Jadi Istrinya?

Jadi Istrinya?
Bab ~ 41


__ADS_3

Di tengah perjalanan hanya ada keheningan, diantara dua manusia berbeda kelamin itu. Danika tidak tahu hendak mengobrol apa.


Begitu juga dengan Arsenio yang merasa canggung jika berduaan begini dengan Danika.


Sesekali Arsenio melirik ke Danika yang sepertinya sibuk menatap luar jendela dari pada menatapnya. Arsenio membayangkan ketika saat dia menoleh, maka Danika juga sedang menatapnya sambil tersenyum.


'Coba bayangin, ah!'


Arsenio tersenyum, kemudian dia menoleh pada Danika. Senyumnya langsung menghilang ketika Danika menatapnya seperti orang aneh. Mata melotot, hidung kembang kempis, kemudian nyengir pula, mana giginya hitam semua lagi.


Setelah itu Danika malah tertawa mirip orang gila. Kikikik. Hiii, itu bukan orang gila, tapi kuntilmamak, eh kuntilanak.


Arsenio geleng-geleng kepala untuk menyudahi acara bayang-membayangkan yang sangat menyeramkan ini.


"Iiiihh." Arsenio bergidik ngeri sambil mengusap-usap wajahnya dengan kasar.


Danika menoleh dan menatap aneh Suaminya yang tiba-tiba bertingkah, ya you know lah.


'Memang geser otak Mas Arsenio!'


"Mas, kenapa?"


Arsenio menoleh, syukurnya Danika tersenyum walau samar, tapi masih terlihatlah di mata Arsenio. Arsenio bernafas lega, karena Danika masih dengan wajahnya yang biasa, tidak terlihat seperti dibayangannya tadi.


Arsenio tersenyum menatap Danika. "Saya tidak apa-apa."


Danika melongo sebentar. Dia lagi-lagi merasa aneh dan bingung. Lalu setelah tersadar dengan pelonga-pelongonya, dia kemudian meluruskan kembali pandangannya ke depan. Dia tidak mau berlama-lama memandangi Arsenio.


'Mas Arsenio memang kumat.'


Saat mobil mereka berhenti karena lampu merah, mata Danika tak sengaja melihat seorang pria yang berjalan di pembatas jalan, persis di samping mobil mereka.


Pria itu penampilannya kumuh sekali. Dengan topi sudah berlubang-lubang, yang dia pakai untuk sedikit melindungi kepalanya dari panas yang sudah mulai datang.


Pria itu menggendong seorang gadis kecil di punggungnya. Di sampingnya, sang Istri berjalan mensejajari langkah Suaminya. Sesekali Suami Istri itu tertawa mendengar celoteh anaknya.


Mata Danika tak lepas memandangi pemandangan yang begitu indah itu. Dia jadi ingat pernah digendong Ayahnya seperti itu, lalu Ibunya ikut berjalan di samping mereka. Mereka juga tertawa bersama.


Mata Danika menghangat, tak lama air mata mulai turun tanpa bisa dicegah lagi. Arsenio yang sering kali curi-curi lirik pada Danika mengerutkan alis.


'Danika kenapa? Apa dia menangis?'


"Danika."


Danika terperanjat, lalu dengan segera menghapus air matanya. Dia menoleh dan tersenyum. "Iya, Mas?"

__ADS_1


Arsenio menatap Danika dengan khawatir. "Kamu menangis?"


Danika tersenyum sendu. "Egh, cuma meneteskan air mata kok, Mas. Gak menangis."


Arsenio ilfil. "Itu kan menangis namanya. Ada apa? Kenapa tiba-tiba menangis, hem?"


Mendengar ucapan lembut Arsenio, mata Danika kembali berkaca-kaca. Dia menunduk lalu menghapus air matanya lagi.


"Nika, saya gak apa-apain kamu, loh. Saya cuma tanya, bukan ada maksud membuat kamu menangis."


"Iya, Mas. Aku tahu, kok."


Lampu merah sudah berganti dengan lampu hijau. Arsenio melajukan mobilnya. Dan melewati pria yang bersama dengan anak dan Istrinya tadi.


"Mas, lihat mereka gak?" Danika menggeser sedikit badannya ke belakang agar Arsenio bisa lihat apa yang dia tunjukkan.


"Bapak yang sedang menggendong anak itu?"


Danika mengangguk. "Iya. Ehm, aku jadi teringat pernah digendong gitu sama Ayah, dan Ibu berjalan di samping kami, sambil sesekali menggelitiki punggungku. Ehm, aku rindu mereka, Mas."


Danika menunduk lagi dan terisak kecil. Arsenio yang bolak balik antara menatap Danika dan jalan, jadi tidak fokus. Dia lalu menepikan mobilnya.


Arsenio menatap iba Istri keduanya ini. Entah kenapa hatinya sedih. Melihat Danika yang sedari kecil sudah ditinggal kedua orang tuanya. Kalau penyebab meninggal Ayah Danika sih dia tidak tahu. Tapi kalau Ibunya, Arsenio tahu. Karena jantung Ibunya sudah melekat di dalam dada Mamanya.


