Jiwa Yang Tertukar

Jiwa Yang Tertukar
Bab 1


__ADS_3

Sasa Nur itu namaku,aku orang yang pendiam jadi banyak yang bilang aku orang lemah yang sering dibully habis habisan dan cacian yang di lontarkan oleh teman yang tak suka dengan ku. Tetapi lama lama aku terbiasa dan tak menanggapi ucapan mereka sedikitpun. Orang yang mau berteman denganku hanya Al, seorang laki laki tampan entah karena apa dia mau berteman dengan ku.



Aku tinggal bersama ibu tiriku yang bisa di bilang kejam padaku.Setiap ayah tak ada di rumah aku di perlakukan bak budak di suruh ini itu dan jika aku melakukan kesalahan sedikit pun aku akan kena hukuman. Tidak heran sebagian tubuhku memiliki bekas cambukan.Aku tak pernah bilang pada Ayah karna Ibu tiriku mengancam ku jika aku berkata pada Ayah dia akan membunuh adiku.



Dea dia adik tiriku juga, tetapi sifatnya tidak sekejam ibunya. Dia baik dan Ibunya memperlakukannya bak ratu tak seperti ku , dia juga ingin membantuku tetapi Ibu selalu melarangnya begitu juga dengan ku melarangnya agar tidak mendekatiku.



Hingga akhirnya Ayahku meninggal karna kecelakaan aku semakin menderita karna Ibu tiriku menyuruhku banting tulang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Setelah meninggalnya Ayahku ke 7hari aku mengalami tragedi kecelakaan hebat yang hampir merenggut nyawaku hingga jiwaku masuk ketubuh seorang laki laki dan aku sendiri juga mengalami lupa ingataan.



Aku di ajak pindah keluarga baru ku ke kota tak jauh dari tempatku tinggal begitu juga sekolahku yang ikut dipindahkan. Aku menjalani tubuh yang aku pakai selama 5 bulan dan selama itu aku tak pernah menjalin hubungan yang lebih kepada laki laki atau perempuan karna hati ku mengatakan aku perempuan sedangkan tubuhku mengatakan sebaliknya.


* * *


Aku Alfin Anjaya aku hidup di keluarga yang lebih dari mampu. Aku diperlakukan baik oleh keluarga ku karna aku anak tunggal di keluarga Anjaya. Aku cenderung bersifat banyak bicara atau sering di bilang cerewet. Aku tinggal bersama ibu dan Ayahku walau mereka sibuk tetapi mereka selalu memperhatikan ku.



Di Sekolah aku di kagumi banyak wanita karna paras tampanku. Aku juga mempunyai banyak teman karna aku mudah untuk mengajak mereka berteman. Aku cenderung diam dalam pembelajaran karna mataku mengalami rabun jauh jadi tak heran jika aku tak banyak mencatat di sekolah karna terbatasnya penglihatan ku, untuk memakai kaca mata aku menghindari itu entah pada hal ibuku menyuruhku agar aku bisa melihat jika guru menjelaskan.



Hingga akhirnya aku mengalami kecelakaan hebat karna sopir yang di suruh Ayah mengantuk. Dia meninggal sedangkan aku koma selama 7hari dan sesaat aku juga mengalami lupa ingatan. Hingga aku melihat tubuhku tetapi aku merasa heran karna aku berfikir seperti ini bukan tubuhku.


.


.


.


.

__ADS_1


.


"cih si Sasa tu ganggu yuk liat dia juga sendiri" Sindi dia anak yang di bilang kaya tetapi tak sekaya Alfin namun dia suka membully Sasa karna kesendiriannya dan tak mempunyai teman.


"Ayok gak usah basa basi" Yesi dia temannya Sindi yang ikut membully Sasa karena menurut dia Sass mangsa yang cocok untuk dibully.


Mereka mendekati Sasa yang tak jauh dari posisi mereka berdiri tadi.


"Hay Sa, Pulang bareng yuk nanti aku kasih tumpangan " ucap Sindi yang berdiri di depan Sara.


Sasa hanya menggeleng tak menjawab dengan kata kata.


"Idih lu yakin yak Sin numpangin sampah " Saut Yesi yang menyindir Sasa dengan lirikan.


