Jadi Istrinya?

Jadi Istrinya?
Bab ~ 28


__ADS_3

Danika hanya melamun sambil mengaduk-aduk kopi cafucinonya yang sudah dingin. Reni yang sedari tadi memperhatikan Danika sudah mulai khawatir. Jangan-jangan Danika kerahsyukan syehtan lagi di cafe ini.


Reni menyentuh lengan Danika, Danika tersentak dan menoleh ke arah Reni yang duduk di sebelahnya.


"Ada apa, Ka? Dari tadi lo cuma bengong. Ada masalah apa? Suami lo bilang apa tadi?"


Danika menghela nafas, dia menyandarkan tubuhnya pada sofa. Lagi-lagi tatapannya lurus ke depan. Reni semakin khawatir, tidak pernah Danika seperti ini. Reni memegang bahu Danika dan menggesernya agar Danika berhadapan dengan Reni.


"Ka, lo gak jawab pertanyaan gue. Ada apa, Ka?"


"Gue disuruh jadi Sekretaris-nya Suami gue."


Reni tersenyum dan sedikit menggoyang bahu Danika. "Wah bagus dong, Ka. Lo bakal bisa pendekatan sama Suami lo!"


Danika menghela nafas. "Iya, lo tahu gak? Semua ini ide dari Mertua gue. Dan yang bikin gak enak itu, posisi M.. Eh Tuan Amar tergeser."


Reni mengangkat kedua alisnya. Tiba-tiba dia teringat waktu di cafe kemarin itu tak sengaja mergoki Danika sedang video call dengan Amar. Reni memandang wajah Danika sekali lagi.


'Ini aneh! Kenapa Nika gak merasa bahagia? Malah sepertinya dia sedih karena posisi Tuan Amar tergantikan sama dia, hem.'


Reni menggenggam tangan Danika. "Ka, lo mau jujur gak?"


Danika menanggapinya dengan malas. "Jujur apa 'sih? Macem ada aja rahasia lain yang gue sembunyiin dari lo!"


"Ka, lo sebenarnya punya hubungan apa dengan Tuan Amar?"


Mata Danika membulat, dia langsung duduk dengan tegak dan menatap Reni dengan intens. "Lo sudah tahu hubungan gue dengan Mas Amar?"


Reni menggeleng. "Sebenarnya 'sih belum. Cuma waktu itu gue gak sengaja ngelihat lo lagi panggilan video sama Tuan Amar. Lo selingkuh ya sama Tuan Amar?"


Plak! Pukulan mendarat sempurna di lengan Reni. Reni langsung meringis kesakitan.


"Bangsat lo, Ka! Sakit tahu!" sungut Reni sambil mengusap lengannya.


Danika mendengus. "Biarin! Enak aja lo bilang gue selingkuh! Gue dari awal menikah, walau gak diakui sama Suami gue, gue tetap setia ya sampai kapanpun!" Danika menyandarkan tubuhnya dengan kasar lalu bersedekap dada. Bibirnya sudah maju beberapa centi.


Reni meringis dan mengacak-acak rambut Danika. "Maaf, Ka. Jangan marah, dong! Kan wajar kalau gue ingin tahu ada hubungan apa lo sama Tuan Amar."


Danika menegakkan lagi duduknya, lalu menghela nafas dan menoleh pada Reni. "Ren, sebenarnya Mas Amar itu Kakak gue!"


Reni terbelalak. "Apa? Kakak lo?"


Danika mengangguk. "He-em. Dia Kakak gue. Tapi bukan Kakak kandung. Mas Amar dulu anak angkat Ibu dan Ayah. Dia sayang banget sama gue. Setelah Ibu mendonorkan jantungnya untuk Mama mertua gue, Mas Amar yang menghidupi gue. Dulu setiap pulang sekolah, dia kerja paruh waktu untuk kasih makan gue. Setelah dia tamat sekolah, dia dapat kerjaan yang bagus, sambil kerja, sambil kuliah, dan sambil ngerawat gue juga. Kadang gue jadi mikir kalau Ibu gue lebih sayang sama sahabatnya dari pada sama kami."

__ADS_1


Danika mengusap bulir bening yang sudah turun membasahi pipinya.


Reni juga ikut sedih melihat Danika sedih. Reni tersentuh dengan kebaikan Amar untuk sahabatnya ini. Reni mengusap-usap bahu Danika.


"Jadi selama ini yang biayai sekolah dan kuliah lo itu Tuan Amar?"


Danika mengangguk. "Iya. Lo lihat! Bahkan baju, sepatu, tas, dia semua yang beliin."


"Tapi kenapa lo gak ikut tinggal bareng dengan Tuan Amar aja? Gue denger dia tinggal di apartemen mewah?"


"Gue mau mandiri, Ren. Sudah cukup gue nyusahin dia."


"Hem, pantes lo sedih banget."


Danika terkekeh. "Sebenarnya, gue yang lebay. Karena bakalan jauh dari Kakak gue. Dia tempat curhat gue selain lo, Ren."


Reni menatap ke atas. "Hem, kok gue gak tahu, ya? Padahal kan kita temenan sudah lama."


"Ya, karena Mas Amar sibuk, Ren. Biar lo tahu aja, kita bisa masuk diperusahaan Suami gue ya juga berkat Mas Amar."


