
"Mana kopi saya?"
Suara bariton dari seorang pria yang sedang mengetik pada laptop-nya itu membuyarkan konsentrasi Danika dan Adul. Mereka saling pandang. Kenapa mereka sampai lupa dengan poin penting yang satu itu?
"Maaf, Tuan. Akan saya buatkan."
Danika keluar dari ruangan dengan terburu-buru. Kan gak mungkin Adul yang membuatkan kopi? Lagi pula, Suaminya itu pasti tidak akan mau berduaan dengan dia dalam satu ruangan kalau Adul yang pergi membuat kopi.
"Aduh! Kenapa gue lupa maunya Mas Arsenio gimana? Mau manis atau gak, ya?"
Dan jadilah kopi hitam itu dengan rasa setengah manis alias tidak terlalu manis.
"Mas Arsenio gak boleh minum yang terlalu manis. Nanti dia diabetes. Kalau diabetes karena mandangin gue yang manis ini sih gak apa-apa, hoho."
Pelan-pelan sekali Danika meletakkan kopi itu tepat di depan Arsenio. Tangahnnya saja sampai gemetaran karena grogi berdekatan dengan Suaminya. Sesekali Danika mengendus aroma parfum Arsenio yang benar-benar memanjakan lubang hidungnya.
'Hemmm, wanginya. Andainya bisa kupeluk dan kucium. Oh, andainya.'
"Silakan, Tuan."
"Hem."
Tanpa menoleh, tanpa tersenyum. Arsenio tetap fokus pada layar. Danika mendesah pelan.
'Andainya kamu fokusnya pada cintaku, Mas.'
Tak terasa waktu istirahat kantor tiba juga akhirnya. Arsenio masih berkutat pada laptop-nya. Dua makhluk bernyawa lainnya yang melihat Arsenio masih sibuk bekerja padahal sudah waktunya istirahat, membuat mereka segan untuk sekedar permisi pergi ke kantin, mengisi lambung mereka yang sudah keroncongan.
Danika memanyunkan bibir menatap wajah tampan nan rupawan milik Suaminya itu. 'Apa Mas Arsenio gak lapar, ya?'
Adul menoleh sebentar pada Danika yang bibirnya sudah maju mirip bebek. Seketika dia ingin terkekeh. Adul menyenggol lengan Danika.
"Lo mau makan gak?" ucapnya tanpa suara.
"Maulah! Sudah lapar gue!"
Danika membalas menyikut lengan Adul. Adul gantian membalas, begitu seterusnya. Hingga mereka terkekeh tanpa suara.
Tanpa mereka ketahui, Arsenio sudah curi-curi lirik saat Adul menyikut lengannya Danika.
'Apa-apaan itu? Kenapa semua laki-laki di kantor ini dekat sih dengan Danika? Apa dia populer di kantor ini?'
"Ehem!"
Deheman Arsenio yang berwibawa itu sukses menghentikan saling sikut menyikut antara Danika dan Adul. Mereka langsung diam dan menunduk.
"Ini waktunya istirahat, pergilah!"
"Apa Tuan Arsenio butuh sesuatu? Atau Tuan ingin makan?" tanya Adul takut-takut.
"Tidak! Saya tidak butuh apapun. Kalau saya butuh, saya akan panggil."
"Terima kasih, Tuan Arsenio."
__ADS_1
Adul menoleh pada Danika dan memainkan ekor matanya dengan isyarat 'ayo'. Sebelum keluar, Danika menyempatkan menatap Arsenio yang kembali fokus pada laptop-nya. Tiba-tiba Arsenio juga menatap Danika. Tapi dengan ekspresi terkejut. Mungkin Arsenio tidak menyangka Danika juga sedang menatapnya.
Arsenio buru-buru mengalihkan matanya menatap laptop. Danika menunduk sekilas dan mengerjap-ngerjapkan matanya dan kemudian pergi dari sana.
Setelah Danika pergi keluar, Arsenio menghela nafas. Dia menyandarkan tubuhnya ke kursi dan mengendurkan dasinya.
Arsenio memijit-mijt pelipisnya. Entah kenapa, semakin intens saja dia menatap Danika. Jangan sampai dia jadi ingin tahu apa saja yang Danika lakukan. Jangan sampai dia menyakiti hati Istrinya.
"Ah, sial!" ucapnya sambil memukul meja.
............******............
Zakia sudah pulang ke mansion. Suaminya dan madunya itu tidak ada karena masih ada di kantor. Mertuanya itu juga tidak kelihatan batang hidungnya.
"Ini waktu yang tepat!"
Zakia pergi ke tempat para pelayan yang ada di belakang rumah. Dia memanggil salah satu pelayan. Masih ingat kan pelayan yang mengetuk pintu kamarnya dan bilang kalau Arsenio sudah pulang?
"Sini kamu!"
Pelayan yang bernama Mina itu mendekat. "Iya, Nyonya."
"Ayo ikut ke kamarku!"
Mina tampak ragu. Sebenarnya ada apa hingga Nyonya Zakia memanggilnya ke kamar. Tapi dia ikut saja, karena takut kena marah. Zakia ini orangnya sangat cerewet dan judes. Iih takut!
