
Mama Lena sudah menemukan cara yang menurutnya bakalan ampuh untuk mendesak Arsenio agar segera menikahi Danika. Dan rencananya itu benar-benar dia laksanakan saat ini juga. Terbukti dengan jarum infus yang hanya ditempel saja ditangan Mama Lena oleh perawat yang sudah dia suap.
"Sudah selesai, Nyonya besar."
Mama Lena terkekeh dengan misterius ketika menatap tangannya yang ditempelin jarum infus itu. "Good job!"
................******..............
Arsenio yang tengah meeting dengan beberapa koleganya, terpaksa membatalkan meetingnya yang sudah setengah jalan itu. Dia langsung panik dan takut ketika Amar- sang sekretaris mengabarinya, kalau Mamanya jatuh pingsan dan terpaksa diinfus di rumah.
"Cepatlah, Mar! Aku sangat mengkhawatirkan Mama!" Perintahnya ketika sudah duduk di dalam mobil.
"Baik, Tuan!" Amar langsung patuh dan segera meluncurkan mobil mereka menuju rumah.
"Haaah.." Arsenio mendesah dengan gelisah. Pikiran buruk sudah mulai berdatangan. Lebih parah dari pada pikiran buruknya pada Zakia. Bahkan hinga sekarang, Arsenio masih bersikap seperti es batu pada istrinya.
Beberapa menit kemudian, mobil mereka pun tiba. Arsenio segera berlari menuju kamar Mamanya. Saat pintu kamar itu dia buka, ingin rasanya Arsenio menitikkan air mata.
"Ma.."
Mama Lena menoleh dengan lemah. "Arsen, kamu sudah pulang?"
Arsenio mengangguk dan menghampiri Mamanya yang sedang berbohong tak berdaya itu dan duduk di sampingnya. Arsenio menggenggam tangan Mama Lena. Tampak sekali kalau wajahnya murung, ah, hampir saja Mama Lena ingin mengakhiri sandiwaranya.
"Mama kenapa? Mama kenapa sakit lagi?"
"Jantung Mama kambuh lagi. Maklumlah, mungkin saja umur Mama tidak akan lama lagi."
Arsenio sontak mengangkat wajahnya dan menatap lekat Mamanya. "Apa maksud Mama berkata seperti itu? Mama tidak boleh bicara seperti itu!"
Mama Lena sok-sokan menghela nafas dengan lemah. "Habisnya mau bagaimana lagi? Kamu tidak mau menuruti keinginan Mama untuk segera menikahi Danika. Mungkin kalau Mama minta keinginan Mama yang satu ini, kamu pasti tidak akan menurutinya juga."
Alis Arsenio mengerut. "Memang apa keinginan Mama? Coba katakan! Arsenio akan menurutinya. Tapi kalau untuk segera menikahi Danika, Arsenio masih belum mau."
"Kamu masih ingat dengan mantan Mama yang waktu itu?"
Arsenio menaikkan alisnya sebelah. "Mantan?"
"Iya! Yang kita tidak sengaja bertemu dengan dia saat mau ke toko baju kemarin itu."
Arsenio coba mengingat, tapi setelah diingat, wajahnya langsung memerah menahan marah. Sedang Mama Lena tersenyum smirk tanpa sepengetahuan Arsenio. Arsenio langsung melepaskan tangan Mamanya begitu saja dan membuang muka ke arah lain.
"Apa maksud Mama?" Arsenio menunjukkan wajah tegasnya. Rahangnya terlihat mulai mengeras menahan marah.
'Duh, kalau Arsenio marah begitu, kenapa semakin tampan saja, ya? Ingin sekali aku mencubitnya'.
"Mama ingin menikah dengannya, Arsenio! Setuju kamu, kan?"
Arsenio menoleh dan menatap Mamanya dengan perasaan marah dan cemburu. "Apa?" Arsenio bangkit dari duduknya dan berkacak pinggang. "apa-apaan itu? Apa sudah lama rencana Mama ini, hah? Akan Arsen habisi Om itu sekarang juga!"
__ADS_1
Mendengar itu, Mama Lena langsung gelagapan. "Apa-apaan kamu? Enak saja kamu mau menghabisi orang sembarangan! Dia itu mantan pacar Mama dulu sebelum Mama menikah dengan Papa kamu! Sekarang dia calon Papa tiri kamu!"
Blank! Arsenio memegang kepalanya dengan kedua tangan, dia mengalami stres seketika. Atau jangan-jangan Mamanya yang sudah stres selama ini dan dia tidak tahu itu? Kemarin itu sibuk memaksa menyuruhnya menikah lagi, dan sekarang malah Mamanya sibuk hendak menikah lagi.
Mama Lena duduk dengan perlahan. "Pikirkan lagi tentang keinginan Mama, Arsenio! Selama ini, apa Mama sering minta sama kamu? Tidak ada, kan? Menikah dengan Danika kamu tidak mau! Sekarang Mama yang ingin menikah lagi kamu juga tidak mau!"
Tarik nafas, buang nafas, tarik nafas , buang nafas. Hanya itu saja yang Arsenio lakukan saat ini. Seperti akan melahirkan saja dia. Arsenio sadar memang belum bisa jadi anak yang baik bagi Mamanya. Tapi keinginan Mamanya itu loh, astaga.
'Kalau seandainya bisa Arsenio seberangi samudera hindia itu, Ma, lebih baik Arsenio melakukan itu dengan menaiki kapal dari pada menyetujui Mama menikah lagi!'
"Mama minta keputusan kamu sekarang!"
