
Danika mendongak lagi memastikan Arsenio ini maunya apa mendekati dia. Dia menggelengkan kepala dengan tatapan aneh melihat Suaminya hanya bengong. Tapi tetap keren sih, dengan tangan dimasukkan ke kantung celana begitu. Auuwww.
'Amboi! Amboi! Tak kuasa gue! Mau gimanapun, Mas Arsenio tetap keren.'
"Mas?"
Arsenio menoleh. "Iya?"
"Apa Mas butuh sesuatu?"
Arsenio menggeleng. Matanya tertuju pada sepotong daging rendang yang kelihatannya enak. Kenapa dia malah jadi ingin makan?
"Nika, kenapa dagingnya gak kamu makan?"
Danika melirik sekilas daging yang masih utuh belum tercuil itu. Niatnya sih, sudah habis nasi, baru dia makan dagingnya.
"Nanti, Mas. Nunggu habis nasi dulu."
Arsenio mengangkat kedua alisnya. 'Eh, ada ya orang makan modelan Danika begini? Lauknya dimakan belakangan, jadi apa gunanya lauk itu kalau dimakan belakangan? Tapi sepertinya enak, tuh! Sudah lama juga gak makan daging semenjak Mama sakit.'
Tanpa dosa, tangan Arsenio terulur untuk mengambil sepotong daging itu. Mata Danika melotot dengan sempurna saat daging itu sudah berpindah ke tangan Arsenio.
Tak lama daging itu hendak Arsenio masukkan ke dalam mulutnya. Adegan ini seperti slow motion diiringi dengan suara seriosa. La la la. Dan hup, daging itu langsung tertelan begitu saja. Arsenio melotot seketika.
Melihat Suaminya tiba-tiba melotot dan sibuk memegang lehernya, Danika jadi panik. Dia langsung berdiri dan tanpa sadar memegangi lengan Arsenio.
"Mas, Mas kenapa?"
Semakin khawatir lagi ketika suara Arsenio sudah berubah mirip zombie di film to Busan-to Busan itu.
Karena semakin susah bernafas, Arsenio jatuh tergeletak ke lantai.
Danika yang ikut bersimpuh, sudah mulai menangis. "Mas? Mas?"
'Fix! Daging tadi mengandung virus zombie. Lihatlah! Suara Mas Arsenio udah mirip zombie!'
Danika semakin panik. 'Mampus! Apa yang harus gue lakukan!'
Terdengar suara pintu terbuka. Danika bernafas sedikit lega melihat Adul masuk.
Adul yang melihat Arsenio yang sudah terkapar dengan cengap-cengap dan Danika yang menangis, jadi ikutan panik. Dia berlari menghampiri kedua orang itu.
"Nika, Tuan kenapa?" Adul bertanya dengan panik. Apa Tuan Arsenio hendak sakaratul maut?
"Gue gak tahu, Dul. Tadi Mas Arsenio makan daging gue. Dan tiba-tiba jadi kayak begini."
Danika menggoncang tubuh Arsenio. Air mata sudah deras mengalir.
"Arrgghh, akh, roaar, gerrr."
Danika dan Adul saling tatap tak mengerti dengan suara Arsenio yang bisa tiba-tiba berubah. Apakah ada maksud di dalamnya? Apakah sebuah wasiat? Wkwk.
'Mas Arsenio tadi suaranya udah kayak zombie, deh! Kenapa sekarang malah roar-roar dan gerrr kayak singa? Apa siluman singanya hendak masuk?'
Adul membelalak dan menatap Danika dengan intens. "Ka, kayaknya Tuan Arsenio tersedak!"
Danika melotot dengan sempurna. "Apa? Kayaknya iya, deh! Soalnya tadi habis makan daging, matanya langsung melotot!"
Adul menepuk kepalanya dengan kedua tangan. "Astaghfirullah."
Arsenio yang masih bisa sadar benar-benar mendongkol dalam hati. Dia sudah hampir kehabisan oksigen, dan dua makhluk tidak berguna di dekatnya ini malah sibuk bergosip, bukannya menolong dia.
"Nika, bantu gue, Ka." Adul sibuk mengangkat tubuh Arsenio agar bisa bersandar di depan badannya.
Danika yang sudah sibuk menangis, mengusap kasar matanya, lalu membantu Adul.
Adul yang melihat Danika sudah menangis sedari tadi menjadi iba. Kelihatan banget Danika menyayangi Suaminya.
