Jadi Istrinya?

Jadi Istrinya?
Bab ~ 32


__ADS_3

Arsenio baru saja pulang. Zakia yang pura-pura rindu pada Arsenio itu langsung saja menggandeng tangannya untuk masuk ke dalam.


Danika yang baru saja keluar dari kamar Mama Lena terdiam sejenak menyaksikan kemesraan diantara mereka. Terkadang Danika berpikir jadi orang yang jahat yang merebut kebahagiaan Suami dan Istri yang saling mencintai itu.


"Haaaah. Masalah Mama yang sakit, apa gak sebaiknya gue kasih tahu Mas Arsenio aja, ya? Lagi pula dia kan memang harus tahu ya, kan?"


Mereka baru saja ingin menekan lift saat Danika memanggil. Arsenio merasa heran kenapa Danika Aroma Kantil eh Melati ini memanggil dirinya? Bukannya seharian mereka sudah bertemu di kantor?


Zakia memasang wajah jutek. Dia mengeratkan rangkulannya pada lengan Arsenio. 'Mau apa lagi sih pelakor ini? Mengganggu orang aja!'


"Mas,"


"Apa kamu gak punya pekerjaan, hah? Memanggil-manggil Suamiku. Suamiku baru aja pulang! Dia lelah!" hardik Zakia.


Arsenio memandangi Danika dan ember kecil serta handuk kecil yang dia bawa. Arsenio mengernyit. 'Untuk apa dia membawa itu?'


Danika menghela nafas. Jujur saja dia tidak ingin bertengkar dengan makhluk mistis di depannya. Dia tidak mau Mama mertuanya semakin sakit kalau mendengar kedua menantunya saling bertengkar dan jambak-jambakan.


Danika mengalihkan pandangannya ke arah Arsenio yang ternyata juga tengah memandanginya. Arsenio jadi salah tingkah dan langsung menatap objek lain.


"Mas, maaf. Aku cuma mau bilang kalau Mama sedang sakit sekarang.


Demam Mama tinggi."


"Apa? Mama sakit?" ucapnya dengan raut wajah khawatir.


"Iya, Mas."


Zakia yang memperhatikan interaksi antara Arsenio dan Danika menjadi kesal. Dia dengan sengaja mendorong Danika. Untung saja Danika pandai menyeimbangkan diri, jadi tidak terjatuh dan malu. Arsenio juga terkejut dengan tindakan Zakia barusan.


Danika menggelengkan kepala sambil menatap Zakia. Lagi-lagi dia harus mengalah. Dia tidak mau ada keributan di rumah ini.


"Pandai sekali kamu cari perhatian Suamiku, ya? Dasar ******!"


Arsenio terkejut dengan ucapan Zakia. "Zakia!"


Zakia langsung bersedekap dada. "Oh, jadi kamu sudah berani meninggikan suara kamu padaku ya, Arsen?"


Zakia mendelik pada Danika sebelum menghentakkan kaki kesal meninggalkan tempat itu. Arsenio menghela nafas frustasi, dia menatap sekilas Danika dan langsung mengejar Zakia ke kamar.

__ADS_1


Danika terdiam di tempat dia berdiri. Menunduk sebentar dan menghela nafas sedih. Sedih? Jujur saja dia sedih dengan perlakuan Zakia tadi. Dan Suaminya? Hanya diam dan lebih memilih mengejar Zakia daripada menenangkan hatinya. Nah, sebenarnya itu yang paling membuat dia sedih.


"Hem, gue sadar diri. Gue bukan siapa-siapanya Mas Arsenio."


............*****............


"Zakia! Apa yang sudah kamu lakukan tadi?"


Arsenio tidak habis pikir. Marah boleh, tapi jangan sampai bertindak kasar. Kenapa Zakianya sekarang banyak berubah?


"Apa? Apa yang kulakukan? Dia itu cuma cari perhatian kamu aja, Arsen!"


Zakia mendudukkan dirinya pada sofa. Arsenio mendekat dan duduk di sampingnya. Membelai rambut Zakia dengan lembut. Dia sebenarnya begitu rindu pada Istrinya ini. Tapi ketika mendengar Mamanya sakit, hatinya tetap tidak bisa tenang.


"Sayang, aku minta maaf. Lain kali kalau kamu marah, kamu harus bisa menahan tanganmu untuk tidak menyakiti orang lain."


Zakia menghela nafas. "Iya," jawabnya dengan lirih.


Arsenio mendekat lalu memeluk Zakia dengan erat. Setelah melepaskan pelukannya, Arsenio bangkit hendak mandi.


"Oh iya, setelah aku mandi, kita ke kamar Mama, ya?"


Arsenio mengernyit. "Kenapa? Mama itu mertua kamu, Za? Masa kamu gak mau lihat mertua lagi sakit?"


