Jadi Istrinya?

Jadi Istrinya?
Bab ~ 50


__ADS_3

Arsenio menatap takjub barisan lukisan yang di pajang dengan berbagai ukuran kanvas itu. Tapi ada yang lebih menarik hati Arsenio, saat melihat lukisan pada kanvas yang lebih besar dari yang lainnya. 


Lukisan itu menggambarkan seorang wanita yang sudah sedikit tua, sedang tersenyum sambil menatap kucing yang ada di pangkuannya. Bibir Arsenio sedikit tertarik ke samping. Lukisan itu, mengingatkan dia pada Mamanya yang tersenyum pada Danika.


"Bagaimana dengan lukisan ini, Tuan Arsenio? Anda memandanginya begitu lama sekali. Apakah ada makna yang mendalam yang bisa Anda rasakan melalui lukisan ini?"


Tuan Fernandes berdiri di samping Arsenio, yang sibuk menatap lukisan yang dia lukis itu.


Arsenio menoleh ke arah Tuan Fernandes dan tersenyum. "Lukisan ini sangat bagus. Saya begitu takjub. Kalau boleh tahu, orang yang ada dalam lukisan Anda ini, memang benar orang atau hanya khayalan saja?"


"Oh, itu my mom, Tuan Arsenio."


Arsenio sedikit berbinar. "Oh, ya? Apakah beliau ada di sini? Beliau pasti bangga memiliki putra yang bisa melukis dirinya dengan sempurna."


Tuan Fernandes tersenyum lagi. "Terima kasih, Tuan Arsenio. Tapi sayang sekali, Ibu saya sudah meninggal sekitar lima tahun yang lalu."


Arsenio menghela nafas pelan. "Oh, maafkan saya, Tuan Fernandes. Saya tidak tahu hal itu."


"Tidak masalah, Tuan."


Arsenio kembali memandangi lukisan itu. 'Kalau aku minta tolong Tuan Fernandes untuk melukiskan Mama sama Danika, pasti hasilnya keren. Lagi pula, Mama jarang sekali tersenyum begitu. Wajahnya cemberuuut aja. Dibilang makin tua dan kempot karena kebanyakan cemberut, aku malah dilempar meja sama Mama.


Gila, ya? Apa Mama dulu keturunan Samsons kali, ngangkat meja kayu jati aja dia sanggup. Huuft, sama aku tersenyum juga karena ada maunya. Arsenio ku sayang, Arsenio ku yang tampan. Huh, dipuji-pujinya aku setinggi langit. Kalau kemauannya gak aku turuti, langsung dihempaskannya aku ke tanah. Uuuhh Mama. Tapi aku sayang sama Mama.'


Arsenio mengeluarkan ponsel dari saku jas-nya. Dia mencari foto yang pernah dikirim Hans waktu itu. Setelah dapat, Arsenio celingak-celinguk mencari keberadaan Tuan Fernandes.


"Ah, itu dia di sana." 


Arsenio berjalan, mendekati Tuan Fernandes yang tengah sibuk menyapa para tamu.


"Egh, Tuan Fernandes. Apakah saya bisa minta waktunya sebentar."


"Of course. Untuk Tuan Arsenio, waktu yang banyak pun akan saya berikan."


Arsenio tersenyum senang, lalu mengulurkan ponselnya pada Tuan Fernandes.


"Tuan Fernandes, saya ingin Anda melukiskan ini untuk saya."


Tuan Fernandes agak sedikit lama melihat foto itu. Bibirnya tersenyum seketika.


"Kalau yang ini saya tahu, ini adalah Ibu Anda. Dan yang bersamanya ini siapa? Dia kelihatan cantik sekali."


"Itu orang yang istimewa bagi saya. Saya minta, buatkan dua lukisan yang sama ya, Tuan Fernandes. Saya akan bayar berapapun yang Tuan minta."


Tuan Fernandes mengibaskan tangannya ke depan. "Ah, Tuan Arsenio ini. Baiklah. Tapi akan memakan waktu lebih lama untuk saya melukis gambar ini."


"Itu tidak masalah bagi saya, Tuan. Terima kasih banyak. Nanti akan saya kirim foto ini ke WA Anda."


