
Danika memilih sayur-sayur yang menurutnya baik untuk kesehatan Mama mertuanya. Tak lupa jengkol yang sudah dibungkus rapi pakai plastik dengan berat satu kilo itu, tertumpuk rapi dengan yang lainnya.
Sambil menunggu Danika memilih sayur, Arsenio merasa bosan saja hanya berdiri sambil memegangi troli. Matanya celingak-celinguk menatap sekitar.
Tiba-tiba Arsenio terbelalak ketika Hans yang berdiri jauh beberapa meter dari mereka, melambai-lambaikan tangannya sambil cengengesan pada Arsenio, karena sudah ketahuan.
Arsenio menurunkan sedikit kaca matanya hingga ke hidung, memastikan kalau matanya tidak buta seperti kata Nek Lampir eh salah! Mamanya.
"Hans! Ngapain dia?"
Ternyata Hans tidak sendirian, ada dua orang anak buah mereka yang ikut serta. Arsenio mendengus sebal.
'Uuhh, pasti dia mau cari tahu apa saja yang sudah aku lakukan bersama Danika.'
Arsenio mengibas-ngibaskan tangannya seperti mengusir. Hans geleng-geleng kepala, lalu tangannya dia angkat ke atas dan jarinya dia usap-usapkan sebagai isyarat meminta uang.
Arsenio mendelikkan matanya lalu mengepalkan tangan dan mengangkatnya ke udara. Hans langsung cekikikan dan mengacungkan jempol pada Arsenio.
Arsenio memukul troli. "Memang ****** kau, Hans," gumamnya geram. Gerrrrr.
Danika berjalan mendekati Arsenio karena sudah merasa cukup untuk bahan-bahan yang akan dipakai untuk memasak jengkol nanti. Tapi langkahnya terhenti karena kejadian aneh pada Suaminya terjadi lagi.
Danika mengerutkan alis melihat Arsenio memukul-mukul troli.
'Tuh, kan! Kejadian aneh yang sudah kesekian kali terulang lagi.'
Danika menggeleng-gelengkan kepala. 'Memang agak lain sedikit otak Mas Arsenio, bisa pula gak ada angin gak ada gerimis dia mukulin troli, ck, ck.'
Danika mendekat dan memasukkan sisa bahan-bahan masakan ke dalam troli.
"Sudah selesai?"
"Sepertinya sudah. Mas gak kenapa-napa, kan?"
"Memangnya saya kenapa?"
Danika memajukan bibir bawahnya dan menggeleng. Danika tidak tahu saja kalau ekspresinya yang begitu mengundang sesuatu.
Arsenio jadi salah tingkah, dia mengalihkan pandangan ke arah lain, dan bertepatan pula pandangannya tertuju pada buah apel.
'Eh, Danika kan sering makan apel di rumah. Akan aku belikan untuknya.'
Danika baru teringat ada satu bahan lagi yang kurang sepertinya. Dia sih belum pernah masak jengkol, tapi semua bahan dia sudah tahu, kan contek di gogel, wkwk. Lagi pula, yang masakkan juga Mbak Mina, hoho.
"Mas, sepertinya ada yang lupa. Aku cari-cari dulu, ya?"
Arsenio mengangguk. Setelah Danika menjauh, dia segera mendorong troli mendekat di tempat buah apel.
Dengan buru-buru dia mengambil banyak sekali apel dan memasukkannya ke dalam plastik.
'Lumayan untuk stok Danika di rumah.'
Serius deh, Arsenio macam punya peliharaan di rumah, wkwk.
Di dekat stand penjualan apel, ada jenis-jenis makanan ringan dan beberapa cemilan seperti keripik. Arsenio mendekat dan berkacak pinggang. Matanya sibuk menyapu semua makanan dengan berbagai merek itu.
'Ehm, dia suka apa, ya?'
