
Mama Lena saat ini tengah sibuk membaca majalah model rambut terbaru. Matanya fokus pada model rambut punk. Mama Lena menatap langit-langit, dia mulai menghayal kalau dia mengganti gaya rambutnya dengan model punk seperti itu.
Dalam khayalannya, dia malah jadi penyanyi rocker dengan rambut punk dan membentuk jari ala-ala rocker itu.Mama Lena langsung tersentak dari lamunannya.
"Kenapa aku malah jadi aneh kalau pakai model rambut begitu? Apa iya ini untuk Mama muda seperti aku?" Mama Lena membalik majalah itu untuk melihat sampulnya. Seketika mata Mama Lena langsung mendelik. "kurang ajar! Ini majalah model rambut pria! Siapa yang meletakkan ini di sini!"
Percuma juga Mama Lena merepet alias mengomel sepanjang zebra cross, toh suaranya juga bisik-bisik, tak ada yang dengar. Dia meletakkan majalah itu dengan kesal. Tiba-tiba terdengar suara orang tertawa dari arah pintu. Mama Lena mengernyit.
"Dari suaranya seperti suara Arsenio?"
Dan benar saja dugaan Mama Lena, tak lama Arsenio masuk ke dalam sambil menggandeng mesra Zakia. Mereka terlihat saling bercanda satu sama lain. Mama Lena langsung cemberut. Dia tidak suka melihat hal itu.
'Apa lagi mau perempuan itu? Kenapa sekarang dia sibuk sok-sokan ada waktu untuk Arsenio? Apa dia sudah putus dengan selingkuhannya itu? Eh, tunggu dulu! Selagi pria itu masih sering bersama Zakia, mereka pasti masih berhubungan!'
Mama Lena bangkit dari duduknya dan bersedekap dada memperhatikan mereka. "Arsenio!"
Arsenio dan Zakia menghentikan langkah mereka dan menoleh ke arah sumber suara. Zakia langsung berubah wajahnya, tak lupa alisnya langsung naik sebelah, mungkin hingga ke atap, wkwk.
"Ada apa, Ma?" jawab Arsenio dengan sumringah.
"Apa kamu tidak lupa sesuatu, Arsen?"
Arsenio mengernyit. "Lupa apa, Ma?"
Mama Lena menggelengkan kepalanya dan berdecak. "Ck, ck. Habis dikasih makan apa kamu sama Zakia sehingga kamu melupakan istrimu yang lain?"
Zakia mengepalkan tangan kanannya, sedang tangan kirinya semakin dia eratkan dilengan Arsenio.
Arsenio melirik sekilas lengannya diapit Zakia lalu menatap Mamanya dengan wajah kesal. "Mama ini apa-apaan, sih? Dia kan bisa pulang sendiri. Ngapain juga Arsen pedulikan. Toh, dia sudah besar."
Mama Lena menepuk jidatnya. Niatnya sih dia ingin menepuk jidat Arsenio. "Mama tidak mau tahu, mulai sekarang kamu harus peduli juga sama Danika. Danika itu istri kamu!"
Arsenio semakin menekuk wajahnya. Dia menarik tangan Zakia dan menggenggamnya. "Ayo kita ke kamar, Zakia. Tidak usah dengerin omongan Mama."
Arsenio mengajak Zakia pergi ke kamar mereka tanpa mempedulikan teriakan Mamanya yang memekakkan telinga.
"Arsen!" Mama Lena berhenti teriak, wajahnya meringis merasakan sakit di dalam dadanya. Mama Lena mendudukkan dirinya ke sofa. Dia memegangi dadanya yang sakitnya semakin terasa.
Salah satu pelayan melihat keadaan Mama Lena langsung menghampiri orang tua itu. "Nyonya? Nyonya kenapa? Apakah sakit lagi?"
"Iya, Nem," sahut Mama Lena lemah.
__ADS_1
"Ayo kita ke kamar, Nya." Sarinem membantu Mama Lena berdiri dan segera memapahnya ke kamar.
Sesampainya di kamar, Sarinem langsung membantu Mama Lena duduk bersandar diranjang. Setelah itu Sarinem langsung sigap mengambil air hangat dan obat.
"Minum dulu, Nyonya." Sarinem menyerahkan obat ke tangan Mama Lena.
Mama Lena mengambil obat itu. "Terima kasih."
Setelah selesai minum obat, Sarinem membantu Mama Lena berbaring, wanita paruh baya itu langsung menyelimuti tubuh Mama Lena. Kemudian dia duduk ditepi ranjang.
"Nyonya? Apakah ada masalah lagi?"
"Hem, begitulah. Arsenio belum mau mendekatkan dirinya dengan Danika. Kasihan anak itu."
"Iya, Nyonya. Nyonya Zakia juga aneh, tumben-tumbennya dia dekatin Tuan Arsenio lagi."
