Jadi Istrinya?

Jadi Istrinya?
Bab ~ 47


__ADS_3

Danika memandangi langit biru berhias awan putih, dari balik dinding kaca di ruangan Suaminya. Suaminya, yang mulia Arseniot sedang kedatangan tamu istimewa dari Amerika.


Dan yang lucunya, bukan dia atau Adul yang jelas-jelas sebagai Sekretaris, untuk mendampingi Arsenio dalam pertemuan. Malah bodyguard tamfan yang bernama Hans itu.


Kadang Danika berpikir, yang sebenarnya Sekretaris itu dia dan Adul atau si Hans itu, sih? Danika memonyongkan bibirnya.


Ada bagusnya juga kalau dia dan Adul tidak banyak kerja. Yang penting gaji tetap masuk ke rekening, haha, amboi!


Haaaah, masalah gaji! Kapan ya dia berani ngomong sama Suaminya untuk mengembalikan gajinya yang terpotong itu? Ada beberapa anak yang harus dia kasih makan soalnya.


'Haaaah, Mas Arsenio.'


Danika meraba-raba bibirnya. Dia jadi ingat yang tadi, saat mereka berciuman. Danika memicingkan matanya.


'Apa iya Mas Arsenio suka sama gue? Kok gue malah jadi gak mau gitu, ya? Padahal, dari awal gue udah minta sama Allah, agar Mas Arsenio suka sama gue. Tapi, tibanya dia suka, kok gue malah ngerasa aneh, ya? Gue takut aja menyakiti Mbak Zakia. Gimanapun juga, gue perempuan sama kayak Mbak Zakia. Oh, Allah. Berilah hamba jawaban dari rasa bingung yang gak enak banget ini.'


Ceklek! Pintu terbuka. Danika langsung menoleh dan tersenyum saat Adul masuk. Di tangannya ada plastik berisi dua kotak nasi. Dia letakkan plastik itu ke atas meja.


Danika mendekat ke Adul dan duduk di kursinya. "Gimana pertemuan tadi, Dul? Ada hasil, gak?"


"Wes, pasti ada, Dong! Gue gitu, loh!" Adul menaik turunkan alisnya ke arah Danika.


Danika terkekeh. Tangannya terulur untuk menggeser nasi kotak yang masih terbungkus plastik. Dari kotaknya, sudah bisa dilihat kalau ini masakan padang. Hem, kenapa perut jadi keroncongan tiba-tiba?


"Ka, makan, yuk? Lapar gue!" Adul ikut duduk di samping Danika.


"Yuk! Gue juga lapar!"


Danika mengeluarkan nasik kotak itu dan menggeser salah satunya ke Adul. Dia langsung mengernyit.


"Dul, kok lo cuma beli dua?"


"Jadi mau berapa? Apa iya Suami lo mau makan nasi kotak juga?"


Danika menerawang, menatap ke atas. "Ehm, entah! Gue gak pernah makan bareng dia!"


"Lo tuh jenis bini yang bagaimana sih?"


Danika mencebikkan bibir. "Lo nanya sama gue? Terus, gue nanya sama sapa?"

__ADS_1


"Nanya setan!" jawab Adul dengan santainya sembari membuka jasnya.


Plak! Pukulan mendarat tepat di lengan Adul. Pria itu langsung meringis.


"Muncung lo itu ya, Dul? Lo kan udah tahu gimana awal pernikahan gue sama Mas Arsenio. Huh!" Danika bersedekap dada dengan kesal.


Adul terkekeh, lalu mengacak rambut Danika dengan gemas. "Iya, deh. Gue minta maaf. Sudah ah, yuk makan. Laper banget gue, tahu!"


Danika tersenyum simpul. Ada rasa senang saja gitu loh, melihat Adul sudah mulai banyak berubah. Ya, tidak semuanya juga sih. Buktinya, kukunya masih berwarna mejikuhibiniu.


'Gimana ya mulai cara merubah Adul sebagai pejantan tangguh? Hem,'


Adul dengan mulut sibuk mengunyah, menoleh dan menatap Danika yang sibuk memandanginya dengan aneh. Tangan kirinya menoyor jidat Danika.


"Eh, gila! Lo mau makan, apa sibuk mandangin gue?"


Danika terkesiap. "Hah? Apa? Apa?"


Adul mengangkat dagunya. "Ngapain lo mandangin gue terus? Awas! Nanti lo naksir gue, gue yang dihabisin sama Tuan Arsenio!"


Danika cengengesan. "Dul, kalau dipandang-pandang, lo itu ganteng, loh."


Danika menggoncang bahu Adul. "Dul, lo kenapa? Apa kerahsyukan?"


"Mata lo itu! Biar lo tahu, ya? Gue memang udah ganteng dari sananya!" ucap Adul dengan sedikit bergetar.


