
Sore hari ini, udara agak terasa lebih sejuk. Dikarenakan awan putih yang menghiasi langit biru, perlahan digeser oleh awan mendung.
Rintik-rintik mulai turun membasahi permukaan bumi yang lumayan kering. Sudah lama sekali memang tidak hujan.
Melihat hujan mulai turun, Danika jadi gatal ingin mandi hujan. Tapi apa daya, nanti dia diketawain lagi sama orang . Hiii, sudah dewasa malah mandi hujan.
"Ke kamar Mama aja, deh! Daripada melamun gak jelas begini."
Danika keluar dari kamar. Setelah menutup pintu, dia menatap sebentar pintu kamar Arsenio. Senyum simpul Danika sebelum beranjak pergi.
Arsenio agak pulang terlambat hari ini. Ada pembukaan galery oleh salah satu koleganya, yang digelar di salah satu kawasan elit di kota ini.
Koleganya ini, begitu sangat suka melukis. Jadi, dia akan memamerkan hasil lukisannya malam ini. Dan Arsenio diundang sebagai tamu kehormatan.
Sesampainya di kamar Mama Lena, ternyata Mama Lena malah mau keluar.
"Baru aja Mama mau ngajak kamu, sayang."
"Ngajak ke mana, Ma?"
"Mama ingin duduk di teras. Temani Mama, yuk?"
Danika tersenyum dan mengangguk. Dia menuntun Mama mertuanya menuju teras. Mama Lena duduk di kursi santai yang sudah disediakan oleh pelayan.
"Mama dingin, gak? Nika ke dalam sebentar ngambil selimut sama minyak kayu putih, ya?"
Danika langsung berlari ke dalam mengambil barang-barang itu. Dia tidak mau Mama mertuanya kedinginan.
Danika meletakkan selimut yang baru dia ambil itu ke atas perut Mama Lena. "Kalau sudah terasa dingin, kita masuk ya, Ma?"
Mama Lena tersenyum. "Iya, Danika akyu sayang."
Danika terkekeh. Dia kemudian duduk di bawah, membalurkan minyak kayu putih ke telapak kaki Mama Lena.
Ada rasa syukur di dalam hatinya. Setidaknya, walau belum bisa berbakti pada Ibunya, dia akan belajar berbakti pada Mama mertuanya.
'Panjang umur, Ma. Biar kita nongkrong di cafe, Ma.'
Suara mobil sport terdengar memasuki pelataran parkir mansion. Mobil itu mengkilap, pemirsa. Warna merah menyala dan mengkilat menambah kesan mewah mobil itu.
Mama Lena mengernyit. "Eh, mobil siapa itu?"
Danika menoleh, mengikuti arah mata Mama Lena. 'Amboi! Cantik banget mobilnya. Kalau gue naik mobil itu keren juga kali, ya? Naik aja! Gak usah nyetir. Kalau nyetir, serahkan sama supir, wkwk.'
"Apa Arsenio beli mobil baru? Apa dia mau buka show room mobil di rumah ini?" ucap Mama Lena.
Danika dan Mama Lena langsung membelalak ketika jawaban dari pertanyaan mereka muncul dari dalam mobil.
Mama Lena langsung memonyongkan bibirnya. "Astaga! Ternyata dia! Berarti dia minta belikan Arsenio mobil lagi!"
__ADS_1
Danika yang semula memperhatikan Zakia yang turun dari mobil, spontan menoleh dan menatap Mama Lena. Apa? Dibelikan mobil? Kan, kan, hati Danika terserang keraguan lagi.
Danika terkekeh dengan miris tanpa sepengetahuan Mama Lena.
'Tuh, kan. Ternyata rasa ragu gue terjawab. Mana mungkin Mas Arsenio bisa langsung suka sama gue. Dia aja begitu sangat mencintai Mbak Zakia. Tengoklah, we. Mbak Zakia minta mobil baru yang mahal aja langsung dijabanin sama dia.
Haaah, apaan sih gue? Semalam kan, gue udah dibeliin jajanan sama Mas Arsenio. Seharusnya udah cukup. Jangan serakah! Tapi kalau besok-besok gue mau serakah, gue minta juga ah, mau minta helikopter gue! Amboi!'
Melihat Mertuanya dan madunya itu sedang duduk di teras sembari menatapnya, senyum smirk Zakia langsung muncul. Zakia mendekati mereka.
"Halo, Ma."
Mama Lena memasang wajah kesal. "Zakia, kamu minta dibeliin mobil lagi sama Arsenio?"
Zakia mengangkat kedua alisnya. "Memang iya. Kenapa? Mama kan sudah tahu kalau Arsenio itu sayang banget sama aku."
Mama Lena mendengus. "Huh! Sayang dari mana? Dari lobang hidung?"
Zakia mengangkat alisnya sebelah. Wajah sinis nya langsung tercipta dengan seiring alisnya terangkat. "Buktinya, apapun yang aku minta selalu dia turutin."
Zakia melirik dan menatap tajam Danika yang malah memasang senyum jahil. Danika bangkit berdiri, gak enak juga nonton pertunjukan Zakia kalau sambil duduk. Hoho.
"Mama coba lihat dia! Dia ada dibeliin apa sama Arsenio? Bahkan Arsenio sangat membenci dia!"
Mama Lena mendengus. 'Huh! Matamu itu Arsenio benci sama Danika. Memang ada gilanya perempuan ini!'
"Hei, kamu!" Zakia menunjuk ke arah wajah Danika.
