada makhluk lain selain mereka ya, kan?


Pria itu tersenyum. "Sedang apa kamu di sini, Dek? Oh iya, kamu dipanggil sama suami kamu tadi."


Danika menghela nafas sebal. "Iya, begitulah, Mas. Paling-paling Nika ditegur lagi karena terlambat."


Pria itu mengusap kepala Danika dengan sayang. "Untuk itu Mas keluar, Mas gak tega kamu dimarahin. Dah, ya? Mas ada urusan sebentar."


Pria itu langsung melenggang pergi meninggalkan Danika yang terbengong.


"Mas, Mas!" Percuma juga Danika teriak-teriak. Lagi pula nanti orang akan tahu dia punya hubungan apa dengan pria tadi.


Dia segera masuk ke ruangan Arsenio. Ketuk pintu dulu lah ya, kan? Sambil bilang paket, paket boleh juga kali ya? Tapi nanti dikira tidak sopan lagi. Secara dia hanya istri kedua yang tidak dianggap.


Setelah Danika menutup pintunya, dia langsung berhadapan dengan Arsenio yang sedang berdiri memandangi langit biru dari balik dinding kaca tembus pandang itu.


Memandangi punggung Arsenio saja sudah bikin Danika kesemsem. Apalagi kalau memandang wajahnya yang aduhai itu, amboi! Bakalan pingsan kayaknya. Pura-pura pingsan lebih efektif kali ya? Mana tahu dikasih nafas buatan sama Mas Arsenio, wkwk.


'Mas, dari pada Mas mandangin langit biru, lebih baik Mas mandangin aku aja, deh! Secara lebih cantikan aku dari pada langit. Apa lagi aku juga pakai yang biru-biru mirip warna langit, hehe.'


"Selamat pagi, Mas."


Arsenio membalikkan badan menatap wanita menyebalkan yang tersenyum itu. Dia berjalan mendekati meja kerjanya dan menyandarkan pinggangnya di sana sembari bersedekap dada memandang sinis makhluk yang sedari tadi tidak berhenti mengoap itu. Arsenio menaikkan alisnya sebelah.


"Kamu tahu kenapa saya memanggilmu ke sini?"


"Hoaaam, iya, Mas. Aku tahu!"


Arsenio langsung mendelik mendengar panggilan Danika untuknya itu. "Apa kamu bilang? Mas?"

__ADS_1


"Iya. Memangnya aku salah memanggil Mas dengan sebutan itu? Aku 'kan sudah bilang akan memanggil dengan sebutan Mas."


Arsenio berdecak, "Ck, jelas salah! Kamu kira kamu ada di mana sekarang, hah?"


Danika tidak menjawab. Arsenio memicingkan mata dan begitu kaget ketika Danika sudah tertidur. Arsenio memutar bola mata.


'Hei, dasar manusia satu ini! Bikin aku naik darah!' umpat Arsenio dalam hati.


"Danikaaaaa!!"


Danika gelagapan. "Eh, iya, sayang? Eh, Mas?"


"Sayang, sayang! Jangan kurang ajar kamu memanggil saya dengan sebutan itu."


"Hoaaam. Iya-iya, deh!" Danika sibuk menggaruk tengkuknya.


Arsenio tak sengaja memperhatikan tangan Danika yang sibuk menggaruk, dia jadi semakin kesal melihat Danika mengenakan cincin kawin.


"Saya minta kamu lepas cincin itu kalau di sini."


Danika menatap sekilas jarinya. "Iihh, memang kenapa? Ini cincin sakral tahu! Main copot sembarangan aja! Gak mau!"


"Oke, gaji kamu saya kurangi lagi 15%!" Arsenio menatap Danika dengan angkuh.


"Apa? Enak aja! Salahku di mana lagi, Mas? Ya ampun! Kalau begitu, tinggal berapa gajiku. Astaga! Mana hutang aku belum lunas lagi!"


"Terserah saya! Saya Bos di sini. Kamu mau apa?" sanggah Arsenio dengan angkuhnya.


Danika menghela nafas dan menunduk. 'Dasar siluman singa! Seenak jidat dia aja main potong gaji gue! Hem, apa begitu malu dia mengakui gue sebagai bini keduanya? Nasib-nasib!'


Danika kembali mengangkat wajahnya, tapi entah ada angin apa, matanya malah tertuju pada sesuatu yang tertutup celana bahan berwarna navy itu.


'Mata jahanam! Kenapa malah kesitu natapnya?'


Arsenio mengernyit, dia mengikuti arah mata Danika dan begitu terkejut ketika tahu apa yang jadi incaran mata Danika. Refleks Arsenio menutup sesuatu itu dengan telapak tangan kanannya.


"Apa-apaan mata kamu itu, hah? Mau melecehkan saya?"


Danika tersentak. "Hah? Melecehkan apa, Mas? Nih, nih. Aku mau kok dilecehin sama Mas." Danika mengedip-ngedipkan matanya dengan manja pada Arsenio.


Arsenio bergidik ngeri. Dia langsung mengeluarkan titah yang ditakuti Danika.


"Gaji kamu saya potong!"

__ADS_1


Danika langsung menunduk lesu. 'Ya elah, Mas. Pusing Zaenab kalau begini.'


.................*****..................


__ADS_2