Jadi Istrinya?

Jadi Istrinya?
Bab ~ 45


__ADS_3

Sekitar tengah malam, Arsenio dan Zakia baru kembali ke mansion. Selesai belanja, Zakia merengek minta makan di restoran paling mewah di kota ini.


Sudah berbelanja dengan menghabiskan hampir setengah milyar, Zakia masih belum cukup. Dia juga minta dibelikan mobil sport keluaran terbaru pada Arsenio.


Arsenio hanya bisa menghela nafas. Karena rasa sayangnya pada Zakia, dia terpaksa menuruti kemauan Zakia. Setelah itu, Arsenio merasa sudah tidak adil pada Danika. Haaah, Danika.


Selama pergi dengan Zakia, hanya Danika yang ada di ingatannya. Dia merasa rindu dengan gadis itu. Ah! Seandainya bisa dia peluk.


Di kamar, Arsenio tidak bisa tidur. Geser kanan, geser kiri, tapi tidak bisa terpejam mata ini. Membuka mata, eh malah ada Zakia.


Entah kenapa, rasanya sudah hambar sekali menatap wanita yang dia nikahi dua tahun lalu itu.


'Ini gak bisa dibiarkan! Aku harus bertemu Nika. Kalau gak bertemu dengan dia, aku jadi gelisah.'


Arsenio perlahan-lahan turun dari ranjang dan keluar dari kamarnya. Niat diri hendak mengetuk pintu kamar Danika, tapi kata hatinya, Danika tidak ada di kamarnya.


Entah siapa yang menuntun langkahnya, Arsenio sudah sampai saja di kamar Mamanya. Tanpa mengulur waktu, dia masuk ke dalam. Ah! Hatinya terenyuh melihat Danika tertidur dipeluk oleh Mamanya.


'Ah, ternyata dia di sini. Dia manja sekali dengan Mama.'


Arsenio mendekat, tangannya terulur menyibakkan rambut yang menutupi mata Danika. Setelah itu, Arsenio mengusap lembut pipi Danika. Senyum sendu menghiasi bibirnya.


Mama Lena yang tersentak bangun, matanya langsung melotot sempurna melihat anaknya tiba-tiba ada di kamarnya. Tapi Mama Lena pura-pura tidak tahu.


Mata sebelahnya sibuk mengintip saat Arsenio mengusap pipi Danika. Bibirnya sudah senyum-senyum tidak menentu. Dia bernafas lega, karena di depan matanya, Arsenio benar-benar sudah menyukai Danika.


Setelah rasa rindu sudah sedikit terobati, Arsenio keluar dari kamar Mamanya. Dia melangkahkan kaki menuju ruang kerjanya. Sepertinya dia akan tidur di sini, entah kenapa, belakangan ini dia tidak bisa tidur di kamar.


Arsenio membelalak, saat tak sengaja melihat boneka beruang besar yang ada di dekat meja kerjanya. Arsenio mengusap dadanya. Terus terang dia terkejut, Brooo! Soalnya, baru buka pintu sudah disuguhkan penampakan.


"Haaah, Hans memang kurang ajar!" gerutunya.


Arsenio mendekati boneka itu, mengusapnya sebentar sebelum beralih ke beberapa boneka dan robot-robotan yang masih terbungkus rapi di kotaknya.


"Kira-kira, apa tanggapannya, ya?" jari telunjuk Arsenio mengetuk-ngetuk dagunya. "ah, seharusnya aku kasih dia yang lebih dari ini. Zakia saja bahkan sudah ku belikan mobil. Harus adil, kan? Tapi, boneka sebanyak ini untuk apa? Apakah untuk koleksi? Hem."


...........*****...........


Kali ini Danika agak terlambat datang. Karena perutnya terasa kram tadi subuh. Ini biasa terjadi sama dia, menjelang habis masa menstruasinya. Malah kebalik, ya? Biasanya diawal-awal yang kram ya, kan?


Ketika sudah sampai di ruangan Suaminya, Adul sudah ada di sana ternyata.


"Selamat pagi, Mr. Adul," sapa Danika sembari menaik-turunkan alisnya.


Adul mencebikkan bibirnya. "Mister, mister. Banyak banget bacot lo!"


Danika tertawa lebar, dia lalu meletakkan tasnya dan duduk di samping Adul.


"Kemarin kenapa gak datang, Dul?"

__ADS_1


Adul melirik sekilas Danika, tapi hanya melirik tidak sampai menoleh. Wajah Adul tiba-tiba sedih.


Danika mengernyit, dia memegang bahu dan menggeser badan Adul untuk berhadapan dengan dia.


"Dul, ada apa? Apa gue salah nanya?"


Adul menggeleng. Dia mengusap wajahnya kasar lalu tersenyum. "Gak ada apa-apa."


Danika mencelos. Dia paham, mungkin Adul belum atau tidak mau cerita padanya. Danika hanya mengusap-usap bahu Adul saja jadinya.


Adul jadi teringat saat Tuan Arsenio sibuk sekali ingin tahu tentang Danika. Kok dia jadi penasaran? Lebih baik tanyakan saja ya, kan? Cus! Yuk, mari!


