Jadi Istrinya?

Jadi Istrinya?
Bab ~ 43


__ADS_3

Mama Lena sedang duduk-duduk cantik di balkon, katanya dia sudah bosan tiduran terus di kamar. Padahal dia sudah rindu ingin jalan-jalan, ke salon, meni pedi, cukur bulu, dan yang lain-lain deh.


Dia juga mau mewarnai rambutnya dengan warna ungu-ungu manja. Kayaknya sudah merasa paling bidadari dia di muka bumi dengan rambut berwarna begitu.


Terdengar suara mobil Arsenio memasuki pelataran mansion. Mama Lena yang semula bersandar, menegakkan badannya. Kepalanya melongok ingin tahu kenapa Arsenio sudah pulang sebelum waktunya.


"Kok tumben tuh anak sudah pulang? Kalau dia cepat pulang karena beralasan ada Danika, aku benar-benar akan memukulnya!"


Mama Lena yang penasaran, bangkit dan berjalan pelan-pelan menuju pembatas balkon. Di sana matanya membelalak dan berbinar menjadi kesatuan, saat melihat Danika juga ikut turun dari mobil Arsenio.


Mulut Mama Lena terbuka lebar, bahkan air liurnya sampai menetes saking dia terhipnotis dengan rasa bahagia.


Mama Lena menepuk-nepuk pipinya, berharap semua yang dia lihat adalah kenyataan, dan bukan mimpi.


"Ya Allah, aku gak bermimpi rupanya. Ya Allah, aku bahagia sekali." Mama Lena menangis terharu. Dia sampai menyedot ingusnya yang meler menggunakan ujung bajunya.


Tring! Bunyi pesan WA masuk, muncul di ponsel Mama Lena. Mama Lena segera mengambil dan membuka pesannya yang ternyata dari Hans.


Hans mengirimkan beberapa foto saat Arsenio menemani Danika


berbelanja. Mama Lena senyum-senyum tidak menentu.


"Ah, pura-pura gak tahu aja, ah! Hihihi."


Selama ini-Hans, orang suruhan kepercayaan Mama Lena. Itu juga tanpa sepengetahuan Arsenio. Hans juga sibuk memata-matai Zakia melalui anak buahnya. Hans juga adalah keponakan kandung Mama Lena, Hans ini anak dari Kakak laki-laki Mama Lena yang tertua.


"Akan aku kasih bonus yang besar untuk Hans nanti."


Mama Lena tak henti-hentinya tersenyum. Dalam hatinya, semoga Putranya itu sadar siapa Istri yang memang-memang baik untuknya.


..........***..........


Ketika masuk ke dalam mansion, Danika dan Arsenio berjalan masing-masing. Danika duluan, baru beberapa menit kemudian Arsenio yang masuk.


Saat hendak menaiki tangga, Arsenio baru teringat dengan cokelat dan camilan yang dia belikan untuk Danika tadi.


"Hampir aja aku lupa. Langsung aku kasih, atau melalui Bik Sarinem aja, ya?"


Arsenio tidak jadi menaiki tangga, dia malah memutar arah menuju dapur. Untung saja belum ada yang membuka plastik yang berisi jajanan itu.


"Ehem."


Deheman sukses menghentikan tangan Arsenio yang terulur untuk mengambil plastik. Arsenio menoleh, ternyata yang berdehem adalah Bik Sarinem. Bik Sarinem tersenyum-senyum menggoda Arsenio yang sudah salah tingkah.


"Banyak banget jajannya, Tuan. Bisa lah kasih Bibik satu."


"Eh, enak aja! Kalau Bibik mau, beli sendiri aja sana. Minta anterin Pak Maman, biar uangnya Arsenio kasih."

__ADS_1


Bik Sarinem terkekeh dan mengibaskan tangannya. "Iihh gak lah, Tuan. Bibi bercanda. Sepertinya ada yang naksir Istri barunya, nih!"


Arsenio hanya bisa nyengir kuda sambil mengusap tengkuknya. Apa tingkahnya terlalu mencolok sudah jatuh cinta pada Danika, hingga semua orang bisa membacanya?


"Gitu dong, Tuan. Harus adil sama Istri barunya. Lagi pula, Danika itu orangnya baik, sayang lagi sama Nyonya Besar. Waktu itu juga, dia sampai begadang jagain Nyonya pas lagi demam."


Arsenio tersenyum-senyum. Mungkin itu alasan utama dia menyukai Danika, yaitu kebaikan hatinya. Ditambah lagi wajahnya juga cantik, sejuk dan menenangkan. Padahal tak ada polesan sama sekali di wajahnya.


Tapi entah kenapa, tenang saja gitu saat memandangnya. Kok berbeda dari Zakia, ya?


"Tuh, kan! Senyum-senyum, kan?"


Arsenio tersentak. "Iihh, apaan sih, Bik! Sudah ya, Arsenio mau ke kamar dulu."


Arsenio menyambar plastik belanjaan camilan lalu melangkah pergi, meninggalkan Bik Sarinem yang sudah cekikikan sambil menutup mulut.


"Sekali-kali mainlah ke kamarnya Danika. Danika-nya kasihan, sendirian terus."


Arsenio berhenti lalu menoleh dan mengerutkan wajahnya ke arah Bik Sarinem. Bik Sarinem malah tertawa melihat wajah Arsenio yang lucu itu.


...........****...........


Arsenio ragu-ragu untuk mengetuk pintu kamar Danika. Dia sudah berdiri sekitar lima belas menit di depan pintu itu. Tiba-tiba pintu kamar terbuka karena Danika ingin keluar menemui Mamanya.


"Mas Arsenio!" pekiknya.


