Jadi Istrinya?

Jadi Istrinya?
Bab ~ 37


__ADS_3

Adul semakin grogi dan takut ditatap terus oleh sang Bos. Keringat jagung sudah muncul di keningnya.


"Saya tanya sekali lagi, ke mana Danika?"


"Dia.."


Arsenio memicingkan mata. Adul melirik sekilas ke arah Arsenio lalu menunduk lagi.


'Duh, Nika! Gara-gara lo gue dalam masalah, nih!'


"Sebenarnya kalian punya hubungan apa? Saya lihat kalian begitu dekat? Apa kalian punya hubungan yang serius?"


Adul mengangkat wajahnya dan membulatkan mata mendengar pertanyaan Arsenio. Sedang Arsenio juga melakukan hal yang sama. Dia juga terkejut dengan pertanyaannya sendiri.


'Eh, apa-apaan aku?' ~ Arsenio.


'Kenapa Tuan Arsenio nanya begitu? Apa dia hanya ingin tahu? Seandainya kalau gue ada hubungan dengan Nika, kenapa juga dia sibuk ingin tahu? Jujur aja kali, ya? Dari pada gue kena masalah nanti.' ~ Adul.


"Sebenarnya, saya dan Nika adalah sahabat sedari SMA, Tuan." Adul menatap sekilas Arsenio, lalu menunduk lagi.


"Apakah dengan teman Danika yang bernama Reni itu juga?"


"Iya, Tuan."


Arsenio bangkit dari duduknya. Dia kemudian berjalan mengitari meja dan menyandarkan tubuhnya di sana. Sembari bersedekap dada, Arsenio menatap orang yang mengaku sahabat dari Istrinya ini. Afa? Lagi-lagi tanpa sengaja Arsenio menyebut Danika-Istri.


"Oh, benarkah? Hem, Danika itu orangnya bagaimana?"


"Dia baik, Tuan. Ceria dan juga pintar."


Arsenio manggut-manggut. "Oh, ya? Benarkah? Dan sekarang, sebagai sahabatnya, kamu tidak mungkin tidak tahu Danika ke mana? Iya, kan?"


'Eh! Kenapa aku ngebet sekali ingin tahu Danika ke mana. Biasanya juga kalau dia mau pergi, dia selalu ijin denganku? Apa karena lagi ada di kantor, ya? Danika tidak mau ijin jadinya. Apa jangan-jangan Danika pergi menemui lelaki? Atau jangan-jangan bertemu dengan Amar lagi? Ini tidak bisa dibiarkan!'


Melihat Adul ragu untuk bicara, membuat Arsenio mendadak kesal.


"Bilang saja. Saya tidak akan marah."


"Ehm, sebenarnya sedari kami SMA, kami punya misi, Tuan."


Arsenio mengernyit. "Hah? Misi? Misi apa?" 'Apakah misi bertemu dengan lelaki di luaran sana?'


"Misi berbagi, Tuan."


'Hah? Berbagi? Apakah Danika berbagi hati?'


Arsenio rasanya semain tidak sabar. Selain tidak sabar mendengarkan penjelasan Adul, dia juga sudah tidak sabar untuk mengetahui langsung misi yang dijalankan oleh Danika. Akan dia lakukan penyergapan kalau memang Danika melakukan yang tidak-tidak di belakangnya. Kalau Danika sampai melakukan itu, Mamanya pasti akan sangat kecewa. Entah dia entah Mamanya?

__ADS_1


Arsenio tanpa banyak kata langsung keluar dari ruangannya. Adul langsung segera menyusul sang Bos.


"Tuan, Tuan mau ke mana?" tanya Adul setelah berhasil mensejajari langkah tegap Arsenio.


"Antar saya ke tempat misi kalian itu."


"Hah? Apa?"


'Waduh! Gawat! Gak jadi misi rahasia lagi kalau begini.'


Tapi mau tak mau, Adul harus menuruti apa keinginan Bosnya itu. Terbukti dia juga ikut masuk ke dalam mobil Arsenio. Adul duduk tepat di samping Hans. Sedang Arsenio duduk dengan santai di jok belakang.


"Kamu beri tahu saja Hans."


"Baik, Tuan," jawab Adul.


"Oh, iya. Kamu jangan beri tahu Danika kalau kita akan ke sana."


Adul menelan salivanya. Dia melirik sebentar ke arah belakang di mana Arsenio duduk sambil memegang ponsel.


"Iya, Tuan."


Arsenio mengecek ponselnya. Terlebih mengecek WA yang ternyata banyak sekali pesan yang tidak dia buka. Entah kenapa, malas saja rasanya membuka pesan-pesan yang mungkin saja tidak penting.


Jari Arsenio lincah menggulir pesan itu, hingga tiba jarinya berhenti pada pesan yang di kirim Hans. Arsenio menatap sekilas Hans yang sibuk menyetir, lalu kembali sibuk dengan ponselnya.


Entah Arsenio dilanda amnesia atau apa, dia tidak ingat kalau sudah menyuruh Hans mengikuti Mamanya dan Danika waktu itu. Karena penasaran, Arsenio membuka pesan itu dan matanya berbinar saat pesan itu, berbentuk sebuah foto Danika dan Mamanya yang sedang saling tersenyum dan menatap.


Hans mengambil foto itu dari belakang Danika dan Mama Lena dengan jarak beberapa meter. Bahkan Hans harus men-zoom foto itu agar kelihatan jelas.


'Ah, Hans. Kau pintar sekali mengambil foto ini. Aku jadi terharu.'