Danika terkekeh menutupi mulutnya dengan kedua tangan. Sudah cukup ah gangguin Adul. Saatnya mam, yuk mari!


Danika membuka kotak nasi itu dan matanya berbinar melihat lauknya.


'Waduh! Asek kali! Lauknya rendang daging. Pengertian banget sih sahabat gue ini.'


Baru saja baca basmalah dan hendak menyuapkan nasi ke mulut, Arsenio tiba-tiba masuk saja tanpa kasih pengumuman terlebih dulu.


Dan tak lupa, senyum khas kegantengannya itu muncul begitu saja, membuat Danika bergetar-getar syahdu hatinya. Eaaak.


'Kan! Lagi-lagi gue terbengong karena senyum Mas Arsenio yang begitu memikat hati. Amboi! Gue betul-betul udah terkena getar-getar asmara dalam dadaku, saat pertama aku mengenal cinta. Bayang dirimu mengusik mimpiku, hingga rindu datang tak mengenal waktu. Asey geboy, mantap kali! Ya salam, kenapa gue malah nyanyi?'


Ingin rasanya Danika menjedot-jedotkan kepalanya ke dinding. Dengan ragu-ragu dan malu-malu kucing garong Danika membalas senyum Arsenio.

__ADS_1


Adul langsung bangkit dari duduknya dengan gelagapan. "Selamat siang, Tuan Arsenio. Apakah Anda butuh sesuatu?"


Arsenio duduk di kursi kebesarannya. Setelah duduk, pria itu mengendurkan sedikit dasinya.


"Saya tidak butuh apa-apa. Kalian sedang makan, ya?"


Danika melirik-lirik ke arah Arsenio. 'Afa itu tadi? Udah tahu kalau kami lagi makan, dia malah bertanya pula?'


"Egh, iya, Tuan. Apakah Tuan ingin makan juga? Saya akan pesankan."


Arsenio mengibaskan tangan di depan dadanya. "Ah, tidak. Sudah lanjutkan saja makannya."


Adul menunduk hormat. "Terima kasih, Tuan."


Adul kembali duduk dan bernafas lega. Ya walau gak lega-lega amat. Dia masih tidak bisa makan dengan benar kalau ada Bos-nya di ruangan ini.


Melihat Danika mengunyah makanan, Arsenio jadi ingin makan juga. Padahal dia sudah makan tadi bersama dengan Hans dan calon koleganya.


Arsenio bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati Danika. Danika berhenti mengunyah, karena hawa-hawa panas dingin sudah mulai terasa. Dan hawa itu semakin terasa ketika Arsenio sudah berdiri di sampingnya.


Danika mendongakkan kepalanya, dan afa itu? Arsenio tersenyum lebar menampilkan gigi putihnya yang berderet dengan rapi itu.


Adul tiba-tiba tersedak, karena semua gerak-gerik Arsenio mendekati Danika itu langsung tertangkap sama matanya. Dia mengambil botol minumnya, dan sialnya botol itu kosong pula.


'Kayaknya gue harus pergi dulu deh ke pantry. Biar bisa leluasa nih pasangan sejoli mau ngapain, haha.' ~Adul.


"Tuan, saya permisi dulu sebentar." Adul dengan sigap menggotong botol minum dan nasi kotak yang baru habis setengah itu. Dia akan melanjutkan makannya nanti di pantry.


Arsenio yang masih tersenyum itu langsung menganggukkan kepala. Dan apa yang dirasakan Danika saat ini, coba? Dia panas dingin pemirsa. Sudah melebihi nonton kisah horor the Tante yang sering dia tonton di tengah malam itu.


'Gila! Gue kayak lagi uji nyali berduaan sama Mas Arsenio! Apa dia deket-deket gini, mau nyium gue lagi? Gue sih seneng dicium, wuahaha. Cuma kan gue lagi makan.'


Arsenio yang berdiri, mendadak bingung mau ngapain. Dia jadi lupa apa tujuannya tadi datang mendekati Danika. Astoga! Eh, salah! Astoge! Ah, astaga! Kampret lah, susah beut mau ngucapin itu doang.


'Eh, aku tadi ke sini mau ngapain, ya? Kenapa aku jadi lupa. Ah, sepertinya Danika sudah mengalihkan semua pikiranku. Dari jauh aku ingat, tiba di dekat dia, aku jadi hilang ingatan, eh lupa ingatan aja deh. Jangan sampai hilang, karena aku takut melupakan dia. Astaga. Yang benar itu, aku grogi kalau di dekat dia. Ah, Danika, pesonamu keterlaluan.'


~Sadarlah, aku telah mencintaimu dengan asma alias sesak nafas, Danika. Mencibir oksigen, dengan menjadikanmu satu-satunya udara yang boleh mengisi setiap rongga paru-paruku.


Cieeee. Asek kali kata-katanya, Mas Arsenio. Boleh tahu belajar di mana?

__ADS_1


..............******...............


__ADS_2