Arsenio yang terkejut, refleks menjatuhkan plastik belanjaan ke lantai. Dia mengusap-usap dadanya. Jujur saja, suara Danika kalau berteriak, lumayan cempreng dan mengganggu telinga dan kesehatan jantung.


Danika merasa bersalah. Dia mengatupkan kedua bibirnya ke dalam mulut. "Maaf, Mas. Lagi pula Mas ngapain ada di depan pintu kamar aku? Mau mengintip aku, ya?"


Danika memicingkan matanya, menatap curiga Arsenio yang hanya bisa melongo tak berkutik.


Kemudian Arsenio tersadar, lalu memungut plastik yang terjatuh tepat di kakinya. Arsenio ikut-ikut memicingkan matanya.


"Eh, tapi aku seneng kok, dan ikhlas diintipin sama Mas Arsenio." Danika berkedip-kedip manja. Ting ting ting, begitu bunyinya.


"Kurang kerjaan banget mengintip manusia kayak kamu begini. Kalau saya mau, sudah saya.." Arsenio mengerjapkan matanya, bingung mau bilang apa selanjutnya.


Danika mengernyit. "Saya apa, Mas?" Danika tersenyum smirk. "E eh eh, jangan-jangan Mas mau.." Danika menunjuk-nunjuk ke arah Arsenio sambil menaik turunkan alisnya.


Arsenio jadi salah tingkah. "Mau apa maksud kamu, hah? Ini! Saya mau kasih ini sama kamu."


Danika melirik plastik besar yang ada di tangan Arsenio. "Eh, apa ini, Mas?"


Arsenio gemas sendiri jadinya. "Dasar bodoh!" 'Sudah tahu plastik, masih tanya lagi!'


Arsenio menyambar tangan Danika lalu mengalungkan plastik itu ke pergelangan tangannya. Lalu pergi dari hadapan Danika dan masuk ke kamarnya.

__ADS_1


Danika mematung, menatap plastik yang lumayan berat tertumpu pada pergelangan tangannya. Kayaknya memang dia bodoh lah, sudah tahu berat, bukan dia pindahkan plastik itu.


Danika segera masuk ke kamarnya lagi, karena penasaran apa saja isi plastik yang diberikan Arsenio. Danika menumpahkan semua isinya di atas ranjang.


"Wah, coklat, keripik kentang, apel. Ya Allah, Mas Arsenio memang kumat. Dia bisa baik juga sama gue. Apa zangan-zangan Mas Arsenio udah mulai jatuh hati sama gue? Aiih, aiihh. Kenapa jantung gue mau copot begini? Aduh, aduh."


Danika malah menelungkupkan dirinya di atas jajanan-jajanan itu. Senyumnya tak surut sedari tadi. Dia sangat bahagia sekali hari ini. Suaminya pelan-pelan sudah mulai membuka hati padanya.


..........*****...........


Di kamar sebelah, ada makhluk tampan yang tak henti-henti tersenyum. Dia baru saja selesai mandi, terlihat dari handuk yang masih bertengger di pinggangnya. Rambutnya juga masih basah-basah manjah dan berantakan.


Pria itu menatap cermin sembari berkacak pinggang. Dia tertawa menampilkan gigi putihnya yang rapi.


Sesekali dia menggeleng-gelengkan kepala, seakan-akan mengusir rasa lucu yang tak mau berhenti hadir. Matanya melirik ke bawah, melirik sesuatu di balik handuk.


Seketika dia mengingat kejadian saat bersama Danika tadi di Supermarket.


Flashback on.


Tadi saat mereka hendak turun menggunakan lift, ada kejadian yang masih nempel bak lem setan di kepala Arsenio. Awalnya lift itu sepi karena hanya ada mereka berdua di dalam.


Tapi ketika turun ke lantai tiga, banyak pengunjung ikut naik lift. Mau tak mau, Danika dan Arsenio mundur hingga ke dinding.


Posisi Arsenio yang ada di belakang Danika, membuat tubuh mereka sedikit menempel. Arsenio menundukkan kepala melihat Danika yang hanya setinggi lehernya itu.


Danika tampak tidak nyaman, Arsenio sedikit menarik bahu Danika agar semakin dekat dengannya. Dan entah kenapa, karena posisi yang begitu dekat, membuat senjata Arsenio naik.


Arsenio berusaha menahannya mati-matian, agar senjatanya itu jangan sampai mengenai bokong Danika.


Matanya yang tertutup kaca mata hitam, merem melek menahan gejolak hasrat yang tidak tahu tempat itu. Nafasnya juga sudah mulai tidak beraturan. Keringat mulai membasahi kening Arsenio.


Karena merasa nafas Arsenio memburu seperti habis dicekek setan, Danika mendongak ke atas memperhatikan Suaminya dengan tatapan aneh.


'Mampus! Dia ngelihatin lagi! Apa senjataku sudah menyenggol dia?'


Arsenio bahkan sampai menahan nafas, seakan-akan Danika adalah vampir yang hendak menggigit dia.


Untung saja adegan itu tidak lama, karena pintu lift sudah terbuka. Huuufftt, Arsenio bernafas dengan lega.


Flashback off.


Haaaah, Arsenio menghela nafas. Dan alangkah terkejutnya ketika dia tahu senjatanya tegak lagi, astaga. Ini semakin aneh saja. Padahal hanya memikirkan Danika loh.


'Memang aneh! Saat aku berdekatan dengan Zakia, aku tidak berhasrat sama sekali. Hem.'


Senyummu memikat, tawamu mengikat, bohong jika aku tak terpikat, asek kali!

__ADS_1


Sudahlah. Arsenio memang sudah benar-benar jatuh cinta pada Istrinya yang bernama Danika Aroma Menyan itu. Eh salah! Danika Aroma Melati maksudnya, hohoho.


............*****............


__ADS_2