
Adul melirik-lirik Danika yang pura-pura sibuk membuka file. 'Nika, kenapa sih? Apa lagi boikotan sama Suaminya?'
Dan akhirnya dia yang mengajukan diri untuk menyampaikan ada kegiatan meeting bersama kolega Arsenio.
"Tuan, hari ini, sekitar satu jam lagi, kita ada pertemuan di hotel Grand Swiss untuk membahas pembangunan Mal yang ada di Surabaya."
Arsenio tidak bergeming. Matanya sibuk memperhatikan Danika yang sok sibuk sendiri itu. Arsenio mengulum senyum. Dia sedikit geli dengan tingkah Istrinya.
'Ah, apakah dia cemburu karena aku pergi dengan Zakia kemarin? Duh, menggemaskan sekali!'
Adul hanya bisa terbengong dan pasrah dengan keadaan yang sedang terjadi. Dia kembali memberitahukan kegiatan yang harus Arsenio lakukan hari ini.
"Tuan,"
Arsenio tersentak. "Eh, iya!"
"Sekitar satu jam lagi, kita ada meeting di hotel Grand Swiss, Tuan."
Arsenio tampak berpikir. Dan senyumnya langsung terbit ketika otaknya sudah menemukan ide. Sedang Adul sudah takut-takut.
'Yakin banget gue, pasti gue yang disuruh pergi ke pertemuan!'~ Adul.
"Bagaimana kalau kamu saja yang menghadiri pertemuan itu. Sepertinya, saya kurang enak badan." dengan wajah tanpa dosa, yang mulia Arseniot memberi titah.
Adul ilfil. 'Tuh, kan! Benar! Bilang aja kalau Anda mau berduaan dengan Nika. Baiklah.'
Danika mengangkat wajahnya dan menatap Suaminya. 'Apa tadi Mas Arsenio bilang? Gak enak badan?'
Mau bagaimana juga, Arsenio kan Suaminya. Dia juga tetap khawatir mendengar Arsenio tidak enak body.
"Baiklah, Tuan. Kalau begitu, saya berangkat sekarang."
Arsenio mengangguk. "Hem,"
Adul kembali ke meja dia dan Danika. Dia mengemasi berkas-berkas yang akan dibawa.
Danika melirik-lirik Adul yang sudah tersenyum-senyum sembari menaik turunkan alisnya. Danika hanya membalasnya dengan memonyongkan bibir.
Sesudah Adul keluar dari ruangan, suasana canggung mulai Danika rasakan. Dia kembali menyibukkan diri, pokoknya.
Arsenio berdehem dan menatap objek lain. Danika mengangkat wajahnya dan mencuri-curi pandang pada Arsenio.
Ketika tahu Danika menatap dirinya, Arsenio membalas tatapan Danika. Danika spontan menurunkan pandangannya. Arsenio tersenyum-senyum.
"Ehm, Nika."
__ADS_1
"Iya, Mas?"
"Bisa buatkan saya kopi? Rasanya badan saya agak kurang fit. Minum kopi mungkin bisa meredakan sedikit pusing saya."
Danika mencebikkan bibir. 'Uh! Pasti alasan! Supaya gue peduli pasti tuh!'
"Baiklah, Mas."
Danika bangkit dari duduknya dan segera ke pantry, membuatkan kopi untuk Mas Arsenio yang ganteng aduhai, yang katanya lagi gak enak body itu.
"Silahkan, Mas."
"Terima kasih," ucapnya sambil tersenyum manis menatap Danika.
Danika mengerjapkan matanya. Entah kenapa, kalau terkena sikap manis Arsenio, Danika ingin pingsan saja rasanya. Amboi!
Arsenio tiba-tiba merubah ekspresi wajahnya seperti orang khawatir, ketika melihat kepala Danika. "Ehm, Nika. Itu di kepala kamu ada apa?"
Danika tersentak dan spontan mengusap kepalanya. "Hah? Memang ada apa di kepalaku, Mas?"
"Coba menunduk sedikit, biar saya lihat dengan jelas."
Danika menurut, dia menundukkan badannya sedikit mendekat pada Arsenio yang duduk. Dan muah, ciuman hangat mendarat di kening Danika.
Muah, kali ini bibir Arsenio sukses mendarat di bibir merah muda Danika. Danika mengerjap-ngerjapkan matanya.
'Gu..gue tadi dicium sama Mas Arsenio? Benar, gue dicium?'
Badan Danika terasa panas dingin. Matanya hampir saja tertutup karena dia ingin pingsan. Arsenio segera menepuk-nepuk pipi Danika agar kembali sadar.
"Nika, Nika."
Danika menggelengkan kepalanya, lalu berdiri dengan tegak. Danika memegang kepalanya yang tiba-tiba jadi pusing.
