
Di pagi buta seperti ini, biasanya insan manusia masih terbaring dalam peraduannya. Tidak bagi Danika yang sudah menangis dalam sujudnya kepada Ilahi.
Ada terselip rasa rindu yang begitu membuncah pada kedua orang tuanya. Tapi rasa rindu itu akan tersampaikan hanya melalui doa.
Tak lupa juga dia mendoakan kesehatan Mama mertuanya, dan juga Suaminya. Lidahnya sedikit agak terasa kelu saat mengucapkan jadilah aku seorang Istri yang baik.
Nyatanya memang dia sudah selalu belajar untuk menjadi Istri yang baik. Walaupun masih belum praktek langsung di lapangan.
"Kapan ya Mas Arsenio mau nerima gue? Jujur aja, kadang gue ngerasakan sakit kalau gak dianggap, secara gue hanya manusia biasa. Ya Allah, hamba serahkan semua kepada-Mu. Seandainya, kalau memang kami berdua sudah berjodoh, pertahankan rumah tangga kami apapun yang terjadi, amiiin."
Setelah membereskan semua perlengkapan yang baru saja dia pakai untuk sholat, Danika bergegas keluar kamar. Dia ingin ke kamar Mertuanya. Karena biasanya juga Mama Lena sudah bangun di jam seperti ini.
Baru saja menutup pintu dan hendak berbalik untuk pergi, Danika langsung berjengkit kaget saat bersitatap dengan Arsenio yang juga sama-sama baru menutup pintu.
Arsenio terlihat salah tingkah setelah acara tatapan tadi. Terbukti dengan dia sibuk mengusap tengkuknya berkali-kali, mungkin hinga berasap lalu keluar jin, wkwk.
Sedang Danika juga merasa aneh, baru kali ini dia merasa malu-malu singa barong di depan Arsenio.
'Duh! Terjebak dengan situasi canggung begini, apa yang harus gue lakukan? Kabur atau bagaimana? Bodoh! Kabur aja kali, ya? Lagi pula kalau gue tetap di sini, gue bakalan dapat tatapan sinis dari si Arseniot itu!'
"Mmm, permisi, Mas."
Danika mulai melangkahkan kakinya, entah kenapa ada perasaan tidak rela di hati Arsenio. Dia mencoba menghentikan Danika.
"Egh, Danika?"
Danika menghentikan langkahnya. 'Eh! Mas Arsenio manggil siapa? Gue apa hantu?' karena penasaran, Danika membalikkan badannya.
"Iya, Mas?"
Arsenio merasa senang sekali saat Danika mau menjawab panggilannya. Tanpa sadar dia menyunggingkan senyum pada Danika.
Danika bahkan sampai terbelalak melihat Arsenio tersenyum padanya.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, Arsenio-Suaminya mau menampilkan senyumnya yang begitu indah di matanya. Danika menurunkan sekilas pandangannya, matanya terasa panas, entah kenapa dia malah ingin menangis saking terharunya.
'Ya Allah, apa gue mimpi? Tadi yang senyum sama gue itu Mas Arsenio, kan? Atau jangan-jangan jin lagi? Tapi intinya, gue ingin nangis, Woi! Ingin nangis! Huwaaaa.'
Arsenio merasa khawatir melihat Danika yang hanya diam sambil menunduk. Apakah dia sudah salah berucap? Perasaan dia hanya memanggil namanya, deh!
"Danika?"
Danika mengangkat wajahnya, lalu mengerjapkan matanya. Kemudian Danika tersenyum pada Arsenio. Kalau dia sih sudah biasa tersenyum pada Arsenio. Arsenio itu tuh yang jarang senyum sama dia.
Arsenio kembali tersenyum lagi pada Danika. Danika menghela nafas lega. Ternyata memang benar kalau Suaminya yang tersenyum tadi, bukan jelmaan makhluk lain.
Tapi, walau seandainya memang jelmaan demit, setidaknya dia pernah melihat senyum Arsenio yang begitu langka itu.