Arsenio semakin sakit jiwa. Dia harus memikirkan matang-matang keputusan apa yang akan dia ambil.
"Kalau kamu setuju menikah dengan Danika dalam waktu dekat ini, Mama batalkan rencana Mama untuk menikah dengan Danu. Kalau kamu tidak mau, Mama akan kawin lari!"
Astaga! Apa lagi itu? Kawin lari? Sudah tua dan kempot, masih terpikirkan untuk kawin lari? Bagaimana caranya kawin sambil berlari coba?
Arsenio membutuhkan waktu dan tempat untuk berfikir. Dia berjalan menuju balkon untuk menghirup udara segar di sana. Entah kenapa di dalam rasanya semakin bikin sesak.
'Sebenarnya aku tidak rela Mama menikah lagi. Mama hanya milikku dan milik Papa. Walau Papa sudah tidak ada di dunia ini lagi, tapi Mama hanya milik kami. Tidak boleh dimiliki oleh orang lain. Tapi kalau aku menikahi Danika? Ah, aku hanya menikahi dia saja, kan? Setelah menikah kalau aku langsung menceraikannya juga tidak salah, kan? Yang penting pernikahan itu terjadi saja, kan?'
Tiba-tiba Arsenio teringat dengan bekas keunguan yang ada pada leher istrinya beberapa hari lalu. Entah kenapa itu membuat hatinya sakit. Tidak mungkin bekas keunguan itu karena hal lain, kan? Mengingat itu Arsenio menjadi sedih.
'Baiklah, aku memilih untuk menikahi Danika. Aku tidak tahu akan seperti apa reaksi Zakia nanti saat aku menikah lagi. Entah kenapa, aku berpikiran kalau Zakia sudah...,'
Arsenio mencoba mengenyahkan pikiran buruknya. Dia yakin sekali kalau istrinya adalah istri yang baik dan setia padanya. Dan, keputusan Arsenio sudah bulat untuk segera menikahi Danika.
"Ck!" Arsenio berdecak sebal menatap Mamanya.
"Apa keputusanmu, Anakku? Sayangku?"
Arsenio ilfil seketika mendengar panggilan Mamanya itu. 'Ck! Ada maunya saja Mama begitu manggilnya! Dasar!'
"Ayo jawab!"
"Arsenio memutuskan...,"
"Ya? Ya? Memutuskan apa?"
Tiba-tiba Arsenio tersenyum miring, dia ingin menggoda Mamanya. "Penasaran, ya? Tunggu episode selanjutnya ya, Ma? Wuahaha."
Mama Lena langsung masam wajahnya. Orang tua itu lalu mengambil vas bunga yang ada di atas nakas dan melemparkannya pada Arsenio. Untung sigap Arsenio menangkap benda itu.
"Mama ini! Kalau kena kepala Arsenio bagaimana?"
Mama Lena yang bersedekap dada dan cemberut itu mulai tersenyum geli lalu tertawa dengan lepasnya. Arsenio terperanjat mendengar tawa Mamanya begitu lepas kali ini. Dia pun ikut tersenyum memandang wajah Mamanya.
'Kok bahagia ya hatiku melihat Mama tertawa begitu?'
__ADS_1
"Jadi apa keputusanmu, Arsen? Kali ini jangan ada main-main lagi!"
"Sesuai keinginan Mama, Arsen akan segera menikahi Danika."
Mata Mama Lena membulat dan berbinar-binar. "Benarkah yang kamu katakan itu, Arsen?"
Arsenio bersedekap dada. "Jadi Mama mau itu tidak benar, ya?"
"Ouuuuhh..." Mama Lena sibuk menepuk pipi kanan dan pipi kirinya, berharap semua ini nyata dan bukan cuma mimpi. Dan kemudian dia langsung berdiri dan bersorak dengan hebohnya.
"Eh, Mama! Apa-apaan Mama ini?" Arsenio langsung berlari menghampiri Mamanya. Dia khawatir infus Mamanya lepas dan Mamanya lemas karena melakukan tindakan bocah seperti itu.
"Ayo duduk, Ma! Mama ini! Biasa saja kali euforia-nya. Heboh banget!"
Mama Lena pasrah diajak duduk oleh putranya itu. "Kamu itu yang heboh! Mama lagi senang, malah kamu suruh duduk."
"Ma, Arsen belum ada bilang sama Zakia tentang masalah ini. Arsen sangat takut mennyakiti hatinya."
"Ya ampun, Arsen. Tinggal bilang saja kok susah, sih? Atau kamu mau Mama yang bilang ke dia?"
"Jangan, Ma! Biar Arsen saja!"
"Oke! Sudah sana ke kamarmu! Atau balik saja ke kantor! Mama mau telepon orang KUA!"
Arsenio mengernyit. "Untuk apa?"
"Ya untuk mengurus keperluan kamu untuk menikah dengan Danika nanti"
Arsenio bangkit dari duduknya. "Ya sudah, Ma! Arsen mau ke kamar sajalah!"
Arsenio mengecek jam tangannya. "Sepertinya Zakia sebentar lagi pulang."
"Ya sudah kalau begitu!"
Arsenio menaikkan kedua alisnya dan segera melangkahkan kakinya ke luar.
"Arsenio!"
Arsenio berbalik. "Ada apa, Ma?"
"Kamu menikah dua hari lagi!"
Mata Arsenio seketika terbuka lebar. "Apaaaa?"
...*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~~*~...
Please like dan komentarnya ya pembacaku yang manis?
Hitung-hitung jadi nafas buatanku untuk semangat menulis, wkwk.
__ADS_1
Selamat membaca, sarangheo, annyeong😁