"Sama-sama, Tuan Arsenio."


Arsenio tersenyum senang. Bisa dia bayangkan bagaimana nanti wajah Mamanya melihat lukisan ini. Ah, apalagi wajah Danika. Duh! Jadi senyum-senyum sendiri.


............****............


Zakia yang masih kesal, niatnya ingin ke kamar, mandi, lalu pergi lagi. Tapi sesuatu telah mengusik hatinya tadi. Melihat Mama mertuanya masih sehat sentosa, membuat kadar kekesalan Zakia naik satu level.


Zakia pergi ke rumah pelayan, mencari Mina, yang sudah dia tugaskan untuk memberi racun pada setiap makanan untuk mertuanya.


"Mana dia? Ah, itu dia!"

__ADS_1


Zakia mendekati Mina yang sedang mengangkat baju dari jemuran, dan langsung menarik tangan gadis itu dengan kasar. 


"Nyonya!" pekik Mina karena kaget.


"Ayo ikut aku!"


"Mau ke mana, Nyonya? Tolong lepaskan! Sakit!"


Zakia tidak peduli. Dia tetap menarik tangan Mina menuju kamar. Kamar Mina ya, pemirsa. Setelah mereka masuk, Zakia lantas mengunci pintunya.


Mina sudah agak gemetaran karena takut. "Ada apa, Nyonya?"


Zakia menatap nyalang si Mina. "Kamu gak dengerin dan melaksanakan perintah aku, ya?"


"Ma..maksud Nyonya apa?"


"Kamu jangan berlagak bodoh ya, Mina! Kamu lupa dengan racun itu?" Zakia agak sedikit berbisik pada Mina.


"Saya sudah menaruh racun itu setiap kali memasak, Nyonya." 'Tapi boong! Ya kali aku mau menyakiti Nyonya Besar yang udah begitu baik sama aku, week!'


"Tapi kenapa aku lihat Mama masih sehat aja?"


"Egh, saya tidak tahu, Nyonya. Pokoknya saya sudah menjalankan perintah, Nyonya," ucap Mina sembari menunduk.


Zakia menghela nafas dengan gusar. "Kalau begitu, kamu tambahkan lebih banyak dosisnya. Aku pokoknya tidak mau tahu. Kalau kamu tidak mau menuruti perintahku, maka akan ku habisi semua keluargamu! Dengar kamu!"


Mina yang masih menunduk, mengangguk dengan takut-takut. "Iya, Nyonya."


Zakia menghentakkan kakinya lagi ke lantai. Dua gunung kembarnya pun bergoyang beberapa skala richter karena hentakannya.


"Dasar bodoh!" umpatnya, lalu pergi meninggalkan kamar itu.


"Ya Allah, cabutlah nyawa Nyonya Zakia. Amiin."


'Aku harus gimana, ya? Ancaman Nyonya Zakia tidak main-main. Bagaimana kalau ancaman itu benar-benar dilakukannya? Tapi, aku harus bisa! Aku gak mau menyakiti Nyonya Besar.'


.............*****..............


Arsenio baru saja pulang dari acara Tuan Fernandes tadi. Ditangannya terlihat ada beberapa kotak makanan. Niatnya dia akan berikan untuk Mamanya, dan para Istrinya. 


'Kok sunyi? Apa mereka sudah pada tidur? Kalau begitu, aku letakkan aja ini di meja makan.'


Arsenio melangkahkan kakinya menuju dapur. Niat hati sih, dia akan mandi dulu, baru makan.


Tapi saat sampai di dapur, dia agak tersentak melihat punggung wanita yang sedang sibuk mengecek kulkas. Arsenio menyunggingkan senyum.


Dipandang-pandang dari belakang, Danika tetap tampak indah, dan semakin menggoda sepertinya. Mata Arsenio tak berkedip. Dia bahkan menelan salivanya sendiri.


Danika yang baru saja mengambil apel, segera menutup kembali kulkas itu. Dia menggigit apelnya dan bersiap mau pergi. Tapi baru saja berbalik, matanya sudah terbelalak, menyaksikan ada manusia tamfan lagi sibuk mandangin dia.


