Jadi Istrinya?

Jadi Istrinya?
Bab ~ 39


__ADS_3

Arsenio kembali ke kamar. Dia melirik sebentar Zakia yang masih tertidur, lalu melangkahkan kakinya menuju sofa. Arsenio menopang dagunya dengan tangan yang bertumpu pada pinggiran sofa. Sesekali pria tampan itu menghela nafas sembari memandangi Zakia.


Ada perasaan gelisah dan juga tidak nyaman saat ini yang Arsenio rasakan. Tapi ketika terbayang wajah dan senyum Danika, seketika perasaan gelisah itu perlahan memudar. Arsenio tersenyum lalu mengusap wajahnya.


Arsenio belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Pada Zakia juga dia tidak merasakannya. Tuh, kan! Kenapa dia jadi aneh?


Pada Zakia dulu, hanya ada perasaan kagum dan suka. Karena Istrinya itu adalah selain teman masa sekolahnya, juga seorang wanita pekerja keras yang begitu membuat dia terpesona. Tapi entah kenapa berbeda saja, saat dia menatap dan memperhatikan Danika dengan seksama. Ada debar-debar genit bersemayam di hatinya.


Lagi-lagi Arsenio tersenyum. 'Ini aneh! Kenapa dengan Zakia aku tidak pernah begini? Aku mencintai Zakia, tapi kalau hanya dengan perasaan cinta, apakah semuanya akan terasa begitu hambar? Aku terkadang merasakan itu selama berumah tangga dengan Zakia.


Tapi dengan Danika, aku bahkan tidak dekat dengannya, tapi saat melihat wajah dan senyumnya, seperti ada bunga-bunga yang tumbuh dan bermekaran di hatiku. Ah! Apakah aku sudah membuka hatiku untuknya?'


Tidak bisa Arsenio pungkiri lagi. Sebenarnya ada nilai plus yang ada pada Danika, tapi tidak ada pada Zakia, yaitu rasa sayang kepada Mamanya. Hal itu membuat Arsenio semakin yakin kalau dia sebenarnya sudah jatuh cinta pada Danika.


'Aku tidak salah mendekatinya, kan? Lagi pula dia Istriku yang sah. Ya ampun! Kenapa jantungku berdebar-debar begini? Apa jantungku juga bermasalah? Tapi bagaimana dengan Zakia? Ah, lagi pula aku hanya mendekati Danika saja. Aku tidak akan menyakiti Zakia.'


..............******...............


Danika sudah tiba di kantor. Dia merasa bangga dengan dirinya yang sudah berhasil menumpas kata terlambat dalam kamus hidupnya. Terkadang dia jadi ingin memberi dirinya ini hadiah, dengan pijatan di salon Adul, misalnya, wkwk.


Danika merogoh tasnya dan mengambil kotak bekal yang selalu disediakan oleh Bik Sarinem setiap pagi.


Danika membuka tutupnya dan mulai menyendok nasi goreng plus telur dadar iris-iris bawang itu. Nyam, nyam, mantap dan enak. Nasi goreng ini benar-benar memanjakan lidah Danika.


"Duh, Bik Sarinem pintar banget sih masak! Gue jadi iri!"


Sambil memakan bekalnya, Danika jadi teringat dengan kejadian pagi tadi saat tak sengaja bertemu dengan Arsenio.


'Tadi pagi Mas Arsenio memang nyapa gue, kan? Terus dia juga tersenyum sama gue? Kalau memang mimpi, rasanya gak mungkin, deh! Karena semenjak tinggal di mansion, gue sudah gak pernah lagi makan makanan basi, wkwk. Kira-kira Mas Arsenio kenapa, ya?


Apa dia suka sama gue? Amboi, amboi! Ah, masa iya secepat ini? Lagi pula dia kan cinta banget sama Mbak Zakia. Kami juga jarang berinteraksi dan berkomunikasi, jadi rasanya gak mungkin! Apa jangan-jangan otaknya agak bergeser ke kanan sedikit? Hem.'


Dering ponsel Danika berbunyi. Danika terpaksa menghentikan makannya dan segera mengangkat telepon yang ternyata dari Adul.


"Halo!"


"Nika, gue agak telat nih datangnya. Ataupun mungkin gue gak bisa datang ke kantor!"


"Eh, memangnya kenapa, Dul?"


"Gue ada urusan penting! Lo tolong handle semua kerjaan, ya? Kalau sempat, nanti gue datang!"


Danika mendengus sebal. "Dul, lo gak bisa gitu! Gak profesional banget lo jadi Sekretarisnya Tuan Arsenio! Masa iya gue sendiri bareng..."

__ADS_1


"Selamat pagi," sapa Arsenio yang berdiri di ambang pintu.


Senyum manisnya menghiasi wajah yang semakin dilihat, semakin tampan dan terasa ingin dibawa pulang.


Danika spontan bangkit dari duduknya. Ponselnya juga terjatuh karena saking terkejutnya dengan yang terjadi. Yang tidak enaknya itu, ponselnya terjatuh tepat mengenai kakinya. Duh! Maknyos! Danika meringis seketika.


'Apakah itu Suami gue? Benar itu Mas Arsenio? Kenapa dia tersenyum begitu sama gue? Kok gue jadi meleyot dan ingin pingsan?'


Arsenio kembali tersenyum melihat keterkejutan di wajah Danika. Itu wajar sih! Karena selama ini dia tidak pernah bersikap seperti ini padanya.


Arsenio lalu masuk ke dalam. Semua itu tak luput dari pandangan mata Danika. Dia sampai melongo dan matanya tak berkedip, bahkan saat Arsenio sudah duduk di kursi kekuasaannya itu.


