Jadi Istrinya?

Jadi Istrinya?
Bab ~ 18


__ADS_3

Arsenio sudah mulai frustasi. Dia tidak menyangka kalau Zakia sudah marah dan merajuk melebihi anak kecil. Tarik nafas buang nafas, dia berusaha lagi membujuk sang pujaan hati.


Arsenio berjongkok dan membelai rambut Zakia. "Sayang, dengarkan aku,"


Zakia menoleh dan melotot pada Arsenio. "Apa lagi yang ingin kamu bicarakan, hah? Belum cukup kamu dan Mamamu itu menyakitiku?"


Zakia memukuli dada Arsenio dengan membabi lihat, iya lah bisa lihat, kalau tidak bisa lihat tidak tepat sasaran, wkwk. Arsenio membiarkan dadanya dipukuli, tapi lama-lama sakit juga. Arsenio menangkap tangan Zakia dan langsung menarik istrinya itu ke dalam pelukannya.


"Zakia, aku sangat mencintaimu. Aku menikahi gadis itu karena janji yang dibuat oleh Mama."


Arsenio kemudian menceritakan awal mula dia bisa menikah dengan Danika. Dari awal saja Zakia sudah muak sekali mendengarnya.


'Kurang ajar! Semua ini berkaitan dengan Mamanya yang gila itu! Huh! Bodoh sekali aku! Kenapa tidak aku racuni saja dia sejak lama!'


Padahal Zakia sendiri sudah menduakan Arsenio, tapi entah kenapa ketika Arsenio sudah menikah lagi begini, ada perasaan tidak rela dihatinya. Bagaimanapun juga Arsenio adalah suaminya yang sah.


Saat Arsenio merasa Zakia sudah mulai tenang, dia mengajak Zakia untuk duduk di ranjang. Arsenio pandangi lagi wajah Zakia yang cantik dan mulus karena rajin melakukan perawatan itu. Dia tangkup wajah Zakia dengan tangannya.


"Anggap saja ini hanya badai dalam pernikahan kita, Zakia. Kamu tahu 'kan badai akan secepatnya berlalu. Pernikahanku dengan Danika hanya sementara. Aku akan memilih waktu yang tepat untuk menceraikannya."


Mata Zakia berbinar mendengar ucapan Arsenio. "Benarkah itu? Tapi kamu benar-benar janji jangan sampai kamu suka sama dia! Apalagi sampai tidur sama dia!" Zakia cemberut sambil bersedekap dada, membuat Arsenio gemas.


Arsenio mendekat dan mengecup kening Zakia. "Aku janji, sayang. Lagi pula aku tidak akan melakukan itu padanya. Aku hanya mencintaimu. Hanya kamu."


Arsenio semakin mendekat dan mulai memiringkan kepalanya untuk mencium bibir Zakia. Adegan selanjutnya pun terjadi. Setelah puas melakukan apa yang ingin Arsenio lakukan, dia langsung tertidur dengan lelapnya.


Zakia memandangi wajah suaminya itu. "Walau aku mendua, rasa cintaku masih ada padamu, Arsen. Aku tidak rela kamu dimiliki oleh orang lain. Apalagi yang menyuruh kamu menikah lagi itu Mama kamu sendiri. Akan aku buat perhitungan nanti padanya." Zakia menunduk sedikit dan membelai wajah Arsenio. "Kamu jangan marah, ya?"

__ADS_1


Setelah berbicara seperti itu, dia tertawa dengan jahatnya. "Hah, pekerjaanku semakin bertambah saja. Sekarang aku harus memusnahkan 2 orang. Huh! Menyebalkan sekali!" Alisnya naik sebelah persis seperti peran antagonis di dalam televisi itu.


Zakia tiba-tiba lapar, dia kemudian segera memakai bajunya dan turun ke bawah. Dia akan menyuruh pelayan memasakkan sesuatu untuknya. Tapi tibanya sampai di dapur, matanya mendelik dan alisnya naik sebelah saat melihat madunya sedang sibuk memakan apel di meja dapur. Rasanya Zakia lelah untuk 'menyambut' madunya itu. Dia pun berbalik hendak pergi, tapi..


"Mbak Zakia."


Zakia dengan muka eneg berbalik menatap madunya yang sedang tersenyum manis itu padanya.


Danika menghampiri Zakia. "Mbak, a..aku mau minta maaf."


Lagi-lagi alis Zakia terangkat sebelah. "Minta maaf karena telah mengambil suamiku?"


Danika terperanjat. "Maafkan aku, Mbak. Bukan maksudku untuk mengambil suami Mbak Zakia. Mungkin sudah takdirnya kami berjodoh."


