Jadi Istrinya?

Jadi Istrinya?
Bab ~ 36


__ADS_3

Danika dan Adul sudah terlebih dulu hadir di kantor. Sebagai Sekretaris, mereka harus menyiapkan segala keperluan Arsenio di ruangan ini.


Mereka terkadang saling melemparkan candaan, dan terkadang juga bisa sama-sama serius dalam mengerjakan laporan ataupun yang lainnya.


Dan pagi ini, ketika Arsenio belum datang, mereka saling mengejek sambil sesekali bercanda. Arsenio yang baru saja tiba, terpaku di tempat dia berdiri menyaksikan kedekatan antara Istrinya dan Adul. 


What? Istrinya? Kenapa lidah semakin kelu saja mengucapkan kata itu, walaupun di dalam hati? Aneh, kan?


"Selamat pagi."


Danika dan Adul gelagapan. Mereka langsung menunduk memberi hormat. "Selamat pagi, Tuan."


Ketika Arsenio sudah duduk di kursi kebesarannya, dia tidak sengaja melihat Adul memberikan kode melalui matanya pada Danika. Danika langsung mengangguk dan pergi dari ruangan itu.


Sedang Arsenio, sebagai manusia satu lagi yang berada di sana terbengong-bengong tidak mengerti permainan apa yang sedang mereka mainkan.


'Mereka sedang apa? Kenapa main kode-kode begitu? Apa Adul mulai menaruh hati pada Danika? Kenapa aku kesal? Ah, sial! Kenapa aku malah jadi bertanya-tanya? Dan bodohnya tidak ada yang bisa menjawab pertanyaanku!'


Arsenio menggemeretakkan gigi. Dia mengepalkan tangan. Adul yang sudah mau mendekati meja sambil membawa beberapa file di tangannya jadi maju mundur gagah, antara jadi atau tidak.


"Tuan, ini ada beberapa file yang harus ditanda tangani dan distempel." Adul meletakkan file itu dengan hati-hati dan takut.  Dia juga bertanya-tanya kenapa Tuan Arsenio marah saat dia berinteraksi dengan Danika tadi?


"Hem,"


Adul pusing. Dia tidak mengerti dan memahami apa istilah hem-hemnya Arsenio. 


'Hem itu iya atau tidak, ya? Kok gue pusing? Apa Tuan Amar dulu mengerti hal ini? Kenapa dia gak kasih tahu gue atau Danika, sih?'


Danika masuk, membawa nampan berisi kopi panas untuk Suaminya tercinta yang ganteng aduhai itu. Dia letakkan kopi itu dengan hati-hati ke atas meja kerja sang Suami.


"Silakan diminum, Tuan."


"Hem,"


Danika terbelalak dan melirik sekilas Arsenio yang sibuk membubuhkan tanda tangannya ke atas file-file itu.


'Mungkin Mas Arsenio lagi kumat kali, ya? Maunya bilang terima kasih ya, cantik? Aduh! Sayang sekali gak kesampaian impian gue yang itu! Jangankan bilang begitu, bilang makasih aja gak pernah! Huaaaaa.'


.............******............


Hingga siang ini, tidak ada pekerjaan yang terkendala. Semua dapat ter-handle dengan baik. Tapi ada satu masalah, saat Azka memberitahu akan melakukan misi siang hari ini.


"Duh! Kenapa mendadak sekali, sih? Apa Azka gak punya kerjaan, ya?" Danika menggerutu. Sedang Adul tetap terlihat tenang dan cool.


Danika melirik Adul, yang memang kelihatan tampan. Kalau Danika belum menikah, pasti akan terpesona dengan ketampanan Adul.

__ADS_1


Danika kesal. Kenapa Adul tidak mau jawab pertanyaannya. "Dul!"


Adul menoleh dan mengangkat kedua alisnya. "Hem?"


Danika jadi grogi. Adul dan Danika duduk begitu dekat di satu meja yang memang disediakan untuk mereka sebagai Sekretaris Arsenio.


Danika menoyor jidat Adul agar sedikit menjauh dari wajahnya. "Lo apa-apaan, sih? Lo mau godain gue, ya?"


Adul mengernyit. "Goda apa sih maksud lo, Ka? Gak usah 'sedeng' deh, lo!"


"Jadi lo ngapain dekat-dekatin muka lo ke muka gue?"


Adul gantian menoyor jidat Danika. "Mana ada, gila! Lagian kalau ada, berarti gak sengaja! Perasaan banget lo jadi betina!"


Danika memonyongkan bibirnya. "Bangsat lo, Dul!" 'Bukannya lo sebangsa betina juga?'


"Kayanya lo aja deh yang berangkat bareng Azka dan Reni!"


Danika menatap Adul penuh selidik. "Kenapa? Apa jangan-jangan lo mau berduaan sama Tuan Arsenio, ya?"