'Gue rasanya ingin pingsan, woi! Kalau gue pingsan, apa Mas Arsenio mau ngangkat gue? Apa gue coba aja? Mana tahu diangkatnya menuju ranjang dan terjadi hal yang diinginkan? Wuahaha.'
"Kamu mau ke mana sepagi ini?"
Mata Danika kembali mengerjap, mendengar ucapan Arsenio yang lembut mengalun di telinganya. Tangan dan kakinya langsung gemetaran. Dengan salah tingkah dia mencoba menetralkan segala luapan perasaan yang ada.
"Danika, kamu kenapa?" Arsenio mencoba mendekat. Danika malah mundur perlahan. Arsenio mengernyit. "ada apa?"
__ADS_1
Danika mencoba untuk tersenyum. "Mm, aku permisi dulu, Mas. Aku ingin ke kamar Mama. Aku pergi dulu, Mas!"
Tanpa aba-aba, Danika langsung cabut dari sana. Dia berlari meninggalkan Arsenio yang terpaku memandanginya.
Arsenio geleng-geleng kepala, kemudian terkekeh sambil melipat tangannya di atas dada. Dia lalu tersadar dengan apa yang sudah dilakukannya.
'Ada apa denganku? Apa hatiku mulai terbagi dengan Istriku yang lain?'
Setelah Danika menghilang dari pandangannya, Arsenio jadi penasaran dengan apa yang dilakukan gadis itu pagi-pagi di kamar Mamanya.
'Sepertinya aku harus mencari jawaban dari rasa penasaranku ini. Oke, baiklah! Mari kita mengintip!'
Arsenio langsung berlari kecil menuruni tangga. Ketika sudah sampai di depan kamar Mamanya, matanya melirik sana melirik sini.
Senyum smirk-nya langsung muncul saat keadaan dirasa sudah aman, alias tidak ada manusia yang berkeliaran di jam segini.
Pintu dia buka secara pelan-pelan. Arsenio berusaha agar pintu yang dia buka itu, jangan sampai mengeluarkan suara deritan.
Arsenio mencari celah yang pas untuk menempatkan kepalanya agar dapat tempat yang akurat untuk mengintip. Setelah dirasa pas, Arsenio bisa lihat apa saja yang sedang dilakukan kedua wanita di dalam.
'Ngapain mereka?'
Arsenio bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan Danika di depan meja rias Mamanya. Sepertinya Danika sedang mencari sesuatu sesuai perintah Mamanya.
Terbukti dengan dia menunjukkan sebuah botol pada Mamanya. Lalu Mamanya, yang masih mengenakan mukenah dan duduk menyandar pada kursi santai itu, lantas mengangguk dan mengacungkan jempol pada Danika.
Alis Arsenio yang tebal langsung menyatu di tengah. 'Mereka mau ngapain, sih?'
Pertanyaan Arsenio langsung terjawab, ketika Danika duduk di bawah dan mengoleskan isi dari botol yang dia pegang. Lalu mulai mengurut kaki Mama Lena dengan pelan dan lembut.
'Ah! Zakia untuk sekedar melihat Mama saja dia tidak mau, apalagi sampai memijat Mama seperti itu.'
Ada rasa sedih menghinggap di hati Arsenio kalau dia ingat tentang Zakia yang tidak peduli dengan Mamanya. Haah, semoga suatu hari nanti dia bisa sadar dan mau jadi partner Danika dalam menyayangi Mamanya.
"Ma, Mama ada ingin makan sesuatu, gak?"
"Makan apa ya, Ka? Mama ingin makan pete. Tapi Mama takut mulut Mama bau."
Danika mengibaskan tangannya ke depan. "Ah, Mama. Kalau Mama makan pete-nya satu kilo, baru mulut Mama bau."
"Memang ada penghilang bau mulut sehabis makan pete, Ka?"
"Ada, Ma."
"Apa itu?" tanya Mama Lena dengan mata berbinar.