'Haaaa, kasihan kamu, Danika. Aku bisa bayangin sulitnya hidup tanpa kedua orang tua. Dan bodohnya aku sudah membencimu dari awal. Padahal seharusnya aku menerimamu dan menyayangimu.'


"Danika."


"Kalau kamu ingin menangis, menangislah."


Danika tidak bisa lagi berkata-kata. Dia kemudian menangis. Tapi menangis yang sewajarnya, tidak heboh sampai kejer-kejer, tiarap, lalu guling-guling. Wkwk.


Karena dari dulu dia sudah ditempah oleh sang Kakak menjadi wanita kuat dan tahan banting. Walau sebenarnya tidak kuat-kuat amat. Karena dia hanyalah manusia biasa yang terkadang bisa saja rapuh tanpa diperintah.


Setelah puas menangis, Danika ingin menghapus air matanya, tapi kegiatannya terhenti karena Arsenio mengulurkan sapu tangan padanya.


Danika menatap sapu tangan yang berwarna maroon itu lalu menatap Arsenio yang lagi-lagi tersenyum. Jantung Danika berdebar-debar.


'Fix! Gue sudah sakit jantung!'


Rasanya kayak belum terbiasa saja gitu loh melihat orang tampan yang notabene adalah Suaminya sendiri tersenyum sama dia. Auuuww.


Danika mengambil sapu tangan itu lalu mengelap air matanya. "Makasih, Mas."


Danika hendak mengembalikan sapu tangan itu, tapi langsung dicegah Arsenio.

__ADS_1


"Kamu simpan saja dulu. Mana tahu ada hal lain yang membuat kamu menangis lagi nanti."


Arsenio kemudian melajukan mobilnya kembali.


Danika memonyongkan bibirnya. 'Uuhh, bilang aja kalau Mas jijik karena sudah kupakai. Lagi pula aku ngelapnya gak sampai kena ingus, kok. Suwer!'


Tapi Danika tetap patuh, dia memasukkan sapu tangan itu ke dalam tasnya. Dan lagi-lagi mereka hanya diam-diaman. Kalau Arsenio diam wajar, karena kan dia lagi menyetir. Lah, Danika ini yang malah kelihatan gelisah seperti ulat keket.


Arsenio jadi punya ide supaya Danika menghilangkan kesedihannya. Dia juga teringat dengan keinginan Mamanya yang ingin makan jengkol.


"Nika, kita ke supermarket sebentar, ya?"


"Iya, Mas."


Arsenio membelokkan mobilnya ke supermarket. Setelah mematikan mesin mobil, mereka berdua pun turun. Danika jadi bertanya-tanya, tapi ada rasa bahagia yang menyempil di hatinya.


'Waduh, gue diajakin belanja, woi! Sudah mirip-mirip Suami Istri beneran, nih. Aseek. Amboi!'


"Kita mau belanja apa, Mas?" tanya Danika mendekati Arsenio yang mengambil troli lalu mendorongnya mendekati Danika.


Tak lupa dia mengeluarkan kaca mata hitam dari balik saku jas dan memakainya.


Danika menggaruk pelipis. 'Mas Arsenio niat mau belanja apa mau fashion show sih? Tapi kadar kegantengannya nambah, woi! Makin-makin deh gue padamu, Mas.'


"Bukannya Mama kepingin makan jengkol, ya?"


"Hah? Apa?" Danika seketika melotot. 'Kok Mas Arsenio bisa tahu Mama pingin makan jengkol?'


Arsenio terperanjat. Dia langsung salah tingkah karena hampir ketahuan sudah mengintip Danika dan Mamanya.


Arsenio mengangkat kedua alisnya. "Apa?" ucapnya pura-pura tidak tahu.


"Kok Mas bisa tahu Mama lagi kepingin makan jengkol? Mama ada bilang sih sama aku. Niatnya aku mau belanja ke pasar nanti sore."


Arsenio menggaruk-garuk tengkuknya. "Mungkin karena saya dan Mama satu hati."


Danika mengatupkan bibirnya lalu mengangguk-angguk. "Ya sudah. Ayo, Mas. Lebih bagus juga kalau segera dibeli, agar cepat dimasak sama Mbak Mina."


"Oke."


Arsenio membelokkan troli lalu berjalan sambil mendorong benda itu. Meninggalkan Danika beberapa langkah di belakangnya.


Sedang Danika yang berjalan di belakang Arsenio, bolak-balik memegangi dadanya yang berdebar-debar. Danika juga tidak tahu, kalau pria tampan di depannya juga merasakan hal yang sama.


Deg, deg, deg, dundrang, dundrang. Kira-kira begitu bunyinya. Kalau tuuuuut, itu suara angin. Angin dari perut. Gak usah dihayati kali menghirup udara ini kalau tiba-tiba terdengar suara yang syahdu itu. Alamat bisa pingsan. Ala Mak oi.

__ADS_1


'Kata orang, ada satu cara membuat seorang wanita jatuh cinta, yaitu buatlah dia tersenyum dan tertawa. Namun rasanya aku belum mampu dan tak bisa, karena saat dia tersenyum ataupun tertawa, justru diriku yang semakin jatuh cinta. Sepertinya aku sudah benar-benar jatuh cinta.' ~Arsenio.


.............****.............


__ADS_2