Tanpa banyak berkata-kata, Arsenio mengambil tiga belas batang cokelat dengan merek silver ratu itu, dan tak lupa mengambil beberapa bungkus camilan yang berupa keripik kentang terenak setanah air.
"Aku sudah selesai, Mas."
__ADS_1
Arsenio tersentak kaget. Dia sampai mengangkat bahu saking terkejutnya. Arsenio berbalik dan mendapati Danika yang tersenyum padanya.
Danika melirik jajanan yang sedang ada dalam dekapan Arsenio.
"Wah, banyak banget jajannya, Mas? Untuk Mbak Zakia, ya?"
'Duh, kenapa hati gue berdenyut nanya begitu sama Mas Arsenio?'
Arsenio menggeleng. "Bukan, bukan untuk dia."
Entah kenapa kok aneh saja rasanya. Kenapa Arsenio merasa sudah jahat pada Zakia. Duh, hatinya mendadak bingung lagi.
Danika tersenyum lagi, lalu memasukkan sisa bahan yang dia cari tadi ke dalam troli.
Arsenio bisa melihat dari sorot mata Danika yang terlihat sedih. Mata Arsenio mengerjap beberapa kali.
'Danika kenapa? Kok dia kelihatan sedih?'
"Sudah selesai?"
"Sudah, Mas. Oh iya, aku hampir lupa. Aku juga ingin cari sesuatu di lantai empat, Mas."
"Memang kamu mau cari apa?"
Danika terkekeh. "Ada deh, Mas. Kalau Mas capek, Mas bisa duluan aja."
"Ya sudah, saya akan bayar belanjaan ini dulu. Nanti kalau sudah selesai, saya akan menyusul."
Danika mengibaskan tangannya. "Eh, gak perlu, Mas."
Danika langsung berlari saja, meninggalkan Arsenio yang baru saja hendak menjawab ucapan Danika.
'Untung bisa kabur! Kalau tetap di situ, bisa-bisa gue disuruh patungan lagi buat bayarin belanjaan tadi.'
Danika melihat-lihat boneka untuk Adik-adik asuhnya yang perempuan, dan untuk yang laki-laki dia akan belikan robot-robotan.
"Duh, lucu banget." tangannya mengusap bulu boneka berbentuk kucing yang begitu imut.
Tapi ketika melihat harganya, Danika meringis. "kok mahal banget, sih! Gak cukup dong uang gue buat beli tiga! Huuft."
Danika baru saja gajian kemarin. Tapi benar-benar ya Si Arseniot itu tetap memotong gajinya. Untung saja untuk makan dia sudah tidak pusing lagi memikirkan biayanya.
Di tambah kiriman uang jajan dari Kakaknya- Amar, sudah bisa lah dia bernafas sedikit lega. Danika hanya bisa mengirimi Adik-adik asuhnya separuh dari gajinya untuk biaya mereka makan.
Terkadang ada rasa sedih juga di hati Danika. Dia memikirkan Adik-adik asuhnya dan juga Bapak, Ibu yang menjaga mereka.
Danika kembali meringis saat melihat robot-robotan yang harganya jauh lebih mahal dari boneka kucing tadi.
"Kayaknya gue nyicil dulu, deh! Gimana lagi, gue sudah janji mau beliin mereka mainan."
Sebelum membeli dan membayar, Danika cuci-cuci mata dulu melihat barang-barang yang dijual untuk anak remaja itu. Matanya seketika berbinar melihat boneka beruang yang ukurannya hampir setinggi dirinya.
"Aduh! Kok cantik banget, sih! Untuk jadi temen bobok enak juga, nih! Dipeluk gitu, seakan-akan meluk Mas Arsenio, auuuww."
Danika ingin menangis melihat harganya. "Hem, yang kecil aja harganya sudah mahal, apa lagi yang segede gaban begini. Nabung dulu deh gue!"
