Jadi Istrinya?

Jadi Istrinya?
Bab ~ 44


__ADS_3

Ceklek. Pintu terbuka, Arsenio sempat terkejut, lalu berdehem melihat Istri pertamanya itu sudah pulang dengan wajah lelah. Dan lagi-lagi rambutnya berantakan.


Arsenio mengernyit. Kali ini, hatinya merasa terusik dengan penampilan Zakia yang selalu berantakan setiap pulang kerja. Apakah setiap hari Zakia pulang dengan keadaan seperti itu?


"Sudah pulang, Za?" Arsenio bertanya sambil meletakkan sisir yang baru saja dia pakai untuk menyisir rambutnya.


Zakia sedikit terkejut mendapati Suaminya sudah pulang di jam segini. Namun sebentar saja dia terkejut.


"Iya, sudah. Kamu kok tumben sudah pulang?"


"Lagi ingin aja. Lagi pula, kerjaan ku gak ada hari ini." Arsenio melangkahkan kakinya menuju sofa dan duduk di sana.


"Oh, habis ini temani aku belanja, yuk? Aku sudah lama gak ke mall."


Arsenio tersenyum dan mengangguk. "Baiklah. Bersiaplah."


Zakia sumringah sekali. "Terima kasih, sayang. Aku mandi dulu, ya?"


Arsenio mengangguk dan tersenyum tipis. Semua pemandangan barusan, tidak lagi mengusik hatinya. Tidak lagi membuat Arsenio ikutan bahagia dengan kebahagiaan Zakia.


Apakah hatinya benar-benar sudah tidak lagi ditempati oleh Zakia? Arrghh, jadi risau memikirkan ini.


"Egh, Zakia. Apakah aku boleh menemui Mama?"


Zakia langsung cemberut. Arsenio semakin tidak habis pikir saja lama-lama melihat Zakia. Masa iya, melihat Mamanya sendiri tidak boleh? Masih mendingan loh ini dia ijin.


Kalau diikutkan hati, persetan dengan ijin Zakia. Dia akan datangi Mamanya di kamar dengan sesuka hati.


Karena perasaannya lagi senang akan ditraktir belanja oleh Arsenio, Zakia akhirnya mengijinkan Arsenio melihat Mamanya.


"Jangan lama-lama. Pelakor itu gak ada di sana, kan?"


"Kamu tenang aja."


Arsenio segera keluar dari kamarnya. Ketika akan melangkahkan kaki, matanya sempat melirik kamar Danika. Bibirnya tersungging senyum.


Setelah di depan pintu kamar Mamanya, Arsenio langsung masuk saja tanpa mengetuk pintu. Suka hati dia lah, kan dia anak Mamanya. Anak Mama Lena yang tampan. Eaaaak.


Arsenio sedikit terkejut mendapati Danika sudah ada di sini. Sedang Mamanya yang baru saja hendak menyuapkan jengkol ke mulutnya, melebarkan mata menatap putranya berdiri di ambang pintu.


"Arsenio," sapa Mama Lena ramah dengan senyum lebarnya.


Danika spontan membalikkan badan ketika Mama Lena menyebutkan nama Suaminya.


Arsenio lagi-lagi salah tingkah. Begitu juga dengan Danika. Mama Lena mengulum senyum sambil menatap Arsenio dan Danika bergantian.


"Ayo masuk! Ngapain kamu berdiri di situ?"


"Ah, iya, Ma."


Arsenio mendekat ke ranjang Mamanya. Dia lalu membungkukkan sedikit badannya untuk mengecup kening Mamanya.


"Gimana keadaan Mama?"

__ADS_1


"Wah, Mama sudah sehat pokoknya."


Arsenio tersenyum. Tumben Mamanya bersikap baik. Biasanya selalu kayak Medusa atau Nek Lampir. Matanya melirik sepiring jengkol yang sedang Mamanya pegang.


"Jengkolnya sudah jadi, Ma?"


Mama Lena ilfil. "Astaga, Arsenio. Kalau jengkol kan memang sudah jadi dari pohonnya. Yang seharusnya kamu tanya itu, sudah jadi di masak jengkolnya, Ma? Begitu,


tahu!" Mama Lena menjawab dengan sewot.


'Nih, anak kok bodoh sih! Oouuh, jangan-jangan karena ada Danika di sini. Jadi otaknya agak sedikit lemot saking terpesona sama Danika, hihihi. Asey geboy!'


Arsenio terkekeh. Dia mengusap-usap tengkuknya salah tingkah. Matanya sesekali melirik Danika yang tertawa sambil menutup mulut.


Mata mereka lagi-lagi bertemu dengan malu-malu. Kemudian mereka tertunduk dengan senyum malu-malu khas orang kasmaran.


Mama Lena melirik sana melirik sini. Bibirnya tak berhenti untuk tersenyum.


"Wah, kalau kayak begini, Mama jadi nambah nafsu makan, nih."


Danika dan Arsenio spontan menatap Mamanya. Kemudian mereka saling tatap lagi, lalu tersenyum lagi. Jujur saja, melihat Danika dan Arsenio begitu, membuat Mama Lena semangat.


Buktinya tanpa sadar, dia sudah menghabiskan satu piring rendang jengkol tanpa nasi. Mungkin Mama Lena makannya tidak pakai dikunyah, melainkan langsung ditelan.Wkwk. Untung aja piringnya gak sekalian di mamam sama Mama Lena.


