Jadi Istrinya?

Jadi Istrinya?
Bab~14


__ADS_3

Arsenio yang baru saja membuka pintu dan ingin menutupnya, menatap sejenak pintu itu. Ingin rasanya dia membanting pintu itu. Tapi tidak jadi, karena dia mengurungkan niatnya.


Arsenio pergi menuju kamar mandi dan berendam di sana. Jujur saja, kepalanya begitu panas, mungkin saja sudah berasap sekarang. Dia guyur terus kepalanya itu dengan air dingin. Kalau bisa sih dengan air es sekalian, biar beku itu kepala, wkwk.


Rasanya otak dia sudah berpikir terlalu berat. Kasihan kan otaknya? Cuma yang membuat hatinya tidak tenang ya karena istrinya. Bekas biru keungu-unguan yang ada dilehernya itu masih menari-nari dalam benaknya.


"Sepertinya aku akan tanyakan hal ini pada Zakia kalau dia pulang nanti."


Setelah selesai mandi, Arsenio segera mengganti bajunya dengan baju santai. Dia lantas menyisir rambutnya sambil bercermin.


"Lihatlah! Betapa tampannya diriku! Zakia, kamu adalah wanita beruntung yang telah kupilih menjadi istriku," gumam Arsenio.


Tak lama setelah acara bercermin selesai, Zakia masuk ke dalam kamar. Ternyata dia baru saja pulang. Arsenio mengernyitkan alis melihat kedatangan istrinya yang selalu berwajah lelah dengan rambut agak berantakan itu.


"Tumben kamu pulang cepat?"


Zakia terkesiap dan menoleh pada suaminya yang sudah berdiri dengan coolnya itu. "Sayang, kamu sudah pulang?"


Arsenio tersenyum simpul. "Iya, aku buru-buru pulang karena Mama sakit."


Wajah Zakia langsung berubah biasa saja. "Oh..,"


Arsenio agak sedikit terkejut melihat istrinya biasa saja saat mendengar Mamanya sakit. Apakah itu hal yang pantas yang dilakukan menantu?


"Sayang, aku ingin bicara!"


"Bicara apa, sayang? Aku ingin mandi, badanku sudah lengket!"


Arsenio menghela nafas. "Ayo kita bicara sebentar, Zakia!" perintahnya dengan suara tegas.


Zakia memasang wajah cemberut. "Mau bicara apa 'sih, sayang? Aku sudah harus siap-siap untuk pergi ke Eropa!"


Arsenio terbelalak. "Apa? ke Eropa? Lagi?"


Zakia mengangguk. "Iya. Kamu kan tahu perusahaan Papa aku masih perlu dibenahi."


Lagi-lagi Arsenio menghela nafas. "Zakia, aku ingin tanya sesuatu sama kamu!"


Zakia terkesiap. Jantungnya berdebar-debar penasaran dengan apa yang hendak ditanyakan oleh Arsenio.


'Apakah Arsenio sudah tahu?'


"Ka..kamu ingin tanya apa?" ucapnya dengan begitu pelan sekali dan terbata-bata.


Arsenio melangkah maju mendekati Zakia yang perlahan mundur.


"Kenapa kamu takut, sayang?" Arsenio dengan sigap menangkap dan menggenggam tangan Zakia.


"Aku tidak takut, sayang. Memang apa yang harus aku takutkan?" Zakia berusaha bicara senormal mungkin. Padahal nada bicaranya sudah bergetar.


"Sayang, kemarin aku lihat dilehermu ada bekas keunguan. Itu bekas apa?"


Zakia membelalakkan mata. Jantungnya semakin berdentum dengan kuat. Dia harus cari jawaban yang pas agar Arsenio tidak curiga padanya.


"Yang mana? Apa masih ada?" Zakia menyingkapkan rambutnya ke samping dan berjalan menuju cermin. "mana, sayang? tapi tidak ada?"

__ADS_1


Arsenio mendekat dan memeriksa leher Zakia. "Kemarin itu ada di sini. Bukan hanya satu, tapi ada beberapa," ucapnya meyakinkan.


