
Danika merenung terus dari semenjak kedatangan calon mertuanya. Asli ya, satu malaman dia tidak bisa memejamkan mata.
"Besok gue menikah? Haha, besok gue menikah? Amboi! Kenapa secepat ini?" ucapnya frustasi.
Untung saja Danika sudah menghubungi Reni perihal acara besok. Siapa lagi coba yang akan menemani dia selain Reni. Lagi pula hanya Reni yang tahu rahasia Danika dan Arsenio.
Pukul 4 pagi, suara ketukan pintu terdengar nyaring sekali. Danika yang menutup wajahnya dengan bantal merasa terusik. Dari tadi dia sudah berusaha dengan susah payah untuk tidur. Dan sekarang ada orang yang sibuk bertamu ke rumah kosnya pagi-pagi buta begini.
"Kurang ajar! Baru juga gue coba untuk tidur!"
Dengan malas Danika bangkit dan berjalan untuk membuka pintu. Ceklek. Danika yang matanya tinggal 5 watt itu menatap bayang-bayang orang yang datang ke rumahnya.
"He, he.." Danika terkekeh melihat orang aneh yang memakai kebaya berwarna merah itu. Sedang orang yang datang menatap tidak percaya penampilan Danika yang acak-acakan.
"Maaf, Mbak! Di sini tidak ada acara Ibu Kartini, sorry salah rumah!"
Danika hampir menutup pintunya kembali, tapi langsung dicegah oleh yang datang.
"Eh, enak saja lo main tutup-tutup segala! Gue mau masuk!"
Danika mencoba mengucek matanya. "Reni? Elo, Ren?"
Reni mendengus. "Ya iyalah! Memang siapa?"
Danika hanya menghela nafas lemah. "Ya ampun, Ren! Lo ngapain pakai kebaya begitu dijam segini?"
Reni menatap tidak percaya dan geleng-geleng kepala. "Astaga, Nika! Lo lupa ini hari pernikahan lo dengan Tuan Arsenio!"
Danika kembali merebahkan diri diatas karpet. "Jadi gue harus apa?"
Reni menarik-narik Danika untuk bangun. "Ish, Nika! Ayo bangun dan mandi! Kemarin, Bu Lena sudah bilang sama gue kalau acara lo tepat pukul 8 nanti. Lo harus siap-siap sekarang juga!"
Hening, tidak ada jawaban. Hanya terdengar suara jam berdetak dan tak lama kemudian suara ngorok Danika ikut nimbrung membentuk paduan suara. Reni hanya bisa melongo terbodoh melihat Danika. Dia memegang keningnya.
"Haduh! Nika!" ucapnya sambil menggeleng.
...**\=\=\=\=\=**...
"Nika sayang, ayo bangun! Ini Ibu ada bawa apa?"
__ADS_1
Danika langsung berlari menghampiri Ibunya yang tersenyum dengan lebarnya sembari merentangkan tangan. Danika langsung saja memeluk Ibunya.
"Ibu, Nika merindukan Ibu," ucap Danika. Tak terasa air mata mengalir dari kedua matanya.
Ibunya langsung mengusap rambut Danika dengan sayang. "Ibu juga rindu sama Nika. Sekarang jangan menangis, sayang."
Danika mengusap matanya. "Oh iya, tadi Ibu bilang ada bawa sesuatu untuk Nika."
Ibu Danika mengangguk. "Iya, Nak."
"Wah, Ibu bawa apa? Beri tahu Danika, Bu?" tanya Danika dengan semangatnya.
Ibu Danika tersenyum dan menggeser sedikit tubuhnya untuk memperlihatkan siapa yang dia bawa. Yang tadinya senyum Danika mengembang, sekarang langsung memudar begitu saja saat tahu siapa orang yang dibawa Ibunya.
Matanya langsung melotot seketika. "Apa?"
Pria itu langsung tersenyum kecut ketika tatapan matanya bertemu dengan Danika, dan tanpa aba-aba pria itu langsung menyiram Danika dengan air di dalam ember yang pria itu bawa. Entah kapan pria itu membawa-bawa ember seperti itu.
"Arseniooooot...!" Jerit Danika tiba-tiba.
"Hah, akhirnya lo bangun juga!" Reni meletakkan gayung berisi air yang dia siramkan pada Danika ke lantai.
Reni tertawa terbahak-bahak sambil berkacak pinggang. "Apa tadi gue tidak salah dengar, ya? Lo neriakin nama Tuan Arsenio? Cie, cie."
