
Danika menggamit lengan Reni yang berjalan lebih dulu daripada dirinya.
"Woi, Ren! Tunggu gue! Lo kenapa? Kok main tinggal aja?"
Reni mencebikkan bibir. "Mana ada gue ninggalin lo! Dari dulu juga gue selalu sama-sama lo!"
Danika terkekeh, dia menoel dagu Reni. Reni langsung menepis tangan Danika dengan wajah super jutek. Danika mengernyit, dia jadi bertanya-tanya gerangan apakah yang sudah terjadi pada Reni.
Danika menghentikan langkahnya. Otomatis Reni juga berhenti karena lengan dia kan dirangkul erat sama Danika.
"Ren, lo kenapa, sih?"
"Apaan sih Danika Aroma Melati? Gue kenapa emangnya?" Reni bersedekap dada.
Danika tentu saja tahu Reni bohong padanya. Entah kenapa dia malah teringat dengan Amar. Ternyata bukan hanya dia saja yang sedih dengan perginya Amar ke Bandung. Kikikik, ingin sekali Danika terkikik.
"Ren, lo sedih ya Mas Amar pergi?"
Mata Reni membelalak menatap Danika. "Iiihh, mana ada ya!" ucapnya, lalu membuang muka.
Danika tertawa. 'Ceileeh, ada yang naksir Mas Amar, wuahaha.'
"Ren, kalau lo mau, gue kasih nih nomor Mas Amar sama lo!"
Reni mulai curi-curi pandang pada Danika. Tapi dia harus sok-sok jual mahal lah ya kan?
"Mau gak? Kalau gak mau ya sudah!" Danika membalikkan badan siap untuk pergi. Tapi tangannya langsung ditarik oleh Reni.
"Eh, eh, mau ke mana lo?"
"Ha-ha-ha, tadi katanya gak mau?"
"Kapan gue bilang gak mau, Maemunah?"
"Cieee, lo naksir Mas Amar, ya?"
Reni tersenyum malu-malu kucing garong yang hendak nyolong ikan asin di atas meja. Danika ikutan tersenyum melihat wajah Reni seperti itu. Jujur saja, ini pertama kali Reni malu-malu gitu. Asal jangan malu-maluin saja keesokannya, haha.
Danika memegang bahu Reni. "Ya Allah, Ren. Gue seneng banget lo suka sama Kakak gue! Nanti nomornya gue kirim, ya? Gue bantu lo deket sama dia!"
Reni berbinar. "Beneran, Ka? Lo bantu gue, ya?"
__ADS_1
Danika tersenyum dan mengangguk. "Iya, Ren! Gue bantu!"
Ah, betapa senangnya Reni saat ini. Cinta pada pandangan pertama itu memang tidak bohong ya, pemirsa? Buktinya Reni langsung jatuh hati saat bersitatap dengan Amar tadi. Duh! Terkadang cinta tidak mengenal waktu, ya? Bahkan hanya beberapa saat, dia bisa langsung tumbuh tanpa memberitahu terlebih dahulu, eaaak.
Saat dua sahabat sejati itu sudah mulai menjauh, muncul seorang wanita dari alam lain, eh salah. Dia muncul dari tempat persembunyiannya. Wanita itu tersenyum licik sembari melipat tangannya diperut.
Dia menatap ponselnya. Sepertinya wanita itu baru saja mengambil beberapa foto saat Danika berpelukan dengan Amar.
"Dasar perempuan murah! Ternyata dia punya hubungan yang spesial dengan Amar! Apa yang akan Suamiku katakan mengenai hal ini, ya?"
Wanita itu terkekeh dengan seramnya. Dia menaikkan alisnya sebelah, mungkin saja hingga ke awan tuh alisnya naik. Wkwk.
"Habis kau, Danika," ucapnya sambil tersenyum licik.
"Apa perlu kita habisi dia sekarang?" Pria yang bersama dengan wanita itu tiba-tiba bersuara.
"Kita perlu menghabisi dulu Mama mertuaku yang aneh itu. Ayo kita pergi, sayang."
Oh My God? Sayang? Dia memanggil pria lain selain Arsenio dengan sebutan sayang? Astaga!
Ternyata wanita dan pria itu tidak langsung pulang ke mansion Arsenio. Sepertinya mereka akan menghabiskan waktu liburan mereka entah ke mana lagi.
............*****............
Mata Arsenio terus saja memandang dan mengawasi gadis dengan rambut dicepol ke atas itu hingga dia tak terlihat lagi. Di situ Arsenio baru tersadar setelah merasakan bibirnya panas seperti terbakar.
