Jadi Istrinya?

Jadi Istrinya?
Bab ~ 17


__ADS_3

Di mansion, Zakia berjalan mondar-mandir dengan gelisah. Sejak dia pulang ke mansion ini, dia merasa heran. Arsenio dan mertuanya yang aneh itu tidak ada.


Zakia mengernyit. "Kemana mereka? Sebenarnya mereka ada rencana apa, sih? Sehingga sering sekali pergi bersama tanpa mengajakku!"


Hatinya semakin panas saja saat dia bertanya dengan para pelayan ataupun bodyguard yang tidak tahu menahu di mana keberadaan suaminya.


"Apakah mulut mereka sudah ditutup oleh mertuaku? Kurang ajar! Suatu hari nanti aku akan membuatmu celaka, Mama mertua!" dia begitu gelisah sehingga memilin-milin ujung jarinya.


Tok..tok.. pintu kamar Zakia terketuk.


"Siapa?"


"Saya, Nyonya!"


Zakia dengan enggan membukakan pintu. "Ada apa?"


"Egh, saya cuma ingin bilang kalau Tuan Arsenio dan Nyonya besar sudah pulang!"


Senyum terbit dari bibir Zakia. "Baiklah, aku akan turun ke bawah."


Wajah pelayan itu tampak tidak enak. Dan itu tak luput dari pandangan Zakia.


"Ada apa? Apakah semua baik-baik saja?"


"Tu..tuan Arsenio.." ucap pelayan itu terbata-bata. Dia merasa tidak enak menyampaikan hal ini pada majikannya.


"Sebaiknya kamu kembali bekerja, aku akan segera menemui suamiku."


Zakia langsung membenahi penampilannya sebelum menemui suaminya. Dengan perasaan riang dia menuruni satu persatu anak tangga. Tapi tiba-tiba langkah kakinya terhenti saat matanya menatap suaminya di depan pintu.


Matanya melebar memperhatikan penampilan suaminya. Dan suaminya itu hanya bisa menghembuskan nafas dengan frustasi.


Jas? Peci? Dan kalung bunga pengantin?


Dada Zakia bergemuruh, dan semakin menjadi-jadi saat wanita lain terlihat dari balik punggung suaminya. Zakia menggelengkan kepalanya tidak percaya, dia mundur perlahan. Arsenio memejamkan matanya sejenak. Inilah yang dia takutkan, menyakiti perasaan istrinya.


"Sayang.." panggil Arsenio pelan.

__ADS_1


Danika menatap wajah Arsenio di sampingnya lalu beralih menatap wajah madunya yang ada di depan. Dia seperti orang syok. Dan entah kenapa Danika merasa jadi tidak enak.


"Kamu jahat, Arsen! Kamu jahat!" Zakia berteriak dan langsung berlari ke kamar dengan berderai air mata.


"Sayang!" Arsenio segera mengejar Zakia.


Adegan kejar mengejar pun terjadi. Danika hanya bisa diam mematung menyaksikan ini semua. Dia menghela nafas sedih. Entah kenapa tidak ada kebahagiaan sedikitpun yang dia rasakan saat ini walaupun hanya secuil.


Mama Lena yang baru saja tiba di mansion mendadak heran melihat menantu kesayangannya hanya berdiri di depan pintu.


Mama Lena mengernyit dan segera menghampiri Danika. Kemudian dia memegang pundak Danika yang menunduk. "Ada apa, sayang? Kenapa tidak masuk? Mana suamimu? Enak sekali dia tidak menyuruh istrinya masuk!"


Mama Lena langsung saja mengeluarkan ceramahnya tanpa jeda nafas. Dia pun ngos-ngosan kemudian.


Danika menoleh dan menatap Mama Lena. "Mas Arsenio sedang membujuk Mbak Zakia, Ma. Mbak Zakia sepertinya marah," ucapnya dengan tidak enak.


Mama Lena memanyunkan bibirnya. "Oh, jadi dia sudah pulang dari acara berliburnya dengan.." Mama Lena melirik pada Danika yang sudah ingin mendengarkan ucapan dia selanjutnya.


"Dengan siapa, Ma? Duh, Nika jadi tidak enak begini, Ma. Sepertinya Nika salah sudah menikah dengan Mas Arsenio." Danika menghela nafas sedih. Jujur saja, dia seperti pelakor jadinya.


Mama Lena menghela nafas. Dia memegang pipi kanan Danika. "Kamu tidak salah, sayang. Sebenarnya, dan seandainya kamu duluan yang bertemu dengan Arsenio, pasti kamu yang jadi istrinya. Lagi pula, ini sudah takdir kalian berdua, kalau kalian memang berjodoh."