Zakia menghembuskan nafas kasar. Rasanya dia sudah benar-benar ingin menampar gadis di depannya ini.
"Asal kamu tahu, ya?"
"Iya, aku tahu, kok!" Danika menatap ke atas sambil mengedikkan bahu. Mencoba mempermainkan Zakia.
Tangan Zakia mengepal geram. "Kamu itu hanya dijadikan pembantu sama Arsenio. Kamu itu hanya dijadikan sebagai pengurus Mamanya yang sudah sakit-sakitan ini."
Mama Lena melotot dengan sempurna. "Apa kamu bilang!" Mama Lena sudah mau bangkit aja dari duduknya untuk menggampar muncung tidak berguna Zakia.
'Enak aja dia bilang aku sakit-sakitan! Apa matanya buta, gak bisa lihat aku masih segar, bohai dan imut. Huh! Dasar menantu kurang ajar!'
Danika langsung khawatir. Mama mertuanya jangan sampai marah-marah. Bisa-bisa sakit jantungnya akan kambuh lagi. Dengan secepat kilat, dia mencegah Mamanya untuk bangkit. Dia mengedipkan matanya pada Mama Lena. Kemudian menatap Zakia sambil menaikkan alisnya sebelah.
Danika tersenyum dengan wajah jahilnya. "Oh, benarkah, Mbak? Mas Arsenio bilang begitu, ya? Tapi bagus sih, kalau begitu. Jadi aku bisa dekat sama Mama. Kan jarang ya, kan? Ada menantu yang dekatnya seperti kami ini. Ya, kan? Ya, kaaaaan? Apa Mbak Zakia gak pernah dekat sama Mama, seperti aku ini, ya?" Danika menaik turunkan alisnya pada Zakia.
Zakia yang sudah menahan emosi, menghentakkan kakinya. "Huh! Dasar gila! Akan aku adukan kamu sama Arsenio!"
Zakia segera pergi meninggalkan dua orang yang memang gila itu. Itu sih menurut dia.
Danika melambai-lambaikan tangannya. "Babaaaaay."
__ADS_1
'Boleh gak sih gue bilang beeee eeeeem parah oing-oing, ngik! Masa gue, wanita paling cantik di muka bumi ini dibilang gila? Huh! Roaaar. Eh! Kok gue jadi ikut-ikut kayak Mas Arsenio? Jangan-jangan siluman singanya pindah ke gue lagi! Tidaaaaak!'
Mama Lena cekikikan melihat tingkah Danika menghadapi Zakia. Mama Lena juga tidak menyangka sikap Zakia semakin keterlaluan.
"Sayang, kamu kok bisa biasa aja sih ngadapin setan kayak Zakia itu? Seharusnya kamu lawan, dong!"
Danika tersenyum, dia kembali duduk di bawah. Membuka tutup botol minyak kayu putih, dan membalurkan ke kaki yang belum sempat dia beri minyak.
"Ngapain balasin Mbak Zakia, Ma? Bukannya kalau kita balas perlakuannya, kita sama dengan dia? Lagi pula, kalau Mbak Zakia memang setan, tinggal baca ayat kursi aja, kan gampang."
Mama Lena sok berpikir. Dia ketuk-ketuk dagunya mengunakan jari telunjuknya. Padahal otaknya nge-blank, gak punya pikiran sama sekali, wkwk.
"Hem, yang kamu bilang memang benar, sayang. Seharusnya Mama bisa tahan emosi tadi. Duh! Mama gak teringat pula untuk baca itu, hehe."
"Mungkin sikap Mbak Zakia begitu, karena kesal sama Nika, Ma."
"Iiihh, kesal kenapa pula?" tangan Mama Lena sekarang sibuk mengorek-ngorek lobang hidungnya, menemukan harta karun di sana. Astaga, Mama Lena.
"Yaaa, kan Nika tiba-tiba hadir dan jadi duri di pernikahan mereka."
'Duh, kok nyesek gue bilang begitu? Apa iya, orang cantik kayak gue ini jadi duri? Hem,'
Mama Lena memasang wajah tidak suka mendengar ucapan menantu kesayangannya ini.
"Nika, kamu dan Arsenio menikah itu karena memang sudah berjodoh."
Mendengar ucapan Mama Lena pun, entah kenapa tidak bisa membuat hatinya tenang. Danika malah semakin murung.
Mama Lena menghela nafas. "Nika, temani Mama, yuk?"
Danika mendongak, menatap Mama Lena. "Temani ke mana, Ma?"
"Ke dukun!"
Danika membelalak. "Hah? Ke dukun? Ngapain, Ma? Jangan bilang Mama mau pake susuk!"
Bibir Mama Lena mencebik. "Iiih, ngapain! Mama udah cantik jelita, ngapain pake susuk."
Danika mengernyit tidak mengerti. "Jadi Mama mau ngapain?"
"Mau nyantet Zakia!"
Danika tersentak kaget, mulutnya sampai terbuka. "Astaghfirullah, Ma! Istighfar, Ma.
"Udah tadi baru aja!" ucap Mama Lena santai, sambil kembali mengorek-ngorek lobang hidungnya.
Danika menepuk jidatnya, lalu terkekeh.
'Sepertinya, gue dan Mbak Zakia bakal gak bisa jadi teman. Huuuft. Begini resiko jadi yang kedua. Mungkin sampai kapanpun, Mbak Zakia gak akan terganti di hati Mas Arsenio. Ooh Mas Arseniot ku.'
__ADS_1
...........****............