
Danika menatap langit-langit kamarnya yang tak seberapa ini. Ponselnya masih dengan setia menayangkan kisah horor Tante, tapi dia enggan untuk menontonnya kali ini. Danika masih terbayang-bayang dengan wajah Arsenio yang tampan itu.
"Haaah-" Selalu dia menghela nafas. Perasaannya jadi tidak enak semenjak dia curi-curi pandang tadi. "Bodoh! Kenapa aku harus menatap orang aneh seperti Arseniot itu. Lagi pula kenapa dia harus tampan, sih, Ya Allah? Kan mata suci dan polos ini jadi ternoda untuk melihat dia?"
Danika mendadak jadi orang bodoh. Dia yang dengan sadar memandangi Arsenio tadi, malah sibuk menyalahkan pria yang memang sudah tampan dari masih jadi zigot di rahim Mama Lena itu.
"Ya Allah, kalau bisa, jatuh cintakanlah hamba dengan Tuan Arsenio ketika kami sudah menikah nanti. Amiin."
Dari pada termenung tidak jelas, Danika memilih menonton kembali acara kesukaannya sambil menikmati kopi susu yang baru saja dia buat.
..............*****.............
Arsenio mulai sibuk menghubungi Zakia yang sampai saat ini belum juga pulang. "Kemana dia? Apakah dia marah padaku dan kabur? Ah, itu tidak mungkin! Apa dia pergi hanya untuk meredakan kekesalannya?" Arsenio menerka-nerka.
ceklek! Arsenio langsung menoleh pada pintu kamar yang terbuka itu. Bibirnya langsung mengukir senyum ketika melihat siapa yang masuk. Tapi senyumnya memudar ketika melihat wajah lelah istrinya.
"Dari mana kamu?"
Zakia tersentak ketika suara bariton itu terdengar. "A..aku dari luar tadi." Ucapnya gugup.
Arsenio mendekat dan langsung memeluk Zakia dengan erat. Dia begitu khawatir pada istri yang sudah dia berikan luka ini.
"Kamu marah, ya?"
Zakia tersenyum. "Aku tidak marah, Arsen. Hanya kecewa."
"Maafkan aku. Lain kali aku akan mementingkanmu dulu dari pada Mama."
Zakia tersenyum penuh arti pada Arsenio. "Terima kasih." Hanya kata itu yang mampu muncul dari bibir Zakia. Entah kenapa dia merasa lelah dan lemah sekali malam ini. Apakah mungkin karena?
"Oh iya, aku ada sesuatu untuk kamu."
"Benarkah?"
Arsenio mengangguk. "Sebentar, ya?" Arsenio segera mengambil kotak perhiasan tadi dan segera menunjukannya pada Zakia.
"Bagaimana? Cantik, tidak?"
"Wah! Bagus sekali. Terima kasih, sayang."
Arsenio tersenyum puas dan bangga. "Sini, biar aku pakaikan."
Zakia segera menyibakkan rambutnya agar Arsenio gampang memakaikan kalung itu ke lehernya. Saat Arsenio hendak mengalungkan kalung itu, tangannya terhenti ketika matanya tak sengaja melihat bekas keunguan pada tengkuk Zakia. Tidak hanya satu, melainkan ada tiga. Arsenio tahu itu adalah tanda kepemilikan ketika akan memulai hubungan badan. Arsenio mengernyit, dia merasa tidak ada memberi tanda kepemilikan itu disaat terakhir kali mereka berhubungan.
"Ada apa, sayang?" Zakia merasa aneh, kenapa Arsenio hanya menggantung kalung itu dan belum memakaikannya?
Arsenio menggeleng, mengenyahkan pikiran tak karuan dari kepalanya. "Tidak ada apa-apa, sayang."
Arsenio segera memakaikan kalung itu ke leher Zakia. Zakia tak berhenti tersenyum dihadiahi kalung mahal seperti ini. lagi-lagi dia mengucapkan terima kasih pada Arsenio.