'Duh! Apa-apaan sih gue! Baru dicium aja udah panas dingin ingin pingsan. Gimana nanti pas malam pertama? Pasti gue langsung diinfus di Rumah Sakit!'
Melihat Istrinya seperti itu, Arsenio menjadi khawatir. Dia bangkit dan mendekati Istrinya.
"Danika, kamu kenapa? Pusing kepalanya?"
Danika menggeleng pelan. "Gak kok, Mas."
Danika mencoba melangkahkan kakinya, tapi kepalanya semakin pusing. Danika hendak jatuh, untung saja tangan kekar Arsenio sigap menangkap tubuh sang Istri.
Mereka saling tatap. Mata Danika berkedip-kedip mengagumi wajah tampan Arsenio. Dengan kumis tipis menawan hati, bibir berbentuk sedang yang bergerak-gerak karena tersenyum. Alis tebal beriring semut, mata coklat terang nan tajam yang mampu menembus dada hingga ke jantung, auuuw.
__ADS_1
'Apa gue pingsan aja kali, ya? Gue gak sanggup! Mas Arsenio ganteng bangeeet!'
Arsenio semakin gemas dengan tingkah bengong Danika yang terpesona dengan dirinya. Dia memajukan wajahnya dan dengan perlahan, bibirnya sudah sampai dibibir Danika.
Danika melotot seketika. Bukannya tadi Suaminya sudah mengecup bibirnya? Kenapa sekarang dikecup lagi? Minta tambah kali, ya?
Arsenio memejamkan matanya menikmati bibir kenyal Danika. Dia ******* bibir Istrinya itu. Sedang yang punya bibir sudah mirip seperti manekin, tidak tahu harus berbuat apa. Secara, Danika tidak pernah pacaran, apalagi berciuman seperti ini.
Tapi kok ya, lama-lama kok enak? Dipeluk sambil dicium begini kok ada rasa lain yang Danika rasakan ditubuhnya? Amboi! Rasa apakah itu? Apakah rasa yang pernah ada? Wkwk.
Danika pelan-pelan memejamkan matanya. Tangannya memeluk pinggang Suaminya. Danika dengan cepat bisa belajar membalas ciuman Arsenio.
'Ah! Ciuman aja, kecil sama gue! Gak pala sampai les privat, langsung nangkap otak gue gimana caranya. Wuahaha.'
Setelah mereka melepaskan bibir masing-masing, Arsenio mengusap lembut pipi Danika. Senyum tak pernah surut dari bibirnya.
Kalau Danika jangan ditanya lagi, dia masih belum paham dengan keadaan dan kondisi yang seperti ini. Jadi dia hanya bengong dan terpaku menatap indahnya ciptaan Allah berbentuk Arsenio ini.
'Mas, gue jatuh cinta sama Mas Arsenio.'
Mata Danika memanas, dia mengerjap-ngerjapkan matanya agar air mata tidak jadi turun. Arsenio mengernyit, dia pegang pipi Danika lalu ditabok. Salah, pemirsa.
Arsenio mengarahkan kepala Danika untuk menghadap dirinya. Lagi-lagi Arsenio tersenyum, sedang Danika siaga satu hampir cengap-cengap.
'Mas, apa bibir Mas gak capek senyum terus dari tadi?'
"Nika, saya suka sama kamu.'
Danika sesak nafas karena jantungnya berdetak dengan kencang. Tapi sebisa mungkin dia tahan segala gejolak dalam hati.
Danika rasanya ingin menangis. "Apa betul Mas suka sama aku?"
'Jujur aja ya, we? Gue tuh gak mau kecewa! Secara, Mas Arsenio seperti tergila-gila sama Mbak Zakia. Mana mungkin, dia bisa langsung suka sama gue? Memang apa yang udah gue bikin?'
Arsenio mengangguk. "Iya. Saya suka sama kamu."
Danika menunduk dengan perasaan campur aduk. "Tapi, Mas. Mas jangan buat Mbak Zakia kecewa. Mas pasti sayang dan cinta banget kan sama Mbak Zakia? Jangan buat dia kecewa, Mas." Danika memaksa untuk tersenyum. "terima kasih karena Mas sudah suka sama aku. Aku senang, Mas."
Danika dengan canggung perlahan menjauh dari Arsenio. Aneh saja rasanya. Apa iya, Suami bisa membagi hatinya untuk wanita lain? Ya, walaupun pada Istrinya yang lain?
Arsenio sedikit kecewa Danika menjauh darinya. 'Kenapa? Apa aku salah? Aku memang sudah menyukainya. Aku jatuh cinta padanya. Aku jatuh cinta bukan karena dia menyayangi Mama aja, aku jatuh cinta apapun yang ada pada diri Danika. Hem, sepertinya aku harus sedikit berusaha.'
Doakan aku, ya? ~ Arsenio.
...........******...........
__ADS_1