Setelah sampai di kamar, Zakia menutup pintu dan menguncinya. Lalu dia mengeluarkan sebuah botol berukuran kecil dari dalam tasnya dan menyerahkannya pada Mina.
"A..apa ini, Nyonya? tanyanya dengan bingung. Dia memperhatikan botol itu. Apa ini parfum?
Mina menatap Zakia tak percaya. "Racun? Untuk apa racun ini, Nyonya?"
"Kamu yang setiap hari masak menu untuk Mama, kan?"
Mina mengangguk. "Iya, benar, Nyonya."
Mina sudah mulai mencium bau kejahatan yang akan dilakukan Zakia. Awalnya Mina ragu untuk melaksanakan perintah Zakia, tapi Zakia menawarkan bonus yang banyak kalau Mina mau melakukan apa yang dia perintahkan.
"Baiklah, Nyonya."
'Maafkan saya, Nyonya besar. Saya butuh uang untuk Emak saya di kampung.'
"Kamu bisa mulai menaruh racun itu saat kamu memasak makanan untuk Mama."
"Baik, Nyonya."
"Oke. Kamu boleh pergi!"
Mina menunduk hormat lalu keluar dari kamar. Zakia tersenyum sinis. Semoga rencana dia memusnahkan mertuanya itu berhasil.
............*****..........
Sore hari menjadi sesuatu yang melelahkan bagi Danika. Dia sudah pulang duluan dari Arsenio tadi. Arsenio masih ada urusan diluar dan pergi bersama dengan Adul.
__ADS_1
Terkadang Danika berpikir kenapa tidak dia saja yang pergi? Tapi apa daya, Suaminya kan paling anti berdekatan dengan dia.
Setelah membersihkan diri, Danika menuruni anak tangga untuk ke kamar Mama mertuanya. Danika mengetuk pintu, lagi-lagi tak ada jawaban, dan akhirnya Danika langsung membuka pintu itu.
Matanya menunjukkan ekspresi khawatir ketika mendapati mertuanya terbaring dengan selimut yang menutupi tubuhnya. Danika khawatir, dia mendekat dan mengulurkan tangannya menyentuh kening Mama Lena.
"Aduh! Panasnya!"
Mama Lena demam. Danika semakin khawatir. Dia menyibakkan selimut agar panas ditubuh mertuanya tidak semakin menjadi.
"Ma, Mama demam. Nika kompres, ya?"
Mendengar suara mantu kesayangannya, Mama Lena membuka matanya dan mengangguk lemah. Dengan segera Danika keluar dari kamar untuk mengambil air.
Baru saja dia dia hendak menutup pintu, kegiatannya langsung terhenti karena tiba-tiba Danika merinding.
"Ngapain kamu dari kamar Mama?"
Danika tersentak kaget dan langsung menoleh dan menatap heran Zakia.
'Kenapa ya setiap kali bertemu dengan Mbak Zakia, bawaannya merinding mulu? Banyak setannya nih orang!'
"Ngapain kamu ngelihatin aku begitu, hah?"
'Gak usah diladeni, Nika. Mama lebih penting daripada ngeladeni Gerandong betina di depanmu. Kalau dia gampang, tinggal baca ayat kursi aja mungkin akan hilang.'
"Maaf, Mbak. Aku buru-buru!"
Baru saja melangkah, tangan Danika sudah ditarik oleh Zakia.
"Kamu tadi gak jawab pertanyaanku!"
Danika melepas dengan pelan tangan Zakia dari lengannya. "Maaf, Mbak. Aku buru-buru harus ambil air untuk ngompres Mama. Mama demam."
Tanpa menunggu jawaban, Danika langsung meninggalkan Zakia. Zakia terus saja memandangi Danika yang berlari menjauh itu. Senyum sinisnya mengembang dengan sempurna. Sudahlah, mirip kali lah kayak hantu.
............*****............
"Sudah lama Nyonya demam, Ka?" tanya Bik Sarinem. Dia juga khawatir setelah diberitahu oleh Danika.
Danika yang duduk ditepi ranjang Mama Lena menggeleng. "Gak tahu, Bik. Nika baru aja masuk tadi karena gak mungkin Mama di kamar terus jam segini."
Bik Sarinem menghela nafas sedih. "Belakangan ini Nyonya sudah sering sakit, Ka."
Danika menatap Bik Sarinem tidak percaya. "Hah? Benar kah, Bik? Sekarang apa gak lebih baik kita panggil Dokter aja, Bik?"
"Ah iya! Kenapa Bibi jadi bego gini, ya? Jadi gak ingat apa-apa kalau Nyonya sudah sakit. Terlalu khawatir."
Danika tersenyum menanggapi ucapan Bik Sarinem. Bik Sarinem langsung menghubungi Dokter keluar Roberto. Danika menatap sedih Mama Lena yang terbaring itu. Dia ambil tangan Mama Lena dan mengusapnya pelan.
'Cepat sehat ya, Ma? Nika sudah lama gak ngerasain kasih sayang seorang Ibu. Nika harap Mama panjang umur, agar Nika bisa terus merasakan kasih sayang Mama.'
Tak terasa air mata menetes dari mata indah Danika.
__ADS_1
...........*****...........
Likenya we jangan lupa. kalo lupa bakalan nangis aku, nih!