"Aduh! Aduh! Sialan! Bibirku!" makinya. Sedang tangannya sibuk mengipasi bibirnya.
'Kenapa denganku? Ada masalah apa denganku? Kenapa aku sibuk memandangi Danika? Dia juga! Masuk gak bilang-bilang! Aku kan jadi sibuk menatap dia terus! Dasar kurang ajar!'
Memang ada ya manusia kayak Arsenio ini? Dia yang sibuk menatap Danika, malah Danika yang dia salahkan? Hadeh!
...........*****...........
Pagi-pagi sekali Danika sudah pergi ke kantor. Sesuai saran Mama mertuanya, sebagai Sekretaris itu harus bisa sampai kantor pagi-pagi.
'Wah! Memenangkan rekor gue pagi-pagi sudah ada di sini!'
Celigak-celinguk mata Danika berkeliling memperhatikan ruangan yang luas ini. Dia menggaruk kepalanya.
'Apa yang harus gue kerjakan, ya?'
__ADS_1
Daripada bingung, Danika rapikan saja berkas-berkas yang ada dimejanya. Sesekali dia membaca apa isi di dalam berkas yang sedang dia rapikan itu. Di sana ada tertera nominal angka yang membuat mata Danika melotot seketika.
"Hah? Triliunan? Gila! Tapi kenapalah gaji gue selalu dipotong-potong terus sama Mas Arsenio? Hem, padahal uang dia banyaknya kebangetan! Maunya kasih kek sedikit sama Istrinya yang mempesona ini. Asey geboy!"
Danika menghela nafas dan mulai melanjutkan beres-beresnya. Tak lama pintu terbuka, menampikan si Adul yang terpukau melihat kerajinan Danika.
Adul bersiul dan membuat Danika otomatis menoleh. Danika tersenyum.
"Selamat pagi, Pak Adul,"
"Selamat pagi, Bu Danika," jawab Adul.
Setelah itu mereka terkekeh berdua.
Adul meletakkan tas kerjanya di atas meja. "Mimpi apa gue semalam ya ngelihat lo pagi-pagi sudah ada di sini?"
"Mungkin mimpi basah!"
Adul terperanjat mendengar ucapan Danika yang tanpa pikir panjang itu. "Eh, mulut lo itu!"
Danika memajukan bibir dan menyentuhnya. "Memang ada apa dengan mulut gue? Biasa aja nih, tetap sexy dan aduhai!"
Adul melengos. "Astaga, Nika!" Adul mengeluarkan beberapa lembar kertas dan menyerahkannya pada Danika. "ini, ada jadwal yang sudah disusun sama Tuan Amar untuk seminggu ini. Jadi masih ringan sedikitlah tugas kita untuk minggu ini."
Danika mengambil kertas itu dan membacanya. Tanpa sengaja matanya curi-curi pandang ke arah jari-jari Adul yang ternyata masih berwarna itu. Danika mendesah sedih.
'Hah, Adul! Gue harus bisa merubah lo secepatnya. Gue gak mau lo pergi terlalu jauh!'
Brak! Pintu terbuka. Ternyata Sang Presdir-Arsenio Roberto sudah memasuki ruangannya. Padahal bisa saja pintu tuh dibuka dengan pelan dan hati-hati. Begitulah pikir Danika. Tapi apa daya, yang membuka pintu Bodyguard Suaminya yang begitu sangar wajahnya.
"Selamat pagi, Tuan," sapa Danika dan Adul bersamaan.
Arsenio hanya mengangguk sekilas. Dia menatap sebentar Danika yang tersenyum padanya. Penampilan Danika di rumah dan di kantor sangat jauh berbeda. Padahal Danika hanya memakai blazer kantoran biasa, celana bahan, dan menjepit separuh rambutnya menggunakan jepitan rambut. Tak lupa poni lemparnya yang miring ke arah kanan itu membuat siapa saja yang memandang Danika pasti langsung jatuh hati.
Arsenio langsung membuang muka setelah menatap Danika yang tersenyum itu. Semakin kurang kerjaan saja dia rasa dengan menatap Danika.
Danika yang tahu Arsenio begitu padanya hanya bisa mendesah pelan. Dia menunduk sekilas. Adul yang juga tahu memegang bahu Danika dan tersenyum padanya. Danika membalas senyuman singkat Adul.
Danika menghela nafas. Dia harus semangat berperang melawan siluman naga dan singa alias Si Arsenio itu. Eh? Ralat! Harus semangat menghadapi semua tingkah Arsenio yang pastinya akan membuat dia stres.
...........*****........ ...
__ADS_1
Jangan lupa likenya, we? please ya, we?