Jadi Istrinya?

Jadi Istrinya?
Bab ~ 35


__ADS_3

Entah sejak kapan Arsenio berdiri di balkon menunggu dengan resah kepulangan Mama dan Istrinya. Apa? Istrinya? Kenapa dia bisa merasa aneh saat menyebut Istrinya yang lain selain Zakia.


Sesekali matanya melirik ke dalam di mana Zakia masih tertidur dengan lelapnya. Tapi setelah itu matanya selalu awas mengawasi gerbang.


Tak lama, gerbang terbuka menampilkan Danika yang menggandeng tangan Mama Lena. Terlihat juga plastik yang ada ditangan kiri Danika. Melihat Danika begitu sayang pada Mamanya, lagi-lagi membuat bibirnya melengkung.


Ah! Kenapa dia jadi begini? Terkadang hatinya berbicara sendiri, membanding-bandingkan Zakia dengan Danika. Jangankan berbuat seperti Danika, untuk melihat Mamanya sakit sebentar saja, Zakia tidak mau.


Haaah, Arsenio menghela nafas. Jangan sampai Danika sudah masuk ke hatinya. Mau bagaimanapun juga, dia masih sangat mencintai Zakia. Arsenio tidak ingin menyakiti Zakia.


Zakia yang baru saja membuka mata langsung terbelalak ketika melihat Arsenio sudah tidak ada di sampingnya. Alisnya mengerut. 'Ke mana dia?'


Zakia celingak-celinguk. Dan sedikit tersenyum ketika matanya menangkap bayangan Suaminya yang sedang berdiri di balkon.


'Ngapain dia pagi-pagi sudah berdiri di sana?'


Zakia mengambil cardigan berkain tipis untuk menutupi baju tidurnya yang bertali satu itu, lalu keluar menyusul Suaminya. Sesampainya di samping Arsenio, Zakia mendadak heran melihat Arsenio tersenyum-senyum sendiri. Bahkan Arsenio sampai tidak tahu keberadaannya.


Zakia mengikuti arah mata Arsenio yang memandang lurus ke bawah. Dan betapa terkejutnya Zakia ketika tahu siapa yang Arsenio pandangi sedari tadi hingga membuat dia tersenyum. Zakia mengepalkan tangannya.


"Ehem!"


Arsenio tersentak, dia langsung menoleh dan tersenyum manis pada Zakia. "Sudah bangun?"


"Sudah. Aku lihat kamu kayak seneng banget. Memang ada apa?" Zakia bergelayut manja. Zakia menyandarkan kepalanya di lengan Arsenio.


"Gak ada apa-apa. Aku senang aja ngelihat Mama sudah sehat."


Zakia mencebikkan bibir. "Ah, masa? Jangan-jangan kamu senang lihat pelakor itu!"


Arsenio langsung menoleh dengan tatapan tak suka. Kenapa juga Zakia harus mengecap Danika dengan sebutan seperti itu coba? Cemburu boleh, tapi jangan sampai seperti itu. Itu harapan Arsenio, tapi bodohnya hanya dia ungkapkan dalam hati.


Lagi pula Danika tidak seperti yang Zakia tuduhkan. Bukannya pelakor itu punya hubungan terlebih dulu dengan suami orang baru kemudian menikah secara diam-diam?


Arsenio menikahi Danika juga karena paksaan Mamanya, bukan karena mereka ada hubungan di belakang Zakia.


Zakia mendelik sebal dengan tatapan Arsenio yang seperti itu padanya. "Apa? Kenapa natapnya begitu? Kamu marah karena aku ngatain Danika dengan pelakor?"


Zakia melepaskan rangkulannya lalu melangkah masuk dengan menghentakkan kaki.


Arsenio membuang nafas dengan gusar, lalu menyusul masuk ke dalam. Di dalam Zakia duduk di tepi ranjang dengan wajah cemberut. Membuat Arsenio gemas. Arsenio kemudian duduk di samping Zakia dan membelai rambutnya. Dia kecup bibir Zakia dengan lembut.

__ADS_1


Zakia langsung membalas ciuman Arsenio dengan ganas. Bahkan Zakia sudah meraba sesuatu milik Arsenio, tapi Arsenio merasa aneh. Dia tiba-tiba saja melepas ciuman mereka yang sudah memabukkan bagi Zakia.


Zakia menatap Arsenio dengan bingung. "Ada apa?"


Arsenio mengernyit merasakan ada yang aneh pada dirinya. Dia lalu bangkit dan hendak pergi, tapi tangannya langsung ditarik oleh Zakia.


"Mau ke mana?"


"Mau ke kamar mandi."


Sesampainya di kamar mandi, Arsenio langsung mengecek senjata-nya. Dia lagi-lagi mengerutkan alis.