"Oppss Sampah ya" Ucapan Sindi sering di dengar Sasa dan lagi lagi dia mendengar kata kata serta tawa mereka.


Sasa pergi meninggalkan mereka tetapi Sindi telah menjambak rambut Sasa dan Sasa hanya meringis kesakitan.


"Lo jangan ngarep ya bisa deket sama Al awas aja kalo lo deket deket dia" Sindi masih menggenggam rambut Sasa dan tak berminat melepaskannya.


"Apa lepas enak banget ya " Yesi ikut menarik rambut Sasa.


Tak lama Al melihat kejadian itu sontak mendekati mereka.


"Sin Yes apa yang kalian lakukan hah??" Al melerai mereka sambil memegang tangan Sindi dan Yesi agar melepaskan rambut Sasa.


"Apa? namu mau apa Al aku gk mau kamu belain dia terus" Ucap Sindi yang masih menatap Sasa yang tertunduk.


"Iya kamu ngertiin perasaan Sindi dia yang ngelakuin ini demi kamu" Yesi ikut melirik Sasa yang tertunduk di samping Al.


"cih...apa kalian bilang ini semua demi aku? sekarang kalian pergi dan jangan ganggu Sasa lagi" Al masih melihat Sasa yang tertunduk.


Sindi dan Yesi mendengus kesal lalu meninggalkan mereka berdua.


"Kamu tidak apa apa kan ???" Ucap Al sambil menghadap Sasa yang masih tertunduk entah karena malu atau memang begitu.


"Tidak kak terima kasih " Sasa langsung pergi meninggalkan Al tetapi Al langsung memegang tangan Sasa.

__ADS_1


"Pulang sama aku saja" Al masih memegang tangan Sasa tetapi Sasa langsung menurunkan tangan Al agar tak menyentuhnya.


Sasa hanya menggeleng tanpa ada kata kata.


"Ya sudah kita jalan bareng ke gerbang sekolah " ucap Al yang masih memandang Sasa yang masih tertunduk.


Sasa hanya mengangguk dan mereka berjalan ke gerbang sekolah untuk pulang.Al paham atas sifat Sasa yang hanya mengangguk dan menggeleng tanpa membalas dengan kata kata. Banyak yang mencibir Sasa dengan kata kata karena melihat dia bersama Al.


"Iya sudah hati hati biar aku panggilan tukang ojek di sana dulu "Setelah di balas Sasa dengan anggukan Al meninggalkan Sasa untuk memanggil tukang ojek.


Tak lama ojek yang di panggil Al datang.


"Ayo mbak saya antar " ucap tukang ojek tersebut sambil memberikan helm, Sasa hanya menerima dan mengangguk.


"Makasih kak Sasa pulang dulu" Sasa memandang Al sambil tersenyum.


"Ya sama sama daa" Al melambaikan tangan kepada Sasa yang sudah menjauh menjauh.


* * *


"Bro balik yuk lo pulang sendiri apa jemput lagi ni??" Tanya Dion teman terdekat Alfin.


"Iya ni jemput lagi pada hal gw tadi pingin sendiri" Alfin memandang teman temannya yang sedang menatapnya.


"Ya udah sono balik " Wili berjalan lagi mengikuti Alfin dan Dion yang berjalan lagi ke gerbang sekolah menuju parkiran.


"gak usah ngusir anying " Jawab Alfin sambil melirik Wili.


Sepanjang perjalanan banyak yang mengagumi mereka bertiga tentu karna terpesona terhadap ketampanan mereka. Setelah sampai di gerbang sekolah Wili dan Dion pergi ke parkiran sedangkan Alfin berjalan mendekati mobil yang menjeputnya.


"pak ayo pulang" Pinta Alfin membangunkan sopirnya yang tertidur di depan .


"ehh...maaaf den saya ngantuk " Pak Anton kaget dengan kedatangan Alfin yang membangunkannya.


"Iya gak apa pak ayok" Ajak Alfin


Di perjalanan tak ada yang mengajak berbicara. Pak Anton mengantuk dan tiba tiba menabrak motor dan mobil Alfin di tabrak truk dari samping hingga hancur.

__ADS_1


__ADS_2