"Ka, lo jangan nangis. Tuan Arsenio masih hidup."
"Iya, gue tahu."
__ADS_1
"Jadi, kenapa lo nangis?"
"Gue gak habis pikir. Kok Mas Arsenio oon-nya gak ketulungan begini, sih? Huwaaaa."
Gubrak!
'Kalau dipikir-pikir memang iya sih. Bininya aja sampe bilang gitu!' ~ Adul.
'Gue betul-betul gak habis pikir, We. Ternyata Mas Arsenio bodohnya tak ampun. Astaga! Apa dia gak tahu tutorial cara makan daging yang betul apa? Digigit, kunyah-kunyah, telaaaaan. Bukan langsung ditelan bulat-bulat! Haduh, Mas Arsenio.'
"Tuan, Tuan bisa dengar saya, kan? Bismillah, hadir!"
Danika ilfil. "Dul! Lo kira kayak KPL, manggil setan, bilang hadir, langsung datang setannya untuk absen!"
Adul mulai panik lagi. Tapi sebisa mungkin dia berusaha untuk tenang. Gila, ya! Dia gak bisa berpikir dengan jernih.
"Tuan, Tuan dengarkan saya? Tarik nafas, buang nafas. Satu, dua, tiga, o o ook."
Danika melongo seketika dan geleng-geleng kepala mendengar ucapan Adul barusan. "Dul, lo gila ya! Kenapa gitu?"
"Oh, salah, ya? Kalau gitu, satu, dua, tiga, e eeeeeek," ucap Adul memberi instruksi pada Arsenio dengan wajah polos tanpa dosa.
Danika menepuk jidatnya. Kenapa lah dia dikelilingi oleh orang-orang paok tidak ketulungan seperti ini?
"Dul! Lo kira Mas Arsenio mau beol, lo suruh ngeden kayak begitu?"
"Hehehe." Adul terkekeh.
Danika jadi frustasi setengah ampun. Dia menggoyang tangan Suaminya. "Mas, istighfar, Mas."
Danika juga sudah mulai ketularan oon. Gimana Arsenio mau istighfar, coba? Konon bernafas aja sudah susah. Hadoh.
Adul jadi teringat dengan cara-cara menolong orang tersedak. Oh iya, dia pernah menolong Emaknya yang tersedak buah rambutan.
Gimana tidak tersedak, Emaknya makan rambutan beserta biji-bijinya, tertelan semua. Untung ada Adul, sang pahlawan yang segera menolong sang Emak.
'Makanya, kok gue familiar dengan keadaan kayak gini? Baiklah! Mari kita coba.'
Danika dan Adul bernafas lega sembari berucap hamdalah.
Sepertinya, sudah bisa Arsenio menuangkan kisah ini ke dalam buku dengan judul 'Tidak sengaja tertelan daging, dan hampir kejet-kejet'. Mungkin akan laris nanti itu di pasaran, wkwk.
Danika menatap sinis daging yang teronggok di lantai itu. 'Dasar daging jahanam! Sumber masalah lo memang!'
Arsenio yang sudah lemas karena hampir kehilangan oksigen, mendadak pingsan. Danika dan Adul kembali diserang panik.
"Mas, Mas." Danika menepuk-nepuk pipi Arsenio. "gimana ini, Dul?"
"Aduh! Gue belum pernah menghadapi orang pingsan, Ka."
Danika menghela nafas berat. "Hadoh! Mampus! Dul, tapi kan gak mungkin kita biarin Mas Arsenio tergeletak di lantai begini!"
Adul tampak berpikir sejenak. "Coba kita pindahkan ke sofa, Ka."
Sebelum mengangkat Arsenio, Adul membuka dulu jas, sepatu, dan dasi Arsenio. Dia juga membuka tiga kancing kemeja Arsenio. Setelah itu, dia menggulung lengan kemejanya dan mencoba mengangkat pria itu. Adul langsung mengernyit.
"Kenapa, Dul?"
"Ka, bantu gue! Gue gak kuat angkat Tuan Arsenio."
Danika mendengus. "Iihhh, masa gak bisa? Yang benar lo, Dul?"
"Iya! Tuan Arsenio berat banget. Serius gue!"
Semua orang juga percaya kalau Arsenio berat. Orangnya tinggi tegap begitu. Yang ada mencret kalau ngangkat dia, wkwk.
