
Soree 😁. Jangan lupa like dan komennya pembaca aku yang aduhai. 😘
Dari pada merenungi nasibnya yang kurang beruntung merasakan first night, yang katanya yahud-yahud gimana gitu, mending dia nonton kisah horor Tante saja.
"Tapi sepertinya kurang asyik kalau nonton sendirian di sini. Ke cafe saja sekalian ngopi. Malas mau bikin kopi di sini, nanti ketemu sama gerandong wanita itu lagi!"
Danika segera bersiap-siap. Dia hanya memakai kaos yang dibalut jaket berhodie dan celana training. Dia mengendap-ngendap keluar dari kamarnya.
"Eh, eh, Nyomud. Berhenti!" teriak seseorang yang sukses menghentikan langkah Danika.
Danika mengernyit. "Nyomud?" lirihnya. Dia langsung saja berbalik dan terkejut mendapati pria berbadan kekar ada dihadapannya.
"Maaf, ada apa ya, Mas?"
"Maafkan saya, Nyomud. Anda mau ke mana? Ini sudah malam."
Danika cengengesan karena merasa lucu mendengar kata yang aneh itu. "Maaf ya, Mas. Saya benar-benar tidak mengerti dengan istilah Nyomud itu."
Pria berbadan kekar yang dirasa Danika adalah pengawal di rumah ini tersenyum malu-malu. "Nyomud itu Nyonya muda," ucapnya.
Danika terbengong lalu tersadar kemudian, tiba-tiba saja dia tertawa. "Astaga, siapa yang memberikan gelar seperti itu padaku?"
"Maaf, Nyomud. Itu panggilan yang sama untuk Anda seperti Nyonya Zakia."
"Oh, baiklah kalau begitu. Tapi Mas jangan kebanyakan minta maaf, Mas kan tidak punya salah sama saya. Tapi kalau Mas memaksa mau dimaafkan, baiklah, saya maafkan, hehe."
Pria itu mengusap tengkuknya dan tersenyum lagi dengan malu-malu. "Bukan begitu maksud saya, Nyonya."
'Duh, kok dipandang-pandang, Mas ini tampan juga, ya? Eh, apa yang sedang gue pikirkan?' Danika menepuk jidatnya dengan pelan sekali.
"Mas, saya ijin pergi ke cafe sebentar, ya?"
"Memang Nyonya tahu cafenya di mana?"
Danika menggeleng, iya kenapa dia tidak kepikiran ke situ tadi. Dia saja tidak pernah ke daerah sini.
"Saya tidak tahu, Mas. Tapi Mas yang ganteng ini kan bisa kasih tahu saya. Please ya, Mas? Saya suntuk banget ini."
Pengawal itu berpikir sejenak. Bukankah Nyonya Danika ini baru menikah dengan Tuan Arsenio tadi? Kenapa dia malah keluyuran seperti arwah gentayangan begini? Bukan kah seharusnya mereka menghabiskan waktu bersama malam ini?
"Boleh ya, Mas?"
Danika mengedip-ngedipkan matanya. Sedang pengawal yang melihat Danika hampir terkena serangan jantung. Untung tidak cengap-cengap dan kejet-kejet kemudian. Dari pada digoda terus oleh Istri Bosnya ini, mau tidak mau pengawal itu mengijinkan Danika untuk pergi ke cafe.
Danika terkekeh geli mengingat aksi yang dia lakukan tadi, astaga bisa-bisanya dia begitu dengan seorang pria, haha.
Danika memilih jalan kaki ke cafe yang ternyata tak jauh dari mansion Arsenio.
"Astoge, ternyata cafe ini dekat. Untuk apa juga gue berkedip-kedip manja dengan pengawal tadi? Jatuh harga diri gue!" sungut Danika.
__ADS_1
Danika segera masuk dan memesan kopi favoritnya, tak lupa juga kentang goreng untuk camilannya. Danika yangs sudah selesai menghubungi Reni, tiba-tiba saja ada yang memvideo call dia. Mata Danika berbinar ketika tahu siapa yang menghubunginya.
"Halo, Mas," sapa Danika dengan tersenyum manis.
"Halo, Dek?" pria itu tersenyum sendu memperhatikan senyum Danika.
"Mas ada apa? Kok tumben nelpon Nika?"
Pria yang ada dilayar itu tersenyum. "Tidak ada! Mas tidak bisa tidur dan tiba-tiba kepikiran sama kamu." pria itu tiba-tiba saja memicingkan matanya.
"Ada apa, Mas?" tanya Danika heran.
"Kamu ada di mana, Dek? Kamu ke cafe, ya? Seharusnya pengantin baru menghabiskan waktunya di kamar, bukan keluyuran ke cafe begitu!" omel pria itu yang langsung disambut tawa oleh Danika.
"Haha, Mas, Mas! Mas tahu kan Tuan Arsenio itu tidak suka dengan Nika. Mana mungkin dia mau yang begituan, Mas. Mas ada-ada saja." Danika menggelengkan kepala.
Selagi Danika dan seseorang itu sibuk mengobrol, Reni tiba-tiba saja datang bagai bayang-bayang hitam yang tertangkap cctv. Niatnya dia ingin mengejutkan Danika dari belakang, cuma ketika tanpa sengaja Reni melihat orang yang ada dilayar, dia pun menghentikan aksinya. Alisnya menyatu memikirkan sesuatu.