Reni menggeleng-geleng. "Wah, wah. Makasih banyak gue ucapkan sama Tuan Amar."


"Tapi, Ren. Ada satu hal yang bikin gue sedih."


"Huuufft, Suami gue gak mau kalau cuma gue jadi Sekretarisnya. Jadi dia merekrut Adul sekalian. Kayaknya dia gak mau kalau berduaan sama gue. Haah, aneh memang Suami gue. Mau heran, tapi Suami gue!"


Reni menggeleng tidak percaya. "Astaghfirullah. Sabar ya, Ka?"


Danika tersenyum tipis lalu mengangguk. "Insya Allah. Gue harus benar-benar serius jadi Sekretarisnya, takut gue kalau gaji gue bakalan dipotong lagi sama Arseniot itu!"


"Hah? Sudah jadi Istrinya pun gaji tetap dipotong? Apa-apaan itu? Gue kira itu hanya ancaman Tuan Arsenio aja sama lo. Rupanya beneran, ya?" Reni tak habis pikir dengan perilaku Bos-nya itu. Ini Istrinya loh? Masa iya main potong gaji?


"Memang iya. Lo kira dia main-main orangnya? Siluman naga sama singa kayak begitu mana ada becandanya, Ren. Lo juga harus hati-hati. Harus serius dalam bekerja."


Reni mengangguk-angguk. "Iya-iya siap, Nyonya Bos!"


Danika tertawa, sebenarnya tertawa yang dipaksakan.


"Jadi hutang lo sudah lunas? Lagi pula lo berhutang apa memang untuk skincare? Muka lo aja udah mulus tanpa perawatan, Ka."


Danika ragu-ragu ingin bercerita. "Sebenarnya, hutang skincare itu cuma akal-akalan gue aja, Ren. Gaji gue itu gue sumbangin setiap bulannya untuk Panti Asuhan, mesjid dan yang membutuhkan."


Reni menatap Danika dengan mata berbinar-binar. Danika yang tak sengaja menoleh ke arah Reni terkejut setengah mati ditatap begitu. Danika langsung menoyor jidat Reni. Reni langsung aw-aw manja.

__ADS_1


"Masya Allah, sholehah banget lo jadi cewek. Kagum gue, Ka. Pantes lo uring-uringan kalau gaji lo gak cukup. Jadi selama ini uang makan lo dari mana? Jangan bilang dapat suntikan dana dari Tuan Amar?"


Danika menaik turunkan alisnya sebelah. "Jelas, dong! Haaah, gue berharap Mas Amar sehat-sehat nanti di sana. Dan semoga saja dia segera dapat jodoh. Gue berharap banget. karena dia jadi lupa sama dirinya gara-gara terlalu mentingin gue!"


"Amiin ya Allah. Semoga ya, Ka?"


"Oh iya, Ren, nanti temenin gue ya antar Mas Amar ke bandara?"


"Oke!"


Danika dan Reni dengan terburu-buru meminum kopi mereka yang sudah dingin, karena sebentar lagi jam pulang kantor tiba.


...........*****...........


Dipagi hari minggu yang cerah ini, Danika sudah bersiap-siap hendak pergi ke bandara. Dia memasukkan barang-barang penting yang akan dia bawa ke dalam tas. Saat Danika melihat dompet yang masih tergeletak di atas ranjang.


Danika lantas mengambilnya dan mengintip isinya, seketika dia langsung meringis dan ingin menangis, melihat isi dompet minta dikais. Amboi! Amsyong deh!


Danika menghela nafas. "Haaah, gue harus bisa lebih sabar lagi menghadapi pernikahan yang entah seperti apa ini. Semoga gue kuat."


Setelah memasukkan dompet, Danika langsung mengancingkan sleting tas ransel mini dan memakainya. Saat Danika hendak menutup pintu kamarnya, Arsenio juga baru saja keluar dari kamarnya.


Mereka tak sengaja saling bertatap. Danika memandang sendu mata indah dengan sorot tajam itu padanya. Ah, apakah Suaminya itu selalu menunjukkan tatapan mata begitu pada semua orang? Sepertinya tidak mungkin.


Karena saat bersama Zakia saja, tatapan mata Arsenio begitu teduh dan lembut. Hem, Danika sudah bisa menebak kalau Arsenio begitu hanya pada dirinya. Danika menjatuhkan pandangannya ke bawah, lalu dengan memberanikan diri menatap Arsenio lagi dengan senyum cerianya.


"Mas," panggil Danika. Walaupun Suaminya selalu bikin dia 'Gedek', tapi dia harus selalu sopan. Asek.


Arsenio tersentak, dia baru saja tersadar dari kerjaan barunya menatap Danika. Arsenio langsung membuang muka kesal dan berdehem.


"Apa?" jawabnya kesal.


Danika langsung memonyongkan bibir mendapat jawaban ketus dari Arsenio.


'Dasar Suami bengis. Hatiku yang lembut dan suci ini terluka, Kakanda.'


Danika menghela nafas, menetralkan rasa kesal dan marahnya.


"Mas, aku ijin pergi."


Hening. Tidak ada jawaban sama sekali. Suaminya juga tidak bergeming untuk menatap dirinya. Danika menghela nafas pelan, ternyata hanya untuk ditanggapi dengan selayaknya oleh Suaminya, bagai mimpi yang begitu sulit Danika gapai.


.............*****............

__ADS_1


__ADS_2