
Danika mengelap mulutnya yang baru saja mengeluarkan muntah. Dia segera mencuci mulut dan wajahnya di wastafel. Danika meringis sembari memegangi perutnya yang terkesan sakit. Entah karena terlalu memaksakan muntah entah karena hal lain juga dia tidak tahu.
"Apa karena gue kebanyakan minum kopi kemaren itu di cafe? Astaga! Apa yang sudah gue perbuat? Gue gak akan maafkan diri gue sendiri kalau gue sampai sakit! Ah, pusing gue!"
Danika memegang keningnya. Kepalanya benar-benar pusing. Dan lagi-lagi mual itu menyerang, akhirnya Danika muntah-muntah lagi.
............*****............
Di meja makan, sudah terhidang makanan enak yang akan disantap keluarga Magdalena alias Mama Lena. Matanya memicing tajam ketika Arsenio dan Zakia datang. Dan semakin tajam ketika Arsenio menggeser kursi untuk Zakia duduk.
'Beuh! Sok mesra sekali kalian! Mau muntah aku, tahu gak? Gak tahu, kan? Ya sudah! Eh, Danika mana? Kenapa dia belum turun untuk makan malam?'
"Mana Istri kamu, Arsen?"
"Ini ada di sini," jawab Arsenio santai sambil tersenyum manis pada Zakia.
Mama Lena bersedekap dada dan memonyongkan bibirnya sekilas. "Kamu tuh harus sadar diri, Istri kamu itu bukan wanita itu saja!"
Mama Lena mulai terang-terangan mengeluarkan kata-kata pedasnya pada Zakia. Zakia melirik tidak senang pada mertuanya itu. Tangannya semakin gatal untuk segera menjalankan aksinya.
Rahang Arsenio langsung mengeras mendengar ucapan Mamanya. "Mama ini apa-apaan, sih?" ucapnya dengan sedikit membentak.
"Oh, kamu sudah mulai berani berbicara keras pada Mama, ya?" Mama Lena bangkit dari duduknya. "jangan pernah menyesal kalau Mama akan mulai berbeda padamu, Arsenio Roberto!"
Mama Lena melangkahkan kakinya menuju lift dengan perasaan sedikit marah. Sedikit saja ya? Nanti kalau banyak-banyak, cepat tua, kikikik.
Arsenio menatap nanar Mamanya yang pergi itu. Perasaan gelisah mulai datang. Dia langsung tidak enak jika Mamanya marah padanya. Apa sih yang dia lakukan? Apakah dia berlebihan mengobati sakit hati Istrinya karena dia sudah menikah lagi? Dengan menganggap Danika bukan Istrinya, apakah itu salah?
"Argh!" Arsenio mengusap rambutnya ke belakang.
"Ada apa, Arsen?" Zakia dengan cepat mengusap pelan lengan Arsenio.
"Aku takut Mama marah, Zakia," ucapnya frustasi.
Zakia memutar matanya malas. "Apa 'sih yang kamu takutkan? Heran deh aku!"
"Aku takut Mamaku murka, Zakia. Kalau sekarang negara api sudah berdamai dengan negara air, kalau murka Mama datang, Mama bisa tuh buat negara api menyerang lagi!"
Zakia terpelongo mendengar ucapan Arsenio yang tak masuk akal. "Mulai gila kamu, Arsen!"
Arsenio menatap Zakia dengan lekat. "Aku tidak gila, sayang! Mama itu kalau murka memang tidak pernah setengah-setengah alias tidak pernah main-main. Motorku saja pernah Mama bakar waktu aku ikutan balap liar. Padahalkan hanya balapannya saja yang liar, aku kan tidak."
__ADS_1
Setelah bicara begitu, dia menghela nafas panjang. Lalu meneguk air putih yang ada dihadapannya.
Zakia kembali melebarkan matanya dan tertawa sinis. Wanita itu menggelengkan kepalanya. Astaga, cerita macam apa itu? Heh, aneh sekali. Begitu kira-kira yang ada di dalam pikiran Zakia.
...........*****............
"Apa Danika masih ada di kamarnya?" gumam Mama Lena.
Baru saja dia hendak mengetuk pintu, tapi karena mendengar sesuatu, Mama Lena mengurungkan niatnya. Dia malah meletakkan daun telinganya ke pintu. Mendengarkan dengan seksama.
"Eh, apa itu Danika yang muntah-muntah?"
Uwok, uwok, uwok. Suara muntah Danika terdengar hingga keluar pintu.
Mama Lena menggaruk pelipisnya. Dia merasa heran dengan suara muntahnya Danika.
"Bukannya kalau muntah itu uwek,uwek, ya? Ini kenapa uwok, uwok? Apa jadi auwooook. Apa Danika mau jadi Tarzan? Eh, tunggu dulu! Tarzan kan laki-laki. Sedang Danika kan perempuan. Oh, Tarzan Wati jadinya ya, kan? Ouuh, kenapa aku pintar sekali, sih? Sudah syantik, pintar lagi. Iihh gemes aku."