__ADS_1
Dikecupnya pipi Arsenio. "Terima kasih sekali lagi, sayang! Aku mandi dulu dan langsung beristirahat, ya? Aku lelah sekali hari ini."
Arsenio hanya mengangguk dan dengan segera Zakia berlalu dari hadapannya.
Arsenio memandangi Zakia yang begitu lelap dalam peraduannya, ada perasaan tidak nyaman yang Arsenio rasakan. Dia kemudian membuka pintu balkon dan berdiri di sana. Hembusan angin malam yang dingin bahkan tidak mampu menerpa kulitnya.
'Bodohnya aku! Aku bahkan tidak bertanya lagi Zakia dari mana karena begitu takut dia kecewa dan marah padaku. Haaah, kenapa prasangka ini tidak mau hilang dari tadi?'
Arsenio mengusap wajahnya dengan kasar. Dia kembali masuk dan ingin merebahkan diri. Dipandanginya lagi wajah Zakia dan menghela nafas. Entah bisa tidur entah tidak Arsenio malam ini.
................*****.................
Pagi-pagi sekali Arsenio sudah pergi bekerja. Mungkin dengan bekerja, bisa melupakan sejenak pikiran buruknya yang dari tadi malam sudah menyerangnya.
Mama Lena yang penasaran dengan Arsenio yang tidak biasanya berwajah kusut itu, ingin menanyakan hal ini langsung pada Zakia. Karena biasanya Arsenio selalu membanggakan istrinya itu, tapi kenapa kali ini orang yang dibanggakan putanya itu membuat putranya bersedih.
Pelan-pelan Mama Lena membuka pintu kamar Arsenio dan Zakia, tidak ada siapapun. Mungkin Zakia sedang berada di kamar mandi, pikir Mama Lena. Karena malas menunggu Zakia selesai mandi, Mama Lena pun beranjak keluar. Tapi tiba-tiba matanya tertuju pada tas Zakia yang terletak di tempat tidur. Entah kenapa Mama Lena penasaran dengan isinya. Melirik sana melirik sini, dengan sigap Mama Lena langsung mengecek semua isi tasnya.
"Hem, tidak ada yang mencurigakan. Eh, apa ini?"
Mama Lena menyentuh bungkusan bulat seperti karet yang tersimpan di pocket rahasia tas Zakia. Mama Lena langsung mengeluarkan benda yang terdiri dari 4 bungkus itu. Dan mata Mama Lena langsung melotot seketika saat tahu benda keramat apa yang tersimpan di tas menantunya ini.
"Kurang ajar!" Mama Lena mengambil sebungkus benda itu untuk bahan investigasinya. "kalau mengambil satu tidak akan mungkin ketahuan, kan? Lagi pula, dia pasti punya banyak benda haram begini!"
Setelah menyimpan benda itu di dalam kantung bajunya, Mama Lena segera keluar dari kamar Arsenio menuju kamarnya. Di sana, dia menatap kembali benda itu dan mengamatinya.
"Untuk apa Zakia menyimpan benda ini? Bukankah selama ini dia ingin sekali hamil? Kan tidak mungkin menggunakan benda ini kalau dia sedang 'begitu' dengan Arsenio? Haah, Kasihan sekali kamu Arsenioku sayang. Tenang! Mama merasa sudah paling tepat memilih Danika untukmu. Semoga saja perbuatan istrimu ini segera ketahuan."
Tiba-tiba Mama Lena teringat sesuatu. "Bukannya kata Amar, kalau pria itu akan datang lagi ke kantor hari ini? Ah! Aku harus segera bersiap untuk memata-matai dia."
Mama Lena segera bersiap, dia harus cari tahu Ceo yang bekerja sama dengan Arsenio itu. Lagi pula Mama Lena juga harus memantau pergerakan calon mantunya agar tidak di ambil orang. Kan begitu, kan? Benar tidak? Ah, benarkan saja!
.................*****.................
"Hari ini kita akan presentase," ucap Adul memberi perintah.
"Jadi?" jawab Danika santai.
"Kali ini lo yang akan mempresentasekan hasil laporan yang sudah kita susun."