Adul memasang wajah jutek setengah ampun lalu menoyor kepala Danika. Danika langsung melotot.


"Adul!"


"Hahaha! Rasain, lo! Enak aja lo ngomong gitu! Gini-gini gue masih pria normal ya? Lagi pula, kalau gue ikut juga, siapa yang tinggal di sini?"


Adul bersedekap dada. " Memang kapan lo punya pikiran?"


"Aduuuuul!" Danika meninju-ninju lengan Adul. 


Sedang Adul terkekeh dan mengaduh kesakitan. Walaupun betina, pukulan Danika begitu terasa mantap dan menyakitkan.


"Gila, ya? Berasa banget bogeman lo!"


Danika tersenyum miring sambil menaik turunkan alisnya pada Adul. Mereka lalu tertawa bersamaan. Mereka masih bisa santai karena Arsenio sedang keluar bersama Istri tercintanya itu.


Mengingat itu membuat Danika sedih. Tapi untuk apa bersedih, tidak ada gunanya.


.............*******..............


Arsenio yang baru saja makan siang di luar bersama Zakia langsung saja kembali ke kantor. Sebenarnya dia malas tadi mau ke mana-mana. Entah kenapa dia lebih betah sekarang di ruangannya. Eh?


Tapi dari pada Zakia semakin merajuk, dia terpaksa mau mengikuti keinginan Istrinya itu. Hitung-hitung cara halus membujuk Zakia selain memberikannya sejumlah uang yang banyak.


"Selamat siang, Tuan."

__ADS_1


Arsenio mengangguk sekilas. Matanya kemudian celingak-celinguk memperhatikan ruangannya ketika tak menemukan seekor eh seorang Danika di sini.


Menyadari ada yang tidak beres dengan Bosnya, Adul jadi gelisah. Dia memberanikan diri untuk bertanya. "Apakah ada sesuatu yang Anda inginkan, Tuan?"


"Ke mana Danika?"


Mampus! Adul menelan saliva. Jawaban apa kira-kira yang paling bagus dan pas,  yang harus dia keluarkan dari mulutnya ini untuk membuat Arsenio percaya?


"Egh, Danika sedang keluar, Tuan."


Arsenio menoleh dan alisnya langsung menyatu mendengar jawaban Adul yang sangat ambigu itu. Eh, tunggu dulu! Apakah Danika keluar itu untuk pulang ke rumah? Apakah Mamanya sakit lagi sekarang? Arsenio jadi panik. Dan Adul? Jangan ditanya lagi sudah sepanik apa dia sekarang.


Arsenio segera duduk di kursinya lalu menghubungi nomor ponsel Mamanya. Dengan gelisah Arsenio menunggu Mamanya menjawab panggilan teleponnya.


📱"Halo?"


Terdengar suara dari seberang telepon, sedikit membuat perasaan gelisah Arsenio terobati. Arsenio tersenyum. Dan hal itu membuat Adul yang berdiri di hadapannya bertanya-tanya.


"Ini Mama, kan?" 


📱"Tidak, aku setan! Ya jelaslah ini Mama! Mau apa kamu, hah?"


Arsenio sedikit terkekeh mendengar jawaban ketus dari Mamanya. Ah, Mamanya! Sepertinya Mamanya masih kesal dengan dia.


"Mama baik-baik aja, kan? Mama sehat, kan?"


📱"Jadi kamu maunya Mama mati, hah?"


Arsenio menepuk jidatnya. "Astaga, Ma! Bukan itu maksud, Arsen. Sudah dulu ya, Ma?"


Arsenio langsung mengklik icon telepon berwarna merah sebelum omelan Mamanya menyakiti telinganya. Dia langsung bernafas dengan lega. Ternyata Mamanya baik-baik saja di mansion. Kalau Mamanya baik-baik saja, berarti Danika tidak pulang ke mansion. 


Arsenio mengira tadi Danika terburu-buru pulang ke mansion karena Mamanya sakit. Bisa dia lihat betapa Danika begitu menyayangi Mamanya itu.


Adul yang melihat Arsenio yang menghubungi Mamanya setelah tahu Danika tidak ada di kantor,  jadi bertanya-tanya. Alisnya langsung mengerut.


'Kenapa Tuan Arsenio malah menghubungi Nyonya besar? Kok aneh? Bukannya dia seharusnya menghubungi Danika? Eh, apa iya? Gue dan Danika aja gak punya nomor ponsel Tuan Arsenio? Hem, masih menjadi sebuah misteri.'


"Adul!"


Adul yang tengah melamun, gelagapan tiba-tiba dipanggil begitu. "Eh, iya, Tuan?"


Arsenio menatap Adul dengan tatapan tajam setajam pedang. "Jawab jujur ke mana Danika?"


"Di..dia?"

__ADS_1


............*****.............


Jangan lupa like nya pembaca aku yang manis, awww. 😁💐


__ADS_2