Danika mengerjapkan matanya. 'Amboi, amboi! Angin bertiup berkedip mata, di bawah pohon duduk dengan anteng, jangan salahkan aku jatuh cinta, salah sendiri kamu nya ganteng. Eaaaaak. Asek kali! Auuuw.'


Arsenio yang sudah tersadar dari rasa kagum pada Danika, lantas tersenyum.


Danika menurunkan apel yang tidak jadi dia makan. Dia genggam apel itu ditangannya, dan membalas senyum Suaminya.


'Kalau tahu Mas Arsenio mau pulang, kan bisa gue gelar karpet merah tadi, wkwk. Habis ini ngapain, ya? Gue kabur aja, apa tetap di sini? Tapi lihat Mas Arsenio yang lagi senyum dengan tersipu-sipu itu, malah kasihan kalau ditinggal kabur, wkwk. Mana tahu gue dicium Mas Arsenio lagi. Ah! Bertahan aja deh gue di sini. Hohoho.'


Arsenio berjalan mendekati meja makan dan meletakkan makanan yang dia bawa tadi.

__ADS_1


Mata Danika memicing dan otaknya sibuk menerka apa isinya.


"Kamu sudah makan?"


Danika tersentak kaget. "Eh, apa, Mas?"


"Kamu sudah makan?" ulang Arsenio lagi dengan lembut.


Danika menggeleng sambil tersenyum manis. 'Gue sih sebetulnya udah makan. Tapi dilihat-lihat, Mas Arsenio bawa makanan. Kan lumayan bisa makan lagi. Hihihi.'


"Kita makan bersama, yuk?" Arsenio menggeser kursinya, lalu duduk.


"Ah, iya, Mas."


Danika melangkah mendekat dan menarik kursi lalu mendudukinya. Dia membuka kotak makanan yang ternyata berisi nasi goreng spesial. Mana wanginya menguar manjah masuk ke lobang hidung lagi. Apa gak ingin makan lagi. Amboi!


'Aiih, enak ini. Bisa makan dua kotak nasi gue kalau begini makanannya. Tapi malu ah, nanti dikira babon lagi sama Mas Arsenio.'


"Mas mau ditaruh piring atau langsung dari kotaknya?"


Arsenio tampak berpikir sebentar. "Kalau kamu maunya gimana?"


"Kalau aku enakan makan di sini, Mas. Jadi gak ada piring kotor."


"Ya sudah, aku ikut kamu aja." Arsenio mengambil kotak nasi gorengnya sendiri. Mengambil sendok, lalu memakannya.


Muncung Danika perlahan-lahan maju, sambil curi-curi pandang pada Arsenio. Dia agak memainkan bibirnya itu.


'Itu tadi Mas Arsenio udah gak sok profesional kan ke gue? Amboi! Duh, makin berbunga hati gue.'


Danika tidak tahu aja, Arsenio sudah memainkan giginya karena gemas melihat bibir Danika seperti itu. 


'Jangan gitu, dong. Kan aku jadi ingin menciumnya lagi.' 


Haaaah. Arsenio hanya bisa pasrah. Berdekatan dengan Danika ini betul-betul membuat panas dingin, coy. 


Danika melirik Arsenio yang lagi-lagi menatap dia dengan aneh. Danika menyipitkan mata, menatap curiga, asek.


'Kan, kan! Ini pasti efek tertelan daging kemarin, nih. Masa lihatin gue, begitu? Iya! Gue tahu kalau gue cantik dan mempesona. Tapi jangan gitu amat ngelihatin gue, Mas.'


Arsenio berdehem, mengembalikan dan menetralkan segala gejolak yang ada. Dia lalu tersenyum dan mengajak Danika untuk kembali makan.


Tanpa mereka ketahui, sudah ada tangan yang mengepal geram menyaksikan kedekatan Danika dan Arsenio.


Siapa ya kira-kira? Ada yang tahu?


Ikan hiu lagi berantem, hemmmmm...


Wkwk. 


..........*****..........


Makasih banyak ya, masih mampir untuk baca dan ngasih like.


Aku terharu jadinya.


Semoga lebih banyak yang tergerak hatinya untuk mampir dan setelah baca mau ngasih like.


Aku sayang kalian. ❤️

__ADS_1


__ADS_2