
Setelah menyelesaikan misi mereka, mereka langsung kembali ke kantor. Untung saja Danika dan Reni pergi dengan Kepala Staf mereka yang bernama Adul Adudul itu, jadi masih amanlah!
"Kalian langsung kerjakan tugas kalian, we! Gue harus buru-buru, nih!"
"Oke, Dul!" Danika dan Reni kompak menjawab dan membentuk 'ok' menggunakan tangan mereka.
Danika dan Reni kembali ke meja mereka masing-masing dan langsung melanjutkan pekerjaan yang masih menumpuk. Entah kapan pekerjaan ini akan selesai dengan sendirinya. Seandainya Danika adalah penyihir, sudah dia sulap semua pekerjaan ini.
'Hokus fokus trulala, pekerjaan hilanglah! Hoho.'
Dering ponsel Danika berbunyi, Danika segera mengangkat panggilan dari Adul.
"Siapa, Ka?" tanya Reni penasaran.
"Dari Adul, nih!"
"Waduh! Ada apa, ya?" Reni sudah panik, dia sudah memegang kepalanya dengan kedua tangan.
"Lo jangan langsung panik gitu! Biar gue angkat dulu! Halo."
Danika mendengarkan omongan Adul dengan serius, tapi alisnya langsung mengenyit ketika Adul langsung mematikan panggilannya secara sepihak.
"Ada apa, Ka? Apa kita kena masalah? Apa kita kena marah sama Suami lo?" rentetan pertanyaan Reni yang tanpa jeda nafas itu membuat telinga Danika sakit.
Danika menghela nafas, dia menggeleng lalu tersenyum jahil. "Iya! Kita kena marah! Jangan-jangan kita mau dipecat nih sama Suami gue."
Reni sudah frustasi, bahkan dia hampir menangis dan tidak jadi melakukan aksinya yang lebay itu karena melihat Danika tertawa. Sontak Reni langsung melotot.
"Kurang ajar loh, Ka! Awas aja! Gue sumpahin Tuan Arsenio jatuh cinta sama lo!"
"Haha, Amiiin." Danika menengadah tangan lalu mengusapkannya ke wajah.
"Kampret!" maki Reni.
"Gue ke ruangan Tuan Arsenio yang terhormat itu dulu, ya?"
"Ya sudah sana!" cicit Reni dengan mulut yang sudah maju mirip bebek.
Danika semakin terkekeh geli.
__ADS_1
Danika berjalan menuju lift sambil berpikir. 'Kira-kira ada apa? Kenapa gue dipanggil sama Yang mulia Naga, eh, Yang mulia Arseniot itu? Perasaan gue gak ada ngelakuin kesalahan apapun, deh! Kalau kali ini gaji gue dipotong, gue pecat dia! Enak aja main potong gaji gue seenak perut dia yang kayak roti sobek itu! Huh!'
Ting! Pintu lift terbuka, Danika melangkahkan kakinya dengan malas. Dia lagi tidak mood sepertinya mau bertemu dengan Suaminya yang tampan, rupawan dan aduhai itu, asek!
Sebelum mengetuk, Danika berhenti sejenak di depan pintu. Dia membaca tulisan 'Ruangan Presdir' tanpa bersuara, lalu mulutnya berkomat-kamit. Entah apa yang dia ucapkan itu, hanya dialah yang tahu.
Tok!
Tok!
Tok!
Pintu terbuka, yang membukakan ternyata Adul. Danika tersentak sedikit terkejut. Tanpa sengaja dan diminta dia menatap wajah Adul secara dekat dan lekat tadi.
'Gila! Wajah Adul kalau dipandang-pandang ganteng juga! Tapi kenapa dia malah bergaya melambai gitu, ya? Walau sebenarnya tidak kentara, sih!'
"Woi, lo mau masuk, gak?" Adul berbisik mengagetkan Danika yang terus-terusan menatap wajahnya. Kan, dia jadi salah tingkah.
Danika mengusap dadanya pelan. "Kurang ajar lo, Dul! Terkejut orang paling cantik di muka bumi ini, tahu!" sungut Danika.
Adul tersenyum. Tuh, kan! Beneran ganteng nih manusia. Hem, Danika jadi memikirkan sesuatu yang sepertinya harus dia lakukan dengan tekad bulat mirip donat, eh! Kan jadi ingin makan donat langganannya Author, wkwk.
Danika langsung masuk, dari pada semakin jadi masalah sama Arsenio ya, kan? Semua tentang Danika pasti jadi masalah sama Arsenio. Bahkan Danika bernafas dengan hidungnya yang kembang kempis itupun jadi masalah sama makhluk tampan seantariksa itu.
"Mama?" panggil Danika tanpa suara, mengingat ada Adul di sini. Bisa berpikiran apa si Adul kalau sampai tahu Mama Lena ini adalah Mertuanya.
"Haaaah," Arsenio yang duduk di sebelah Mamanya menghela nafasnya dengan kasar lalu menatap objek lain.