"Hah, itulah yang tidak aku mengerti. Aku takutnya dia punya rencana jahat sama Danika."
Sarinem menggenggam tangan Mama Lena. "Sebaiknya Nyonya ceritakan semua masalah ini sama Danika. Agar hati Nyonya plong. Dan Danika bisa jauh lebih hati-hati dengan Zakia."
Mama Lena mengangguk pelan. "Yang kamu bilang itu benar, Nem. Terima kasih atas sarannya, ya?"
Mama Lena mengangguk. Sarinem segera keluar dari kamar. Dia juga merasa begitu cemas dengan keadaan majikannya itu.
............******...........
Setelah selesai mandi dan berganti baju, Arsenio dan Zakia duduk-duduk di balkon yang ada di kamar mereka.
"Sayang, kamu kenapa, sih? Kenapa cemberut terus, hem?"
"Aku kesal dengan Mama kamu. Kenapa dia benci sekali sama aku? Emangnya salah aku di mana?"
Arsenio tersenyum tipis, dia lalu membelai sayang rambut Zakia. "Sayang, jangan berpikiran seperti itu. Mama itu orangnya tidak seperti itu, kok. Mungkin sudah waktunya kamu melakukan pendekatan sama Mama."
Zakia terbelalak dan memiringkan tubuhnya menghadap Arsenio. "Apa? Pendekatan? Aku tidak mau. Sepertinya antara aku dan Mamamu tidak akan terjadi hal yang seperti itu."
Arsenio menghela nafas dan mencoba tersenyum lagi. "Baiklah, sayang. Aku cuma berharap kamu bisa dekat dengan Mama suatu hari nanti."
Zakia memicingkan matanya menatap Arsenio.
"Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu?"
__ADS_1
"Kamu jangan bilang sudah punya perasaan ya dengan pelakor itu?"
Arsenio mengernyit. Matanya melirik sana melirik sini memikirkan perkataan Zakia, lalu meletakkan jari telunjuknya didagu. "Pelakor itu apa?"
Gubrak! Zakia jadi pusing. Bahkan suaminya tidak tahu apa istilah pelakor itu? Astaga! Pantas saja suaminya mudah dibohongi olehnya.
"Haha, sudahlah, kamu tidak akan mengerti kalau aku jelaskan. Yang penting aku begitu membenci gadis itu. Karena dia sudah berani mengambil kamu dari aku!" ucapnya sinis.
Arsenio membelai rambut Zakia lagi. "Sayang, kamu percayakan sama aku? Aku benar-benar tidak ada perasaan apapun sama Danika."
Zakia melirik tajam Arsenio. "Lihatlah! Bahkan kamu tahu nama dia!"
Arsenio lagi-lagi menghela nafas. "Sudahlah, sayang. Lebih baik kita tidak usah bahas apapun, ya?"
Zakia tidak menjawab ucapan Arsenio. Sejujurnya dia sudah tidak tahan melancarkan aksinya segera untuk membinasakan Mama mertuanya dan menantunya yang baru itu.
.........******........
Danika hari ini pulang agak telat. Terlihat mansion itu sepi. Hanya ada beberapa pelayan dan pengawal yang berlalu lalang di sana sambil sesekali menyapa dan tersenyum ramah padanya.
"Mama ke mana? Apa ada di kamar, ya? Mungkin lagi istirahat," gumamnya.
Danika segera masuk lift dan memencet lantai di mana kamarnya berada. Dia bersyukur di mansion suaminya ini tersedia lift, meringankan langkahnya yang sudah lelah karena memakai heels.
'Inginnya sih gue terbang, jadi angel gitu. Amboi!'
Sebelum masuk ke kamarnya, Danika melirik kamar suaminya yang begitu hening. Seketika wajahnya jadi murung.
'Hah, kenapa gue harus murung dan sedih, sih? Bukannya gue sudah tahu kalau cinta gue gak berbalas? Hah, si Arseniot itu pun gak tahu juga kan kalau gue mulai jatuh cinta sama dia? Dia tahunya apa? Tahunya cuma marah-marah sama gue! Motong gaji gue! Huh, dasar singa!'
Dari pada bermonolog dalam hati terus, Danika langsung saja masuk ke kamar, merebahkan tubuhnya yang lelah. Masih teringat bagaimana kata-kata Azka tadi padanya dimobil.
'Lo orang baik, Ka. Gimana pun gue dulu suka sama lo, gue tetap saja gak pantas buat lo. Walau gue jadi janda sekalipun nanti, gue harap lo sudah nemuin orang yang pantas dan sesuai buat lo.'
Danika tersenyum. Tiba-tiba kepalanya mendadak pusing, dan perutnya seakan-akan ingin memuntahkan seluruh isinya.
"Aduh! Gue kenapa?"
Apa yang terjadi dengan Danika? Serius tidak tahu? Sama! Wkwk.
..............******...............
__ADS_1