"Tapi jangan biarin Suami gue lama tergeletak di lantai begini. Kasihan, nanti masuk angin."
Dan jadilah mereka memilih cara paling ampuh untuk memecahkan masalah ini. Mereka berdua menyeret Arsenio. Danika memegang tangan kanan Arsenio, sedang Adul memegang tangan kirinya.
"Satu, dua, tiga, tariiiik!" Adul memberi instruksi.
__ADS_1
'Nih manusia apa beton, sih? Kok berat banget! Ya ampun, Mas Arsenio. Kalau nanti terjadi malam pertama, nimpahin gue, apa gak jadi gepeng gue?'
Sudahlah! Arsenio, Presdir terkenal dan terkaya di negara ini sudah gak ada lagi harga dirinya, diseret-seret begitu sama Istri dan bawahannya.
Dua orang itu juga meletakkan Arsenio begitu sembarangan ke sofa, sampai-sampai kepala Arsenio terpentok pinggiran sofa. Untung saja sofa-nya lembut.
"Sekarang gimana, Dul?"
"Mana gue tahu, Ka! Kasih nafas buatan!"
Danika melirik Adul dengan sinis. "Enak aja lo! Gue gak pintar kasih nafas buatan!"
'Eh, waktu gue pingsan waktu itu, gue diapain ya sama Mas Arsenio makanya bisa sadar?'
Lagi-lagi mereka harus memecahkan masalah menyadarkan Arsenio dari pingsannya. Ribet banget memang dua manusia ini.
Danika menggosok-gosokkan balsem yang dia bawa dari rumah ke hidung Arsenio. Biasanya, dia membawa balsem untuk mengatasi perutnya yang kram.
'Panas, panas, deh! Biar cepat sadar!'
Tak lama kemudian, Arsenio membuka matanya. Yang pertama kali tertangkap oleh matanya adalah, pemandangan yang begitu indah. Seorang gadis cantik tersenyum dengan begitu leganya.
'Ah, sepertinya dia begitu khawatir tadi.'~Arsenio.
"Alhamdulillah," ucap Danika dan Adul bersamaan.
Adul membantu Arsenio duduk. Danika mengambilkan Arsenio untuk minum.
"Pelan-pelan, Mas."
Setelah menghabiskan secangkir air putih, Arsenio kembali terlihat segar. Dia bangun, lalu duduk dengan tegak. Dia harus berterima kasih kan pada dua makhluk di depannya ini, karena sudah membantu dia?
'Baiklah! Walaupun aku jengkel setengah mati karena mereka kebanyakan bicara daripada bertindak. Tapi, mereka tetap membantuku. Terlebih, aku berterima kasih pada Istriku yang sudah berderai air mata tadi.'
"Terima kasih karena sudah membantu saya."
"Sama-sama, Tuan," jawab Adul sembari menundukkan kepala sekilas.
"Makanya, Mas. Lain kali kalau makan daging itu diingat! Harus digigit, dikunyah, baru ditelan!" ucap Danika dengan ketusnya.
'Dia gak tahu aja gue betul-betul khawatir tadi.'
Arsenio seketika ilfil. 'Iihhh mulut Danika ini! Ingin sekali aku menaboknya!'
Tapi ya sudahlah. Mungkin saking khawatirnya Danika, jadinya dia begitu.
Arsenio yang ingin murka, jadi tersenyum manis pada Danika.
Adul senyum-senyum melihat tingkah mereka, dia menutupi mulutnya dengan tangannya.
Danika yang melihat senyum Arsenio begitu manis, akhirnya luluh juga. Dia juga ikut-ikutan tersenyum. Dan jadilah adegan senyum-senyum terus, mungkin akan berlangsung hingga kiamat, wkwk.
Bikin atap dari lontar, mata menatap hati bergetar. Eaaaaak.
Makan duren sambil melamun, hati-hati ketelen bijinya.
Gubrak! Tau ah remang-remang!
Afa? Afa? Hobaaaaa.
...........****..........
Maaf ya para Reader kesayangan akoh, baru bisa update karena lagi syakit.
Oh iya, jangan lupa loh ya kasih jejak like setelah membaca. Like itu semangat akoh loh we?
Awas ya kalo gak?
Merajok akoh, nih😂
Salam hangat dari iLs Dydzu. Akoh pada kalian, sarangheo muah ❤️💐
__ADS_1