Mama Lena tersenyum. Dia mengangkat dagu Danika dengan tangannya. "Kamu tidak tahu seberapa senangnya Mama saat bertemu denganmu, Nak. Kamu tidak tahu mengemban janji itu tidak mudah. Mama juga tahu ini bakalan tidak mudah untuk kamu dan Arsenio. Tapi Mama mohon, lakukan ini untuk Mama, ya?"


Danika menatap Mama Lena dengan berkaca-kaca. Dan dengan dorongan dari hati, Danika memeluk Mama mertuanya itu dengan erat sambil terisak. Oh, seperti inikah rasanya memeluk orang tua lagi? Sudah lama dia tidak merasakan ini.


Mama Lena dengan mengharu biru dan rasa sayang mengusap kepala Danika. "Kamu ke kamar, ya? Kamu pasti lelah."


"Tapi, Nika tidak tahu di mana kamar Nika, Ma?"


Mama Lena menepuk jidatnya. "Astaga, kenapa Mama lupa! Ya sudah ayo Mama antar!"


Mama Lena menggandeng lengan Danika dan menunjukkan kamarnya. Yang membuat Danika meringis, kamarnya tepat di depan kamar Arsenio dan Zakia. Dan ternyata masih ada perang dunia ke 4 antara suami istri itu.


"Sudah! Kamu tidak usah dengerin mereka. Sebenarnya ada hal yang ingin Mama bicarkan sama kamu. Tapi nanti saja, deh! Lebih baik kamu istirahat ya, sayang? Semua keperluan kamu sudah Mama siapkan di dalam. Tapi kamu ngotot ingin membawa semua barang kamu ke sini."


Danika terkekeh malu sambil mengusap tengkuk kepalanya. "Maaf, Ma."

__ADS_1


Mama Lena terkikik, kikikik. "Ya sudah, kamu masuk. Mama juga akan istirahat. Mama juga butuh istirahat yang cukup agar tetap cantik ulala."


Cantik ulala? Apa pula itu? Semakin dekat dengan mertuanya, semakin lucu rasanya. Begitu menghibur Danika.


"Ayo cepat masuk kamar sana!" Yang mulia Mama Lena sudah memberi titah.


Danika tersenyum dan mengangguk. "Terima kasih, Ma."


Mama Lena tersenyum dan segera melesat meninggalkan Danika. Sebelum dia membuka pintu kamar, Danika sempat terdiam dan memandangi sejenak pintu kamar suaminya. Masih terdengar keributan di sana. Danika menghela nafas.


Pintu kamar Danika terbuka. Danika sempat tercengang dengan yang ada dikamar itu. Tempat tidur size king, sofa mahal, ada televisi ukuran besar.


Tanpa aba-aba dan perintah, Danika langsung melompat ke kasur itu dengan posisi telungkup. Tangannya mengusap-usap ranjang yang begitu empuk dan lembut itu. Dia pun terkekeh sendiri.


"Duh, nyaman banget. Begini rupanya jadi orang kaya?"


Belum lagi sampai 10 menit Danika berbaring, matanya sudah terpejam saja. Entah karena kelelahan, entah karena dia tidak bisa tidur tadi malam. Yang pasti ini adalah tidur terbaik bagi Danika.


..................*****..................


"Kamu tega, Arsen! Kamu menikah lagi tanpa ijin dan tanpa sepengetahuanku!" Zakia mengacak-acak rambut indahnya. Hal itu membuat hati Arsenio teriris.


"Zakia, maafkan aku. Aku tidak bisa membantah ucapan Mama."


Arsenio mendekati Zakia yang sudah menangis tersedu-sedu didekat ranjang mereka. Tangannya terulur untuk mengusap kepala Zakia dan ingin menarik istrinya itu ke dalam pelukannya, tapi Zakia sepertinya masih begitu marah padanya, terbukti dengan tepisan tangan Zakia yang kuat.


Mendengar kata 'Mama', membuat Zakia semakin naik darah. Dia menatap Arsen dengan tajam.


"Sayang..." Arsen berusaha sekali membujuk istrinya.


Zakia bangkit dari duduknya, sontak Arsenio pun ikut bangkit. Zakia menarik paksa kalung pengantin yang Arsenio kenakan. Byuurrr, bunga-bunga itu lantas berserakan dilantai.


"Aku membencimu, Arsenio! Aku benci kalian semua!"


Zakia luluh lantak ke lantai, alias ngesot dan melanjutkan tangisannya yang entah sudah berapa episode. Banyak bener dah simpanan air matanya.


"Zakia, sayang!" lirih Arsenio. Entah kenapa dia tidak bisa melakukan apapun saat ini.

__ADS_1


................******.................


__ADS_2