Jadi Istrinya?

Jadi Istrinya?
Bab ~21


__ADS_3

"Ka, lo kenapa? Apa ada masalah?" Reni menatap penuh kecemasan melihat Danika yang berwajah lesu itu menduduki kursinya.


"Ish, sebal, sebal, sebal!" Danika meremas kertas dengan sekuat-kuatnya. Hidungnya mulai kembang kempis tidak beraturan.


Reni menggeser kursinya mendekat pada Danika. "Ka, ada apa? Lo dimarahin lagi sama suami lo?"


Danika mendengus sebal. "Lo tahu kan dia itu perpaduan singa dan naga, yang kapan-kapan berubah sesuka hatinya!"


"Singa dan naga?" Reni menatap ke atas dan membayangkan Arsenio yang tengah marah-marah langsung berubah menjadi naga dan menyemburkan apinya pada Danika, sedang Danika berlari ketakutan sambil teriak-teriak manja. Auww, auwww, begitu kira-kira. Eh, tapi kenapa malah mirip serigala ketika melihat bulan purnama? tau ah gelap!


"Eh, ngelamunin apa lo barusan? Awas aja kalau lo mikir yang gak-gak ya, Ren?"


Danika menjadi ilfil, ingin berbagi keluh kesah dengan Reni, dia malah terbengong dengan mulut terbuka.


Reni terkekeh. "Eh, enak aja lo! Gue mana ada mikir apa-apa! Memang lo kena marah lagi tadi ya?"


Danika menghela nafas. "Iya. Mas Arsenio juga bilang jangan pakai cincin ini." Danika menunjukkan jari yang ada cincinnya itu pada Reni. "kalau ada di kantor. Terus gue protes, dong! Dan akibatnya gaji gue dipotong lagi. Memang gak ngerti gue jalan pikiran dia."


"Duh, kasihan banget si lo, Ka. Dari awal lo menikah, lo mau jadi istri yang baik, kan? Lo turutin aja dulu maunya. walau Tuan Arsenio masih belum bisa nerima lo, setidaknya lo dapat pahalanya, Ka."


Danika mengangguk dengan lemah. "Iya, gue akan lakuin itu. Cuma masalahnya sekarang, bagaimana dengan hutang gue, Ren?" Danika menoleh pada Reni dengan wajah menyedihkan.


"Biar gue bantu, deh!" jawab Reni dengan santainya.


Danika berbinar. "Bener lo mau bantuin gue? Lo mau minjamin gue?"


"Ya, gak!" jawab Reni dengan wajah tanpa berdosa.


Danika mendengus. "Bangsat lo, Ren!" Danika menghantuk-hantukkan kepalanya ke meja. Ingin sekali dia menangis kejer-kejer saat ini juga.


"Kalau gak kita open donasi aja, Ka! Bikin spanduk yang tulisannya open donasi untuk bayarin hutang Danika Aroma Melati, yang dihirup bakal nyangkut dihati, yang diresapi maka akan jatuh hati, eaaak."


Danika mengangkat wajahnya dan menoleh pada Reni. "Lo kira promosi parfum yang dihirup bakal nyangkut dihati?"


Reni mengangguk dan kemudian tertawa dengan heboh. "Begitulah kira-kira bunyinya, Ka!"


"Dasar memang gak ada otak lo, Ren!"


Dimaki begitu, Reni bukannya marah, dia malah semakin mengeraskan ketawanya. Danika hanya bisa menghela nafas dengan kesal. Ingin sekali rasanya dia berubah jadi malaikat maut saat ini juga.


... ................******..................


Di ruangan Arsenio, Amar sudah gatal sekali ingin menanyakan apa yang sudah Arsenio lakukan tadi pada Danika. Tapi dilihat dari wajah Arsenio yang begitu serius mengerjakan sesuatu pada tab-nya, Amar jadi segan.


'Semoga semuanya baik-baik saja.'


Arsenio mengangkat wajahnya dan tanpa sengaja menatap Amar yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Arsenio berdehem.

__ADS_1


Amar langsung menatap Arsenio. "Ada apa, Tuan? Apakah Tuan memerlukan sesuatu?"


Arsenio menggeleng. "Kau sedang memikirkan apa? Sepertinya kau begitu risau?" Entah kenapa Arsenio jadi teringat dengan adegan di mana Danika tersenyum pada pria yang ada dihadapannya ini. Kok tiba-tiba dia ingin murka, ya?


"Eh, saya tidak memikirkan apapun, Tuan."


Arsenio memicingkan matanya. "Ah yang benar?"


Belum lagi Amar menjawab, pintu ruangan tiba-tiba saja terbuka menampilkan seorang Zakia. Niatnya dia ingin selalu mengunjungi Arsenio sekalian mengawasi Danika.