Danika tersenyum tulus. Dari dalam kamar sesudah bangun tidur tadi dia selalu berpikiran yang baik-baik tentang Zakia. Mau bagaimanapun, dia sudah jadi istri sekarang. Ya walaupun entah istri yang bagaimana nantinya.


Danika begitu terkejut mendengar kata-kata Zakia. Apakah semua itu benar? Kok hatinya merasa sakit, ya?


"Apa? Kenapa? Terkejut? Kasihan sekali kamu adik maduku! Dinikahi hanya untuk disakiti!" Zakia melangkah maju dan menyenggol bahu Danika dengan sengaja. "Sudah sana pergi! Aku mau makan! Aku tidak mau ada parasit yang akan membuat selera makanku hilang!"


Zakia terus melangkah untuk memanggil pelayan, sedang Danika masih terpaku ditempat dia berdiri. Tak terasa air matanya luruh begitu saja. Danika memejamkan matanya sejenak dan menarik nafas dalam-dalam sebelum pergi dari sana.


'Dasar Zakia hantu! Kuntilanak! Mak Lampir! Gerandong! Hah, kenapa aku sedih? Aku harus kuat! Harus kuat!'


Saat dia sudah sampai di kamarnya dan membuka pintu, tak sengaja matanya melirik ke arah kamar suaminya. Pintu kamar itu terbuka sedikit. Danika mengernyit.


'Apa sih Gerandong tadi lupa menutup pintunya?'

__ADS_1


Tiba-tiba hati Danika tergelitik untuk mengintip seperti apa kamar suaminya itu. Krieek, pintu itu Danika buka pelan-pelan. Dia mengedarkan pandangannya ke setiap inci kamar itu, dan deg! Matanya jatuh pada pria tampan yang sedang tertidur pulas tertutup selimut hingga dada.


Entah kenapa pikiran Danika mulai menerawang jauh, matanya sibuk mencari sesuatu di bawah ranjang. Dan benar saja, baju Arsenio sudah berserak di sana. Hah! Danika menghela nafas.


Tidak ada angin tidak ada hujan, mata Danika malah tertuju pada tubuh Arsenio yang tertutup selimut itu. Dia terkekeh.


'Aduh buset! Kenapa mataku tiba-tiba gatal begini? Intip-intip tidak apa-apa kali, ya? Kan dia suamiku. Syudah halal, eaaak. Kikikik.'


Danika berjalan perlahan-lahan mendekati ranjang. Dengan hati-hati dia menyibakkan selimut itu. Pelan-pelan, hingga tampak sesuatu yang berbulu di sana. Danika langsung sontak menutup matanya dan menjatuhkan selimut itu. Dengan mata tertutup Danika buru-buru keluar dari kamar Arsenio, dan dug! Kepalanya membentur kusen pintu.


"Ish, kurang ajar!" Danika memukul kusen itu berkali-kali dengan kesal. Sebelum Arsenio bangun, Danika segera melarikan diri ke kamarnya, menutup pintu dan menguncinya.


Dada Danika berdebar-debar. Dia seperti pencuri yang takut ketahuan oleh yang dicuri. Awal mulanya dia terkekeh sendiri dengan tindakannya yang mengintip aset berharga Arsenio. Ya, walau tidak seluruhnya dia intip, sih. Tapi tiba-tiba kekeh nya itu hilang begitu saja dan menjadi de-sahan sedih Danika.


Danika melirik pintu yang ada balkonnya. Dengan segera dia membuka pintu itu dan berdiri di sana. Merasai angin malam yang menerpa wajahnya. Danika memejamkan matanya sejenak lalu membukanya kembali untuk memandangi gedung-gedung yang berdiri tegak dari kejauhan itu.


"Haaah, seharusnya Mas Arsenio menghabiskan waktunya dengan gue. Karena ini merupakan malam pertama kami sebagai suami istri. Kenapa ada rasa kecewa di hati ini melihat Mas Arsenio malah memilih menghabiskan malam itu dengan istrinya yang lain? Apakah memang benar yang dikatakan Mbak Zakia, kalau Mas Arsenio membenci gue? Tapi dilihat dari ketusnya dia bicara, memang iya, deh! Bodoh amat! Gue akan berusaha buat jadi istri yang baik mau dia terima atau tidak. Gue akan berusaha sampai gue lelah sendiri. Oh, begini banget nasib gue! Syukuri saja lah."


Air mata Danika lagi-lagi turun. Dengan kesal dia menghapus air mata itu dengan kata-kata keramatnya.


.................*****...................


Halo pembaca aku yang manis,


Please sebelum baca, like dulu yaw?


Setelah selesai baca, baru bisa di komen, hehe. Jangan lupa vote dan subscribe nya ya?

__ADS_1


Sarangheo, wkwk. Salam hangat dari iLs Dydzu 💐❤️


__ADS_2