Zakia tersenyum dengan manisnya. "Ah, kamu ini! Paling itu bekas stempel. Mungkin saja aku tidak sengaja memegang leherku dengan tangan yang terkena stempel."


Arsenio memandang sejenak Zakia sebelum dia tersenyum dengan lega. Zakia yang melihat Arsenio seperti itu, ikut-ikutan tersenyum lega.


'Untung saja aku sudah membersihkannya dengan sebaik mungkin. Kalau bekas itu tidak mau hilang, maka habislah aku!'


Arsenio mengecup kening Zakia. "Aku tahu kamu akan setia bersamaku, Zakia." Arsenio menatap Zakia dengan sendu.


Zakia tersenyum dan mengusap pipi Arsenio. "Aku akan selalu setia padamu, Arsenio. Aku mandi dulu, ya? pesawatku take off sekitar tiga jam lagi."


Zakia hendak pergi, tapi tangannya kembali ditarik Arsenio.


"Ada apa lagi, Arsen?" ucap Zakia dengan kesal yang sebisa mungkin dia tahan.


"Ada satu hal lagi yang ingin aku bicarakan, Zakia."


Zakia mengernyit dan dengan sebaik mungkin menghempaskan kekesalannya. "Bicarakan apa lagi, sayang? Aku benar-benar harus bersiap, sayang."


"Ini tentang keinginan Mama," ucap Arsenio dengan pelan.


Zakia tidak bisa lagi menyembunyikan kekesalannya. Dia berpikir, ini tidak penting dan tidak berguna kalau mendengar keinginan Mama mertuanya yang aneh itu.


"Maafkan aku, Arsen! Aku tidak ada waktu lagi untuk mendengarkan ini, maafkan aku," tolak Zakia terkesan memaksa dan malas. Dan tanpa menunggu Arsenio menanggapi ucapannya, Zakia segera berlari menuju kamar mandi.


Arsenio hanya bisa menghela nafas berat sambil melihat pintu kamar mandi itu tertutup.


'Padahal, aku takut menyakitimu, Zakia.'


Danika terkejut setengah ampun ketika calon mertuanya menghampirinya di rumah kosnya yang sederhana sekali ini. Dan terkejut setengah ampunnya lagi karena calon mertuanya itu datang disaat yang tidak tepat begini.


Padahal dia lagi asik menonton kisah horor the Tante yang sudah episode sekian. Haaah, ingin rasanya Danika menggerutu.


"I..ibu?" tanya Danika memastikan orang yang ada dihadapannya ini.


"Iya! Ini Ibu, Mama mertua kamu yang cantik." Tidak ada angin ribut ataupun angin yang lain, Mama Lena lagi-lagi memuji dirinya sendiri. Ya iyalah! Air lautkan asin sendiri! Terserah kamu, deh Magdalena!


"Silakan masuk, Bu? Maaf rumahnya kecil," ucap Danika malu-malu.


"Iiih, tidak apa-apa, sayang. Ibu ke sini ingin menyampaikan sesuatu sama kamu." Mama Lena langsung menyelonong masuk.


"Memang ada hal apa, Bu?"


"Eh, kamu ternyata suka juga nonton kisah horor the Tante, ya?"


"Iya, Bu. Nika sudah ngikutin dari lama," jawab Danika dengan antuias. Secara dia kan penggemar nomor satu kisah horor Tante.


"Wah, sama, dong! Ibu juga suka ngikutin kisahnya. Cuma sudah lama Ibu berhentikan karena sesuatu." Mama Lena menatap langit-langit mengingat sesuatu.


"Hem, emang kenapa, Bu? Kisahnya makin lama makin seru, loh!"


"Waktu itu, sehabis Ibu sholat malam, lampu kamar Ibu belum dihidupkan. Nah, pas Ibu mau menghidupkan lampu, Ibu jalan tuh kan, ngelewatin cermin. Seeet, loh kok ada putih-putih? Ibu jadi penasaran, Ibu datangin tuh cermin, eh! kok ada penampakan hantu pakai mukenah, mana jelek pula lagi hantunya!"


