Jadi Istrinya?

Jadi Istrinya?
Bab ~ 34


__ADS_3

Hari ini adalah hari libur, dikarenakan ada tanggal yang diberi warna merah menyempil, diantara tanggal hitam di kalender. Danika menggeliat, untuk meluruskan tubuhnya yang terasa kaku karena sudah semalaman tidur.


"Hah, syukur ada hari merah, jadi gue bisa santai sebentar."


Danika bangkit dari ranjang dan menuju kamar mandi. Setelah keluar kamar mandi, Danika mengerjakan apa yang sudah diwajibkan kepada seluruh umat manusia di muka bumi ini.


Setelah selesai, Danika menggeser tirai yang menutupi pintu balkon. Sraaaak. Danika lalu membuka pintu balkon, seketika angin sejuk menerpa wajahnya.


Danika menggosok tangannya. "Huuft, dingin juga ternyata."


Kaki Danika melangkah dan berhenti ketika sampai pada pagar pembatas balkon. Matanya menatap lurus ke depan, di mana gedung-gedung terpacak dengan gagahnya. 


Danika mendesah. "Apa kabar mereka, ya? Gue kangen juga sama mereka. Haah, Maafkan Kak Nika yang belum bisa berkunjung ke sana."


Kepala Danika melongo ke bawah. Sedikit agak jauh dari mansion milik Suaminya, Yang Mulia Arsenio Roberto, masih bisa terlihat pasar pagi yang begitu ramai.


Danika tersenyum. "Kayaknya jalan pagi ke sana enak, nih! Pulangnya beli bubur ayam. Gue ajakin Mama kali, ya? Biar jalan-jalan sama. Lagi pula Mama sudah lama mendekam di kamar terus."


Danika segera bersiap mengganti piyama tidurnya dengan celana training berwarna abu-abu dan kaos oblong warna putih. Tak lupa rambutnya dia kuncir ke atas. Bercermin sebentar sambil menaik turunkan alisnya dan tersenyum. Lalu memonyongkan bibir seakan-akan mencium dirinya sendiri. Setelah itu Danika terkekeh.


Dengan semangat Danika keluar dari kamarnya. Baru saja menutup pintu dan hendak berbalik, Danika langsung tersentak kaget saat tahu Arsenio, ada di depan pintu kamarnya tengah memperhatikan Danika.


Danika menghela nafas untuk membuang rasa kagetnya barusan.


'Ada gerangan apakah Mas Arsenio tiba-tiba ada di depan pintu dia? Pake merhatiin gue segala lagi? Gue kan jadi kesemsem gini! Hampir meleyot gue!'


Arsenio memicingkan mata menatap Danika dari kepala hingga kaki. Sedang yang ditatap sudah mirip ulat nangka yang begitu gelisah.


"Mau ke mana kamu?"


Danika kembali mengangkat bahu terkejut, mendengar suara bariton Arsenio yang sexy aduhai itu. Dia membelalakkan mata.


'Bisa gak sih kalo ngomong itu kasih salam dulu kek, kasih sambutan gitu, ini gak! Hampir copot jantung gue tau gak lo, Mas? Ah! Gak jadi deh gue meleyot!'


Danika memberanikan menatap wajah Suaminya yang begitu mempesonakan dia selalu itu. Apalagi, saat Arsenio memasukkan kedua tangannya ke masing-masing kantung celananya. Aduhai! Kenapa menggoda sekali? Amboi! Danika menggeleng pelan.


Arsenio malah terheran melihat tingkah manusia di depannya. Dia jadi semakin yakin kalau Danika ini memang aneh, seaneh namanya.


"Hei! Kenapa menggeleng? Kalau ditanya itu jawab, bukan geleng-geleng. Di sini gak ada musik dj!"


Danika memonyongkan bibir. 'Bangsat! Baru aja gue terpesona. Sifat singa garong Mas Arsenio keluar, huuu.'


"Maaf, Mas. Aku mau keluar jalan pagi. Egh, aku permisi dulu, Mas."