Danika langsung merah padam mendengar celotehan Reni. "Awas loya, Ren? Akan gue balas lo nanti, ya?"
...**\=\=\=\=\=\=\=**...
"Hantuuuu..." Teriak Mua itu dengan nada genitnya. Bagaimana tidak dikatakan hantu? Lagi-lagi penampilan Danika amburadul sekali. Rambut acak-acakan, mata merah dan hitam mirip panda. Sebenarnya lebih mirip demit dari pada panda.
"Mbak, apa Mbak dibayar lebih sama calon mertua saya untuk neriakin saya hantu?"
Mbak Mua itu terkekeh. "Habisnya gimana? Belum lagi first night, penampilan kamu sudah kayak hantu begini, huh."
Danika memicingkan mata pada Mua yang banyak sekali ocehannya ini. Dan dia langsung melotot pada Reni yang juga ikut menertawakan dirinya.
Haaah, memang habis first night penampilannya harus acak-acakan mirip hantu? Lagi pula dia juga tidak mau first-first night bersama Arsenio.
Danika hanya bisa pasrah sambil memonyongkan bibirnya. "Puuufftt."
__ADS_1
Tanpa berbasa-basi lagi dan waktunya juga sudah mepet, Mua itu langsung memulai tugasnya. Dengan keahlian tangannya, dia menyulap wajah Danika yang berantakan menjadi bidadari.
"Ck, ck. Kamu cantik juga ternyata," puji Mua itu yang hanya ditanggapi dengan monyongan bibir dari Danika.
"Dia memang cantik loh, Mbak. Cuma malas saja merawat wajah dan penampilan," sindir Reni sembari tertawa yang juga disambut tawa oleh Mbak Mua itu.
...**\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=**...
Danika turun dari mobil dengan dibantu Reni. Danika menatap vila di depannya, dia lalu menghela nafas. Reni menyentuh lengan Danika sembari tersenyum untuk menyemangati Danika. Danika tersenyum seadanya.
"Yuk, masuk?" ajak Reni. Dia mengulurkan tangannya pada Danika.
Lagi-lagi Danika menghela nafas, dan dengan mengucap Bismillah, dia mengambil uluran tangan Reni. Mereka melangkah bersama untuk masuk ke vila itu.
Sesampainya di depan pintu, dua orang bodyguard mempersilahkan mereka berdua untuk masuk. Danika dan Reni menyapu ruangan itu dengan netra mereka. Ada beberapa orang, tapi sepertinya mereka hanya pelayan yang sibuk wara-wiri mempersiapkan makanan dan minuman. Sesekali mereka menunduk dan tersenyum pada Danika.
"Oh, menantuku sudah datang!" teriak Mama Lena yang tentu saja mengagetkan mereka.
Danika dan Reni berbalik dan menyalami Mama Lena. Mama Lena terus memandangi Danika, bahkan matanya tak mau berkedip.
"Ya Allah, kamu cantik sekali, sayang. Kamu memang manusia apa bidadari, ya?" celetuk Mama Lena.
Reni langsung tersenyum sambil menutup mulutnya dengan tangan. Sedang Danika tersenyum malu-malu miaw.
"Oh iya, Bu? Kenapa di sini hanya beberapa orang saja yang hadir, Bu?"
"Jangan panggil Ibu, dong! Panggil Mama! Mama mau pernikahan kalian privasi, sayang."
Danika dan Reni ber-oh ria. Sebelum acara akad nikah dimulai, Mama Lena menyuruh Danika dan Reni untuk makan terlebih dahulu.
Ditengah-tengah mereka makan, suasana mendadak senyap. Danika dan Reni saling pandang, Reni bertanya dengan mengangkat dagu pada Danika, Danika langsung saja mengedikkan bahu. Orang memang dia tidak tahu apa sebabnya suasana tiba-tiba senyap.
Suara sepatu pantofel mahal terdengar melangkah masuk. Danika dan Reni saling pandang sebentar kemudian menoleh ke arah sumber suara.
Danika bahkan tak berkedip memandangi pria yang tengah berjalan itu. Mulutnya sampai terbuka saat menelusuri setiap inci penampilan Arsenio. Arsenio yang melangkah dengan tegap itu memakai setelan jas mahalnya, tak lupa peci hitam dan kalung bunga khas pengantin.
'Amboi, amboi! Sekarang gue mengaku kalau dia beneran ganteeeng. Auuuww, gue tak kuasa!'
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=********\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
__ADS_1
Jangan lupa like ya we. Oh iya, jangan lupa komen juga ya? Aku padamu, eaaak. 😁😘