Danika yang mendengarkan cerita Mama Lena begitu serius, bahkan mulutnya sampai terbuka saking penasarannya.

__ADS_1


"Jadi, Ibu tidak coba untuk usir hantu itu?"


"Tidak! Ibu langsung sigap untuk menghidupkan lampu, eh, ternyata..,"


"Hah, ternyata apa, Bu?"


"Ternyata penampakan hantu yang pakai mukenah itu Ibu!" ucap Mama Lena sambil meringis.


Gubrak! Danika memasang wajah ilfil. Padahal sudah serius sekali dia mendengarkan. Ujung-ujungnya penampakan Ibu Lena sendiri rupanya. Hadeeeh!


"Astaga, Bu! Kirain memang hantu beneran!"


Mama Lena langsung tertawa terbahak-bahak. Danika semakin ilfil lagi.


'Berarti tanpa sadar, Bu Lena bilang kalau dia jelek. Haha.'


"Oh iya, besok pernikahan kamu dengan Arsenio!"


"Apa? Kenapa jadi semakin cepat, Bu?" Danika sedikit frustasi. Walau dia menyetujui pernikahan ini, tapi tidak pernah ada dalam benaknya bakalan dilakukan dalam waktu secepat ini.


"Ya, Ibu tidak mau lama-lama. Lagi pula urusan surat menyurat juga sudah selesai di KUA."


"Hah? Surat menyurat?"


"Kamu tenang saja, sayang. Kamu tetap menjadi istri sah Arsenio walau status kamu istri kedua."


Danika menunduk dengan wajah bingung dan sedih. Mama Lena menjadi khawatir. Dia mengangkat dagu Danika dengan telunjuknya.


"Ada apa, sayang?"


Danika mendesah. "Nika kepikiran dengan istrinya Tuan Arsenio? Nika takut menyakiti hatinya."


"Ya ampun, Danika! Itu tidak usah kamu pikirkan! Seandainya saja kamu tahu kalau dia itu tidak secantik wajahnya," ucap Mama Lena dengan wajah sedikit murung.


Danika yang menatap wajah Mama Lena murung begitu jadi berpikiran yang tidak-tidak pada istri Arsenio.


'Apa sebenarnya yang sudah dilakukan oleh Nyonya Zakia? Perasaan dia wanita baik-baik, deh! Apa dia sudah menyakiti hati Bu Lena? Hem, kenapa juga ingin tahu?'


Mama Lena langsung memasang wajah cerianya kembali. Ah! Secepat itu Mama Lena berubah layaknya Power Ranger. Eh, tunggu dulu! Mama Lena bukan mirip Power Ranger, tapi mirip Dora, haha.


"Pokoknya yang harus kamu lakukan adalah menjadi istri yang baik untuk Arsenio. Kamu jangan takut, Arsenio itu orangnya baik, kok. Sudah ganteng, mapan, dan segala-galanya. Ah, sudah semua sama dia."


Danika mendengus. 'Baik apanya? Mirip singa begitu!'


"Pokoknya, besok kamu harus bangun pagi-pagi sekali. Karena besok ada MUA yang akan mendandani kamu. Setelah itu kamu akan diantar supir menuju tempat kalian menikah."


"Ba..baik, Bu."


"Ya sudah, Ibu pulang dulu. Kita bertemu besok. Ah, bahagianya Ibu, besok Ibu dan kamu akan jadi bestie. Dah, ya? Awwww."


Mama Lena langsung berlari kecil menuju mobil beserta supir yang dengan setia menunggunya sedari tadi. Sebelum mobil itu meluncur, tak lupa Mama Lena berdadah ria pada Danika. Danika membalasnya dengan seadanya. Dan dengan cepat dia masuk lalu menutup pintu.


Tak bisa dia pungkiri, kalau dia begitu takut besok menikah dengan Arsenio. Dalam sekejap mata statusnya bakalan berubah.


'Ya, sudah tidak jadi perawan ting-ting lagi deh gue besok! Eh, tapi apa iya langsung jebol? Mana mungkin, gue juga tidak mau kali?'

__ADS_1


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=*******\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


__ADS_2