Arsenio hanya menaikkan alisnya sebelah mendengar jawaban Danika. Dari pada berlama-lama dengan situasi yang aneh begini, Danika langsung melangkahkan kakinya untuk menghindari Arsenio.


Sudah beberapa langkah berjalan, Danika memberanikan diri menoleh ke belakang lagi. Jeng jeng jeng, Arsenio masih di sana dan dengan tatapan yang begitu sinis padanya.


Danika jadi menyesal setengah ampun. Dia langsung berbalik dan berjalan dengan cepat. Karena mau berolahraga, Danika memilih menuruni tangga menuju lantai bawah. 


Setelah Danika sudah tidak terlihat lagi, ada yang aneh dengan Arsenio. Dia menarik tangannya dari kantung celana lalu melipatnya di atas dada.

__ADS_1


Tiba-tiba bibirnya tertarik ke samping, dan tak lama kemudian dia terkekeh sendiri. Kemudian dia sadar dengan apa yang sudah dilakukannya, lalu menggelengkan kepalanya.


Karena merasa penasaran Danika sudah pergi atau belum, dia juga malah ikut-ikutan turun dan duduk di sofa yang ada di bawah tangga, tepat menghadap ke kamar Mamanya. Terkadang orang tidak tahu kalau ada yang duduk di sofa itu.


"Ke mana dia? Apa dia sudah pergi? Apa dia ke kamar Mama dulu?"


Hal aneh yang kesekian kalinya yang dilakukan Arsenio karena Danika. Tapi dia masih belum sadar juga, kalau ternyata isi kepalanya mulai tersemai nama Danika.


Ceklek! Pintu kamar Mamanya terbuka. Arsenio terperanjat. Karena takut ketahuan, Arsenio memakai bantal sofa untuk menutupi kepalanya. Dia sibuk mengintip-ngintip. Dan benar saja, Danika keluar sambil menggandeng tangan Mamanya. 


"Kenapa bisa benar gitu tebakanku kalau dia pergi ke kamar Mama? Eh? Mama juga pakai training? Apa Mama juga ingin ikut jalan pagi?"


Danika menyuruh Mama Lena untuk duduk dulu di sofa. Sedang dia sendiri mengambil sepatu yang sudah disiapkan oleh Bik Sarinem.


Danika lalu berjongkok memasangkan sepatu itu ke kaki Mama Lena. Mama Lena tersenyum lalu mengusap kepala Danika. Danika mendongak sambil tersenyum pada Mama Lena.


Hati Arsenio tiba-tiba menghangat melihat pemandangan itu. Mata Arsenio bahkan sampai tak berkedip. Lagi-lagi bibirnya tersungging senyum.


Bik Sarinem menyodorkan botol air minum pada Danika. Danika seperti sedang bercanda dengan Bik Sarinem hingga mereka tertawa. Arsenio tidak tahu mereka bicara apa, karena jarak dari dia duduk agak sedikit jauh.


Setelah selesai bercanda, Bik Sarinem juga ikut-ikutan mengusap kepala Danika. Lagi-lagi Arsenio terenyuh. 


'Ah, sepertinya semua orang begitu sayang padanya.'


"Sedang apa Bos di sini?"


Arsenio terkejut dan langsung menoleh pada Hans yang tiba-tiba nongol seperti hantu yang tak diundang. Mata Arsenio langsung melotot.


"Apa-apaan sih? Ganggu aja?" sungut Arsenio, lalu memukulkan bantal sofa itu ke perut Hans yang berdiri di sampingnya.


Arsenio bangkit dari duduknya lalu memukul perut Hans. "Sialan!"


Hans mengaduh kesakitan. Pria kekar itu memegangi perutnya. "Sakit, Bos!"


'Ke mana mereka? Ah sudah pergi! Kurang ajar si Hans, gara-gara dia aku gak bisa lihat kapan Mama dan Danika pergi.'


Arsenio menatap sengit Hans. Hans langsung ciut.


"Aku mau kau ikuti mereka. Aku takut kalau Mama kenapa-napa di jalan dan Danika akan kerepotan nantinya."