Dia mencebikkan bibirnya sebelum bersedekap dada menatap Danika, kemudian menatap Adul-Kepala Staf, dan terakhir menatap Amar. Amar? Jangan ditanya lagi apa yang dilakukan Amar. Jelas saja dia memandang Danika dengan tatapan wajah yang sendu. Arsenio menaikkan alisnya sebelah.
'Kenapa dengan Amar? Apa sebenarnya Amar dan Danika punya hubungan? Kenapa aku jadi kesal? Sialan!'
Karena Danika sudah ada di sini, sebaiknya Amar membuka suara. Dia juga ingin tahu ada apa sebenarnya, sampai-sampai Nyonya besar juga datang ke sini. Karena tadi saat ada pembicaraan serius antara Ibu dan anak itu, Amar disuruh keluar.
"Baiklah, Nyonya besar. Sesuai permintaan Anda, Adul dan Danika sudah ada di sini."
Danika dan Adul saling pandang. Mereka saling mengangkat dagu karena tidak mengerti. Apa jangan-jangan mereka akan dipecat? Oh, no!
"Baiklah." Mama Lena berdiri di hadapan mereka. Dan sialnya Mama Lena membelakangi Arsenio, dengan sebal dia terpaksa berpindah duduk.
__ADS_1
'Ck! Mama ini ada-ada saja! Aku malah disuruh nonton bokong Mama pula!'
Arsenio menatap tajam Danika yang hanya menunduk itu, terkadang tatapan mereka bertemu karena Danika juga curi-curi pandang pada Arsenio. Kalau sudah begitu, Arsenio langsung mengalihkan matanya ke arah lain. Setelah itu ya kembali menatap Danika lagi. Memang dasar, tambah kerjaan! Wkwk.
"Selamat pagi," sapa Mama Lena dengan ramah.
"Selamat pagi," balas Danika dan Adul bersamaan.
Arsenio terpelongo dengan terbodoh. Bukannya hari sudah siang, ya? Kenapa Mamanya malah mengucapkan selamat pagi? Dan yang lebih bodohnya lagi, Danika dan Adul juga menjawab dengan hal yang sama.
Arsenio menepuk jidatnya dan menggeleng.
'Astaga, betapa bodohnya mereka.'
Hari ini Mamanya memang benar-benar membuat Arsenio pusing. Sebelum makan siang, Mamanya sudah mengunjunginya di kantor. Dan dengan suka-suka hatinya, mengatur dan mengganti sementara Amar sebagai Sekretarisnya.
Arsenio memicingkan matanya, pasti ada hal picik yang disembunyikan Mamanya. Dan benar saja, ujung-ujungnya Danika yang dia tawarkan sebagai Sekretaris menggantikan Amar. Amar akan Mamanya tempatkan di perusahaan cabang yang ada di daerah Bandung.
"Mama mau kamu dan Danika saling dekat. Apa kamu tidak kasihan pada Danika? Kamu selalu saja mengabaikan dia!"
Lihatlah! Santai dan ringan sekali omongan Mamanya itu. Dia kan tidak salah. Siapa suruh gadis itu masuk ke dalam hidupnya, coba?
"Mama ini apa-apaan? Bagaimana kalau Zakia tahu hal ini? Pokoknya Arsen tidak mau! Lagi pula, Arsen akan berduaan dengan dia? Hiii."
Mama Lena terperangah, dia melempar bantal sofa pada Arsenio. "Kamu kira dia hantu? Dia itu cantik, dan yang pasti cantik hati, tidak seperti Zakia!"
Arsenio menahan geram, rahangnya mengeras. Dia bahkan sampai mengepalkan tangannya. Tapi percuma saja membantah perintah Mamanya. Tadi saja belum apa-apa Mamanya sudah mau melompat dari gedung ini. Ingin sekali dia bilang 'Ayo lompat, Ma, lompat!' tapi tidak jadi, deng. Nanti dia dikutuk jadi batu pula? Batu Arsenio yang tampan. Hah!
Dia juga terkadang heran dengan Mamanya. Memang apa yang sudah Zakia lakukan pada Mamanya sampai Mamanya begitu membenci Istrinya itu?
Haaaah, Arsenio hanya bisa membuang nafasnya dengan kesal. Dia harus bersabar menghadapi Mamanya yang sudah sering sakit jantungnya belakangan ini.
"Tapi Arsen tidak mau hanya berdua saja dengan dia. Arsen juga minta Adul sebagai Sekretaris juga."
Mama Lena mendengus sebal, dia memicingkan matanya. "Dasar kamu aneh! Berduaan dengan Istri sendiri malah tidak mau! Baiklah, Adul juga akan menjadi Sekretarismu!"
Setelah menyampaikan apa yang menjadi keinginannya, Mama Lena bernafas dengan lega. Sedang Danika dan Adul saling pandang kemudian. Lalu Danika menyempatkan menatap sekilas Amar yang berwajah datar itu, sedang menatap lurus ke depan. Dan tak lama Amar mengalihkan pandangannya ke arah Danika dan tersenyum samar.
Haaaah, Danika mendesah sedih menatap wajah Amar. Tapi sebisa mungkin dia menutupi wajah gelisahnya itu.
__ADS_1
Kira-kira apa yang dipikirkan Danika? Mboh! Tau ah remang-remang.
...............******...............