'Ini aneh! Kenapa dia tidak mau berdiri? Padahal Zakia sudah sangat menggoda tadi. Ah, kenapa denganku?'


Arsenio membasuh wajahnya di wastafel dan bercermin sebentar. Apakah ini akan jadi masalah ke depannya? Kenapa dia takut memikirkan ini?


Arsenio keluar dari kamar mandi dan langsung dapat tontonan erotis dari Zakia. Wanita itu bahkan sudah tidak berbaju lagi di ranjang. Tapi entah kenapa, malah membuat Arsenio tidak berselera.


'Astaga, aku kenapa?' Arsenio mengusap wajahnya dengan kasar.


Zakia bangkit dari ranjang lalu mendekati Arsenio yang gelisah. Dia mengusap dada bidang Arsenio. "Ada apa?"


Arsenio meninggalkan Zakia yang berdiri dengan keheranan.


"Ada apa dengannya?"


Zakia mengangkat bahu acuh, lalu segera pergi ke kamar mandi.


Arsenio menunggu Zakia di meja makan. Baru saja duduk, mata Arsenio langsung disuguhkan sebuah pemandangan yang berjarak beberapa meter dari tempat dia duduk, di mana Danika sedang bercanda dengan beberapa pelayan yang agak lebih muda dari Bik Sarinem. Terlihat juga ada Bik Sarinem di sana.


Kelihatan sekali kalau para pelayan tidak canggung bercanda dengan majikan mereka. Danika kan juga majikan mereka di sini ya, kan?


Mata Arsenio bahkan tak berkedip memperhatikan gadis itu. Suasana terasa begitu syahdu, seakan-akan ada alunan musik romantis menggema di telinganya. Semua gerakan Danika seakan-akan slow motion di mata Arsenio.


Tapi itu tak berlangsung lama ketika Zakia yang baru saja keluar dari lift yang khusus menuju dapur itu, terbelalak melihat Suaminya tersenyum memandangi yang tidak seharusnya dipandang.


"Arsen!"


Arsenio mengangkat bahunya karena terkejut dan langsung menoleh ke arah sumber suara.


"Eh, sayang?" ucapnya dengan grogi dan salah tingkah.

__ADS_1


Zakia mendekat dan langsung menggeser kursi paling dekat dengan kursi Arsenio. Zakia menatap sinis Danika yang tengah melewati mereka. Di dalam genggamannya ada 2 buah apel. Dia tersenyum samar sambil menganggukkan kepala sekilas pada Arsenio dan Zakia.


Arsenio yang tahu Zakia mulai cemberut lagi hanya bisa sepersekian detik saja menatap Danika. Kalau tidak ada Zakia, mungkin kepala dia akan ikut berputar mengikuti langkah Danika. Eh?


"Jangan bilang kalau kamu mulai suka sama dia ya, Arsen?"


"Kapan aku mulai suka, Zakia? Jangan bicara sembarangan."


"Itu, buktinya kamu ngelihatin dia terus tadi!" ucap Zakia dengan sinis.


"Aku tidak ada melihat siapapun, Zakia."


Zakia mencebikkan bibir. "Kamu jangan bohong. Lagi pula kamu harus tahu kalau Danika itu luarnya aja kelihatan baik, tapi sebenarnya tidak!"


Arsenio menatap lekat Zakia yang juga membalasnya dengan tatapan yang tak ramah.


"Apa maksud kamu? Aku sudah sering mengajarimu untuk jangan bicara yang tidak-tidak tentang orang lain."


Zakia bangkit dari duduknya. "Suatu hari nanti aku akan kasih tahu kamu gimana busuknya pelakor yang bernama Danika itu!"


Setelah bicara yang begitu membuat dia emosi, Zakia langsung berbalik dan berlari meninggalkan Arsenio di meja makan.


"Haaaah.." Arsenio hanya bisa menghela nafas dengan gusar.


Lagi pula dia juga aneh. Kenapa jadi lebih sering memperhatikan Danika? Arsenio menyugar rambutnya, lalu mengusap wajahnya.


"Aku akan bujuk dia. Pasti dia akan langsung luluh nanti."


Tak lama makanan datang dibawa oleh beberapa pelayan. Arsenio langsung saja mulai menyantap makanan itu, karena perut dia juga sudah keroncongan sedari tadi.


Biarkan sajalah Zakia merajuk, kalau menunggu dia untuk baik dari merajuknya, bisa-bisa Arsenio kena asam lambung.


"Haaaa.."


Lagi-lagi Arsenio menghela nafas. Makanan itu terasa susah tertelan.


'Ada apa denganku?'


Ada yang tahu?


...........****...........

__ADS_1


__ADS_2