Kalau memang iya ada penghilang bau mulut sehabis makan pete, dia akan menyuruh Mina untuk memasakkan pete yang enak. Ditambah dengan cumi, makin maknyos kayaknya.
"Mama memang benar mau tahu?" Danika menaik turunkan alisnya. Mama Lena jadi ilfil.
"Iya lah, masa iya dut!"
"Haha. Penghilang bau pete ya dengan makan jengkol, Ma. Langsung hilang seketika bau pete dari mulut Mama dan berganti dengan bau jengkol. Hahaha."
Gubrak! Mama Lena langsung menoyor kepala Danika. "Dasar nakal! Kalau itu juga Mama tahu kali, Zainab!"
__ADS_1
Danika tertawa dengan lepasnya. Semua itu tak luput dari pandangan mata Arsenio. Dia juga sampai ikut-ikutan tertawa tanpa suara. Cieee.
"Kalau gitu, Mama jadi makan jengkol aja, deh!"
"Benar nih, Ma?"
Mama Lena mengangguk. "Iya, sayang."
"Ya sudah, nanti Nika pulang kerja, Nika beliin jengkolnya ya, Ma? Biar Mbak Mina yang masakin."
"Kamu juga belajar masak dong, sayang? Mama kan juga ingin cicipin masakan kamu."
"Siap, Bos! Oh iya, Ma. Nika balik ke kamar, ya? Mau siap-siap ke kantor."
Danika bangkit berdiri ,lalu berjalan menuju meja rias dan meletakkan botol yang ternyata berisi minyak urut itu.
"Iya, sayang. Jangan lupa minta bikinin sarapan sama Bik Sarinem, ya?"
"Baik, Ma."
Danika kemudian menyalami Mama Lena dan mengecup kedua pipi orang tua itu. Di saat bersamaan, Arsenio meraba pipinya sendiri tanpa sadar.
Ketika Danika sudah melangkahkan kaki ke arah pintu, Arsenio dengan gelagapan langsung pergi dari tempat menguntitnya. Dan bersembunyi di balik lemari hias yang ada di dekat kamar Mamanya.
Setelah keluar dari kamar Mama mertuanya, Danika berlari kecil menuju tangga. Bibirnya sesekali bersenandung dengan cerianya.
Arsenio tak bergeming saat lagi-lagi memandangi Danika. Dan tak lupa senyum sendunya terbit tanpa diperintah.
"Ngapain di sini, Bos?"
Arsenio tersentak kaget dan langsung mengusap dadanya, ketika suara bas seorang pria mengagetkannya. Arsenio menoleh pada orang yang ada di belakangnya, dan langsung melayangkan tatapan tajam bak pisau yang baru diasah.
Sedang yang ditatap hanya cengengesan tidak menentu. Arsenio rasanya sudah ingin sekali jadi malaikat maut saat ini juga.
'Kenapa ya nih manusia selalu ada setiap kali aku menguntit Danika? Kesal aku jadinya. Gerrrr!'
"Andai saja aku bisa mencekikmu, Hans!"
"Hehe. Maaf, Bos! Habisnya Bos senang banget jadi penguntitnya Nyomud. Aduh!" Hans memegangi perutnya yang dipukul Arsenio tanpa aba-aba.
"Rasakan!" Arsenio pergi meninggalkan Hans yang masih kesakitan.
"Dasar si Bos! Gak ada salahnya kalau suka sama Istri sendiri, Bos!"
Arsenio yang baru berjalan beberapa langkah, berhenti dan sedikit menolehkan kepalanya ke samping. Kemudian melanjutkan jalannya dengan bibir tersenyum.
Ada yang tahu Arsenio kenapa dan sedang memikirkan apa?
Jangan-jangan memikirkan aku lagi? Auuuwww.
............******.............
Tuh Wei, aku udah double up nih. Jangan lupa like dan komen nya ya. Aku maksa, nih! Wkwk.
Salam hangat dari iLs Dydzu 💐
__ADS_1