Arsenio yang sudah berdiri sedari tadi sambil bersedekap dada, tahu semua apa yang sedang dilakukan oleh Istrinya itu. Alisnya menyatu, dan dia memainkan bibirnya seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu. Matanya memicing memperhatikan gerak-gerik Danika.
'Apa dia ingin beli boneka?'
Arsenio jadi sasaran cuci-cuci mata para gadis, remaja dan Ibu-ibu yang sedang berjalan-jalan di supermarket terlengkap di kota itu. Gayanya yang cool, memakai kaca mata hitam menambah keuwuan Arsenio di mata mereka. Mereka bahkan berkedip-kedip genit saat melewati Arsenio.
__ADS_1
Arsenio bergidik ngeri. Dari pada jadi pajangan yang ditonton oleh orang-orang, Arsenio ikut masuk ke toko menyusul Danika. Danika tidak tahu ketika Arsenio sudah ada di belakangnya.
Arsenio melongok ke depan saat Istrinya itu sibuk menghitung uang yang ada di dompetnya. Danika garuk-garuk kepala.
"Seandainya Mas Arsenio gak motong gaji gue, gue pasti sudah beliin mereka semua."
"Beliin siapa?"
Danika tersentak kaget dan spontan memasukkan kembali uang yang bahkan belum masuk dompet ke dalam tas ranselnya.
Danika gelagapan.
"Mas ada di sini? Ngapain, Mas?"
Arsenio memicingkan mata. "Terserah saya mau ngapain. Kamu juga ngapain di sini? Mau beliin siapa tadi?"
Danika cengengesan. "Ada deh, Mas. Tapi uangnya gak cukup, karena kan, ehem," Danika melirik Arsenio yang sudah bersedekap dada menatapnya curiga. "Mas sudah potong gaji aku," ucapnya pelan sambil menunduk.
Arsenio terbelalak. Dia langsung menggaruk pelipisnya karena baru teringat dengan hal itu.
"Kalau begitu, kamu tingkatkan lagi kinerja kamu sebagai Sekretaris saya, supaya saya kembali menaikkan gaji kamu."
Danika berbinar dan tersenyum lebar. "Wah, benarkah, Mas? Makasih ya, Mas?"
Melihat Danika tersenyum senang karena dia akan menaikkan gajinya, membuat Arsenio salah tingkah lagi. Jantungnya berdebar-debar. Tubuhnya langsung panas dingin. Beeerrrr!
Arsenio tersenyum tipis. 'Baru gitu aja, dia sudah senang sekai. Apa lagi kalau aku melakukan hal lain untuk membuat dia bahagia, kira-kira dia akan berekspresi yang seperti apa, ya? Tapi jujur, melihat dia tersenyum, aku bahagia.'
Karena uangnya belum cukup, Danika memutuskan untuk tidak membeli dulu boneka ataupun robot. Dia akan menabung dulu, biar sekalian membeli semuanya.
"Mas ada yang mau dicari lagi?"
Arsenio tersentak dari lamunannya. "Sepertinya gak ada."
Danika mengangguk-angguk. "Ya sudah. Ehm, sebaiknya kita pulang, kalau Mas gak keberatan."
"Oh, iya. Kamu duluan."
Danika berjalan duluan. Ketika dirasa Danika sudah menjauh. Arsenio dengan sigap mengeluarkan ponselnya dan memotret apa saja yang di pegang oleh Danika. Termasuk juga boneka beruang segede gaban itu.
Arsenio lalu mengirim foto itu pada Hans melalui WA.
📱~Hans, ada kerja!
~Foto📷
~Foto📷
~Foto📷
~Belikan barang yang aku fotokan itu.
Tring. Tak lama balasan Hans masuk.
📱~Siap, Bos! Jangan lupa uang jalan!
📱~Kalau kau sudah siap ku jadikan sate lebaran haji nanti, tidak apa-apa, akan kuberi uang jalannya!
📱~Ampun, Bos!
Arsenio terkekeh, dia lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya dan segera menyusul Danika.
__ADS_1
...........******............