"Aku kan sudah bilang, aku itu tidak akan pernah bisa dekat dengan Mamamu!"


"Ya sudah kalau kamu tidak mau. Aku akan ke sana nanti." Arsenio melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Tapi kata-kata Zakia sukses menghentikan langkahnya.


"Jangan bilang kalau kamu mulai suka ya dengan Danika? Kamu ke sana itu hanya untuk mendekati dan memperhatikan dia aja, kan? Ngaku kamu, Arsenio?"


"Arrgghh.."


Arsenio menyugar rambutnya ke belakang. Kenapa menghadapi Zakia sekarang ini membuatnya pusing? Dia tidak menggubris ucapan Zakia dan meneruskan niatnya yang mau ke kamar mandi tadi.


"Kalau kamu berani melihat Mama kamu, aku pastikan akan menetap di Eropa dan tidak akan kembali lagi ke sini!" ancam Zakia menatap punggung Arsenio.


Arsenio mendesah, dia berbalik dan menatap sendu Zakia yang sudah berani melotot padanya. "Hem, baiklah!"


Arsenio langsung masuk ke kamar mandi. Sedang Zakia tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


Entah apa yang Arsenio pikirkan. Dia mau saja menuruti apapun keinginan Zakia. Dari mulai jangan melihat Mamanya yang sakit, dan sekarang jangan keluar dari kamar. Bahkan mereka makan malam juga di dalam kamar.


Andai Zakia tahu betapa gelisah hatinya saat ini. Tapi entah kenapa rasa ketidakberdayaan itu hadir di dalam dirinya.


Tepat pukul 22:00, Arsenio membuka matanya, dia menoleh pada Zakia yang sudah terlelap tidur di sampingnya. Padahal kalau suami istri sudah lama tidak jumpa akan terjadi sesuatu yang iya-iya ya, kan? Tapi entah kenapa, Arsenio malah tidak bergairah dan berselera. Padahal Zakia sudah begitu sangat menggoda dirinya.


Arsenio turun dari ranjang dengan perlahan. Dia ingin melihat Mamanya, memastikan Mamanya baik-baik saja. Mengendap-endap dia keluar dari kamar. Dan dia mengepalkan tangan sambil bilang 'Yes' setelah berhasil.


...........******............


Mama Lena memperhatikan Danika yang sedang memijat kakiknya sambil tersenyum. Dia begitu bahagia memiliki Danika. Dia berasa memiliki putri yang sangat sayang padanya.


"Nika?"


Danika menoleh dan tersenyum. "Iya, Ma?"


"Apa kamu gak capek, sayang? Ini sudah malam. Besok kamu kerja."


Danika menggeleng cepat. "Masa gini aja capek, Ma? Mama harus dipijit, biar badannya gak kaku. Kan Mama tidur terus kerjaannya, hehe."


Mama Lena tertawa. Tapi tiba-tiba dia teringat dengan Arsenio. "Nika, kenapa ya Suami kamu gak mau lihat Mama? Mama kan lagi sakit."


Danika tersenyum. "Oh, nanti Mas Arsenio pasti lihat Mama, kok. Tadi Mas Arsenio pulangnya agak telat, mungkin capek, Ma. Dan mungkin lagi dipijitin sama Mbak Zakia." Danika mengedip-ngedipkan matanya dengan genit pada Mama Lena.


Mama Lena menoyor kepala Danika pelan. "Ah, kamu ini," ucapnya sambil tertawa.


Arsenio yang melihat itu dari celah pintu yang dia buka secara diam-diam, merasa terenyuh. Hatinya merasa tersentuh dengan sikap Danika, terlebih pada Mamanya. Bahkan dia tidak mengadu apa yang sudah Zakia lakukan tadi.


Arsenio menutup pintu itu dengan pelan. Entah kenapa, tiba-tiba saja dia merasa aneh. Ada sesuatu yang menggelitik hatinya. Arsenio lalu memutuskan untuk pergi ke ruang kerjanya. Tak lupa dia menyuruh pelayan membuatkan kopi untuknya.


Di ruang kerjanya, Arsenio hanya merenung dan merenung. Semenjak melihat kedekatan antara Mamanya dan Danika, hati Arsenio menjadi tidak tenang.


"Dia beda sekali. Tampak tulus menyayangi Mama. Berbeda dengan Zakia. Yang bahkan diajak hanya untuk melihat, bukan mengurus saja dia tidak mau. Haaaah."


Arsenio menyandarkan tubuhnya ke kursi, tangannya dia lipat di atas perut. Matanya tiba-tiba terpejam. Bahkan kopinya belum terminum, Arsenio sudah tertidur.


............******.............


Likenya jangan lupa we. Aku padamu, wkwk.

__ADS_1


__ADS_2