"Iihh, yang bener saja lo, Dul! Lo kan tahu gue tidak pandai bicara di depan orang?"
Adul yang sedang sibuk membereskan file-file itu melirik sekilas Danika. "Ah, masa? Bukannya dulu lo orang yang sering berorasi ketika demo waktu kuliah?"
Danika menatap sebal pria di hadapannya ini. "Ish, itu kan dulu! Sekarang kan beda, tahu!"
Adul tertawa dengan menutup mulutnya. Hal itu membuat Danika kecewa.
'Hem, padahal gue sudah seneng lihat Adul sudah jadi pria perkasa dengan setelan jas begitu. Tapi kenapa ketawanya malah mirip cewek, sih? Gue yang cewek beneran saja tidak begitu amat ketawanya! Semoga lo cepat berubah, Dul!'
__ADS_1
Reni datang dengan membawa dua cup kopi panas. "Nah, minum!"
Danika dan Adul segera mengambil kopi yang Reni letakkan di atas meja itu.
"Makanan tidak ada, Ren?"
Reni menggeleng. "Tidak ada, Dul! Entah kenapa tuh kantin tumben belum buka. Gimana, Ka? Sudah siap?"
"Siap apanya?"
Reni menyenderkan tubuhnya ke dinding. "Presentase kita, dong! Lo kan jago ngomong!"
"Mata lo itu gue jago ngomong! Yang ada gue bakalan grogi nanti di hadapan para CEO itu!" Danika bersungut sambil menyeruput kopinya.
"Astaga, Ka! Lo bukan ngadapin orang lain kali ini. Masa lo grogi, sih, bicara di depan Azka. Kan sudah biasa?"
"Hem, iya nanti gue coba!"
Prok..prok.. Tiba-tiba saja Reni dan Adul bertepuk tangan bersamaan. Membuat Danika terkejut dan juga ilfil mempunyai teman yang aneh seperti mereka ini.
"Semangat, Cin! Lo pasti bisa!" Adul tersenyum lebar hingga menampakkan giginya yang rapi dan putih.
Danika memicingkan matanya menatap Adul. Padahal ganteng loh ini si Adul, pikir Danika. Tapi, yaaaah. Semoga Adul cepat berubah. Itu-itu saja yang Danika ucapkan di dalam hatinya.
"Apa cin, cin? Lo kira gue cincang?" Danika menjawab dengan ketusnya, membuat Adul dan Reni tertawa terbahak-bahak.
"Lain kali gue tidak mau lagi disuruh presentase! Awas lo ya kalau berani nyuruh gue lagi!"
"Iya-iya! Sudah, yuk?"
Mereka bertiga segera menuju ruang meeting. Jantung Danika berdegup kencang. Dia sendiri sih sudah pernah presentase waktu itu. Cuma entah kenapa kali ini grogi.
Di ruangan meeting itu tentu saja ada Tuan Arsenio, Sekretarisnya, dan juga ada Azka yang sudah tersenyum ketika Danika baru saja muncul. Diliriknya Arsenio yang tengah sibuk melihat-lihat file yang ditunjukkan oleh Adul.
"Bisa kita mulai meeting kita pagi ini?" ucap Amar berdiri dihadapan para calon kolega Arsenio.
"Bagaimana Tuan Azka?"
"Ya, kita mulai saja, Tuan Amar."
"Baiklah. Silahkan Danika."
Danika maju ke depan, dan betapa jantungnya serasa hampir mau lepas dari tempatnya. Lagi-lagi diliriknya Arsenio yang berwajah datar dan terkesan suntuk itu.
Danika mengernyit. 'Ada apa dengan Tuan Arsenio? Apa dia bertengkar dengan Nyonya Zakia dan tidak dapat jatah? Hem, masih menjadi sebuah misteri. Tapi kenapa dia tetap tampan, ya? Mampus, deh gue! Kenapa gue malah fokus ke dia?'
Danika semakin grogi dan gemetar ketika Arsenio malah sibuk menatapnya dengan tajam.
'Amboi! Habis gue!'
__ADS_1
..................*******................