Arsenio merasa aneh, dan ada rasa menggelitik di hati saat mengamati lama-lama Danika yang sedang tersenyum itu. Seutas senyum terbit dari bibir Arsenio.


"Sebentar lagi kita akan sampai, Tuan." Adul memberitahu Arsenio.


Arsenio tersadar dari pekerjaan barunya yaitu sibuk menatap foto Danika. Dia membuka kaca jendela mobil dan memperhatikan sekitar. 


"Di mana kita?" tanya Arsenio. Karena seumur-umur dia belum pernah ke sini.


Tempat yang mereka datangi ini termasuk sebuah perkampungan kecil. Dengan jalan aspal yang sudah berlubang-lubang. Rumah juga bisa dihitung pakai jari. 


"Aku juga belum pernah ke daerah ini, Bos," jawab Hans. Matanya juga sibuk memperhatikan rumah-rumah yang begitu sederhana. "sepertinya ini perkampungan, Bos."


Arsenio mengangguk lalu menatap Adul dengan tatapan curiga. "Memangnya kalian ngapain ke sini? Misi apa yang sedang kalian jalankan? Saya jadi curiga!"


Adul tersenyum penuh arti lalu menoleh sedikit ke arah Arsenio yang ada di belakang jok-nya. "Nanti Tuan juga akan tahu."

__ADS_1


Ketika mereka sudah sampai di simpang, Adul menyuruh Hans agar memarkirkan mobilnya di tepi jalan saja. Mereka akan jalan kaki sampai ke tujuan.


"Kenapa kita harus jalan kaki? Jangan-jangan misi yang kalian lakukan aneh-aneh lagi?" celetuk Arsenio sambil berkacak pinggang.


'Lihatlah! Bahkan kendaraan saja tidak ada yang lewat sedari tadi!' ~ Arsenio.


"Maaf, Tuan. Bukannya Tuan ingin tahu secara diam-diam misi yang sedang kami jalankan, ya?"


'Bukan misi kami sebenarnya yang ingin Tuan tahu, kan? Tapi misi Danika? Aneh! Kenapa Tuan Arsenio ingin tahu sekali tentang Nika?' ~Adul.


"Kapan saya bilang begitu?" ketus Arsenio.


Adul jadi salah tingkah. "Eh? Bukannya?"


"Sudah ayo kita jalan!"


"Baik, Tuan," jawab Adul dan Hans bersamaan.


Arsenio jalan duluan, sedang Adul dan Hans tepat di belakangnya. Mata Arsenio sedari tadi sibuk menyapu semua objek yang ada di sini. Jalan dari simpang tidak terlalu jauh. Jalan ini juga hanya muat untuk satu mobil, dan tidak beraspal pula.


Ketika sudah hampir sampai, Arsenio mengernyit melihat bangunan yang tak pala begitu besar, seperti rumah biasa pada umumnya. Matanya memicing membaca tulisan yang tertempel di atas teras rumah itu.


"Panti Asuhan Kasih?" gumamnya tanpa suara.


Di depan rumah itu ada dua mobil box dan satu mobil mewah. Arsenio mengeryit. 'Itu mobil siapa? Apa Danika menaiki mobil itu? Kan tidak mungkin dia menaiki mobil box? Memangnya dia paket?'


Adul menyuruh mereka untuk bersembunyi di balik pagar pembatas tanah yang tidak terlalu tinggi. Arsenio membaca tulisan yang ada di pagar ini yang ternyata tanah ini bukan sepenuhnya milik panti.


"Kalian memangnya punya misi apa 'sih di panti asuhan?" 


Lagi-lagi Arsenio sewot sendiri. Hans bahkan sampai geleng-geleng kepala karenanya.


Adul tersenyum. "Tuan, lihat itu Danika sedang ada di sana." Adul menunjuk dengan jari telunjuknya di mana Danika sedang membagikan sesuatu pada anak-anak di sana.


Mata Arsenio tidak berkedip memandangi Danika dari jauh. Danika tertawa dengan begitu lepas saat membagikan kotak-kotak berisi mainan kepada anak-anak. Dia juga mengusap kepala anak-anak itu satu persatu. 


Bahkan ada seorang anak laki-laki sekitaran usia sepuluh tahun mengecup kecil pipi Danika sambil bilang terima kasih. Danika membalasnya dengan tersenyum dan mencium balik pipi gembil anak itu.


Hati Arsenio menghangat. Hatinya tersentuh melihat semua adegan Danika yang bagaikan slow motion di matanya. Pantas saja Danika begitu menyayangi Mamanya yang jelas-jelas adalah mertuanya. Dengan anak-anak panti saja dia begitu sayang, apalagi dengan Mamanya. Bagaimana dengan Suaminya? Apakah Danika juga sayang dengan Suaminya?


Arsenio mengalihkan pandangannya ke arah objek lain. Wajahnya terasa panas, bahkan telinganya juga ikut-ikutan panas.


Hans hanya bisa tersenyum geli melihat Arsenio yang sepertinya sudah mulai membuka hati pada Danika. Kalau si Adul bagaimana? Jangan ditanya sudah sebingung apa dia melihat Arsenio yang sudah salah tingkah di tempatnya, setelah memandangi Danika dari kejauhan.


Adul menggaruk-garuk kepalanya. 'Sebenarnya Tuan Arsenio kenapa, sih?'


.............*******........... ...

__ADS_1


Jangan lupa like dan komennya ya we. Ahai 😁💐


__ADS_2