"Sayang," panggilnya dengan manja.


Amar langsung permisi keluar dari sana. Dia tidak ingin mengganggu mereka berdua.


"Kamu kapan datangnya?" Arsenio menarik tangan Zakia untuk duduk dipangkuannya.


Dia merasa senang sekali Zakia mau mengunjunginya ke kantor. Biasanya Zakia tidak mau melakukan itu karena alasan tidak bisa meninggalkan pekerjaannya.


"Baru saja. Aku hanya ingin memastikan kalau gadis itu tidak akan gatalan sama kamu. Mengingat kalian kerja di kantor yang sama," sungut Zakia.


Arsenio tertawa sambil mencubit ujung hidung Zakia lalu mengecupnya sekilas. "Dia tidak akan mungkin melakukan itu, sayang. Mana berani dia! Aku saja kalau sudah berhadapan dengan dia selalu saja emosi."


"Oh, ya? Jadi kenapa kamu malah setuju menikah dengan dia?"


Arsenio terdiam sejenak. "Makan siang di restoran favorit kamu, yuk?"


Mereka lalu keluar dari ruangan dengan bergandengan tangan, begitu mesra sekali. Saat mereka melewati meja kerja Danika, Arsenio melirik sekilas gadis yang tengah sibuk mengetik itu.


Danika juga tanpa sengaja melihat Arsenio dan Zakia berjalan dengan mesra di depannya. Sepertinya dia tidak ada tenaga sama sekali untuk mendelik sebal pada Arsenio.


Danika hanya menatap kepergian mereka dengan sendu lalu membuang muka ke arah lain. Arsenio mengernyit, tidak biasanya Danika seperti itu padanya. Tapi dia hanya mengedikkan bahu acuh.


Reni yang mengetahui hal itu hanya bisa mengusap bahu Danika. Danika hanya membalasnya dengan senyum tipis.


'Biarkan saja. Toh, apa peduli gue?'


Ponsel Danika tiba-tiba berdering, langsung saja dia mengangkat panggilan dari nomor yang tidak dikenal itu.


"Halo."


~"Ehm, Nika."


"Eh, siapa ini?"


~"Ini gue, Azka!"


Sontak Danika terbatuk-batuk mendengar nama yang menelpon. Ada angin apakah ini? Apakah angin yang keluar dari sesuatu?

__ADS_1


"I..iya, Ka? Ada apa? Lo dapat nomor gue dari mana?"


~"Dari Adul. Lo sama Reni ikut gue, yuk?"


"Ikut ke mana?"


~"Sudah, jangan banyak tanya. Ayo buruan keluar! Gue sudah di depan ini!"


Tut..tut..tut. Azka mematikan teleponnya secara sepihak. Danika memandang layar ponselnya dengan heran.


"Mulai kumat nih anak kayaknya!" ucap Danika sambil menggelengkan kepala.


"Ada apa, Ka?"


"Azka sudah nunggu kita di depan. Dia mau ngajakin kita."


Reni mengedip-ngedipkan matanya. "Wah, wah, wah. Ada apakah ini?"


"Mata lo mau gue colok? Sudah ayo!" Danika langsung menarik paksa Reni.


Benar saja, di depan sudah ada mobil mewah. Danika dan Reni langsung naik setelah memastikan kalau mobil itu memang milik Azka.


"Ka, lo cuma ngajakin gue sama Reni doang? Adul gak diajakin?"


Azka yang menyetir di depan tersenyum mendengar celotehan Danika. Kadang dia selalu melirik Danika yang duduk di belakang dari kaca spion.


'Ah, kenapa dia semakin cantik saja?'


"Dia tadi sudah gue telpon, cuma lagi sibuk katanya. Kita cari makan dulu, ya?"


"Boleh!" jawab dua gadis itu secara serentak, membuat Azka tertawa.


"Lo apa gak lagi sibuk, Ka?"


"Gak, Ren. Lo gak usah khawatir."


Mereka akhirnya sampai di restoran mewah. Mata Danika menyipit ketika melihat mobil Arsenio terparkir di sana. Paten dia kan, baru beberapa hari jadi istri Arsenio, sudah tahu model mobilnya, bahkan dia sudah hafal plat mobilnya.


'Hadoh! Pasti Mas Arsenio lagi makan di sini bareng istrinya yang solekah itu, eh solehah.'


"Yuk, masuk!" ajak Azka.


"Yuuuuk!" teriak Reni dengan hebohnya sambil menarik tangan Danika.


Danika hanya bisa meringis. Paling di dalam nanti dia hanya menyaksikan kemesraan Arsenio dengan Zakia. Bikin sakit dihati tahu tidak! Eh, tunggu dulu? Apakah Danika mulai merasakan cemburu?


..................*****...................

__ADS_1


__ADS_2