Tidak ada angin, tidak ada hujan, apa lagi petir dilangit, Mama Lena kembali memuji dirinya yang katanya cantik dan pintar itu.
"Ah, aku harus segera kasih tahu Arsenio. Aku mau manas-manasin Zakia."
Mama Lena merogoh kantung celananya untuk mengambil ponselnya. Dia segera menelpon Arsenio untuk segera ke sini.
"Ada apa, Ma?" dalam hati, Arsenio sudah mulai lega. Karena dia mengira Mamanya sudah tidak marah lagi padanya.
Mama Lena bergerak membuka pintu kamar Danika. Arsenio dan Zakia saling pandang. Zakia sudah merasa aneh kenapa mereka disuruh masuk ke kamar adik madunya itu.
Tok, tok, tok.
"Danika, kamu di dalam, sayang?"
Pintu terbuka, menampilkan Danika yang sudah lemas. Danika tersentak kaget ketika tahu di dalam kamarnya ada Mama mertua, Suami dan Mbak madunya.
Danika menatap sekilas Suaminya yang menatapnya dengan begitu tajam. Danika langsung mengalihkan pandangannya, nanti matanya bisa terluka karena begitu tajamnya tatapan Arsenio itu, aw.
Danika memilih melihat Mama Lena yang sudah berbinar-binar matanya. "Ada apa, Ma? Kenapa semua ada di sini?"
"Kamu hamil, sayang?"
Tanpa aba-aba, tanpa salam dan tanpa kata sambutan, Mama Lena langsung menanyakan hal yang membuat semua makhluk di kamar itu terkejut.
__ADS_1
"Apaaa?" ucap mereka bertiga serentak dengan nada yang pas pula. Tinggal ditambah kata 'Hobaaa' pasti akan lebih mantap. Mereka langsung saling pandang sejenak.
Setelah itu Zakia langsung menoleh dan menatap tajam Suaminya, ralat-Suami mereka.
Arsenio yang merasa tidak pernah merasa menyentuh apalagi menghamili Danika langsung menggelengkan kepala dengan cepat ketika ditatap begitu oleh Zakia.
Danika mengernyit. "Maksud Mama apa?"
Mama Lena nyengir kuda sambil sesekali melirik Zakia yang sudah berwajah asam itu. "Mana tahu kamu hamil, sayang. Mana tahu kamu dan Arsenio sudah berbuat lebih dulu sebelum menikah."
Gubrak! Danika rasanya ingin pingsan seketika. 'Cekek aku cefat, Ma. Cekek aku cefat! Masa perawan baik budi ini difitnah sudah hamidun duluan dengan Suaminya sendiri sebelum menikah?'
Kata-kata Mama Lena sukses membuat Zakia naik darah. Wajahnya sudah merah padam. Dia segera menarik tangan Arsenio dan pergi dari sana. Setelahnya terdengar suara pintu dibanting.
Mama Lena langsung tertawa cekikikan, dia sampai memegangi perutnya. Danika menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Ma, sebenarnya ada apa, sih?"
"Tidak ada, sayang! Mama sengaja, biar perempuan itu tahu rasa!"
Danika mengernyit. "Tahu rasa apa, Ma? Kare, pedas, asin, atau apa, Ma?" tanya Danika dengan polosnya.
Mama Lena langsung ilfil Danika bilang begitu. Danika jadi semakin tidak mengerti.
"Kamu kenapa muntah-muntah? Pasti kamu terlambat makan, kan?"
Danika tersenyum dengan sendu menatap Mama Lena. Oh, beginikah rasanya diperhatikan? Danika menunduk dan menggelengkan kepalanya.
"Sepertinya, Nika terlalu banyak minum kopi waktu itu, Ma. Lambung Nika kambuh sakitnya."
Mama Lena menggeleng dan berdecak. "Ck, ck. Besok-besok campur sianida sekalian, atau campur racun rumput gramocon, pasti lebih jos!" Mama Lena langsung bersedekap memperhatikan Danika yang hanya cengengesan.
Tanpa ijin lebih dulu, Danika sudah menghambur memeluk Mama Lena. Terdengar isakan kecil dari bibir Danika dipelukan Mama Lena.
"Makasih, Ma. Makasih sudah perhatian sama, Nika. Hiks, hiks."
Mama Danika mengusap punggung Danika dengan lembut. "Mama sayang sama kamu, Nika. Untuk itu jaga kesehatan kamu, ya?"
Mama Lena melerai pelukan mereka dan menatap wajah cantik menantu tersayangnya ini, lalu mengecup keningnya dengan sayang. Entahlah, entah kenapa Mama Lena begitu sayang pada Danika.
'Apakah karena jantung Ibunya ada di sini? Sehingga aku begitu menyayanginya seperti putriku sendiri?'
__ADS_1
............*****.......... ...