"Ka?"


Danika menoleh dan menggeser kursinya agar berhadapan dengan Adul. "Iya, Dul? Ada apa?"


"Ehm, gue boleh nanya sesuatu gak sama, lo?"


Danika menaikkan alisnya sebelah. "Tanya aja kali, Dul. Hehe."


"Janji ya lo jangan marah!"


"Iya, iya!" Danika meraih botol minum yang dia


bawa dari rumah dan menenggak sedikit isinya.


"Lo sebenarnya ada hubungan apa sama Tuan Arsenio?"


"Ka, Ya Allah. Lo gak apa-apa?" Adul sibuk menepuk-nepuk punggung Danika.


'Tuh, kan benar nih anak ada hubungan pasti sama Tuan Arsenio. Sampai tersedak gitu!'


Danika menatap Adul dengan takut-takut. Adul langsung bisa menangkap apa yang ingin disembunyikan Danika.


"Ka, lo selingkuhan Tuan Arsenio, ya? Aduh! Sakit, Ka!" Adul memegang dadanya. Gila ya betina satu ini, pukulannya mantap kali.


Danika memonyongkan bibirnya. "Lo jaga ucapan lo ya, Dul! Gak mungkin wanita paling cantik dimuka bumi ini jadi selingkuhan! Huh!" Danika memalingkan wajahnya dengan kesal.


"Jadi, kalau memang lo bukan selingkuhan Tuan Arsenio, kenapa Tuan Arsenio sibuk banget ingin cari tahu lo ke mana waktu itu!"


Danika terbelalak dan menoleh lagi pada Adul. "Hah? Yang benar lo, Dul?" 'Eh, kenapa di hati gue ada bunga-bunga, nih?'


Adul mengangguk. "He-em. Makanya gue penasaran."


Danika memilin tangannya, dia agak ragu untuk memberitahu Adul perihal hubungannya dengan Arsenio.


'Kasih tahu gak, ya?'


Karena Danika hanya diam, Adul semakin penasaran. Adul menggoncang bahu Danika.

__ADS_1


"Ka, lo kok diam aja?"


"Egh, sebenarnya, Tuan Arsenio itu Suami gue, Dul!"


"Apa?!" Adul cengap-cengap. Pria itu sibuk memegangi dadanya.


Danika cemberut. Dia pukul lengan Adul dengan gemas. "Dul! Ish, kan! Lo pasti kayak gini!" Danika memonyongkan bibirnya. Dia menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan kasar.


Adul senyum-senyum, dia menoel dagu Danika. "Hehe, gue bercanda, Ka. Tapi memang Istri Tuan Arsenio setuju dimadu?"


"Ya, gak lah, Dul!"


"Jadi, gimana ceritanya lo jadi Istrinya Tuan Arsenio?"


Danika mulai menceritakan dari awal tentang perjodohan dirinya dan Suaminya. Awalnya merasa sulit menjadi Istri dari Suami yang tidak menyukai dirinya.


"Tapi, belakangan ini Mas Arsenio mulai baik sama gue, Dul."


"Hem, mungkin ada sesuatu yang istimewa dari diri lo, Ka."


Danika mengibaskan tangannya. "Ah, lo, Dul. Dari dulu pinter banget bikin gue tersipu."


Adul tertawa. "Wah, pasti ada yang patah hati nih, tahu lo sudah nikah."


Danika mengernyit. "Siapa, Dul?"


"Azka. Emang siapa lagi!"


"Dia kenapa patah hati?"


Adul menghela nafas lalu menoyor jidat Danika. "Otak lo agak dipake dengan benar, napa! Azka, dia itu kan sudah lama suka sama lo."


Mata Danika terbuka lebar. Dia kemudian menjatuhkan pandangannya ke bawah. Ah, kalau Azka suka sih, dia memang sudah tahu. Tapi sayang sekali, dia sudah ada yang punya. Juga hatinya sudah dia pautkan untuk Suaminya.


"Ehm, lebih baik dia gak usah tahu dulu kalau gue sudah nikah, Dul."


"Kenapa?"


"Ya, anggap aja dia kayak orang lain yang belum tahu kalau gue sudah menikah."


Adul menaikkan alisnya sebelah. Sedang Danika senyum cengengesan.


Adegan itu tidak berlangsung lama, dikarenakan yang mulia Arseniot sudah memasuki ruangan. Para hadirin diharapkan untuk berdiri.Tet teret tetet.


Entah kenapa, pagi ini begitu canggung Danika rasa. Danika bahkan tidak mau menatap Arsenio yang sudah menatapnya dengan kerinduan. Hadoh! Ada apa ini?


Ah! Apakah gara-gara tadi malam Arsenio pergi dengan Zakia? Apakah Danika masih cemburu?


Memang makhluk yang bernama perempuan ini penuh dengan keribetan. Bisa menahan rindu, tapi tidak bisa menahan cemburu. Amboi!

__ADS_1


.............*****............


__ADS_2