"Eh, Mama sudah selesai makannya? Cepet banget." Danika mengulurkan tangannya menerima piring bekas makan Mama Lena.


Arsenio dengan sigap mengambilkan air minum untuk Mamanya. Setelah minum, Mama Lena langsung sendawa, dan sudah pasti aroma jengkol langsung merebak hingga masuk ke lobang hidung Arsenio. Arsenio yang ada di dekat Mamanya sudah hampir ingin muntah.


Arsenio baru ingat, kalau dia akan menemani Zakia belanja. Arsenio mengecup kening Mamanya.


"Mau ke mana kamu?"


"Arsen ada urusan sebentar, Ma."


"Kamu mau pergi dengan Zakia, ya?" tanya Mama Lena dengan ketusnya.


"Egh," Arsenio menatap Danika dengan sendu.


Tuh, kan Mama Lena mulai berubah mode jadi Nek Lampir season sekian. Tapi Ada perasaan tidak nyaman yang Arsenio rasakan saat ini.


Sepertinya Danika memahami yang tengah Arsenio rasakan. Walaupun di dalam hati, sudah ada bunga-bunga bermekaran, karena Arsenio mulai mempedulikannya. Jadi Danika hanya tersenyum tipis pada Arsenio, untuk meyakinkan pria itu, kalau dia tidak apa-apa.


Lagi pula, Zakia itu Istri pertama Suaminya. Dia harus mengalah, dia juga kan sudah pergi tadi bersama Suaminya.


Melihat Danika tersenyum, Arsenio merasa sedikit lega. Dia membalas senyuman Danika. Sedang Mama Lena memicingkan mata dan jangan ditanya lagi sudah semonyong apa bibirnya.


"Arsenio pergi dulu, Ma."


Mama Lena mendengus sebal. "Huh!" lalu memalingkan wajahnya.


Arsenio mendekat pada Danika. "Saya pergi dulu."


Danika mengangguk. "Ehm, iya, Mas."

__ADS_1


Arsenio segera pergi dari sana. Danika membalikkan badannya hendak melihat Arsenio pergi. Tapi sayang sekali, pintunya sudah tertutup. Melihat Danika murung seperti itu, Mama Lena menghela nafas.


"Danika."


Danika menoleh. "Iya, Ma? Mama butuh sesuatu?"


"Haaah, kemarilah, sayang."


Danika mendekat, dan duduk di tepi ranjang Mama mertuanya. "Ada apa, Ma?"


Mama Lena mengusap lembut pipi Danika. "Kamu cemburu, ya?"


Mata Danika langsung membulat. "Hah? Apa, Ma?"


Sebenarnya dia agak sedikit syok, mencium aroma jengkol yang begitu syahdu dari mulut Mama Lena. Mana aromanya langsung masuk ke dalam lobang hidung Danika lagi. Kan kasihan hidungnya, Wkwk.


Mama Lena menaik turunkan alisnya. "Alah, bilang aja, Nika. Mama tahu, kok. Mama rasa Arsenio sudah jatuh cinta sama kamu, tuh."


Danika tersenyum malu-malu. Pipinya bersemu merah. Tapi itu tidak lama karena Mama Lena tiba-tiba saja memegang dadanya dan meringis menahan sakit.


"Ma, ada apa, Ma? Ya Allah."


Danika membantu Mama Lena berbaring, dan segera mengambil minyak kayu putih untuk dioleskan ke dada Mama mertuanya. Melihat Mama Lena kesakitan, Danika mulai panik. Tapi dia tahan sebisa mungkin agar jangan panik.


Danika segera menghubungi Dokter keluarga. Setelah menelepon, Danika keluar dari kamar untuk memanggil Bik Sarinem.


Saat Dokter tengah memeriksa Mama Lena. Danika tidak bisa tenang. Dia mengepalkan tangan kanannya lalu mengetuk-ngetuk bibirnya. Terkadang, kedua tangannya saling memilin.


Bik Sarinem tersenyum sendu memperhatikan Danika yang tak jauh dari sampingnya.


Sebenarnya sudah biasa Mama Lena mengalami hal seperti ini. Tapi bagi Danika, dia belum terbiasa. Dia tidak mau kehilangan seorang Ibu lagi.


Setelah Mama mertuanya enakan, Danika ijin sebentar ke kamarnya untuk mandi dan berganti baju. Dia akan tidur bersama Mama mertuanya lagi malam ini, untuk memastikan keadaan Mama Lena.


Sebelum masuk ke kamarnya, Danika sempat melirik sebentar pintu kamar Suaminya dan Kakak madunya. Dia menghela nafas.


'Mereka ke mana, ya? Sudah malam begini, kenapa belum pulang? Aduh, Nika! Kenapa dengan lo? Apa lo sudah mulai cemburu?'


Danika menepuk kepalanya sendiri lalu masuk ke dalam kamarnya.


'Aneh! Kenapa juga gue harus cemburu? Toh, Mas Arsenio pergi bareng Istrinya yang lain. Haaah.'


Kecemburuan dalam asmara seperti garam dalam makanan. Sedikit dapat meningkatkan rasa, tetapi kalau terlalu banyak, bisa-bisa mengundang rasa ingin marah, wkwkk. Asek kali! Kata-kata siapa sih tuh?


Kamu tahu, gak? waktu aku lihat kamu jalan sama dia, dada aku tuh nyepas, nyesek napas.


Ya ampun, kamu cemburu, ya?


Gak! Behaku kekecilan!!!


Gubraaak!


...........****.............

__ADS_1


__ADS_2