Arsenio berlalu dari hadapan Hans. Hans bahkan tidak berkedip mendengar perintah Arsenio barusan.


"Bos sadar gak ya dia ngomong gitu? Takut Nyomud kerepotan? Wah, wah. Sepertinya mulai tumbuh dan bersemi nih Nyomud di hati Bos." Hans tertawa kecil lalu segera mengikuti Nyonya Besar dan Nyomud-nya itu.


Masih ingat kan siapa yang manggil Danika dengan sebutan 'Nyomud?' Ya si Hans inilah orangnya. Yang hampir kena serangan jantung karena Danika kedip-kedip manja padanya waktu itu. Wkwk.


..........*****..........


Mama Lena menarik nafas lalu menghembuskannya secara perlahan. Ah, rasanya segar sekali. Sudah lama dia tidak keluar untuk jalan-jalan pagi seperti ini.


"Sini, Ma. Duduk." 

__ADS_1


Danika melambaikan tangan pada Mama Lena. Walau sudah sembuh, Mama Lena tidak boleh terlalu lelah dulu. Danika menepuk tempat kosong di sebelahnya.


Mereka saat ini sedang ada di taman kota yang berdekatan dengan pasar pagi. Sekitar 15 menitan lah kalau berjalan kaki dari mansion Arsenio.


Kali ini banyak orang yang melakukan jalan pagi. Atau sekedar berlari mengitari taman kota. Setelah itu pasti mampir ke pasar pagi untuk beli sarapan.


Mama Lena tersenyum dan menghampiri Danika. Danika menyodorkan botol minum pada Mama mertuanya itu. Mama Lena meneguk pelan-pelan dan mengucap hamdalah setelahnya.


"Gimana, Ma? Enak gak jalan-jalan pagi gini?"


"Wah, enaak banget dong, sayang. Mana banyak cowok ganteng lagi di sini!"


Danika menatap bingung Mama Lena, Mama Lena juga melakukan hal yang sama. Tak lama kemudian mereka tertawa bersamaan.


"Mama mau sarapan apa?" tanya Danika saat mereka sudah sampai di pasar pagi.


"Apa, ya? Kayaknya bubur ayam enak, deh!"


"Loh, kok bisa sama ya, Ma? Nika tadi juga ingin makan itu."


Danika menggandeng tangan Mama Lena menuju Penjual bubur ayam. 


"Mang, buburnya tiga, ya?"


"Siap!" jawab Si Penjual dengan semangat.


Mama Lena mengernyit. "Loh, kok tiga, Ka?"


"Satu lagi untuk Bik Sarinem, Ma."


"Oh." Mama Lena tersenyum.


'Duh, baik sekali menantuku ini. Sudah sayang samaku, peduli juga sama Sarinem. Bodoh sekali Arsenio malah lebih milih kotoran dari pada berlian yang bersinar seperti Danika.'


Setelah selesai membayar, Danika kembali menggandeng tangan Mama Lena menggunakan tangan kanannya. Sedang tangan kirinya menenteng plastik berisi 3 sterofoam bubur ayam.


Hans yang mengikuti mereka,  tak lupa mengabadikan momen itu dari belakang, lalu mengirimkan fotonya ke WA Arsenio.


'Aku benar-benar bahagia ya Allah memiliki putri seperti Danika.'


Mama Lena tersenyum menatap Danika yang tengah menggandeng tangannya.


Mama Lena tak henti-hentinya bersyukur. Bagaimana dengan kalian? Apakah sudah bersyukur hari ini?


...........******...........


Tuh ya Wei, aku udah up sampek 2 bab. Pegal syudah pundak dan leherku, asal jangan sampai lutut kakinya juga pegal.


Kepala, pundak, lutut, kaki, lutut, kaki. Ya Salam, malah nyanyi.


Sekarang mata akyu yang syudah pegal, ingin dimanja dan dibawa ke alam mimpi, asek!

__ADS_1


Selamat membaca para pembaca aku yang aduhai. Dan jangan lupa like nya, oke?


Aku padamu. Muah muah, wkwk❤️💐


__ADS_2