Arsenio tersenyum dan menggelengkan kepala melihat Danika hanya bengong di tempatnya. Arsenio melirik kotak bekal yang masih ada isinya itu.


"Kamu tadi lagi makan, ya?"


Danika langsung tersadar. "I..iya, Tuan."


Arsenio mengangkat alisnya sebelah. "Tuan? Bukannya saya suami kamu? Lagi pula Adul tidak ada di sini, kan? Jadi jangan sungkan memanggil saya dengan sebutan Mas."


Gubrak! Afa itu? Bukannya kemaren itu Arsenio tidak mau dipanggil dengan sebutan Mas, ya? Kalau dia tidak lupa. Ini semakin aneh saja. Kejadian ini semakin ganjil.


Danika menggaruk kepalanya. "Iya, Mas. Tadi dia ijin ada kepentingan katanya."


"Ya sudah. Kamu lanjutin lagi makan kamu. Saya akan lihat laporan karyawan hari ini."


Arsenio kemudian mengambil tab dari dalam tasnya lalu mulai memeriksa setiap laporan.


Danika mengerjapkan matanya lalu mengangguk.


Danika kembali duduk, tapi untuk melanjutkan makan, rasanya dia sudah tidak berselera lagi. Dengan takut-takut Danika mencuri lirik pada Arsenio, mana tahu Arsenio memang agak bergeser sedikit otaknya. Dan jeng jeng jeng, saat Danika mulai mengarahkan matanya, ternyata Arsenio juga melakukan hal yang sama.


Dan jadilah mereka tatap-tatapan. Eaaak! Bedanya sekarang, Arsenio langsung tersenyum manis pada Danika, tidak melayangkan tatapan sinis lagi seperti waktu itu.


"Egh, Danika?"


Danika sontak berdiri. "Iya, Mas?"


"Saya butuh kopi."


"Baik, Mas."


Danika segera ke pantry, lalu membuatkan kopi untuk Arsenio. Tiba-tiba Danika teringat dengan Reni. Sudah seminggu ini dia cuti. Katanya Neneknya sudah sangat kritis di kampung. Terpaksa dia juga ikut pulang ke kampung halaman Ibunya.

__ADS_1


Setelah selesai, Danika meletakkan kopi itu ke atas nampan. Sepanjang perjalanan menuju ruangan Suaminya, dia selalu berpikir.


Terkadang ada rasa lega di hati kalau Suaminya sudah mulai mau menerima dirinya. Apakah ini jawaban dari doa-doanya? Memang dia sudah melakukan kebaikan apa ya? Makanya Allah langsung menjawab doanya? Hah, sudahlah! Ngapain dia memikirkan itu.


"Silahkan, Mas." Danika meletakkan kopi dengan hati-hat di atas meja.


"Terima kasih," ucap Arsenio sembari tersenyum.


'Apaaa? Hobaaa? Itu Mas Arsenio bilang makasih tadi kan sama gue? Kok gue ngerasa sesak nafas? Kenapa gue jadi mau cengap-cengap? Amboi! Baru kemarin itu kayaknya gue berharap Mas Arsenio mau bilang makasih sama gue? Dan sekarang jadi kenyataan? Kalau gue berharap ngerasain malam pertama sama Mas Arsenio, malam nanti langsung jadi kenyataan gak, ya? Wuahaha.'


Arsenio mengangkat cangkir dan menyesap sedikit kopi buatan Istri keduanya. Arsenio jadi teringat sesuatu, selama menikah dengan Zakia, Zakia tak pernah sekalipun membuatkan dirinya kopi.


Arsenio mengernyit. Danika jadi berdebar, jangan-jangan kopinya kurang enak lagi.


'Perasaan gue memang masukkan gula deh bukan garam. Lagi pula, untuk apa ada garam di kantor? Untuk menangkal makhluk goib?'


"Ada apa, Mas? Apa kopinya kurang enak?"


"Coba kamu cicipi! Menurut saya rasanya agak kurang." Arsenio menggeser sedikit cangkirnya ke depan.


Danika terperanjat. "Hah? Apa?"


"Coba cicipi." Arsenio menggeser lagi cangkirnya agar semakin dekat dengan Danika.


Danika mengangguk. "I..iya, Mas." 'Kalau Mas Arsenio meminum lagi dari bekas gue minum, kalau dia pingsan, gue gak tanggung jawab, ya?'


Danika menyeruput sedikit kopi yang terasa nikmat itu di lidahnya. "Hem, enak kok kopinya, Mas."


"Ah, benarkah?" Arsenio berdiri, lalu merebut cangkir yang masih dipegang oleh Danika dan langsung menyeruputnya. "hem, jadi enak kopinya."


Mata Danika terbelalak. Kenapa kejadian aneh terus saja terjadi hari ini? Apa Suaminya buang tabiat?


'Itu cangkir bekas muncung gue loh! Kenapa Mas Arsenio malah bilang enak setelah kena bibir gue? Padahal kopi itu memang sudah enak dari awal. Huwaaaa.'


Arsenio tersenyum lalu mengangkat sekilas cangkirnya seperti isyarat mengajak bersulang pada Danika.


"Terima kasih sudah membuat kopinya jadi enak."


Danika tersenyum kikuk. Sepertinya dia sudah tidak bisa bernafas dengan benar melihat senyum dan segala tingkah Arsenio. Dan tak lama matanya mulai berkunang-kunang. Braaaaak! Danika pingsan seketika.


Afa? Gue pingsan? Kok gue gak sadar gue pingsan? Belum koid kan gue? Jangan koid duluuu! Gue belum ngerasain diraba-raba sama Mas Arseniooooo! Tidaaaak!


.............*****............

__ADS_1


__ADS_2