'Bukankah itu?'
Pria itu sepertinya sadar melihat Reni ada di belakang Danika, dia langsung saja mematikan panggilan video itu. Danika mengernyit dan langsung membalikkan badannya menatap Reni yang tengah memikirkan sesuatu.
"Ren? Sudah lama?"
Reni tersentak kaget. "Eh, gak, ah! Baru saja!" Reni langsung duduk di samping Danika.
"Lo mau minum apa? Gue pesenin, ya?"
"Biasa, kayak lo!"
"Oke!"
Tak lama pesanan Reni datang, langsung saja dia seruput kopi yang masih beruap itu. Setelahnya dia berucap copot-copot dan mengipas-ngipasi bibirnya yang memerah.
"Ren, lo kenapa?"
"Kurang ajar banget kopi ini berani bikin bibir gue merah!" sungut Reni.
Danika langsung tertawa terbahak-bahak. "Orang lo ada-ada saja! Kopi panas langsung lo seruput!"
Reni yang sibuk memegang bibirnya mengibaskan tangannya. "Diam lo!"
Danika menggeleng lalu mengangkat cangkirnya dan kembali meneguk kopi yang tinggal sedikit itu. Setelah itu, dia kembali memesan kopi lagi.
"Ka, lo kumat apa buang tabiat?"
"Memang kenapa?"
"Kalo lo gak bisa ngerasain malam pertama bareng Tuan Arsenio, ngapain lo minum kopi banyak-banyak?"
__ADS_1
"Diam lo! Cerewet banget! Memang otak gue agak miring sedikit, nih! Suami gue gak cinta, mana istri pertamanya juga mirip Gerandong!"
"Apa? Mirip Gerandong? Hahaha."
Danika langsung menceritakan semua yang baru saja dia hadapi di mansion suaminya. Tak terasa air mata Danika luruh begitu saja. Reni menjadi terenyuh, dia mengusap-usap bahu Danika.
"Kenapa ya, Ren? Kok gue jadi cengeng begini? Padahal biasanya 'kan gue kuat!"
"Sabar, Ka. Gue paham banget gimana rasanya jadi lo! Tapi gue yakin, suatu saat nanti Tuan Arsenio pasti lebih mencintai lo dari pada istrinya itu. Gue saja merasa kalau istrinya itu gak tulus mencintai Tuan Arsenio!"
Danika mengusap air matanya dengan kasar dan menoleh. "Maksud lo apa, Ren?"
Reni mengedikkan bahu. "Gak ada maksud apa-apa, sih! Cuma merasa gitu aja!"
Danika menghela nafas. Dia kembali lagi memanggil pelayan dan memesan kopi beberapa gelas lagi. Reni langsung melotot melihat apa yang Danika lakukan.
"Ka, lo gak usah gila, deh! Minum kopi kalau sudah kebanyakan malah jadi penyakit!"
"Diam lo, Ren!"
Reni hanya bisa menghela nafas. Dan benar saja apa yang ditakutkan Reni terjadi, ketika Danika mulai 'kelenger' setelah menghabiskan kopinya yang ke 10 cangkir.
Danika mulai merasakan mual dan tak lama tidak sadarkan diri. Reni hanya bisa geleng-geleng kepala. Di mana-mana orang mabok minumnya ya kalau tidak amer ya miras, lah ini malah karena kebanyakan minum kopi.
Ketepok! Reni dengan gemas memukul jidat Danika yang sudah pingsan itu.
"Duh, Nika, Nika! Kasihan lo! Sekarang gue bingung gimana cara bawa lo pulang dari sini! Mana gue gak tahu lagi di mana rumahnya Tuan Arsenio, hem."
Reni tak kehabisan akal, dia keluar dari cafe untuk menanyakan alamat rumah Bosnya itu pada dua orang pria berbadan kekar yang sedang duduk tak jauh dari cafe ini. Reni 'sih biasa saja, kalau seandainya dua pria itu macam-macam dengannya, dia akan mengeluarkan jurus bela diri yang dia pelajari dulu waktu masih sekolah bareng Danika.
"Mas, maaf. Saya mau tanya alamat Tuan Arsenio di mana, ya?"
Pria itu saling pandang. "Apakah Nyonya Danika baik-baik saja, Mbak?"
Reni tersentak kaget. "Bagaimana Mas bisa tahu nama teman saya?"
"Kami ini pengawal yang diperintahkan Nyonya besar untuk selalu mengawasi dan menjaga Nyonya Danika.
"Oh, benarkah itu, Mas?"
Pria itu mengangguk. Reni bernafas lega. Padahal dia sudah pusing tadi.
'Berarti rumah Tuan Arsenio gak jauh ya dari sini?'
Reni hanya bisa berdiri menyaksikan Danika yang sudah teler itu dibawa oleh pengawal menggunakan mobil. Tapi didalam hati dia berdoa untuk kebahagiaan sahabatnya itu.
'Tapi, apa doa gue akan dikabulkan Allah? Gue saja jarang sholat! Hah, ampyun!'
..................*****..................
__ADS_1